
"Dosa, kalau kamu nyuekin suami. Dosa, kalau kamu masih memendam kemarahan pada suami. Layani suamimu dengan baik, kalau tidak, maka jangan salahkan jika suamimu jajan di luar sana."
Ucapan mamanya masih terngiang-ngiang di pikiran Wileen. Dia aku dia masih kecewa pada suaminya. Tetapi mendengar kata dosa, membuatnya takut. Karena setelah menikah, surga istri berada pada suami.
Malam ini Wileen mengizinkan Albern tidur satu ranjang denganya. Meskipun tidak terbiasa dan terasa canggung. Dia akan belajar membiasakan agar tidak canggung lagi.
Seperti saat ini mereka berdua sudah berada di tempat tidur yang sama. Wileen membelakangi suaminya. Albern memandangi punggung istrinya yang membelakanginya.
"Sayang, kamu masih marah?" tanya Albern menarik lengan Wileen, memintanya menghadapnya.
"Aku gak marah!!" ucap Wileen tidak berani menatap suaminya.
Saat ini posisi Wileen sudah tidak membelakangi suaminya. Dia tidak lagi marah, lebih tepatnya menyembunyikan semburat kemerahan di pipinya karena malu.
Albern mencubit hidung Wileen. " Beneran kamu sudah gak marah sama suamimu ini?" tanyanya. Sengaja menekankan kata suami untuk mengingatkan Wileen bahwa dia sekarang sudah menjadi suaminya.
Wileen mengangguk, masih belum berani menatap Albern. Sebenarnya Albern menyadari istrinya sedang malu. Dia sengaja menggoda Wileen agar semakin malu. Menggemaskan, kata-kata itu yang paling cocok untuk istrinya saat ini.
Albern mencium pipi istrinya, lalu berbisik di telinganya. "Jangan marah lagi, malam pertama kita gagal karena kamu marah. Kau tahu hukuman yang pantas untukmu apa?"
Wileen ingin melayangkan protes. Dia mendongakan wajahnya menatap suaminya.
"Cup," kecupan lembut mendarat di bibirnya. Albern melepaskan ciuman singkatnya, lalu memandang wajah istrinya.
"Sudah halal, gak ada yang ngelarang dan gak dosa. Malahan ini adalah ladang pahala untukmu. Apakah boleh? Em, maksudku apakah kita bisa melakukanya malam ini?"
Pasokan udara di tubuh Wileen mendadak berhenti. Ucapan suaminya barusan membuat kinerja jantungnya dua kali lebih cepat. Saking cepatnya, rasanya ingin terlepas saja dari tubuhnya.
Wileen memalingkan wajahnya karena malu. Percuma saja, Albern mencoba menarik wajah istrinya penuh kelembutan.
"Apa kamu mencintaiku?" tanya Albern, menatap Wileen. Wileen mengangguk, setelahnya berkata. "Ya, aku mencintaimu."
"Sejak kapan kamu mencintaiku?" tanyanya lagi.
Wileen diam, karena dia sendiri tidak tahu awal mula mencintai Albern. Bisa jadi sejah SMA atau setelah dia merasa kehilangan Albern waktu itu.
__ADS_1
"Sayang. Kenapa tidak dijawab? Kau tau gunanya bibir untuk apa?" tanyanya menunjuk bibir Wileen menggunakan jari telunjuknya.
"Makan!!"
"Terus?"
"Minum, Bicara, dan_
"Dan...?"
"Dan, menciummu. "Cup," lagi-lagi Albern mencium bibir Wileen. Wajah Wileen sudah berubah semerah tomat dan dia kebingungan untuk menutupinya.
"Kenapa ti sembunyikan? Kamu lucu dan gemesin, deh."
"Aku malu!!" jujur Wileen. Dia menyuruh istrinya menyandarkan kepalanya di dada bidang Albern.
Albern tersenyum lalu semakin mengikis jarak di antara mereka berdua. Netra mereka bertemu, bibir keduanya menyatu, dan mata mereka terpejam meresapi setiap kecupan di bibir.
Pandangan mata Albern semakin berkabut gairah. Dia sudah tidak tahan lagi, karena seharusnya malam pertama mereka sudah terjadi dari seminggu yang lalu.
Malam itupun terjadilah penyatuan antara mereka berdua. Malam yang sangat cocok, di tambah suasana yang sepi dan di luar sedang turun hujan. Membuat malam itu semakin romantis untuk dua pasangan pengantin baru.
Entah berapa kali yang mereka lakukan di malam pertama. Hingga Wileen tertidur sampai siang hari gara gara ulah suaminya semalam.
