Jodoh Titipan

Jodoh Titipan
Bab 30 Pusat Perbelanjaan


__ADS_3

Aurora kemudian berusaha mencoba menjelaskan pada ibunya.


"Office girl itu pekerjaannya membantu memenuhi kebutuhan dan keperluan karyawan bu, pekerjaannya bisa menyiapkan dokumen, konsumsi, membersihan area kantor, atau menyiapkan kebutuhan lainnya bu," ucap Aurora dengan begitu fasih menjelaskan.


"Oh seperti itu ya, ibu ikut senang mendengarnya Ra! semoga saja kamu betah dengan pekerjaan baru ini," ucap ibu dengan penuh harap.


"Aamiin ... semoga saja ya bu," timpal Aurora mengaminkan doa sang ibu.


"Oh iya Ra, kamu belum jelaskan pada ibu! ada masalah apa kamu dengan tempat kerjamu sebelumnya, hingga memutuskan untuk mencari pekerjaan lain," tanya ibu dengan raut wajah penasaran.


Aurora kemudian menceritakan pada ibunya, alasannya ia keluar dari tempat kerja itu dan mencari pekerjaan lain. Perasaan kesal dan kecewa Aurora, ia luapkan saat menceritakan ulang pertengkaran bersama Lani yang menyebabkan ia diberhentikan.


"Subhanallah Ra, jadi kamu bertengkar dengan Lani di tempat kerja?" tanya ibu dengan heran.


"Iya bu, dia benar-benar membuatku kesal! terlebih saat aku mengembalikan uangnya yang aku pinjam tempo hari itu, ia menolaknya dan mengatakan bahwa aku tak perlu membayarnya asalkan merelakan ayah dan tak akan mengingatnya lagi," ungkap Aurora pilu, mengingat kembali luka yang pernah ia rasakan beberapa waktu yang lalu.


"Ibu mengerti perasaan kamu, tapi memutus tali silaturahmi itu tidak baik Ra!" ucap ibu memandangi wajah putrinya.


"Bagaimana ibu bisa bilang mengerti kalau ibu terus saja menyalahkanku, seolah Lani itu selalu benar.


"Bukan maksud ibu seperti itu Ra, ibu hanya ingin kamu tidak mengedepankan ego dan dendam yang akhirnya akan kamu sesali nanti," ucap ibu berusaha mengingatkan putrinya.


"Sudahlah bu, aku capek dan mau beristirahat dulu," ucap Aurora berlalu masuk ke kamar dengan perasaan dongkol.


"Ibu tidak ingin kamu memiliki dendam pada Lani Ra, walaupun ibu paham posisimu saat ini," batin ibu yang melihat putrinya berjalan masuk ke kamar.


Di dalam kamar Aurora hanya terdiam tanpa memperdulikan adik-adiknya yang tengah asyik bersenda gurau. Matanya terfokus memandangi layar ponsel yang tidak kunjung menyala.


"Kenapa Kevin belum juga menghubungiku ya? apa dia tidak penasaran pada hasil interview kerjaku!" batin Aurora sambil mengusap-ngusap layar ponsel miliknya.


"Apa aku harus menghubunginya terlebih dulu?"ucap Aurora menggeser layar ponselnya dan mencari fitur pesan pada berandanya miliknya.


"Gak ada kabar seharian ini dari kamu, kamu baik-baik saja kan Vin? oh iya, kamu mau tau ga hasil interviewku hari ini? aku lulus Vin, semua ini berkat support dan doa dari kamu juga," tulis Aurora dalam pesannya.


Setelah ia mengetik panjang lebar, ia mengurungkan kembali niatnya dan menghapus seluruh pesan yang sudah ia rangkai dengan kata-katanya.


"Enggak-enggak ... dari pada aku mengirim pesan, lebih baik aku langsung saja menelponnya!" gumam Aurora sambil tersenyum kecil.


Perasaannya begitu tak sabar menanti panggilan teleponnya diterima Kevin, ia ingin memberitahukan kabar bahagia itu pada Kevin.

__ADS_1


Tut ... tut ... tut ...


Terdengar jelas nada tunggu saat panggilannya untuk Kevin belum diterima.


"Angkat dong Vin! kamu sedang ada dimana sih?" ucap Aurora dengan perasaan cemas saat Kevin mengabaikan panggilan telepon darinya.


Aurora yang pantang menyerah, terus saja mencoba menghubungi Kevin yang membuat perasaannya menjadi cemas. Setelah berkali-kali mencoba, akhirnya ...


"Halo Vin, kamu kemana aja sih! aku khawatir kamu tidak mengangkat panggilan telepon dariku," ucap Aurora tanpa jeda, ia tak sadar bahwa panggilannya bukan diterima Kevin, melainkan ditolak.


