
...........
"Biarkan saja dia pergi bu!" ucap Aurora dengan raut wajah kesal.
"Iya ... tapi memangnya ada apa dengan kalian berdua? tadi ibu lihat kalian baik-baik saja!" tanya ibu dengan rasa penasaran.
"Dia itu benar-benar pria yang gak peka bu!" tegas Aurora sambil berjalan ke dalam.
"Gak peka bagaimana? ibu semakin tidak mengerti maksud kamu Ra!" ucap ibu. Wajahnya terlihat kecewa sesaat Arka pergi dari rumahnya.
"Sudahlah bu, tidak usah diperpanjang lagi!" jelas Aurora sambil berlalu dari sang ibu.
Ia kemudian masuk ke kamar dan mengambil baju, berikut dengan celana bahan yang akan ia kenakan esok hari untuk bekerja.
"Anak ini, kenapa semakin lama sikapnya menjadi semakin aneh dan sering membangkang terhadap ibunya!" gumam ibu dalam batinnya.
"Apa dia masih dekat dengan Kevin? aku khawatir Kevin akan membawa pengaruh buruk bagi Aurora," tambah ibu dalam batinnya.
"Semua sudah rapi deh, jadi gak sabar menunggu besok dan bekerja satu kantor dengan Kevin," gumam Aurora, saat melihat bajunya telah ia setrika dengan rapi.
Ia kemudian bergegas tidur disamping kedua adiknya yang lain. Malam itu harapannya begitu besar tentang pekerjaan yang kelak akan memperbaiki keadaan ekonominya.
Malam berganti pagi, sayup-sayup terdengar suara adzan yang begitu merdu di telinga. Aurora kemudian terbangun oleh suara kokokan ayam tetangga yang setia membangunkannya setiap hari.
"Nova ... Bintang ... ayo bangun dan segera ke toilet!" ucap Aurora membangunkan kedua adiknya yang masih tertidur pulas.
"Iya kak, aku bangun," sahut Nova dengan suara lemas.
Setelah membangunkan kedua adiknya, Aurora bergegas berdiri di cermin dengan baju kemeja dan celana bahan berwarna hitam. Ia memoleskan peralatan make up seadanya yang ia miliki.
"Kamu sudah mulai bekerja hari ini Ra?" tanya ibu, muncul dari balik pintu.
"Iya bu, doakan aku ya semoga bisa betah bekerja disana!" tutur Aurora pada ibunya.
"Doa ibu untukmu selalu mengalir tanpa perlu kamu minta Ra, ibu selalu doakan yang terbaik untuk semua anak-anak ibu," sahut ibu dengan penuh haru.
"Apa kamu ada sisa uang untuk biaya transport hari ini?" tanya ibu menatap Aurora.
"Ibu gak perlu khawatir, hari ini dan setiap harinya aku akan selalu dijemput oleh Kevin! jadi ibu jangan lagi memandang sebelah mata pada Kevin," ucap Aurora menatap ibunya dengan wajah yang serius.
"Kevin? Kevin anak bu Ira itu?" tanya ibu dengan heran.
"Iya bu, dia yang akan setia mengantar dan menjemputku bekerja! bukan hanya itu bu, dia juga yang memberikan aku info pekerjaan ini hingga aku diterima," jawab Aurora sambil menyisir rambutnya di depan cermin.
"Apa ibu tidak salah dengar?" tanya ibu memastikan.
__ADS_1
"Iya bu, Kevin tidak seperti pria yang ibu pikir selama ini! aku akan buktikan pada ibu kalau Kevin adalah pria baik-baik," timpal Aurora tersenyum menatap wajah ibunya yang penuh dengan kekhawatiran.
"Semoga saja yang kamu katakan benar, ibu yang salah menilai anak itu," ucap ibu, berlalu dari kamar Aurora.
"Cie ... kak Rara punya pacar sekarang! aku jadi penasaran, seperti apa pria yang jatuh cinta dengan kakak culunku ini," goda Nova sambil tertawa kecil.
"Nova ... awas ya kamu!" ucap Aurora meraih tasnya dan berjalan ke dapur mengejar Nova.
"Bilang apa kamu tadi?" ucap Aurora sambil menjewer telinga Nova.
"Aduh kak, sakit!" ucap Nova meringis kesakitan.
"Hei ... sudah-sudah! kalian ini kok saling menyakiti hanya karena seorang pria," ucap ibu dengan nada sindiran pada Aurora.
"Ish ... ibu, bukannya tegur Nova malah aku lagi yang salah!" ucap Aurora dengan wajah masam.
