
Semenjak pulang dari pesta hingga saat ini tepatnya sudah satu minggu Albern tidak mendengar kabar dari Wileen. Bahkan Wileen terlihat sengaja menghindarinya.
Albern sangat kacau, dia bingung dengan perubahan Wileen padanya yang dadakan. Kenapa Wileen menghindarinya? Apa salah Albern sebenarnya.
Suasana hati Albern saat ini tidak baik baik saja. Dia duduk termenung di dalam ruangan kerjanya. Tiba tiba terdengar suara ketukan pintu dari luar yang ternyata si Silvi sekretarisnya.
Albern menyuruhnya masuk, matanya langsung ternoda setelah melihat penampilan sekretarisnya. Kepala Albern yang tadinya pusing saat ini seakan ingin pecah setelah melihat penampilan Silvi.
Silvi ingin mengucapkan sesuatu namun dipotong oleh ucapan Albern. Entah kenapa mulutnya saat ini ingin sekali mengomeli seseorang. Mungkin dengan mengomeli seseorang, beban di pikiran dan hatinya akan berkurang.
Albern melipat kedua tangannya di dada, matanya menilai penampilan Silvi dari atas hingga kebawah. Membuat Silvi menduga duga yang tidak tidak. Dia mengira bos tampan sedang mengagumi penampilanya yang terbilang sexy.
"Apa gajimu di kantor ini kurang banyak? dulu ketika kamu menjadi sekretaris Papaku, apakah Papaku menggajimu kurang banyak?"
"Kenapa, Pak? Apakah Pak Albern akan menaikan gaji saya?" ucapnya percaya diri.
"Oh, jadi gajimu kurang banyak, ya? Pantesan kamu beli pakaian kurang bahan seperti ini. Saya akan memberi kamu uang untuk membeli pakaian yang lebih sopan. Karena ini kantor bukan diskotik, jadi mulai besok saya tidak mau tahu, kamu harus berpakaian lebih tertutup. Apa dengan berpakaian seperti ini kamu ingin menggoda saya? Sorry, saya tidak tergoda."
Bibir Silvi menganga mendengar ucapan Bos barunya. Albern terlalu to the point dan ceplas ceplok kalau menegur seseorang. Mungkin karena effect suasana hatinya yang kurang baik.
"Baik, pak! Mulai besok saya akan berpakaian seperti perintah Pak Albern."
"Hmmm, katakan ada keperluan apa kamu mencari saya?"
"Oh ya, saya hampir lupa, di luar ada seorang pria seumuran Pak Albern ingin menemui Pak Albern. Kalau tidak salah namanya Jofan, Pak."
Albern menyuruh Silvi mempersilahkan Jofan masuk. Jofan langsung masuk dan matanya melihat penampilan Albern seperti konglomerat yang kalah judi. Kancing kemeja atasnya dibuka, dasi di renggangkan.
"Hallo bro, lama tidak jumpa!! Wah wah, bos muda sekarang sukses dan melupakan sahabatnya," sindir Jofan.
__ADS_1
"Omong kosong apa lagi yang lo ucapkan, Fan? Gue hanya sibuk akhir akhir ini dan belum ada waktu untuk berkumpul dengan kalian."
"Iya brother, gue hanya bercanda! By the way, kenapa elo tampak kacau? Ada masalah lagi? Atau elo tidak sanggup mengelola perusahaan Papa lo?"
Satu dua detik Albern diam tidak menanggapi. Detik berikutnya Albern bertanya kepada Jofan, kenapa Wanita bisa tiba tiba marah tanpa alasan. Jofan tertawa, memangnya Albern fikir Jofan adalah dokter cinta.
"Setahu gue, seegois egoisnya perempuan, jika dia marah tanpa kata, bisa jadi emang si cowoknya yang ngeselin."
"Tapi gue tidak merasa bikin kesalahan sama dia!!"
"Emangnya sejak kapan si Wileen diemin ello?"
"Kurang lebih satu mingguan ini, semenjak pulang dari pesta waktu itu, dia jadi berubah dan seolah sengaja menjauhi gue."
"Elo ingat ingat memangnya kesalahan apa yang membuat Wileen marah?"
Albern mengingat ingat, tetapi tetap saja dia merasa tidak melakukan kesalahan. Jofan tetap memancing akar dari permasalahan itu. Anggap saja Jofan menjadi dokter cinta untuk Albern dan Wileen.
"Terus elo terima?" tanya Jofan penasaran.
"Ya, enggak lah! Gue jawab kalau gue sudah punya wanita idaman. Gue tidak akan menggadaikan cinta gue demi harta."
