
πΈπΈπΈ
Mohon dukungannya selalu dengan memberikan vote, likeπ rate β dan juga kritik saran untuk penyempurnaan karya ini lebih baik lagi. Terima kasih β€
πΈπΈπΈ
.........
"Kamu mau bertemu dengan Kevin dan ibunya? untuk apa Ra?" tanya ibu dengan wajah bingung.
"Aku juga belum tahu pasti bu, tapi Kevin bilang mau memberitahukan hubungan kami berdua!" jelas Aurora bernada ragu-ragu.
"Ibu gak habis pikir dengan kamu Ra, kamu benar-benar membuat ibu kecewa! kenapa harus dengan Kevin?" ucap ibu terdengar jengkel.
"Bu ... tolong beri Kevin kesempatan, aku akan buktikan pada ibu bahwa Kevin memang pria baik!" timpal Aurora meraih tangan ibunya. Ia berusaha meyakinkan sang ibu bahwa pilihannya memang tidak salah.
"Baik, tapi jangan pernah menuntut ibu untuk berpura-pura baik di depan Kevin! sejak awal ibu sudah tidak menyukai anak itu," jelas ibu dengan permintaannya.
"Hhh ... terima kasih bu, ibu memang yang terbaik," puji Aurora mencoba meluluhkan hati ibunya yang tampak begitu gusar.
Kring ... kring ... kring ...
Layar ponsel Aurora menyala dan berdering dengan kerasnya. Ia begitu tak sabar menerima panggilan itu dari Kevin.
"Halo Vin ... aku sudah siap, jemput aku sekarang ya!" pinta Aurora dengan suara bersemangat.
Kali ini ia tak ragu lagi untuk mengajak Kevin ke rumahnya, karena ibunya memang sudah mengetahui hubungannya dengan putra dari majikannya itu.
"Oke Ra, aku tunggu di tempat biasa ya!"
"Kamu langsung jemput ke rumah saja Vin! ibu sudah tahu kok hubungan kita, jadi kita gak perlu lagi harus sembunyi-sembunyi," ungkap Aurora dengan suara ceria.
"Kamu sudah beri tahu ibu? apa tanggapan ibu?" Kevin bertanya penasaran.
"Nanti aku jelaskan ya, sekarang kamu jemput aku dulu ke rumah!" pinta Aurora pada Kevin.
"Aduh, lain kali saja ya Ra! aku belum siap bertemu ibu hari ini, aku tunggu kamu di tempat biasa saja ya," jelas Kevin. Ia tak percaya diri untuk bertemu ibu dari kekasihnya itu.
Setelah mereka mengakhiri percakapannya, Aurora berpamitan pada ibu dan bergegas ke tempat yang dijanjikan. Sebuah mobil mewah dengan cat hitam mengkilap terlihat parkir di tepian jalan.
Dengan penuh percaya diri Aurora mengetuk kaca mobil itu dua kali.
"Aurora ... apa itu benar dia?" gumam Kevin yang takjub melihat penampilan Aurora yang begitu memukau.
__ADS_1
"Kamu sudah menunggu lama ya Vin? tanya Aurora sambil mengibaskan rambutnya yang terurai hingga mengenai wajah Kevin.
"Ah ... belum lama kok," sahut Kevin dengan suara tergagap.
"Ra, hari ini kamu benar-benar cantik," jelas Kevin sambil memperlihatkan wajah yang terpukau. Air liurnya menetes tanpa ia sadari.
"Vin ... kok kamu melamun begitu sih?" tanya Aurora mengejutkan lamunan Kevin.
"Oh, maaf Ra! aku benar-benar terkesima dengan kecantikanmu hari ini," jelas Kevin sambil mengusap bibirnya yang lembab karena air liur.
"Ish ... kenapa aku jadi illfell melihatnya menjatuhkan air liur seperti itu!" gumam Aurora menaikkan bahu serta sudut bibirnya.
Kevin pun memulai kemudinya dan berjalan menuju rumahnya. Sepanjang perjalanan Aurora tampak cemas, tentang tanggapan mama Kevin terhadap hubungan dengan putranya itu. Wajahnya gelisah sambil menggigit jari-jemarinya bergantian.
"Kamu takut bertemu mama?" tanya Kevin melirik Aurora.
"Aku takut Vin, takut mama tidak merestui hubungan kita!"
"Kamu tenang saja, aku akan ada di sampingmu dan membelamu dari mama!" ungkap Kevin menenangkan hati kekasihnya.
Aurora kemudian tersenyum menatap Kevin, hatinya kini sedikit lebih lega menghadapi mama dari kekasihnya itu.
