
Setelah memastikan Wileen telah masuk ke dalam rumah, Albern mulai membuka pintu mobilnya. Tiba tiba ada tangan kokoh seorang pria sedang menghadangnya. Albern menoleh, menepis tangan seseorang yang menghalanginya.
Matanya menatap tajap sosok pria yang tidak lain adalah Sain. Albern menyeringai, dia masih berperan menjadi Alex. Ternyata waktu telah di mulai, inilah sosok Sain yang sesungguhnya ada di depan matanya.
"Mau elo apa? di mana ada Wileen kenapa ada elo?'' tanya Sain menatap tajam Albern.
"Bukan urusan elo!!" jawab Albern tak kalah sengit.
"Brengsek, elo nantangin gua?" Sain menarik kerah kemeja Albern. Secepat kilat Albern menepis tangan Sain dari kerah kemejanya.
"Enggak ada yang nantangin elo, yang ada elo yang nyari masalah sama gua."
"Brengsek! Gua gak mau cari ribut di depan rumah Wileen. Gua cuma mau ngasih tahu elo, Wileen adalah milik gua dan elo menyingkir jauh jauh darinya."
Albern lagi lagi menyeringai namun kali ini dia juga tertawa kecil. Tingkah kekanakan Sain sangat aneh di matanya. Sebegitu besar obsesinya untuk memiliki seorang Wileen. Memang dia cinta, tapi rasa cintanya itu terbilang tidak sehat.
"Elo siapa ngelarang ngelarang gua? Gak ada yang bisa ngelarang gua, karena Wileen sepertinya juga menyukai gua. Di tambah lagi, bukankah kalian sudah putus? Jadi gua bebas dekatin dia dan tanpa izin dari elo."
Setelah mengatakan perkata'an barusan yang membuat emosi Sain makin meledak ledak, Albern langsung membuka pintu mobilnya lalu menutupnya dengan cukup keras. Tanpa menghiraukan Sain yang masih melihatnya dengan tatapan permusuhan, Albern malah cuek lalu menjalankan mobilnya begitu saja.
Sain mengumpat berulang ulang sembari kakinya menendang ban mobilnya. Wajahnya sudah memerah karena terlalu emosi ada orang asing yang berani menentangnya.
Baru kali ini ada sainganya yang berani menentangnya, harga dirinya bagaikan di injak injak oleh Alex. Bukan Sain jika menyerah begitu saja, tekatnya masih akan menyelidiki siapa Alex yang sebenarnya.
Dia tidak aka kalah ataupun mengalah jika demi Wileen. Opsesinya demi mendapatkan Wileen kembali lebih besar dari pada logikanya.
Ingin memerintah orang orangnya untuk menghabisi nyawa Alex saat ini juga. Namun ia urungkan mengingat kemarin orang orangnya gagal menghabisi Alex.
__ADS_1
Sain akan tetap memikirkan cara, pastinya tidak saat ini. Karena saat ini kepalanya terasa pecah, hal pertama yang akan ia lakukan adalah menghabiskan malam ini di sebuah clup. Mungkin dengan pesta alkohol bisa sedikit membuatnya melupakan Wileen dan rasa kesalnya kepada Alex.
Sedangkan Albern dari pantulan kaca spionya sedang melihat Sain. Pria itu menyeringai penuh kemenangan karena berhasil memancing emosi Sain.
"Seperti yang gua pernah katakan, bahwa gua tidak akan kalah dan tidak akan pernah mengalah lagi untuk elo, Sain."
Di tengah fokusnya Albern melihat Sain, tiba tiba ponsel di kantong celananya bergetar. Di ambilnya ponselnya itu dan di layarnya terteranama Mamanya. Seketika Albern teringat, kemarin dia melupakan niatnya berkunjung ke rumah mamanya karena insident perutnya yang terluka.
"Assalamu'alaikum! Iya Ma, ada apa mama telpon Al?"
"Ternyata masih active nomer handphone kamu Al, Mama kira sudah tidak active sama sepertimu," omel Mamanya di balik telponya."
"Active kok,Ma!! Al juga masih active juga,Ma."
