
Wileen POV
Benar saja, rasanya otaku di penuhi dua pria yang berbeda. Albern, Alex, Albern, Alex, dua pria itu membuatku tidak bisa memejamkan mataku malam ini. Kenapa Tuhan, kenapa aku merasakan perasaan yang sama pada dua pria yang berbeda. Apa ini karena aku terlalu sering memikirkan Albern, sehingga menyamakan Alex denganya.
Yang lebih aneh lagi, kenapa Alex juga hadir ke dalam fikiranku. Dia orang baru, bahkan sangat baru karena aku kenal dia masih dalam hitungan hari. Berbeda dengan Albern, wajar saja dia selalu di fikiranku. Bahkan ini bukan kali pertama, selama bertahun tahun dialah penghuni tetap di fikiranku bahkan hatiku.
Mencoba mengusir dua pria itu di dalam fikiranku, hingga ku lempar semua boneka boneka kesayanganku ke lantai. Entah apa yang aku lakukan akupun tidak sadar dengan perbuatanku.
"Tidak-tidak!!" apa aku sudah gila? please klian berdua leyaplah dari fikiranku," desisnya sembari memukul mukul ringan kepalanya.
Mungkin jika di sinetron keadaanku saat ini seperti ada dua malaikat yang mengitai diriku. Satu malaikat mendukungku untuk setia menanti Albern. Sedangkan satu malaikat lainya mendukungku agar berpindah hati kepada Alex.
"Please kalian berdua, bisakah menyingkir dari fikiranku sejenak saja? aku lelah dan ingin segera memejamkan mata ini, aku ngantuk," gumamku memohon pada dua bayangan pria di fikiranku.
Pagi ini aku bangun kesiangan, bahkan aku enggan membuka mataku. Begitulah effck begadang semalaman karena memikirkan dua pria yang mengganggu fikiranku. Hingga gedoran di balik pintu pun tidak mampu membuatku bangun dari tidurku.
Hingga terdengar suara dering ponselnya berkali kali melakukan panggilan di nomerku. Panggilan pertama hingga ke lima masih saja tidak berpengaruh bagiku. Hingga panggilan ke enam, mau tidak mau aku pun mengangkatnya. Seketika mataku langsung terbuka lebar dalam keada'an gugup.
Ternyata Alex yang menelponku karena aku bisa mengenali suaranya. Suara yang hampir sama dengan suara milik Albern. Hanya bedanya, suara Alex terdengar lebih seperti suara orang dewasa. Sontak aku yang mengenali suaranyapu langsung membuka mataku lebar-lebar.
"Siang Wileen!!" apa elo lupa siang ini ada jadwal pemotretan?" tanya Albern di balik telponya.
"Astaga, gua kelupa'an!!" maaf, gua akan segera datang," jawabku panik dan setelahnya aku langsung turun dari ranjang princessku.
Aku segera membersihkan tubuhku ke dalam kamar mandi lalu setelah berganti pakaian aku pun langsung turun ke lantai bawah dengan terburu-buru.
Di fikiranku saat ini hanyalah tidak ingin membuat Alex menungguku terlalu lama. Hingga aku langsung mengemudikan mobilku dengan sangat cepat. Untung saja jalanan siang hari itu tidak begitu ramai.
"Astaga!!" kenapa aku bisa kesiangan, sih? terlambar berjam jam lagi. Duh, jadi gak enak sama Alex, pasti dia nungguin lama banget dari tadi," gerutuku merasa bersalah.
"Sssssssssssiitt!!"
Mobilku langsung berhenti mendadak di saat ada se ekor kusing yang sedang menyebrangi jalan. Sontak aksi dadakanku ini mengakibatkan dahiku terbentur dan sedikit berdarah.
Namun karena mengejar waktu, aku tetep melnjutkan kemudiku tanpa memikirkan dahiku yang berdarah.
__ADS_1
Kurang lebih lima menitan akhirnya aku tiba di lokasi pemotretan. Banyak orang-orang yang berlalu lalang memperhatikanku. Aku sendiri tidak sadar atu lebih tepatnya lupa bahwa dahiku sedang terluka.
Aku tetap berjalan tergesa-gesa hingga sampailah di penghujung pintu. Di sana ternyata pria yang aku fikirkan semalaman penuh sedang berdiri menungguku.
Aku perhatikan dia, kenapa ekspresinya terlihat berbeda saat aku datang. Bahkan dia melangkahkan kakinya menghampiriku. Langkahnya semakin dekat sedangkan aku hanya berdiri di tempat sambil memperhatikanya.
"Wil!!" elo kenapa?" tanyanya kawatir.
"Hah, maksud elo kenapa?" tanyaku balik.
Tanpa aba-aba Alex langsung menggenggam tanganku dan mengajaku masuk. Apakah kalian tahu bagaimana kabar hatiku saat tanganggu di genggam Alex? rasanya hatiku serasa ingin lepas dari tubuhku.
"Duduklah!!" perintahnya dan aku menurutinya.
Ku lihat dia mengambil kotak P3K dan di situlah aku baru sadar, bahwa dahiku tadi terbentur. Ku raba dahiku, bahkan tanganku belum sempat menempel ke dahi, Alex sudah melarangku.
