Jodoh Titipan

Jodoh Titipan
Bab 25 Biaya Salon yang Mahal


__ADS_3

"Harus hari ini? apa gak bisa lain kali saja?" tanya Aurora pada Arka.


"Gak ada waktu lagi Ra! mama selalu saja menanyakan kapan aku membawa kekasihku ke rumah, aku sampai bosan menjawabnya," ungkap Arka sambil menggaruk-garuk kepala.


"Ya sudah, aku akan membantumu! tapi kali ini saja ya," tegas Aurora pada Arka.


"Oke ... tapi sebelum kita pergi bertemu mama, aku akan mengajak kamu pergi ke suatu tempat!" ucap Arka menarik lengan Aurora dan memintanya segera duduk di vespa kesayangannya.


"Cepat duduk Ra!" tegas Kevin menatap serius wajah Aurora.


"Ish ... kita sebenarnya mau kemana sih Ka?" tanya Aurora penasaran.


"Sudah diam saja!" sahut Kevin sambil mengendarai vespanya.


Sepanjang perjalanan, mereka hanya terdiam dengan lamunannya masing-masing. Lengan Aurora yang mendekap pinggul Arka, membuat Arka menjadi gugup dibuatnya.


"Aku ingin tahu penampilannya nanti seperti apa," gumam Arka sesekali tersenyum sendiri di atas vespanya.


"Dia mau ajak aku kemana sih? naik vespa butut pula, rasanya kulitku seperti terbakar tersengat sinar matahari," gumam Aurora dengan wajah kesal.


Kini vespanya berhenti di sebuah salon kecantikan, salon yang cukup terkenal di kota itu dengan papan nama yang terpampang di sisi jalannya.


"Kita mau ngapain kesini Ka?" tanya Aurora sambil menunjuk ke arah salon.


"Sudah ... ayo kita masuk!" tarik Arka pada lengan Aurora.


Aurora pasrah dan mengikuti kemana Arka melangkah. Saat langkah Arka tiba di meja resepsionis, ia bertanya pada pelayan yang bertugas.


"Mba ... saya yang sudah booking tadi siang, atas nama Arka Anggara! bisa langsung masuk atau harus menunggu?" tanya Arka.


"Silahkan masuk saja pak!" jawab resepsionis sambil mengarahkan tangannya ke ruangan khusus.


"Baik mbak, terima kasih!" timpal Arka sambil menarik kembali lengan Aurora.


"Kamu masuk ya Ra, aku akan tunggu kamu disini!" ucap Arka menghadap wajah Aurora.


"Aku masuk sendiri? aku gak ngerti harus apa di dalam!" ungkap Aurora dengan wajah bingung.


"Lagian ngapain sih kita harus ke salon kaya gini, berlebihan tau gak!" ucap Aurora dengan nada setengah emosi.


"Kamu ternyata selain aneh, juga agak norak ya! udah masuk aja, nanti juga ada pelayannya di dalam," ucap Arka sambil mendorong tubuh Aurora ke dalam ruangan.


Aurora akhirnya masuk pada sebuah ruangan, ia di sambut oleh salah seorang pelayan yang berada di sana.


"Silahkan duduk bu!" ucap pelayan pada Aurora yang baru saja masuk.

__ADS_1


"Wajahku memang tampak terlihat tua ya untuk gadis seusiaku, sampai-sampai aku dipanggil dengan sebutan ibu," gerutu Aurora sambil mendudukan tubuhnya di kursi.


"Saya mulai dari rambut dulu ya bu!" ucap hair stylish tersenyum pada Aurora.


"Terserah mbak saja, saya hanya menuruti kemauan pria di luar itu," ucap Aurora dengan lugu yang di sambut senyum kecil dari sang pelayan.


Arka yang sedang menunggu Aurora di luar, sibuk dengan khayalannya tentang perubahan penampilan pada gadis pujaannya itu.


"Seperti apa ya dia saat keluar nanti," gumam Arka sesekali tersenyum geli.


Kring ... kring ...


Tiba-tiba ponsel Arka berdering.


"Iya ma ... Arka sedang menjemputnya sekarang!" ucap Arka dalam teleponnya bersama sang mama.


"Baik ma, terima kasih ya," Arka kemudian menutup teleponnya dan kembali memainkan ponselnya.


Sementara di dalam ruangan itu, sang hair stylish sibuk menata rambut Aurora yang telah selesai di creambath.