Tiba-tiba ponsel Aurora berdering, sebuah pesan diterimanya pagi itu.
"Ra ... aku jalan sekarang ya, kamu tunggu di tempat biasa!" tulis Kevin dalam pesannya.
"Oke Vin, sebentar lagi aku on the way!" balas Aurora pada pesan Kevin.
"Bu ... aku pergi dulu ya," pamit Aurora, mencium tangan sang ibu.
"Kamu gak sarapan dulu? ibu sudah siapkan sarapan lho untuk kamu," ucap ibu berusaha menahan putri sulungnya untuk menyantap sarapan yang telah ia siapkan.
"Hati-hati Ra! ingat ya pesan ibu," teriak ibu pada Aurora yang berjalan dengan cepatnya.
"Iya bu, aku akan ingat itu!" sahut Aurora dengan teriakannya.
Tidak menunggu lama, Kevin pun tiba dengan mobil mewahnya. Mobil bermerek Ferrari berwarna merah yang setia menemani hari-harinya.
"Ayo Ra masuk!" ucap Kevin dari balik kaca mobilnya.
Aurora kemudian masuk dan duduk di sebelah Kevin. Hatinya penuh dengan sukacita, ia bisa bekerja satu kantor dengan pria yang dicintainya.
"Kamu yakin bekerja dengan pakaian seperti ini Ra?" tanya Kevin menatap kemeja yang dikenakan Aurora.
"Memang kenapa kemejanya Vin?" tanya Aurora kembali dengan wajah polos.
"Kemeja pudar begitu kok masih saja kamu pakai! ya sudah gak masalah, nanti di kantor kan kamu pakai seragam kerja," ucap Kevin dengan santainya.
Sesampainya di area parkir kantor, lagi-lagi Kevin mengingatkan Aurora untuk berpura-pura tidak mengenalnya dengan alasan yang membuat Aurora percaya.
"Ra ... ingat ya, kita tidak saling mengenal jadi tolong jaga sikap di kantor nanti!" ucap Kevin dengan wajah serius.
__ADS_1
"Iya Vin, aku ingat kok! terima kasih ya sudah selalu mengingatkan," ucap Aurora dengan keluguannya.
"Kamu masuk duluan ya, nanti aku menyusul!" pinta Kevin pada Aurora.
Aurora kemudian keluar dari mobil Kevin dan melangkah masuk ke kantor barunya.
"Selamat pagi pak, bu ... perkenalkan saya office girl baru disini!" ucap Aurora sambil menyalami semua karyawan yang baru saja tiba.
"Oh ... office girl baru, rekomendasi dari siapa sih?" bisik salah satu karyawan wanita dengan tampang yang sedikit angkuh. Tingkahnya hari itu membuat ia menjadi bahan perhatian orang-orang di kantor. Bagaimana tidak, ia berdiri di depan pintu menunggu setiap orang yang lewat lalu memperkenalkan dirinya.
Kevin yang melihat Aurora menyalami semua karyawan yang masuk, ia kemudian menghampiri kerumunan dan membubarkannya.
"Lho ... kalian semua sedang apa berkerumun disini, ayo masuk!" ucap Kevin menatap orang-orang yang memperhatikan tingkah lugu Aurora.
"Kamu ini sedang apa Ra? kenapa kamu berdiri disini dan menyalami semua karyawan yang masuk?" tanya Kevin menatap Aurora.
"Aku hanya ingin mereka tahu bahwa aku juga merupakan bagian dari kantor ini Vin," sahut Aurora dengan wajah pilu.
"Sudah ... sudah ... kamu cepat masuk dan tunggu pak Hanif datang!" ucap Kevin, meminta Aurora menunggu pak Hanif di lobi kantornya.
Aurora kemudian berjalan lunglai, semangatnya seolah padam hari itu.
"Apa aku salah melakukan seperti tadi," gumamnya dalam hati.
Saat ia baru saja terduduk di sofa, Arka mengirimkan pesan untuknya.
"Ra, kamu sedang apa? hari ini hari pertama kamu bekerja ya, semangat selalu ya Ra! semoga hari ini menyenangkan untukmu," tulis Arka dalam pesannya.
Bersambung ....
🍂🍂🍂🍂
Quote of the day
Bagi sebagian orang, penampilan adalah hal utama saat akan berinteraksi dengan orang, padahal budi pekerti yang baik mencakup keseluruhan hal yang harus dimiliki setiap orang.
Penampilan hebat tanpa budi pekerti adalah bagaikan cangkang bagus namun isinya kosong, tak ada nilainya.
🍂🍂🍂🍂
Salam hangat
❤❤❤
__ADS_1