
Aroma maskulin Albern yang tertinggal menjadi pengobat kerinduan pada sosok sahabat sekaligus cintanya. Wileen berjalan menelusuri setiap ruangan yang pernah dia bersihkan tempo hari. Ada satu ruangan yang belum pernah Wileen masuki. Ruangan itu tak lain adalah kamar Albern yang selalu membuat Wileen penasaran.
Dia ingin masuk namun dia takut dibilang terlalu lancang. Tetapi dia ingin membaringkan tubuhnya di ranjang milik Albern dan memeluk sesuatu yang mengobati kerinduanya.
Wileen terus berpikir antara menuruti kata hati atau egonya. Akhirnya dia menuruti kata hatinya dan memberanikan masuk ke dalam kamar Albern.
Wileen semakin terhipnotis dengan nuansa kamar khas lelaki namun begitu rapi dan bersih. Di tambah lagi aroma perfume yang biasa dipakai Albern semakin kuat menembus indra penciuman Wileen.
Wileen menelusuri setiap ruangan kamar yang khas dengan warna hitam dan putih. Pandanganya tertuju pada pigura yang berada di atas nakas. Wileen mendekatinya dan betapa kagetnya dia ternyata foto wanita yang berada di dalam pigura itu adalah dirinya.
Wileen terharu, begitu spesialnya dia bagi Albern, sehingga fotonya pun terpajang di dalam kamar pribadinya.
Setelah itu Wileen membaringkan tubuhnya di atas ranjang yang berspreikan serba putih. Dia mengguling gulingkan tubuhnya di atas selimut putih yang begitu harum oleh perfume Albern yang masih menempel di sana.
Wileen memejamkan matanya, meresapi setiap momen momen kebersamaan dengan Albern. Dia akan beristirahat sebentar sebelum membersihkan seluruh ruangan di apartemen Albern. Rencananya dia akan memberi surprise menyambut kepulangan Albern.
Ketika dia hendak memejamkan matanya, tangannya merasakan sesuatu yang keras yang berada di bawah bantal. Karena penasaran Wileen Pun duduk dan melihat benda apakah itu.
Benda itu adalah buku diary kecil berwarna hitam yang cukup tebal. Wileen penasaran, apakah di tanganya itu adalah buku harian Albern. Karena penasaran Wileen Pun membuka dan mulai membacanya.
Pada halaman pertama adalah kisah antara dirinya dan Albern sewaktu masih SMA. Itu berarti diary ini sudah ada dari beberapa tahun yang lalu.
Wileen terus membacanya, dan dia teringat kenangan kenangan sewaktu SMA. Dari mulai mereka yang selalu bersama kemana mana. Hingga perubahan sikap Wileen semenjak jadian dengan Sain.
Wileen juga menemukan banyak fakta yang terungkap di dalam buku diary Albern. Wileen menggeleng tidak percaya namun di dalam buku itu tidak mungkin Albern berbohong.
__ADS_1
Albern ternyata tidak pernah mencintai wanita manapun di dunia ini termasuk Lily. Satu nama yang tidak pernah Albern hapus di dalam hatinya adalah nama Wileen.
Wileen meneteskan air mata haru, dia merasakan cinta yang begitu tulus dari Albern. Lalu dia membuka lembaran lembaran berikutnya. Di situ dia juga menemukan fakta yang tidak kalah mengejutkan. Ternyata selama ini Sainlah yang membuat Albern menghilang. Dan kemana dia waktu itu? Kemana Wileen di saat Albern hampir mati di tangan Sain. Wileen sangat menyesal tidak mengetahui fakta ini.
Ternyata itu semua terjadi di tahun pertama. Di tahun kedua dan seterusnya ternyata Albern sempat ingin menemui Wileen. Namun melihat Wileen begitu bahagia dengan Sain, Albern mundur.
Tangis Wileen semakin menjadi ketika dia mengetahui Albern hampir mati karena Sain. Dia menyesal tidak ada di sisi Albern di saat Albern berjuang antara hidup dan mati.
