
Setelah memastikan penglihatanya tidak salah, Albern kini menatap wanita yang berbaring di atas ranjangnya. Matanya terlihat baru saja menangis, karena air matanya belum semuanya mengering.
Albern terus memandangi wajah cantik yang masih memejamkan matanya. Di kecup kening Wileen beberapa detik oleh Albern. Tidak hanya itu saja, Albern merogoh ponsel di saku celananya dan mengabadikan saat saat Wileen terlelap di ponselnya.
Albern mengusap sayang dahi Wileen, dan merapikan anak rambut yang menutupi wajahnya. Ini seperti mimpi atau memang surprise akan kepergianya beberapa hari kemarin. Tetapi ini memang nyata, wanita yang dipandanginya memang Wileen.
"Kangen banget sama gue, Wil? gue juga kangen banget sama lo. Mau bikin surprise ya? Sayang banget surprisenya gagal karena gue pulang lebih awal. Tapi tidak sepenuhnya gagal sih, adanya lo di apartemen gue sukses bikin gue kaget," gumam Albern lirik sebelum dia beranjak dari ranjang.
Badanya lengket karena perjalanan jauh yang melelahkan. Kini dia berjalan menuju kamar mandi yang terletak di dalam kamarnya. Albern menanggalkan seluruh pakaiannya di dalam kamar mandi. Biasanya dia asal menanggalkan pakaian nya dan melemparnya di ranjang begitu saja. Sadar karena ada Wileen di kamarnya, Albern Pun menanggalkan pakaiannya di kamar mandi dan mengguyur seluruh badanya dengan air shower.
Suara gemericik air shower dari arah kamar mandi serta aroma maskulin sabun mandi Albern membuat Wileen terbangun. Wanita itu kaget, dan mengira ada pencuri masuk ke dalam kamarnya. Dia lupa bahwa saat ini berada di dalam kamar Albern. Dia merasa berada di dalam kamarnya sendiri.
Wileen mengambil tongkat baseball dan mengendap endap menuju kamar mandi. Wileen mendobrak begitu saja pintu kamar mandi dan membuat keduanya berteriak.
"Aaaaa!!" suara teriakan Albern dan juga Wileen bersamaan. Albern yang kaget serta Wileen yang tak kalah syok melihat Albern hanya menutupi tubuhnya dengan handuk putih sebatas pinggang.
Untung saja Albern sudah selesai mandi, apa jadinya jika dia masih dalam keadaan mandi lalu Wileen mendobrak pintu kamar mandi begitu saja.
Wileen menutup kedua matanya menggunakan kedua tanganya. Bibirnya ngomel ngomel menyuruh orang yang ada di dalam kamar mandinya keluar. Dia belum sadar orang yang dia maksud adalah Albern.
Albern tersenyum, ada ide terlintas di pikirannya untuk menggoda Wileen. Tidak ada suara terdengar di telinga Wileen. Pelan pelan dia membuka matanya dan sudah tidak mendapati keberadaan orang yang berada di dalam kamar mandinya tadi.
Wileen pun bisa bernafas lega, dia membalikan tubuhnya. Keningnya berbenturan dengan dada bidang seseorang. Wileen mendongakan wajahnya, dia melihat Albern berada tepat di depanya dengan senyum manisnya. Wileen mengucek ucek matanya untuk memastikan penglihatanya.
__ADS_1
Setelah Wileen sadar orang yang berdiri di depannya dan menatap wajahnya saat ini adalah Albern. Sejenak dia terpana dan terhipnotis dengan sorot mata Albern yang membuatnya luluh.
"Sudah puas menatapku, Sayang?" ucap Albern membuat Wileen tersadar. Wileen memundurkan tubuhnya dan matanya melihat dada bidang dan sixpack milik Albern terpampang di depan matanya.
"Aaaaa!!" lagi lagi Wileen berteriak semakin kencang. Albern langsung menutup mulutnya menggunakan telapak tanganya.
"Jangan menjerit Wil, nanti tetangga dengar dikiranya gue mau ngapa ngapain lo," tegur Albern.
Wileen menyuruh Albern segera memakai kaosnya. Matanya ternoda dan dia tidak sanggup melihat tubuh Albern yang terbilang perfect bagi seorang pria.
