Jodohku Selamanya

Jodohku Selamanya
Masih Marah


__ADS_3

Ketika Wileen telah diizinkan keluar dari rumah sakit. Keluarganya juga datang untuk menjemputnya. Dokter menyarankan agar Wileen tidak melakukan aktivitas berat di masa pemulihan nya. 


Albern hendak menggendong Wileen menuju ke kamarnya. Wileen langsung menolak dan berkata dia bisa berjalan sendiri. Wanita itu masih marah pada lelaki yang saat ini telah menjadi suaminya.


Malangnya nasib Albern. Bukanya pengantin pada umumnya akan berbulan madu setelah pernikahan. Hal itu tidak untuk Albern yang telah beberapa kali membohongi Wileen. Albern hanya bisa pasrah, mungkin ini adalah hukuman yang setimpal untuknya.


Sementara Wileen berjalan sendiri menuju kamarnya. Albern tetap mengikutinya dari belakang. Wileen sadar ada yang mengikutinya, dia bergegas masuk ke dalam kamarnya lalu dengan cepat menutup pintu kamarnya.


Albern hanya bisa mengelus dadanya. Dia tidak menyangka, kemarahan Wileen ternyata sangat mengerikan. Albern mendengus pelan, ingin mengetuk pintu tetapi dia urungkan. Dia berputar balik menuju ke lantai bawah. Di sana mertuanya masih duduk berbincang-bincang di ruang keluarga.


"Loh, Al. Ada apa lagi? Kenapa kamu tidak menemani istrimu di kamar?" tanya ibu mertuanya.


"Pintunya dikunci dari dalam, ma!!" jawabnya lesu.


Semua menatap iba pada Albern. Handoko menyuruh menantunya sementara tidur di kamar sebelah kamar Wileen. Di sana ada kamar kosong yang langsung terhubung dengan kamar Wileen. Ada pintu di dalamnya yang terhubung dengan kamar Wileen. Sehingga Albern masih bisa masuk lewat pintu itu.


Mendengar ada jalan menuju kamar istrinya, membuat Albern bergegas menuju kamar yang berada di sebelah kamar Wileen. Dan benar saja, setelah Albern memasuki kamar itu, dia melihat pintu penghubung seperti yang dikatakan Handoko barusan.


Albern mencoba membuka dengan pelan pintu penghubung kamar istrinya. Dia masuk begitu setelah dirasa suasana cukup sepi. Hanya ada suara gemericik air yang bersumber dari kamar mandi. Albern bisa menebak istrinya saat ini sedang mandi.

__ADS_1


Dia menunggu di sofa yang terletak di samping jendela. Dia duduk disana sambil menunggu istrinya selesai mandi. Tak lama kemudian Wileen keluar hanya mengenakan handuk sebatas paha. Albern yang disuguhkan pemandangan yang halal baginya pun seketika dadanya bergemuruh.


Kulit putih mulus milik istrinya membuatnya ingin melihat secara dekat. Apa lagi gundukan yang tercetak indah yang menyembul sedikit keluar di balik handuk yang masih menutupinya, membuat pandangan Albern menggelap. Bahkan Albern kesulitan mengedipkan matanya. 


Wileen berjalan ke meja rias dan masih mengenakan handuk penutup tubuhnya. Rambutnya yang basah tergerai indah serta aromanya yang wangi masuk ke indra penciuman milik Albern.


Wileen mengambil hairdryer dan mengeringkan rambutnya. Di saat dia asik mengeringkan rambutnya sambil bersenandung ria. Tiba-tiba ada tangan seseorang mengambil alih hairdryer itu dan berniat membantu Wileen mengeringkan rambutnya.


Jika Wileen tidak sedang marah dengan lelaki yang menjadi suaminya saat ini. Sudah pasti dia akan malu malu saat Albern membantunya mengeringkan rambutnya. Berbeda dengan kenyataan saat ini, Wileen berteriak saat melihat suaminya berada di kamarnya.


Reflek Albern membuat Wileen bungkam dengan menutup mulut istrinya menggunakan tanganya. Wileen memberontak, meminta Albern keluar dari kamarnya. Mata Wileen melihat bagian tubuh atasnya yang terlihat, seketika dia menutupinya menggunakan tanganya.