Sesampainya di rumah, Kevin dengan sigap membukakan pintu mobil untuk Aurora. Gadis itu turun dengan begitu anggun, sambil digenggam lembut oleh Kevin.
"Mama ... ma ... ada tamu yang ingin bertemu mama!" teriak Kevin pada mamanya yang berada di dalam rumah.
"Siapa? tunggu sebentar ya!" sahut mamanya dengan suara lembut dan sopan. Ia tak pernah membayangkan putra semata wayangnya itu membawa putri dari buruh cucinya selama ini.
"Kamu duduk disini ya Ra, aku akan panggil mama dulu!" Kevin kemudian mendudukan gadis itu di sofanya.
"Mama ... ayo dong ma, kasihan tamunya sudah menunggu mama!" seru Kevin sambil menarik-narik lengan mamanya.
"Tunggu dulu dong Vin, mama harus terlihat cantik dan anggun! masa mau bertemu tamu istimewa dandanan mama seperti ini," tutur mama dengan suara manja.
"Ya sudah aku tunggu mama di luar ya!"
Tak menunggu lama, mamanya keluar dengan tampilan modis namun tetap terlihat mewah dengan emasnya yang melingkar di tubuhnya. Warna lipstik yang merah menyala dan riasan bedak yang terlihat tebal membuatnya tampak begitu siap menemui tamu istimewanya yang dibawa Kevin.
"Ayo Vin, mama sudah tidak sabar! seperti apa sih gadis yang sudah membuat putra semata wayang mama ini ingin segera menikah," ungkap mama begitu penasaran.
Langkah kakinya tiba-tiba terhenti di sudut ruang yang membatasi antara ruang itu dan ruang tamu tempat Aurora duduk. Wajahnya berubah serius, dengan mata yang membulat.
Dengan emosi yang memuncak, ia menarik lengan putranya yang mengekor dibelakangnya.
__ADS_1
"Kenapa ma?" tanya Kevin heran.
"Jangan katakan pada mama, bahwa gadis itu adalah tamu yang kamu maksud!" tegas mama dengan suara yang ditekan.
"Iya ma, dia memang orangnya... gadis yang berniat untuk kunikahi!" jawab Kevin dengan santainya.
"Aku harap mama dapat merestui hubunganku dengannya, kelak ia akan menjadi menantu mama yang akan memberikan cucu yang menggemaskan untuk mama!" jelas Kevin, mencoba merayu sang mama.
Mamanya hanya melirik sesaat, setelah Kevin mengatakan itu. Wajah sang mama berubah menjadi manis dan begitu hangat menyambut gadis itu. Ia sadar bahwa tak akan mampu merubah pendirian putranya mengenai gadis pilihannya itu.
"kamu, Aura itu kan, putrinya bu Tuti? tanya mama Kevin, mengingat-ngingat nama Aurora.
Aurora kemudian berdiri dan mencium tangan mama Kevin, namun sepertinya mama Kevin enggan menjabat tangan Aurora. Ia langsung menarik tangannya kembali, saat Aurora berusaha meraihnya.
"Iya ma, saya Aurora! mama bisa panggil Aurora atau Rara saja," jelas Aurora pada mama Kevin.
"Saya sudah tahu kamu siapa!" sahut mama Kevin dengan nada pedas.
"Mama ...." ucap Kevin, menyenggol lengan mamanya.
"Hmm ... jadi kamu gadis yang dimaksud putra saya? sudah berapa lama kalian berpacaran?" tanyanya dengan menyelidik.
"Belum terlalu lama ma, tapi kami memang saling mencintai!" jelas Aurora dengan lugu.
Dengan tatapan tajam, mama Kevin memperhatikan Aurora. Tak peduli seberapa cantik dan ramah gadis itu padanya, baginya Aurora tetaplah putri dari buruh cucinya dulu.
"Saya sudah mendengar dari Kevin tentang niatnya mempersunting dirimu, memangnya kamu bisa apa untuknya?" lagi-lagi mama Kevin bertanya dengan suara ketus.
Seketika Aurora tersentak mendengar pernyataan mama Kevin tentang niat putranya itu. Gadis lugu itu memalingkan pandangan ke arah Kevin. Ia begitu tak percaya dengan apa yang baru saja didengarnya.
"Iya Ra ... aku sudah ceritakan semua pada mama, termasuk rencanaku untuk melamarmu," jelas Kevin dengan wajah tersenyum berseri pada Aurora.
Bersambung .....
πππππ
Quote of the day
Berpikir sebelum berucap merupakan tanda orang berakal, karena ia tahu betul bahwa tergelincirnya lidah bahkan lebih berbahaya dari pada tergelincirnya kaki.
πππππ
Salam hangat
__ADS_1
β₯οΈβ₯οΈβ₯οΈ