"Syukur jika masih active! Mama kira kamu sudah lupa dengan keluargamu."
"Lebih penting daripada keluargamu?"
"Semua penting, Ma! Kerjaan juga penting apa lagi Mama dan suamya, kalian semua penting dalam diri Al. Mama jangan marah, kasih waktu Al pasti bakalan menemui kalian.
"Kenapa kamu tidak menerima tawaran papamu? Kamu bisa lebih santai tapi berduit."
Albern menggeleng, baginya meneruskan usaha keluarganya sangatlah berat dan beresiko. Dia belum siap, dia masih menyukai pekerjaanya saat ini sekaligus hobbynya. Sedangkan dia sudah nyaman dengan profesinya saat ini apa lagi ada Wileen.
Setidaknya dengan profesinya sebagai photografer mampu mendekatkan dirinya sendiri dengan Wileen. Nyatanya memang terbukti, Alex semakin akrap dengan Wileen.
"Beri waktu, Al ma!!" Al pasti akan pulang tetapi hanya sebentar."
__ADS_1
Setelah mengucapkan itu, Albern mematikan sambungan telponya dengan Mamanya. Dia mulai fokus kembali pada mobilnya. Sesekali mengingat adegang siuman singkat merek berdua.
"Manis," ucapnya meraba bibirnya."
Mungkin jika ada orang yang melihatnya, orang itu akan mengira dia gila. Untung saja Albern tersenyum sendiri di dalam mobilnya.
Mana mungkin Albern bisa lupa dengan kejadian kemarin. Dia akan selalu mengingat moment di antara mereka berdua. Ciuman itu adalah ciuman yang pernah dia rasakan lima tahun yang lalu. Rasanya tetap manis, karena dia berciuman dengan orang yang sama.
Memang begitu mungkin kalau orang lagi kasmaran. Sayangnya kasmaranya sudah dari lima tahun yang lalu dan awet hingga sekarang. Lebih di sayangkan lagi keduanya tidak pernah ada yang mengungkapkan isi hati mereka. Baik masing masing menyimpanya di dalam hati.
Mungkin saat ini Albern masih menikmati dirinya sebagai Alex. Mungkin dengan menjadi Alex, dia bisa bersama Wileen. Tanpa dia fikir, tidak selamanya dia akan menjadi Alex.
Jika memang cinta antara Wileen dan Alex benar benar ada, bagaimana kelanjutan kisah mereka. Pada kenyata'an Alex dan Albern adalah orang yang sama. Pasti lambat laun Wileen akan mengetahui identitas Alex yang sebenarnya.
Saat ini masker bisa melindungi identitasnya, tetapi tidak tahu di hari esok. Apa lagi Sain dengan genjarnya mencari tahu siapa Alex yang sebenarnya.
Memang cara Albern bisa di bilang salah, bisa di bilang pengecut, namun itulah jalan yang dia pilih. Seharusnya dari awal dia mengatakan terus terang kepada Wileen. Seharusnya dari awal dia menemui Wileen sebagai Albern.
Tetapi di sisi lain ada Sain di antara mereka, yang bisa membunuh Albern untuk yang ke dua kalinya. Itu pasti, karena siapapun yang berani mendekati Wileen, maka nyawanya akan terancam. Alex lah yang saat ini menjadi incaran Sain selanjutnya.
Mampukah Albern melawan Sain sebagai Alex dengan kewaspadaanya serta belajar dari masalalu. Mampukah Albern membongkar kejahatan yang pernah Sain lakukan.
Untuk sementara fikiran Albern sedang imbang antara cinta dan kewaspadaan. Biarlah dia menikmati kebersamaanya bersama Wileen sebagai Alex. Meskipun nyawanya akan terancam, apapun itu asal bisa bersama dengan Wileen.
"Seribu nyawa tidak akan mampu hidup tanpa cinta, namun satu nyawa akan bertahan hidup demi orang yang dia cintai"
Cinta memang soal hati bukan rupa, namun jika orang yang kamu cintai mengetahui rupa dirimu yang sesungguhnya, mungkin saja dia akan kecewa, Albern
__ADS_1