
Arka yang terkejut dengan tepukan seseorang pada pundaknya, langsung menoleh dengan segera. Ia begitu mengenal suara yang tak asing baginya.
"Gilang ..." ucap Arka terkejut, mengetahui bahwa yang mengatakan itu adalah Gilang, adik sepupunya.
"Lu dari tadi dengar semua percakapan gua sama Aurora di telepon?" tanya Arka heran.
"Iya gua dengar semuanya, bahkan gua juga tahu yang bahkan belum lu tahu!" tutur Gilang pada Arka.
"Maksud lu?" tanya Arka, ia bingung dengan pernyataan Gilang padanya.
"Gak enak kalau gua ngomongin disini, kita cari tempat nongkrong dulu lah," ucap Gilang, menghampiri motornya yang masih terparkir di basement.
Arka kemudian menunggu Gilang untuk mendengarkan penjelasan darinya. Mereka berjalan beriringan mencari tempat nongkrong untuk membahas Aurora dan Kevin yang membuatnya penasaran.
Kendaraan mereka berdua kini tiba di suatu tempat nongkrong yang tidak begitu ramai pengunjung. Tempat jajanan pinggiran yang menyediakan menu roti bakar, mie rebus dan sosis bakar. Maklum, Gilang merupakan anak dari keluarga biasa yang tidak semapan Arka.
Gilang merupakan anak ke dua dari 5 bersaudara, yang juga harus membiayai ketiga adiknya yang masih menempuh jenjang pendidikan.
"Kita nongkrong disini aja ya!" ucap Gilang sambil memarkirkan kendaraannya tepat di depan warung bertenda plastik.
"Oke, gak masalah," sahut Arka yang turut memarkirkan vespa kesayangannya itu.
Mereka kemudian duduk di salah satu tempat kosong yang sudah tersedia daftar menu di atasnya.
"Pesan apa mas?" tanya pelayan pada keduanya.
"Lu pesan apa Ka?" tanya Gilang menatap Arka.
"Samain aja sama lu!" sahut Arka pada Gilang.
"Pesan pisang bakar 2 sama teh hangat 2 ya mas!" jelas Gilang pada pelayan tersebut.
Setelah pelayan berlalu untuk menyiapkan pesanan mereka. Arka pun bertanya tanpa basa-basi lagi pada Gilang.
"Gua gak ngerti maksud ucapan lu tadi Lang! memangnya lu tahu apa tentang Aurora dan Kevin?" tanya Arka memancing penjelasan dari Gilang.
"Sebelum gua jawab pertanyaan lu, gua pengen tahu dulu perasaan lu sama Aurora! apa lu juga punya perasaan yang sama pada Aurora?" tanya Gilang dengan keingintahuannya pada Arka.
"Gua memang jatuh hati pada gadis lugu itu! tapi rasanya semua itu hanya sia-sia Lang, gua sadar kalau perasaan Aurora pada lelaki itu lebih besar," ungkap Arka dengan suara pilu.
__ADS_1
"Lu gak sendiri Ka, gua hampir aja babak belur karena masalah ini!" jelas Gilang pada Arka.
"Lu ribut sama si Kevin itu?" tanya Arka mengintai.
"Iya, gua sempat dekati Aurora 2 hari ini dan gua rasa Kevin gak terima dengan kedekatan gua dengan Aurora makanya dia berusaha mati-matian ngejauhin gua dengan gadis itu," ungap Gilang sambil mengangkat sudut bibirnya.
"Gua kemarin sempat pergoki si Kevin dengan wanita yang menurut dugaan gua adalah kekasihnya, gua juga udah kasih tau ini pada Aurora tapi ternyata perasaan Aurora padanya mengalahkan realita yang ada, dia memang sudah buta karena cinta!" tegas Arka, netranya menatap kosong pada meja didepannya.
"Gua lebih kenal Kevin dari pada lu Ka! gua tahu berapa banyak wanita yang menjadi korban nafsu seksnya selama ini," ungkap Gilang dengan wajah serius di depan Arka.
"Serius lu dia lelaki sebejat itu?" tanya Arka tersentak mendengar pengakuan dari Gilang.
"Apa untungnya gua bohong sama Lu! gua cuma khawatir Kevin mendekati Aurora hanya karena gadis itu terlihat lugu," jelas Gilang dengan wajah cemasnya.
"Gua gak bisa biarin lelaki itu mendekati dan menghancurkan hidup Aurora! gua kenal baik dengan ibu dan ketiga adiknya yang masih butuh perjuangan darinya.
Hatinya diliputi kecemasan yang begitu memuncak, ia kemudian merogoh celana jeansnya dan mengambil ponselnya untuk menelpon Aurora.