"Lho kok teleponnya berakhir!" ucap Aurora sambil melihat layar ponselnya.


"Aku benar-benar khawatir sama kamu Vin, angkat dong teleponku!" batin Aurora. Hatinya tak tenang sebelum ia dapat berbicara dengan Kevin. Langkahnya mondar-mandir karena kecemasannya tak kunjung reda.


Disaat yang bersamaan, Kevin sedang berada di sebuah tempat perbelanjaan bersama seorang wanita cantik. Tubuhnya yang molek menjadi daya tarik bagi pria yang melihatnya.


Kring ... kring ... kring ...


Dering ponsel Kevin terdengar keras dan berulang-ulang. Ia mengabaikan panggilan telepon itu karena dia tahu bahwa yang menelponnya kini adalah Aurora.


"Siapa sih beb yang telepon? sedari tadi ponsel kamu berdering terus tuh!" tanya wanita cantik itu, yang merupakan kekasih Kevin. Ranti sapaannya.


Perasaan tak nyaman Kevin, membuatnya memutuskan sesuatu. Ia kemudian mengambil ponselnya lalu menekan tombol tolak. Namun tak lama dari itu, ponselnya kembali berdering.


"Angkat dulu deh beb, siapa tahu memang penting!" ujar Ranti, yang sedang sibuk memilih-milih dress di butik langganannya.


"Biar aja lah, ngapain juga aku angkat telepon yang gak jelas kaya gini!" sahut Kevin. Ia kemudian menonaktifkan ponselnya, agar panggilan itu tak lagi mengganggunya.


"Sabar ya Ra, nanti malam aku akan menelponmu!" batin Kevin saat menonaktifkan ponsel miliknya.


"Panggilannya sudah berhenti beb?" tanya Ranti, menatap Kevin.


"Ponselnya aku matikan sayang, aku risih kalau sedang bersamamu seperti ini, selalu saja ada yang mengganggu," jelas Kevin, tersenyum kecil ke arah Ranti.


"Uww ... kamu memang terbaik!" timpal wanita seksi itu pada Kevin.


"Beb ... aku ambil dress ini dan yang ini ya!" ucap Ranti, sambil memegangi kedua dress di tangannya.


"Ambil saja sayang! apapun yang kamu mau, tinggal kamu ambil saja ya," ucap Kevin memanjakan kekasihnya.

__ADS_1


"Uh ... makasih ya beb," timpal Ranti dengan senyum riang sambil menjinjing belanjaannya ke kasir.


Kevin kemudian berjalan mengikuti Ranti ke arah kasir untuk membayar belanjaan yang telah ia pilih. Hingga giliran antriannya tiba, Ranti terus saja bermanjaan dengan Kevin, tak peduli orang-orang disekitarnya memperhatikan tingkah laku mereka.


"Sayang ... semua orang perhatiin kita lho! kamu gak malu?" tanya Kevin menatap Ranti.


"Kenapa mesti malu! suka- suka aku lah, jadi ga ada urusan sama penilaian mereka," ucap Ranti dengan wajah cueknya.


"Berapa mbak?" tanya Kevin saat antrian belanjaannya sudah memasuki kasir.


"Totalnya jadi empat juta tujuh ratus ribu rupiah pak," ucap sang kasir pada Kevin.


Kevin pun kemudian menyodorkan kartu debit miliknya sebagai alat transaksi untuk pembayarannya. Setelah transaksi selesai mereka berjalan keluar dengan menjinjing beberapa kantong belanjaan yang memenuhi kedua tangan mereka.


"Semua keinginan kamu sudah aku penuhi, jangan lupa imbalannya untukku ya sayang!" ucap Kevin, tersenyum nakal pada kekasihnya.


"Buat bebeb kesayangan, akan gak akan pernah lupa kok!" sahut Ranti tersenyum manja sambil menggandeng tangan Kevin.


Kevin dan Ranti sudah menjalani hubungan mereka hampir 1 tahun. Keduanya terlibat hubungan yang tidak sehat dengan mengatasnamakan cinta. Kini mereka terjerat candu **** yang tak berkesudahan.


"Lho kok ponselnya Kevin malah tidak aktif! aku harus bagaimana ini, aku takut terjadi apa-apa pada Kevin," batin Aurora dengan pikirannya.


Kepolosan Aurora membuatnya tak berpikiran lain pada Kevin, justru hanya ada kecemasan yang menyelimutinya sore itu.


Bersambung ...


🍂🍂🍂🍂


Quote the day


Tidak ada istilah cinta sebelum pernikahan, yang ada hanya nafsu dan keinginan untuk memiliki, dengan mengatasnamakan cinta di dalamnya.


🍂🍂🍂🍂


Salam hangat


 


❤❤❤

__ADS_1


 


__ADS_2