Jodohku Selamanya

Jodohku Selamanya
Seseorang Yang Tak Terduga


__ADS_3

Albern baru saja tiba di alpartementnya karena hari ini tidak ada yang dia kerjakan. Niat hati ingin bersantai dan menenangkan hati atas keterkejutanya barusan bertemu dengan Wileen. Albern lagi-lagi di buat terkejut oleh panggilan sosok yang selama ini dia panggil Mama.


"Al!!" Panggilan itu membuat Albern menghentikan langkahnya dan memandang lurus pada sosok paruh baya yang berdiri di samping lift. Entah dari mana Mamanya bisa mengetahui keberada'anya di Indonesia. Karena tidak ada satu orangpun di keluarganya yang dia beritahu perihal kepulanganya.


"Ma!!" sapa Albern salah tingkah seperti orang yang kepergok melakukan kebohongan.


"Masih bisa memanggil Mama kamu, ya? Mama kira kamu sudah lupa dengan orang tua dan saudaramu. Kamu ke enakan sendiri berdiam diri di apartement ini sampai tidak mau menemui orang tua dan saudaramu, Al."


Albern langsung memeluk Mamanya sebelum Mamanya itu semakin mengomelinya. Pelukan hangat adalah salah satu jurus ampuh yang dia ketahui untuk meluluhkan hati Mamanya yang sedang kesal.


"Maafin Al, Ma! bukan berarti Al lupa sama Mama dan saudara Al. Al hanya belum sempat karena setiba di Indonesia, Al langsung di hadapkan oleh pekerja'an yang harus segera Al tangani."


Mamanya Albern yang bernama Nachi langsung melepaskan pelukan putranya. Sebenarnya beliau masih kecewa tetapi sisi lain beliau bangga atas kemandirian sang putra.


Nachi mengusap rambut putranya dengan penuh kasih sayang dan sesekali tersenyum melihat putranya yang semakin dewasa. Tentu saja banyak perubahan pada diri Albern setelah menghilang selama lima tahun ini.


"Pulang ke rumah ya, nak! Mama ingin semua anak-anak mama kumpul seperti dulu!!"


Albern terdiam namun tidak lama kemudian dia tersenyum sembari menggelengkan kepalanya. Bukan menolak tetapi memberikan tawaran lain agar Mamanya tidak tersinggung.


"Ma, Mama kan tahu kalau Al enggak suka keramaian dan paling suka ketenangan. Bukanya Al menolak perintah Mama, tetapi Al ingin terus mandiri. Soal berkumpul kembali seperti dulu, Al akan meluangkan waktu setiap akhir pekan akan mengunjungi Mama dan kakak."


"Sendiri?"


"Sendiri lah, Ma! memangnya Mama ingin Al ngajakin siapa?" tanyanya heran dengan pertanyaan Mamanya.


"Pasangan hidup! kapan kamu kenalin ke Mama? sudah punya belum? atau Mama carikan?" jawab Mama Nachi enteng sembari menahan senyum melihat perubahan ekspresi Albern.

__ADS_1


"Mulai deh! Al masih laku, Ma."


Nachi tahu bahwa putranya ini masih belum bisa move on dari sahabatnya Wileen. Bahkan dulu Albern juga pernah sekali berpacaran dengan cewek, namun tidak bertahan lama.


Sejauh mana mata mencoba berpaling namun hati tidak bisa di ajak bekerja sama. Tetap sang pemilik hatilah yang akan terus memenangkanya. Sang pemilih hati Albern dari dulu hingga saat ini hanyalah Wileen dan semua keluarga Albern pun tahu akan hal itu.


"Masih mengharapkan Wileen? bukankah dia saat ini berpacaran dengan Sain?" tanya Mama Nechi memastikan berita yang beliau dengar di berbagai media.


"Mereka sudah putus!!" itulah yang Al dengar dari orang terdekatnya."


"Tunggu apa lagi? apa kamu sudah menemuinya? katakan sejujurnya tentang perasaanmu selama ini padanya, Al,'' pinta Nachi mendukung sang putra.


"Enggak segampang itu, Ma! Al butuh waktu, apa lagi Mama juga tahu siapa penyebab Al koma waktu itu."


