
"Ehem, sudah selesai acara bertapanya di dalam goa?" celetuk kakaknya.
Wileen yang baru keluar dari kamarnya tersindir. Setelah seharian penuh mengurung diri di kamar karena ulah suaminya.
Semua keluarganya berkumpul di meja makan. Dengan sangat percaya diri, seolah tidak mendengar sindiran dari kakaknya, dia duduk begitu saja di samping suaminya.
Kali ini dia akan melayani suaminya di meja makan. Setelah seharian penuh, suaminya melayaninya. Meskipun dirinya menjadi pusat perhatian keluarganya. Wileen tetap percaya diri, seolah tidak terjadi sesuatu padanya.
"Mau paha apa dada, mas?" tanya Wileen pada suaminya.
Albern yang sedang meneguk air putih di gelasnya langsung tersedak karena ucapan istrinya. Wileen langsung menepuk punggung suaminya dan menyuruhnya minum lagi.
"Yaelah pengantin baru cara bicaranya sudah seintim itu ya," sindir kakaknya lagi.
"Apaan sih, kak? orang aku nawarin ayam goreng, kok. Tuh lihat, isinya paha dan dada, kak? dasar fiktor ( fikiran kotor). Bahaya nih Pa...Ma, nikahin sekalian anak sulung kalian ini," ucap Wileen.
"Bener kata adikmu. Kamu sudah punya calon belum? Atau maunya papa jodohkan saja?" sahut Handoko.
"Apaan sih kalian!! Gak ada acara jodoh-jodohan, aku bisa cari sendiri."
Wileen tertawa puas, bukanya dia yg malu malah kakaknya yang di buat malu. Lalu Wileen menanyakan lagi pertanyaan yang sama pada suaminya. Tapi kali ini hanya bisikan kecil di telinga suaminya.
"Gimana, mas! Mau dada apa paha?"
Kalau saja Wileen menanyakan soal dada atau paha di dalam kamar. Sudah pasti Albern akan memakannya hidup-hidup. Sayang sekali istrinya menanyakannya di meja makan.
"Mas, sukanya dua-duanya, gimana?" bisik Albern menggoda istrinya. Di kiranya hanya dia yang bisa, Albern juga bisa.
Mendengar jawaban suaminya, mendadak semburat merah menghiasi pipi Wileen. Sedangkan kedua pasangan suami istri yang tak lagi muda di depan mereka hanya tersenyum saja. Mereka memaklumi karena mereka juga pernah di posisi anaknya.
"Terus-terus, kalian ngomongin dada dan paha. Kalian pikir kuping kakak dari sini gak dengar meskipun kalian bisik-bisik," sindir kakaknya lagi.
__ADS_1
"Hahahaha, cieh-cieh ada yang iri cieh. Nikahin saja anak sulungmu ini, pa. Sudah jelas-jelas dia pengen nikah. Berlagak sok gak mau nikah padahal pengen," ucap Wileen membuat semua yang berada di meja makan tertawa.
"Begini ternyata rasanya punya istri, di perhatiin terus. Kenapa kita gak nikah saja dari dulu, yang? Gimana kalau kita go public, yang? Kita umumkan pernikahan kita ke public. Biar semua tahu kalau Wileen author terkenal telah menikah dengan Albern yang namanya dijadikan nama penanya."
Wileen langsung menghentikan suapan nasi ke mulutnya. Wajahnya langsung menatap wajah suaminya, penuh tanya.
"Jadi kamu sudah tahu tentang nama penaku, mas?"
Albern mengangguk. "Alen (Albern dan Wileen), bukan?" tanyanya memastikan dan di angguki Wileen.
"Hari ini kalian ke kantor?" tanya Handoko.
"Wileen sih gak ke kantor, pa. Wileen mau ikut suami ke kantornya. Sekalian mau ngasih tahu pada semua karyawannya, kalau bosnya sudah punya istri. Biar gak ada yang kecentilan dan deketin suami Wileen."
Albern lagi-lagi tersedak. Kali ini tersedak pas mau menelan makanannya. Baru juga nikah beberapa hari yang lalu. Istrinya sudah kelihatan possesivenya.
"Kok gitu, yang? Kan tadi sudah ku tawarin kita go publik. Sekalian biar seluruh dunia tahu kalau aku ini suamimu," ucapnya setelah meminum seteguk air.
"Ya kalau saja gak ada yang nonton tv. Jadi biar mereka tahu secara langsung," ucapnya kemudian.