"Mau ngapain lu Ka?" tanya Gilang penasaran.
"Gua mau telepon Aurora dan menanyakan sedang apa dan dimana dia sekarang!" ungkap Arka dengan penuh kekhawatiran.
"Gila ... Arka memang benar-benar sekhawatir itu dengan Aurora!" gumam Gilang dalam batinnya.
"Kamu dimana dan sedang apa Ra?" tanya Arka dengan nada mengintai.
"Aku sedang makan dengan Kevin! kamu kenapa sih kok tanya begitu?" ucap Aurora dengan suara kesal.
"Ra ... kamu cepat pulang sekarang ya, aku gak mau ibu khawatir karena kamu pulang larut! cepat kasih tahu aku, dimana posisi kamu sekarang biar aku jemput kamu kesana," ucap Arka dengan suara tergesa-gesa.
"Kamu ini apa-apaan sih Ka? ini tuh baru jam 07 malam, aku tahu betul kapan aku harus pulang! jadi berhenti ganggu dan bersikap gak jelas seperti ini," pinta Aurora dengan suara berteriak.
Aurora merasa risih dengan sikap Arka yang terus saja mengintai gerak-geriknya bersama Kevin. Ia lalu menutup teleponnya dengan tiba-tiba tanpa mengucap apapun pada Arka.
"Siapa sih Ra? kok kayanya dia khawatir betul dengan kamu!" ucap Kevin sambil menikmati menu makanan yang terhidang di mejanya.
"Dia temanku, Arka namanya! aku mulai merasa risih dengan kekhawatiran dia yang berlebihan dan tidak pada tempatnya," ungkap Aurora dengan raut wajah kesal.
"Khawatir berlebihan? bagus dong, berarti dia benar-benar peduli dengan keadaan kamu sebagai temannya," tegas Kevin sambil mengunyah makanannya.
__ADS_1
"Iya, tapi masalahnya dia itu udah buntuti kamu kemarin! dia juga tunjukan foto-foto kamu bersama seorang wanita, itu kenapa aku tanya kemarin kamu pergi kemana," ungkap Aurora pada Kevin.
Kevin tersentak mendengar penjelasan Aurora tentang siapa itu Arka, ia berusaha terlihat tenang seolah itu bukan masalah baginya.
"Sudahlah gak apa-apa, wajar kok kalau dia sekhawatir itu, karena dia gak mau terjadi apa-apa dengan kamu," jelas Kevin dengan ucapannya.
"Makasih ya Vin atas pengertiannya," ucap Aurora tersenyum menatap Kevin.
"Jadi anak itu yang mengatakan pada Aurora tentang pertemuanku kemarin dengan Ranti? kenapa ada saja masalah saat aku ingin memulai semuanya dari awal," gumam Kevin sambil memperhatikan wajah Aurora.
"Oh iya Vin, tadi kamu bilang kalau kamu mau bicara sesuatu sama aku! masalah apa Vin?" tanya Aurora, menunggu jawaban Kevin.
"Aku mau cerita jujur sama kamu Ra! sebenarnya ... yang teman kamu bilang itu benar, bahwa aku kemarin bukan untuk bertemu klien akan tetapi menemani Ranti berbelanjan," ungkap Kevin dengan suara terdengar ragu-ragu.
"Jadi benar kamu punya kekasih?" tanya Aurora dengan netra yang membulat.
"Iya Ra, aku memang punya kekasih sebelumnya, tapi hubungan kami saat ini sudah berakhir!" jelas Kevin mempertegas hubungan percintaannya dengan Ranti.
"Aku sudah tidak lagi nyaman menjalani hubungan dengannya, makanya aku memutuskan untuk mengakhiri dan menjalin hubungan yang lebih baik lagi," ungkap Kevin melirik Aurora.
"Apa hanya itu alasan kamu memutuskan dia?" tanya Aurora penasaran.
"Alasan utamaku adalah aku mencintai wanita lain Ra! wanita itu adalah ... yang kini ada dihadapanku," tegas Kevin menatap tajam Aurora.
Bersambung ...
🍂🍂🍂🍂🍂
Quote of the day
Banyak orang menghakimi dan mencaci maki kehidupan pribadi seseorang, tanpa tahu bahwa orang tersebut telah melewati begitu banyak kesukaran dan kesulitan dalam hidupnya.
Hingga ia sibuk dan tidak sadar bahwa debit dosanya kian bertambah banyak dari pada orang yang ia hakimi.
🍂🍂🍂🍂🍂
Salam hangat
__ADS_1
❤❤❤