"Terus apalagi setelah itu?" tanya Jofan tidak hentinya mengintrogasi Albern. Albern juga menceritakan tiba tiba Wileen berlari keluar meninggalkan pesta. Bahkan dia menginap di hotel seberang lokasi pesta. Albern juga mengatakan bahwa dia menyusul diam diam Wileen, sehingga menyebabkan keduanya tidur di atas ranjang yang sama dan saling berpelukan.
Albern juga menjelaskan bahwa antara dirinya dan Wileen hanya sekedar tidur bersama, tidak melakukan hal hal yang biasanya di sebut one night stand. Jofan pun menimbang nimbang antara dua masalah tersebut. Karena dia berfikir, penyebab Wileen marah adalah di antara dua masalah tersebut.
"Menurut gue yang super peka terhadap perempuan tidak seperti ello, Al. Gue rasa si Wileen sedang cemburu."
"Hah? Cemburu sama siapa? Orang jelas jelas gue menolak Lily," ucap Albern bingung.
__ADS_1
"Ello jadi pria yang peka dikit bisa nggak sih? Elo tadi bilang kalau lo menolak Lily karena elo sudah memiliki wanita idaman. Gue menangkap di situlah akar yang membuat Wileen menjauhi ello," jelas Jofan.
"Jadi Wileen cemburu maksud ello? Padahal wanita yang gue maksud adalah dia!!"
"Itu bagi elo, tetapi mana mungkin Wileen tahu kalau wanita yang elo maksud adalah dia.Sumpah Al, elo jadi lelaki kurang peka. Ello harus sering sering berguru pada gue soal wanita."
Setelah menimbang nimbang perkataan Jofan ada benarnya. Albern merutuki dirinya sendiri yang tidak peka. Sudah pasti Wileen salah paham dengan ucapanmu tempo hari. Sekarang Albern bertambah pusing, harus bagaimana cara dia meyakinkan Wileen agar tidak marah lagi denganya.
"Terus apa yang harus gue perbuat sekarang, Fan?" tanyanya bingung. Jofan menepuk bahu Albern, lalu dia berkata "Temui Wileen dan jelaskan ucapan lo tempo hari, agar semua jelas dan kesalahpahaman ini segera terselesaikan".
Albern mengangguk, dia langsung menyambar kunci mobilnya dan akan menemui Wileen saat ini juga. Bahkan Albern tidak mempedulikan Jofan yang berteriak memanggil manggil namanya.
"Dasar budak cinta, ngertinya cuma cinta doang tetapi tidak tahu tekniknya membuat wanita klepek kelepek, hahaha," ucap Jofan juga berjalan keluar dari ruangan Albern.
Sedangkan di rumah Wileen, Wileen memasuki mobilnya. Beberapa jam lagi dia akan melakukan perjalanan menuju negara Jepang. Kedua orang tuanya berpesan agar Wileen berhati hati di negara orang. Wileen berangkat hanya sendirian di antar supir keluarganya.
Wileen memilih berlibur ke Jepang untuk mencari ketenangan. Karena di rumahnya dia tidak bisa mendapatkan ketenangan. Setiap hari Albern selalu datang menemuinya namun dia selalu menolak tidak ingin menemui Albern.
Selang dua puluh menit kemudian Albern pun baru saja tiba di rumah Wileen. Dengan langkah penuh semangat dia segera turun dari mobilnya. Dia sudah tidak sabar bertemu dengan Wileen dan menjelaskan semua kesalahpahaman yang terjadi antara mereka berdua.
Albern memencet bell rumah penuh semangat dan rasa tidak sabar untuk menemui Wileen. Rindu itu berat dan itu yang Albern tahan selama satu minggu ini.
Pintu di buka oleh Papanya Wileen, kebetulan Pak Handoko memang akan keluar. Albern tersenyum menjabat tangan calon Papa mertuanya. Dia juga tidak lupa mengucapkan salam.
"Al, kamu terlihat semangat sekali, ada apa?" tanya Handoko.
"Pa, Wileenya ada?" tanya Albern tersenyum.
Pak Handoko pun berkata kalau Wileen baru saja berangkat ke bandara setengah jam yang lalu. Pak Handoko juga berkata bahwa Wileen akan ke Jepang untuk berlibur. Pupus sudah harapan Albern untuk bertemu Wileen hari ini.
__ADS_1
Meskipun dia kecewa karena dia tidak diberi kabar bahwa Wileen akan ke Jepang. Namun Albern mencoba mengerti, mungkin Wileen memang butuh ketenangan dan berlibur.