Wileen tidak sanggup membaca lembaran selanjutnya. Dia menutup buku diary Albern lalu mengembalikan ke tempat semula. Wileen tidak tahu fakta selanjutnya yang Albern tulis di buku diarynya.
Kali ini status Albern sebagai tunangan Wileen masih aman. Karena Wileen tidak membaca lembaran selanjutnya. Wanita itu menangis tersedu sedu, merasakan sesak di hatinya. Dia mengambil ponselnya yang berada di dalam tasnya. Dia langsung menghubungi Sania dan memberitahu semua yang dia barusan ketahui.
Tentu saja Sania langsung kaget, pasalnya dia juga tahu. Bahkan untuk memastikan apa saja yang Wileen ketahui, Sania berpura pura bertanya.
"Apa saja yang telah lo baca di buku diarynya Albern, Wil?" tanya Sania di seberang telpon dan dia ingin tahu jawaban Wileen berikutnya.
Wileen pun menceritakan semua yang telah dia baca. Mulai dari masa masa sekolah hingga Albern yang hampir saja mati di tangan Sain. Sania bernafas lega, setidaknya Wileen belum tahu bahwa Albern adalah tunanganya.
"Hanya itu?" tanya Sania memastikan.
"Gak tau! Gue gak sanggup baca bagian selanjutnya. Nyesek banget dada gue San, kenapa dia nutupin ini semua dari gue selama ini, hik."
"Syukurlah, masih aman lo, Al," gumam Sania lirih namun masih terdengar Wileen.
"Maksud lo apa sih? Selamat apa?"
__ADS_1
"Eh, mak...maksud gue untung saja Albern masih terselamatkan dari Sain. Iya Wil, nah itu maksud gue barusan," jawab Sania gugup. Untung saja Wieen percaya dengan alasan Sania.
Wileen hanya ber oh saja dan Sania masih mendengar isakan tangis Wileen. Mau bagaimana lagi yang bisa Sania perbuat selain menenangkan sahabatnya walau lewat sambungan telepon.
"Sudah jangan nangis terus, yang penting saat ini Albern selamat dan lo bisa melihatnya lagi."
Meskipun Wileen bisa melihatnya lagi, namun moment moment dirinya yang tidak ada disaat Albern berjuang antara hidup dan mati itulah yang membuat dadanya terasa sesak.
Penyesalan itu ada dan betapa bodohnya dia dulu yang melupakan Albern saat menjalin hubungan dengan Sain. Entahlah dimana Sain saat ini berada, semenjak bukti bukti percobaan pemerkosaan itu beredar, Sain menghilang hingga saat ini.
Andai saja Wileen punya rekaman saat Sain mencoba membunuh Albern, pasti Wileen akan melaporkannya ke polisi. Namun bagaimana caranya mendapatkan bukti yang sudah dimakan oleh waktu yang cukup lama.
Wileen menutup teleponnya lalu dia memeluk guling milik Albern sambil menangis. Tak terasa waktu berlalu dan Wileen pun tertidur di sana.
Albern dikabarkan pulang lebih awal, seharusnya besok tetapi dia pulang hari ini. Saat ini dia berada di dalam taxi menuju apartemennya.
Entah apa reaksi Albern setelah mengetahui Wileen berada di apartemennya dan tepatnya di dalam kamarnya.
Wajah lelah Albern benar benar tercetak jelas karena kurangnya istirahat akhir akhir ini. Rencananya dia akan langsung tidur seharian di kamarnya sebelum menemui Wileen.
Taxi yang ditumpangi Albern telah sampai di bawah Apartemen. Dengan langkah lelahnya Albern berjalan menuju apartemennya. Matanya sudah tidak mampu di buka lagi. Di sisa kesadaran dia masuk ke dalam apartemennya yang cukup terang.
Albert langsung heran, kenapa lampu di apartemennya menyala. Dia juga melihat pintu kamarnya terbuka.Buru buru dia menutup pintu utama dan bergegas masuk ke dalam kamarnya.
Albern kaget melihat sosok wanita yang dirindukan berbaring di atas ranjangnya sambil memeluk guling.
__ADS_1