
Setelah mendengar penjelasan rekannya itu, Aurora berlari menuju ruang pengamanan yang berada di lantai dasar.
Tampak 2 orang pria duduk ditemani satu orang satpam dan salah seorang lainnya yang juga merupakan staf di kantor itu.
Pandangan Aurora memperhatikan kedua pemuda itu dengan seksama. langkahnya terus maju mendekati tempat itu. Terdengar ucapan satpam tersebut pada kedua pemuda, yang tak lain merupakan Kevin dan Gilang.
"Saya gak mau ikut campur terlalu dalam untuk masalah mas-mas ini, tetapi saya minta selesaikan baik-baik di luar kantor! tidak seperti ini dan membuat kegaduhan di area kantin," tegas satpam tersebut dengan pandangan tajam terhadap Kevin dan Gilang.
"Sudah ... silahkan mas-mas ini kembali bekerja! ingat pesan saya, untuk tidak lagi membuat kegaduhan seperti tadi," pesan satpam pada Kevin dan Gilang yang terbangun dari duduknya.
Aurora kemudian menghampiri keduanya dengan wajah bingung.
"Ya ampun Vin, ini wajah kamu sampai memar seperti ini! ayo aku obati dulu," ajak Aurora sambil menggandeng lengan Kevin di sisinya.
Raut wajah Gilang begitu geram, saat melihat Aurora terus saja memperhatikan Kevin dengan begitu manisnya. Sedangkan ia hanya berjalan sendiri dengan tubuh yang terasa sakit karena hantaman Kevin pada bagian tubuhnya.
"Kenapa kamu lebih memilih Kevin di banding dengan diriku, Ra? apa hebatnya dia itu?" gumam Gilang sambil menatap tajam pada Aurora yang masih menggandeng Kevin kembali ke ruangannya.
Gandengan tangan Aurora pada lengannya, membuat Kevin merasa menang selangkah dari Gilang. Tatapan sinisnya pada Gilang, ia tunjukan sambil menaikan sudut bibirnya ke arah Gilang.
"Kok bisa sampai ribut-ribut begini sih Vin?" tanya Aurora dengan wajah cemas sambil menenteng kotak P3K yang ia ambil dari ruang pengamanan.
"Aku juga gak tahu Ra, tiba-tiba saja dia langsung memukulku yang sedang terduduk di kantin," ungkap Kevin sambil melirik ke arah Gilang.
"Aku gak ngerti maksud kamu apa Lang, dengan semua perlakuan ini pada Kevin! kamu ternyata gak lebih dari pria brutal dan kasar," tegas Aurora pada Gilang yang berjalan beriringan dengannya.
Aurora terus melanjutkan langkahnya sambil menggandeng Kevin. Ia tak menghiraukan Gilang yang mencoba menjelaskan semua itu padanya
"Ra ... dengarkan penjelasan aku dulu! Ra ... Aurora ..." panggil Gilang pada gadis yang terus berjalan di depannya.
"Haah ... sepertinya semua ini hanya sia-sia! Aurora lebih mempercayai Kevin dibanding mendengarkan penjelasan yang aku berikan," gumam Gilang dengan penuh kekecewaan.
Aurora menggandeng lengan Kevin lalu mengantarnya ke ruangan kerja. Beberapa staf dan rekan kerja Aurora terlihat saling berbisik satu sama lain.
"Bagaimana ini, semua orang-orang terus saja memperhatikan kedekatanku dengan Kevin!" ucap Aurora dengan suara halus, sambil melepaskan eratannya pada lengan Kevin.
"Biarkan saja Ra, mereka mau berkata apa! biar mereka tahu kalau kamu sekarang milikku," tegas Kevin sambil menarik kembali lengan Aurora lalu menggenggamnya erat.
__ADS_1
Seketika Aurora terkejut dengan sikap Kevin yang sangat berbeda dibanding hari-hari sebelumnya. Ia begitu cuek dan tak lagi memperdulikan anggapan orang terhadap kedekatan dengan dirinya.
"Apa tidak masalah kalau kita sedekat ini dan dilihat oleh banyak orang?" tanya Aurora sambil melihat sekelilingnya yang sibuk dengan pandangan sinis terhadap dirinya.
"Apa masalahnya, Ra? tidak akan ada yang berani melarang kedekatan kita!" tegas Kevin sambil menatap wajah Aurora yang semakin memerah.
Kedekatan Aurora dan Kevin di hadapannya, membuat Gilang semakin merasa geram. Ia lalu keluar dari ruangan itu, sambil menendang pintu dengan kuat.
Brug ....