"Masih lama ya mbak? kepala saya rasanya pegal sekali ini!" keluh Aurora sambil memegangi lehernya.


"Sebentar lagi selesai kok bu, sabar ya!" jelas hair stylish pada Aurora. Setelah selesai menata rambut Aurora, ia meminta Aurora untuk pindah ke ruangan khusus untuk salon kecantikan.


"Ibu sekarang akan di layani disini ya bu," ucap salah seorang beauty operator yang menyambut Aurora.


"Arka kenapa mesti lakuin ini sih? ini kan berlebihan, masa cuma mau ketemu sama mamanya saja, aku harus didandani seperti ini," gumam Aurora dalam hati.


Beauty operator yang melayani Aurora saat itu mulai mengaplikasikan peralatan make upnya, mulai dari poundation sampai dengan blash on dan terakhir menyemprotkan fresh liquid.


Tak menunggu lama, wajah Aurora pun selesai di dandani. Ia keluar dari balik pintu dan mengejutkan Arka dengan penampilannya.


"Ini beneran kamu Ra!" ucap Arka melihat penampilan baru Aurora, tatapannya tak lepas dari wajah gadis cantik itu.


"Hei Ka ... gimana penampilanku sekarang? lebih cantik ya?" tanya Aurora dengan percaya diri.


"Lumayan lah, dibanding penampilan kamu sebelumnya yang hanya menggunakan karet sebagai pengikat rambutmu, belum lagi lipstik yang terkadang terlihat belepotan!" ledek Arka.


"Ish ... kamu benar-benar nyebelin!" cubit Aurora pada pinggul Arka.


"Aduh ... sakit Ra!" keluh Arka yang merasakan cubitan dari Aurora.


"Eh, sini ... sini sebentar!" ucap Aurora menarik lengan Arka lalu menjauhi ruangan dan meja resepsionis.


"Ini kan salon mahal, kenapa kamu ajak aku kesini! aku gak ada uang lho untuk bayar semua biayanya," ucap Aurora dengan wajah serius.

__ADS_1


"Udah, kamu tenang aja ya! aku gak akan minta kamu yang bayar kok," jelas Arka sambil mencubit pipi Aurora.


"Kamu yakin mau bayar semua biaya salonnya? aku gak yakin kamu bisa membayar ini semua, vespa saja sudah terlihat tua dan rongsokan seperti itu!" ucap Aurora seolah tak yakin dengan perkataan Arka padanya.


Arka lalu mengabaikan Aurora dan bergegas ke kasir yang berada di samping meja resepsionis.


"Berapa mbak totalnya?" tanya Arka sambil merogoh saku untuk mengambil kartu debitnya di dalam dompetnya.


"Total jadi tujuh ratus lima puluh ribu pak!" jawab kasir pada Arka.


Seketika Aurora tertegun mendengar nominal yang disebutkan kasir. Ia langsung menghampiri kasir dan memastikan apa yang baru saja didengarnya.


"Mbak gak salah totalnya sebanyak itu?" tanya Aurora.


"Betul bu totalnya memang segini, karena ibu menggunakan jasa hair stylish dan salon kecantikan jadi harganya memang berbeda," ungkap kasir di depan Aurora dan Arka.


"Mahal juga ya, ini sih bayaran aku bekerja selama satu minggu," gumam Aurora dalam hati.


"Sudah mbak, saya bayar saja! oh ya, bisa kan pembayarannya pakai debit card?" tanya Arka sambil menyodorkan kartu debitnya.


"Bisa pak," jawab kasir meraih kartu debit yang diberikan Arka.


"Ka, ini salon benar-benar mahal! sayang kan buang-buang uang sebanyak itu," ucap Aurora berbisik pada Arka.


"Ssttt ... kamu jangan norak deh, sudah diam saja!" ucap Arka mengernyitkan dahinya.


"Hah ... kenapa Arka bisa sombong begitu! aku rasa vespanya saja tidak akan laku dijual, untuk membayar tagihan salonnya " ucap Aurora dengan suara halus.


"Ini bukti transaksinya pak!" ucap kasir memberikan struk total biaya pada Arka.


Bersambung ....


🍂🍂🍂🍂


Quote of the day


Langit tidak akan mengatakan bahwa ia adalah langit. Meskipun ia tinggi, ia sadar bahwa ia bukanlah satu-satunya yang tertinggi di alam semesta.


🍂🍂🍂🍂


Salam hangat


 


❤❤❤

__ADS_1


 


__ADS_2