Albern tersenyum lalu memakai kaos yang senada dengan warna handuk yang masih melilit di tubuhnya. Lalu Albern meminta Wileen membuka matanya dan menatapnya.
"Ngapain sih Al, lo diem diem masuk ke dalam kamar gue?" tanya Wileen membuat Albern melongo. Pasalnya seharusnya yang berkata demikian adalah dirinya.
"Salah lah, lo asal masuk dan numpang mandi di kamar gue tanpa izin, gak sopan tahu?"
Albern semakin melongo mendengar ucapan Wileen. Dia menjawab bahwa seharusnya yang berkata demikian adalah dirinya. Albern juga meminta Wileen untuk mengamati ruangan saat ini dirinya berada.
Albern menangkup kedua pipi Wileen, ketika melihat Wileen merasa malu.Dia sama persis seperti seekor tikus yang tertangkap karena mencuri keju. Albern mengulum senyum, rasanya Wileen ingin menenggelamkan di dasar lautan sangking malunya.
"Lo kenapa diam diam kesini di saat gue gak ada di apartemen, Wil?" tanya Albern membuat Wileen tersudut. Bukanya menjawab Wileen malam memeluk erat Albern. Albern yang kaget pun kini membalas pelukan Wileen.
"Jangan tinggalin gue lagi, Al! Jangan menutupi apapun lagi dari gue," ucapnya sambil terisak.
__ADS_1
Albern melepaskan pelukan Wileen, lalu tanganya menghapus air mata Wileen yang masih mengalir. Apakah ini effect kepergianya beberapa hari ini, sehingga membuat Wileen merindukanya. Tetapi Albern merasa ada yang mengganjal, dia teringat buku diarynya yang dia taruh di bawah bantal.
Albern buru buru ingin mengambilnya dan berniat menyembunyikanya. Namun teguran dari bibir Wileen membuatnya berhenti.
"Lo mau apa? Lo mencari buku diary lo, Al?" tanyanya membuat Albern mati kutu. Dia menggaruk kepalanya yang tidak gatal.
"Lo mau nyembunyi'in dari gue? Percuma Al, gue sudah baca," ucapnya tak kalah membuat Albern lagi lagi kaget. Inikah yang dinamakan syok terapi? Kini Albern Lah yang dibuat mati kutu.
"Gue akan membatalkan pertunangan gue, Al!!" ucap Wileen membuat Albern lagi lagi dibuatnya Kaget. Albern menggeleng, inilah yang ditakutkan jika dia jujur dari awal.
"Jangan Wil, jangan dibatalkan!!" ucap Albern.
Wileen menggeleng, bukanya menjawab dia malah membahas buku diary Albern. Dia bertanya kenapa selama ini Albern menutupinya. Dia juga membahas bahwa Albern sama saja menyakitinya karena dia tidak tahu bahwa Albern sempat bertarung antara hip dan mati.
"Sorry! Gue akui gue pengecut Wil, gue bener bener minta maaf sama lo. Gue tidak ingin berbagi kesedihan serta rasa sakit yang pernah gue rasain sama lo. Gue hanya ingin melihat lo selalu bahagia.
"Gak Al, ini terlalu menyakitkan! Gue gak mau lagi kehilangan elo. Gue bakalan bilang ke Papa dan Mama tentang pembatalan pernikahan gue dengan tunangan gue.
Albern terdiam, mencerna ucapan Wileen barusan. Bukanya Wileen berkata telah membaca diarynya, tetapi kenapa Wileen berkata demikian kepadanya. Untuk lebih jelasnya Albern bertanya langsung kepada Wileen.
"Lo tadi baca diary gue sampai habis, Wil?" tanya Albern. Wileen menggeleng karena dia tidak sanggup membaca diary Albern sampai habis.
"Kenapa? Apakah masih ada rahasia di dalam buku itu yang masih belum gue ketahui, Al?"
__ADS_1
Kali ini giliran Albern lagi yang dibuat mati kutu dengan pertanyaan Wileen. Dia menggeleng, karena dia belum siap jika Wileen mengetahui bahwa dia adalah tunangan nya.