Mereka berdua terlihat seperti pengantin baru yang sangat serasi dan sempurna. Yang satu tampan dan yang satunya cantik.
Wileen menggandeng lengan Albern sangat mesra. Ketika mereka berdua telah tiba di kantor Albern. Semua mata karyawan yang melihat mereka berdua terbengong.
Tak banyak dari mereka juga mengenal Wileen dan ada juga salah satu di antaranya adalah fans Wileen. Bisik-bisik setiap karyawan kebanyakan membicarakan dua pasangan di depannya.
Yang mereka tahu, mungkin bos mereka menjalin kasih dengan Wileen. Sebagian dari mereka sudah mendengar jauh-jauh hari bahwa keduanya adalah sahabat dekat.
Tetapi melihat cara Wileen menggandeng tangan Albern, mereka pun menduga Wileen adalah kekasih bosnya.
"Ehm. Semua silahkan berkumpul dan jangan ngomongin kami di belakang. Perkenalkan wanita di samping saya adalah istri saya. Kamu menikah beberapa minggu yang lalu. Kami akan menggelar resepsi minggu depan dan kalian semua harus hadir di acara kami," ucap Albern, membuat semua karyawannya terkejut.
__ADS_1
Ada juga di antara mereka yang patah hati. Siapa yang tidak berharap memiliki pasangan seperti Albern.Tampan, mapan, sopan, idaman semua wanita.
Mendengar Albern dengan tegas memperkenalkan sebagai istrinya, membuat Wileen senang. Tak henti-hentinya dia tersenyum bahkan di saat mereka telah masuk ke dalam ruangan Albern pun, Wileen tetap memasang senyuman termanisnya.
"Mas, kamu lihat tadi? Banyak banget karyawan wanita yang patah hati. Apa aku bilang coba, banyak banget yang naksir suamiku ini. Enak saja, aku gak mau berbagi suami dengan mereka."
"Siapa juga yang mau berbagi diri. Dapetin kamu aja susah, gak mungkin aku sia-siakan, sayang!!" ucap Albern mencium bibir Wileen.
"Yang, lanjutin yang kemarin yuk? Pengen tahu rasanya bercinta di kantor. Kamu pernah bikin novel yang isi babnya bercinta di kantor, bukan? Kita praktekin, yuk," Ajak Albern mulai menggoda istrinya.
Wileen tidak menyangka, ternyata suaminya adalah sebagian dari readernya. Bahkan hampir semua novelnya pernah di bacanya.
Tanpa menunggu persetujuan, Albern langsung mendaratkan ciumannya di bibir istrinya. Ciuman yang awalnya biasa, kini menjadi semakin panas.
Dinginya ruangan karena ac, membuat suasana menjadi semakin intim. Tangan nakal Albern mulai menyibak dress istrinya. Memperlihatkan paha putih mulus milik istrinya.
Tangannya semakin menyibak gaun itu hingga ke atas. Memperlihatkan dua bukit favoritnya yang menantang untuk disentuh.
Ketika tangan Albern mulai menyentuh dua bukit favoritnya. Tiba-tiba ketukan pintu dari arah luar membuyarkan moment romantis keduanya.
"Tok...tok! Permisi pak Albern, ada teman-teman anda yang ingin bertemu," suara sekretarisnya dari luar ruangan.
"Sssstt! Mengganggu saja," ucap mereka berdua serempak.
Dengan perasaan dongkol, Albern membuka pintu ruang kerjanya. Sedangkan Wileen masuk ke dalam toilet untuk berbenah diri.
"Wah-wah, pengantin baru sudah mulai bekerja rupaya," sapa Jofan.
"Sepertinya kita datang di waktu yang kurang tepat, brow. Lihatlah, sudut bibirnya saja masih ada bekas lipstik," Goda Dion yang selalu rese di antara mereka.
Bian kali ini yang juga ikut pun memberi tisu pada Albern. Sialnya Albern mendadak malu, karena kegiatanya bersama istrinya ketahuan teman-temanya.
__ADS_1
Bahkan mereka bertiga dengan entengnya bersiul-siul ketika melihat Wileen keluar dari kamar mandi. Sepertinya memang momentnya yang kurang tepat atau memang teman-temanya saja yang sengaja datang untuk mengganggu.
Jika ekspresi Albern sudah seperti kepiting rebus karena menahan malu. Lain halnya dengan Wileen yang bengong karena tidak tahu apa yang terjadi pada suaminya.