"Stop, Wileen!" lukamu bisa inveksi karena tanganmu pasti kotor," tegurnya.
Meskipun aku tidak bisa melihat jelas wajahnya, tapi aku bisa melihat Alex begitu menghawatirkanku. Terlihat saat dia begitu cekatan mengambil kotak P3K lalu dia segera menghampiriku.
"Bagaimana bisa elo terluka seperti ini? dasar ceroboh," omelnya.
Tetapi kenapa hati ini merasa senang di saat mendengar omelan darinya. Padahal kami bertemu belum genap satu minggu. Kenapa kami berasa sudah sangat mengenal lama.
Bahkan kenapa lagi lagi aku melihat Albern pada sosok Alex. Kenapa denganku? kenapa bayangan dua pria itu muncul lagi di fikiranku. Dua orang pria yang tidak bisa membuat tidurku nyeyak semalaman.
Aku menggeleng, bahkan aku tanpa sadar Alex sedang memperhatikan tingkahku. Duh, malu bnget di saat aku tersadar ternyata sedari tadi aku melamum dan bertingkah tidak jelas.
"Elo enggak kenapa-kenapa kan, Wil? apa perlu gua antar ke rumah sakit? takutnya ada yang salah dengan kepalamu," tawarnya dan aku langsung menggeleng.
"Eh, enggak usah, gua baik-baik saja!!" jawabku.
"Yakin? bagaimana bisa dahimu terluka? apa yang terjadi dengan lo tadi?"
Alex masih memperhatikan dahiku yang terluka, aku semakin gugup jika dia terus terusan seperti itu. Bahkan aku menjawab pertanya'anya dengan terbata-bata saking gugupnya.
__ADS_1
Kurang ajar dia, aku beneran gugup tetapi dia malah terlihat seperti tersenyum. Meskipun wajahnya tertutup masker, namun matanya jelas memperlihatkan dia sedang tersenyum melihatku.
Duh, melihat eye smilenya saja sudah membuatku salah tingkah, apa lagi jika melihat bibirnya yang tersenyum. Kenapa orang ini membuatku penasaran sih? aku penasaran bagaimana wajah Alex yang sesungguhnya.
"Eheeem, jadi pemotretan, kan?" tanyaku mencairkan suasana.
"Dengan keada'an dahi elo yang seperti ini?" tanyanya balik.
Sontak ku tepuk jidatku karena lagi lagi aku lupa jidatku sedang terluka dan di plaster saat ini. Akupun mengaduh karena kebodohanku, sudah tahu jidatku terluka malah ku tepuk.
Lagi lagi Alex tersenyum, lebih tepatnya dia saat ini menertawaiku. Astaga kenapa aku bisa mendadak bodoh di hadapanya. Malu, malu banget pokoknya, please Wileen, kamu kelihatan banget salah tingkahnya.
"Dasar gadis ceroboh," ucapnya mengacak rambutku.
Hah, kenapa tingkah dia seperti Albern? Tuhan, kenapa Alex memiliki banyak kesama'an dengan Albern. Sebenarnya siapakah dia? kenapa perasaanku senyaman ini saat di dekatnya. Sama halnya yang aku rasakan di saat di dekat Albern sahabatku.
Setelah mengacak rambutku, dia melangkah pergi dan mengemasi peralatanya untuk pemotretan. Ya, pemotretan hari ini pun di tunda karena dahiku terluka. Mana mungkin pemotretan ini terus di laksanakan di saat dahiku penuh dengan plaster hasil tempelan Alex.
"Wileeeen!!" dasar kerbau, elo tidur apa mati, sih? gua hubungin elo berkali kali tidak satupun yang elo respon. Giliran Alex yang hubungin elo, elo langsung angkat. Eh,,, dahi elo kenapa? lo baru terjun payung?" oceh Sania yang tiba-tiba muncul.
"Gila!!" kuping gua auto budek denger teriakan elo, San?" protesku dan Sania hanya cengengesan menanggapinya.
"Yuk, gua antar elo pulang," ucap Alex tiba-tiba menawarkan diri.
Mataku langsung bertemu pandang dengan mata Sania. Seolah aku sedang meminta persetujuan darinya yang seharusnya tidak perlu.
"Enggak usah, Lex!!" yang sakit dahi aku doang, tangan dan kakiku baik-baik saja," ucapku menolak secara halus.
"Oke, saat ini dahi elo doang, siapa tahu nanti tangan atau kaki elo yang bermasalah. Sudah, gua antar elo pulang dan tidak ada penolakan," ucap Alex final.
Aku langsung menyenggol Sania dan berbisik di telinganya. "San, nih anak apa salah makan tadi pagi? kenapa dia mendadak posessive ke gua?"
Sania menggeleng, bahkan dia pergi begitu saja dan menyetujui tawaran Alex. Mau tidak mau akhirnya aku pun menyetujui tawaran Alex. Entahlah, mau menolak akupun tidak bisa karena posisiku terhimpit keadaan.
"Kuatkanlah hati ini, Tuhan," gumamku dalam hati.
__ADS_1