Wileen masih memberontak, sedangkan Albern masih meminta istrinya diam. Hingga Albern menabrak kaki kursi dan menyebabkanya limbung dan terjatuh di atas ranjang dalam posisi tubuhnya menindih tubuh Wileen.


Albern semakin terpancing oleh kabut gairahnya. Mengingat istrinya baru saja pulang dari rumah sakit, dia pun langsung bangkit. Dia tidak ingin membuat istrinya semakin terluka karena ulahnya. Wileen kecewa ketika suaminya melepaskan ciumannya begitu saja. Bahkan melihat Albern tiba tiba meninggalkan dan masuk ke dalam kamar mandi.


Buru-buru Wileen segera mengambil pakaian nya dan segera memakainya. Tak lama Albern pun keluar dari kamar mandi. Sepertinya lelaki itu baru saja selesai mandi. Karena wajahnya yang segar serta aroma wangi dari tubuhnya bisa di tebah bahwa dia baru selesai mandi.


Wileen hanya diam tanpa ingin melihat suaminya. Bahkan ketika Albern mendekat pun, Wileen tetap acuh. Albern duduk di pinggir ranjang yang ditempati Wileen saat ini. 

__ADS_1


"Jika kehadiranku membuatmu kurang nyaman, maka aku akan tinggal di apartemen saja. Aku tahu kamu sangat kecewa padaku. Aku akan selalu menunggumu sampai kamu mau memaafkanku."


Setelahnya Albern bangkit dari duduknya. Wileen merasakan cubitan kecil di sudut hatinya. Dia memang munafik, dia marah kepada suaminya tetapi dia tidak ingin jauh darinya. Gengsi membuatnya bungkam dan membiarkan Albern keluar dari kamarnya.


Rasanya ingin berlari dan berteriak "Jangan pergi". Namun kata-kata itu tidak bisa diucapkan langsung dari bibirnya. Yang dia bisa lakukan hanyalah melihat suaminya dari balik jendela kamarnya.


Mobil milik suaminya sudah berada di depan gerbang. Albern benar benar serius dengan ucapanya barusan. Dia pergi meninggalkan Wileen karena sikap Wileen yang menolaknya. Tiba tiba Wileen menangisi kepergian suaminya. Dia dilema, dia tidak bisa mengontrol perasaanya sendiri.


Tak lama mamanya masuk ke dalam kamar Wileen. Beliau menegur putrinya dan bertanya apa yang putrinya lakukan sehingga membuat Albern pergi. Bukan menjawab malah Wileen menangis di pelukan mamanya.


"Wileen masih kesal dengan semua kebohongan Albern. Wileen kecewa padanya, tapi kenapa dia malah pergi meninggalkan Wileen, ma?"


Mamanya tersenyum. Sikap anak dan menantunya ini membuatnya heran. Apakah ini yang dinamakan benci tapi tidak ingin jauh. Tiba-tiba terlintas di pikiran mamanya untuk menakut-nakuti putrinya.


"Menurut mama sikap kamu ini salah, Wil. Kalian sudah menikah, dan kebohongan Albern tidak semuanya salahnya. Mama dan papalah yang memintanya merahasiakan bahwa dia adalah tunanganmu. Bukankah kamu sendiri yang tidak ingin tahu siapa calon suamimu?"


"Dosa memperlakukan suami seperti itu. Kalau Albern berpaling ke wanita lain bagaimana? Karena istrinya tidak mempedulikannya."


Wileen menggeleng, tidak ingin semua itu terjadi. Tetapi apa yang bisa dia lakukan saat ini? Tidak mungkin dia mengejar suaminya. Tidak mungkin dia menyusul suaminya ke apartemenya di saat kondisinya seperti ini. Pasti orang tuanya akan melarangnya pergi.

__ADS_1


"Sudahlah, kamu tenang saja. Biar mama yang bilang pada Albern nanti. Toh dia berangkat kerja, pasti dia nanti akan pulang ke sini karena istrinya ada di sini," ujar mamanya.


"Bukanya dia pergi ke apartemenya, ma? Dia tadi bilang akan tinggal di apartemennya," ucap Wileen. Mamanya menggeleng, karena Albern tadi memang berniat menginap ke apartemenya tetapi Handoko melarangnya. Mendengar penjelasan dari mamanya, setidaknya hati Wileen sedikit merasa lega.


__ADS_2