Gilang menendang pintu ruangan kerjanya, hingga beberapa staf terkejut dengan hal itu.
"Gilang kenapa sih? enggak biasa-biasanya dia menjadi seperti itu!" bisik salah seorang staf dengan rekannya.
"Apalagi kalau bukan masalah dengan Kevin, lihat saja tuh! dia tidak segan-segan lagi menunjukkan kemesraannya dengan anak baru itu!" ungkap salah seorang lainnya.
Aurora merasa risih dengan gunjingan orang-orang terhadapnya, ia kemudian berpamitan pada Kevin dan keluar dari ruangan itu.
"Vin ... aku keluar ya! masih banyak pekerjaan yang harus aku lakukan," ungkap Aurora dengan suara tergesa-gesa.
Aurora yang telah melangkah maju, kemudian menoleh dan mengangguk ke arah Kevin.
"Entah apa yang membuat aku jadi ingin memilikimu Ra, hingga aku tak rela saat Gilang terus saja mendekatimu !" gumam Kevin melihat Aurora yang terus berjalan keluar dari ruangannya.
"Aku akan buktikan padamu, bahwa aku benar-benar serius dengan niatku ini! aku juga akan buktikan pada diriku sendiri kalau aku bisa menjalin hubungan sehat tanpa harus melalukan hubungan terlarang sebelum pernikahan," tambah Kevin dalam batinnya.
Waktu bergulir begitu cepatnya, matahari sudah bersiap menenggelamkan wajah teriknya. Kevin tengah bersiap untuk pulang dan menepati janjinya pada Aurora, gadis cantik nan lugu yang membuatnya tak mengerti atas apa yang dilakukannya hari itu.
Ia berjalan keluar dari ruangan, tak memperdulikan Gilang yang masih berjibaku dengan pekerjaamnya. Langkah kakinya tiba di depan pantry, memperhatikan Aurora yang sedang membasuh beberapa gelas yang kotor.
"Sudah mau pulang pak?" tanya rekan kerja Aurora pada Kevin.
"Iya, saya sedang menunggu Aurora! apa dia sudah bisa pulang sekarang?" tanya Kevin dengan penasaran.
"Sudah pak, dia hanya tinggal menyelesaikan itu saja!" jelas office girl tersebut pada Kevin.
Tak menunggu lama, Aurora kini telah selesai dengan pekerjaannya. Ia tersenyum kala melihat Kevin sudah menunggunya dengan begitu setia.
__ADS_1
"Ayo kita jalan sekarang!" ajak Kevin dengan tersenyum menatap Aurora.
"Iyq Vin, sebentar aku ambil tas dulu ya!" ucap Aurora dengan rona bahagia diwajah cantiknya.
Sesaat Aurora mendekati mobil Kevin, Arka tiba dengan vespa kesayangannya. Ia kembali menyaksikan gadis itu bersama Kevin, pria yang ia lihat kemarin sore dengan kekasihnya di toko tas mewah.
Rasa kecewa memenuhi hatinya, ia heran kenapa Aurora begitu mudahnya kembali dan mempercayai Kevin yang jelas-jelas sudah memiliki kekasih.
Arka memutuskan untuk menelpon gadis itu dan meminta penjelasan atas apa yang dilihatnya.
"Halo Ra, kamu dimana?" tanya Arka tanpa basa-basi.
"Aku sudah di jalan pulang Ka! kamu dimana?" tanya Aurora kembali.
"Aku di depan kantor kamu! tapi aku lihat kamu pergi bersama pria itu, apa dia Kevin?" tanya Arka dengan nada serius.
"Iya Ka ... nanti aku jelaskan sama kamu ya, maaf tidak mengabari sebelumnya!" jelas Aurora dengan perasaan menyesal tidak mengabarkan kepulangannya bersama Kevin hingga membuat Arka kembali menjemputnya.
Penjelasan dari Aurora tidak digubrisnya. Ia langsung mengakhiri panggilan tersebut dengan perasaan dongkol. Tiba-tiba dari arah belakang, seseorang menepuk pundaknya dengan cukup keras.
"Sudahlah Ka, kita bisa apa dengan pilihannya!" jelas suara itu mengejutkan Arka.
Bersambung ....
🍂🍂🍂🍂🍂
Quote of the day
Keberanian tidak selalu datang saat banyak orang yang mendukung dan memberi semangat
Terkadang ia juga muncul di saat seseorang sedang tertekan dan merasa terhimpit dalam situasi yang tidak menyenangkan.
🍂🍂🍂🍂🍂
Salam hangat
❤❤❤
__ADS_1