Ucapan Albern mengingatkan Nachi pada beberapa tahun silam saat Albern hampir saja kehilangan nyawanya karena memperebutkan Wileen. Bahkan keluarga Albern sempat menentang Albern berhubungan lagi dengan Wileen. Namun apa daya jika yang menjalaninya pun masih menaruh hati pada Wileen sampai saat ini. Oleh karena itu keluarganyapun akhirnya menyerahkan semuanya kepada yang menjalani.


Apa lagi yang bisa Nachi lakukan jika putra ke dunya sudah memutuskan selain mengangguk dan mengiyakan. Yang terpenting Nachi sedikit merasa lega melihat putranya dalam kondisi baik-baik saja.


Albern memencet elevator touchless button menuju ke apartemenya. Di susul Mamanya yang juga ikut masuk ketika pintu lift telah terbuka. Albern membiarkan saja Mamanya mengikutinya, karena tidak mungkin dia meminta Mamanya pergi.


"Mama enggak pulang?" tanyanya hati-hati.


"Jadi kamu ngusir Mama, nih?" tanya Mamanya balik.


"Enggak, jika Mama ingin tinggal di sini juga boleh," Jawab Al asal, meski kenyata'anya dia tidak mungkin mengizinkan Mamanya tinggal satu alpartemen denganya.


Mendengar tawaran putranya, Nachi tersenyum menggeleng. Sesekali membalas ucapan putranya dan pastinya beliau tahu jawaban dari Albern.

__ADS_1


"Oke! Mama malam ini tidur di sini, boleh?" ucapnya menahan senyum melihat keterkejutan di wajah putranya.


"Em, lain kali saja Ma!!" jawabnya singkat yang berarti penolakan. Hal itu sudah bisa Nachi tebak sebelumnya. Karena beliau sangat mengenal putranya yang sangat tertutup soal privasinya.


"Yah, enggak boleh berarti Mama tidur malam ini di alpartemenmu?" ucapnya berpura-pura kecewa.


"Enggak gitu, Ma! lain kali ya? soalnya malam ini Al ada kerja'an di luar. Daripada Mama sendirian di alpartemen, lain kali ya?"


Nachi tersenyum mengangguk, beliau tidak merasa kecewa karena dasarnya memang Nachi hanya bercanda saja. Lain halnya dengan Albern yang yang menganggap serius ucapan Mamanya.


Albern membuka pintu alpartemenya menggunakan kode khusus yang hanya di ketahuinya. Kesan pertama ketika Nachi memasuki apartemen putranya yaitu menggelengkan kepala merasa tidak percaya dengan se isi di setiap ruangan.


"Ini studio photo atau apartement kamu sih, Al? lihat ini Astaga, setiap ruangan di penuhi photo-photo Wileen. Kamu baik-baik saja kan ,Nak? atau mama anterin kami ke psikiater?"


"Apa-apa'an sih Ma? Mama pikir Al gila? gangguan mental?


"Sepertinya iya! kamu gila karena Wileen dan kamu lihat buktinya setiap dinding di penuhi photo Wileen. Mama kawatir kamu mengalami gejala gangguan mental"


Albern tidak merasa tersinggung dengan dugaan Mamanya. Justru dia malah tertawa lebar karena baginya Mamanya sangat lucu.


Albern mengajak Mamanya agar duduk dan tidak mengikutinya lagi. Rasa risih itu pasti ada, terlebih Mamanya terlalu kepokan privasinya.


Tidak bisa di pungkiri ucapan Mamanya memang benar bahwa Albern memang sudah lama gila karena mencintai Wileen dalam diam.


Meskipun mencintai dalam diam, itulah wujut sebuah kesetiaan. Bukan dalam arti bodoh, namun dalamnya hati seseorang siapa yang mengetahuinya jika bukan orang itu sendiri.


Mencintai itu adalah hak seseorang, memilikinya adalah sebuah kebahagiaan tersendiri. Tetapi jika cinta itu tidak bisa di miliki dan hanya bisa di rasa, maka semua tidak bisa di paksakan. Karena mencintai secara tulus dengan mencintai dalam arti sebuah ambisi sangat berbeda. Meskipun terlihat bodoh, itulah yang selama ini jalan yang Albern pilih.

__ADS_1


Entah sampai kapan bibir itu akan terus membisu tanpa ada kejujuran atas perasaanya pada sang pemilik hati. Waktu pasti akan menjawab dan jodoh yang tertulis tidak akan tertukar, begitulah yang Albern percayai.


__ADS_2