Badanya remuk redam, apalagi bagian bawahnya terasa sakit jika dia menggerakan kakinya. Albern masuk membawakan makanan untuk istrinya. Dia tahu, tenaga istrinya telah terkuras habis oleh kegiatan mereka semalam.
"Sayang. Ayo bangun, makanlah!!" pinta Albern lembut.
Cinta Albern pada Wileen semakin besar. Wileen sudah menjadi miliknya seutuhnya. Wanita yang masih setia bersembunyi di balik selimut itu bukanlah seorang gadis lagi. Dia telah berubah menjadi seorang wanita. Dia telah menjadi istri sah Albern untuk saat ini dan selamanya.
"Sayang. Kenapa di tutupi wajahnya? Kenapa juga tubuhmu di tutupi? Aku sudah hafal setiap lekuk tubuhmu, sayang," bisik Albern mendapat pukulan di lengan nya dari Wileen.
"Stop! Jangan di bahas, aku malu," rengek Wileen.
"Kenapa malu? Kamu juga sudah lihat punya aku. Aku juga sudah lihat punya kamu, impas bukan?"
__ADS_1
"Diam! Aku mau mandi dulu," ucapnya kemudian, mencoba bangkit dari tidurnya namun seluruh bagian tubuhnya terasa sakit.
Albern langsung menggendong istrinya, membantunya menuju ke kamar mandi. Mata Wileen membelalak ketika melihat tubuhnya terekspos tanpa ada selembar kain yang menutupinya.
"Aaaaaa!!" teriaknya. reflek Albern membungkam mulut istrinya menggunakan bibirnya. Karena kedua tanganya telah digunakan untuk menggendong istrinya.
"Sayang, jangan teriak. Ada apa sih? Apa yang membuatmu teriak-teriak?"
"Aku malu, aku tidak memakai apapun di tubuhku," ucapnya, menyadarkan Albern tentang sesuatu yang indah di depan matanya. Melihat suaminya memperhatikan tubuhnya, membuat Wileen ingin berteriak kembali.
"Kenapa sih? Kan sudah lihat semalam. Jangan-jangan kamu pengen lagi, ya? Yuk, yang, dengan senang hati," goda Albern.
"Keluar, aku mau mandi," pinta Wileen mendorong suaminya keluar. Dia segera menutup dan mengunci pintu kamar mandi.
Jantungnya berdetak tidak karuan karena keusilan suaminya. Dengan langkah pelan, Wileen berjalan menyalakan shower mandinya. Dia mengguyur seluruh tubuhnya dan sisa-sisa percintaan semalam.
Setelah selesai, Wileen melihat pantulan dirinya di cermin. Mulutnya menganga setelah melihat sekujur tubuhnya dipenuhi berbagai hasil karya suaminya. Stempel pulau- pulau kecil berbagai bentuk ada semua di tubuh Wileen.
"Astaga, suamiku mengerikan!!" gumamnya tidak habis pikir.
Dia segera mengeringkan rambutnya di kamar mandi. Setelah itu dia keluar menggunakan handuk yang melilit tubuhnya.
Albern duduk di sofa memperhatikan penampilan istrinya yang sangat sexy di matanya. Apa lagi matanya terfokus pada tanda-tanda merah yang tercetak di leher, bahu dan entahlah, pasti ada lagi selain di bagian itu.
Albern menghampiri istrinya untuk memperhatikan secara jelas semua hasil karyanya. Dan benar saja, bukan hanya di leher dan bahu saja. Belahan dadanya, punggungnya, perutnya semuanya dipenuhi hasil karyanya.
Albern meminta Wileen membuka handuknya untuk melihat hasil karyanya pada bagian yang tertutup. Wileen menampik tangan nya ketika tangannya hendak membuka handuk yang melilit di tubuhnya.
"Sudah cukup! Aku lapar, aku ingin makan," rengeknya, mengalihkan perhatian suaminya.
Kalau dituruti, tujuh hari tujuh malam pasti Albern akan melakukanya. Dia juga tidak menyangka, suaminya yang dikira kucing ternyata seperti seekor singa yang siap menerkamnya. Ganas tapi sexy dan kadar ketampanan bertambah berlipat-lipat tadi malam.
Tidak ingin memaksakan kehendak, Albern pun menuruti keinginan istrinya. Meskipun dalam hatinya seperti ketagihan dengan tubuh istrinya. Serasa ingin mencumbu dan mencumbu tanpa henti.
Tapi mengingat istrinya kelaparan, membuatnya menjadi kasihan. Dia akan menunda keinginannya, lambung istrinya saat ini lebih penting. Soal itu bisa di nego nanti malam.
__ADS_1