
Wileen POV
Entah apa yang aku rasakan saat ini seperti sebuah obat kerinduan serta jawaban dari penasaranku selama ini. Sejak waktu itu setelah bertabrakan dengan tubuh pria asing, mengingatkanku pada seseorang. Entah benar atau tidaknya tetapi sorot mata elangnya yang tajam serta bulu mata yang lebat nan lentik seperti mengingatkanku pada seseorang.
Tetapi setelah melihat dengan seksama mata elang yang menatap tajam dan menembus ke kornea mataku, aku langsung membeku di tempat dan terhanyut pada suasana. Hingga tanpa sadar dia sudah menghilang ketika aku tersadar ada Sania sahabatku yang memanggilku.
"Albern" mungkinkah aku salah mengenali sesorang? tetapi kenapa mata dan bulu mata itu sangat mirip sepertinya? apakah memang benar dia Albernku yang hilang? jika memang benar tetapi kenapa dia seolah tidak mengenaliku.
Apakah benar kata orang-orang bahwa manusia memiliki tujuh kembaran di muka bumi ini. Tetapi bukan berarti getaran di dada ini untuk tujuh orang itu sekaligus.
Aku sangat penasaran dan ingin bertemu pria itu kembali, tapi bagaimana caranya. Bodohnya aku lupa berkenalan bahkan aku juga lupa sekedar meminta nomer ponselnya.
"Gengsi lah!!" gua kan cewek mana mungkin meminta nomer ponsel cowok lebih duluan."
Tetapi ada hal yang aneh pada sahabatku Sania, seolah ada sesuatu yang sedang ia tutupi dariku, tetapi apa? sudahlah, mungkin hanya fikiranku saja yang terlalu overthinking.
Semenjak bertemu pria asing itu, semakin bertambah kerinduanku pada sosok sahabatku Albern. Apakah masih ada kesempatan untuku bertemu denganya lagi. Apa benar yang di katakan Sain bahwa Albern sudah tiada. Ingin bertanya kepada keluarganya namun aku tak sanggup. Karena keluarganya juga terlalu tertutup sehingga tidak ada satupun kabar yang aku ketahui tentang Albern.
Siang ini aku ada pemotretan dan kabarnya photografer yang aku inginkan tempo hari menyetujui bekerja sama denganku. Entah kenapa bisa mendadak dia menyetujui bekerjasama denganku. Yang terpenting saat ini aku akan bersiap-siap dan pastinya aku akan sangat puas dengan hasil potretnya yang sangat keren menurutku.
Apakah kalian tahu? lagi-lagi aku bertemu denganya lagi di lokasi pemotretan. Tepatnya ketika aku baru saja tiba dan melihat sosok pria yang menabraku juga baru tiba di ruangan yang sama.
"Tunggu!!" apa dia seorang photografer? apakah dia yang akan memotretku hari ini? jadi dia orang yang sama dengan orang tempo hari yang memotretku."
"Hai, Wil!!" sapa'an Sania membuatku kaget.
"Elo buat gua kaget, San!!" protesku kesal.
"What? elo saja yang sedang melamun!!"
__ADS_1
"Sedang ngelamunin apa siang bolong begini, Nona?" tanya Sania meledek.
"Elo lihat cowok itu, San! apa dia photografer yang gua inginkan tempo hari?" tanyaku membuat pandangan mata sahabatku beralih.
"Oh, ya elo benar! yuk gua kenalin," ajaknya membawaku ke hadapan pria asing itu.
"Al!!" kenalin ini sahabat gua Wileen yang akan memakai jasa lo."
"Deg!!" lagi-lagi dunia seolah menjungkir balikanku ketika Sania memanggil pria itu dengan sebutan "Al". Apa maksud Sania memanggilnya Al, apa dia memanglah Albernku yang hilang?"
"Hai, gua Alex!!" ucapnya memperkenalkan diri serta mengulurkan tanganya, memintaku untuk berkenalan."
"Hai juga, perkenalkan gua Wileen!!" jawabku menyambut uluran tanganya.
Getaran itu kurasakan kembali, entah kenapa perasaan senang serta nyaman itu hadir ketika tangan kami bersentuhan. Namun ada kekecewaan pada diriku ketika dia menyebutkan namanya "Alex" dan bukan "Albern", tenyata aku salah.
"Wil, sudah mulai tuh!!" teguran Sania membuatku lagi lagi tersadar dalam lamunan.
"Lex! lo gak risih pakai masker terus? lepas gih?" pintaku. Berharap Alex akan mau menuruti permintaanku. Namun aku salah, entak kenapa dia selalu menolak dengan alasan yang terbilang sepele.
"Sorry mukaku jelek," begitulah ucapnya.
Entah kenapa aku benar- benar di buat penasaran oleh satu sosok cowok ini. Entah kenapa berada di dekatnya berasa seperti berada di dekat Albern. Atau mungkin aku saja yang selalu memikirkanya.
Tetapi kenapa banyak sekali kesama'an terutama matanya dan aku sangat menyukai matanya. Ingin rasanya setiap saat melihat mata indah itu.
Albern, lihatlah aku yang sudah mulai gila dan ini semua karena dirimu dan Alex.
Sepanjang pemotretan berlangsung, mataku tak pernah lepas dan selalu fokus memandang sorot mata Alex dari kejauhan. Kendati demikian hasil potretku bagus semua tanpa cacat satupun.
__ADS_1
Selesai pemotretan, aku duduk di sebuah sofa sambil bertopang dagu memandangi Alex yang masih sibuk dengan cameranya.
Harus ku akui, aku terpana dengan sosok Alex saat ini. Meskipun aku belum pernah melihat wajahnya keseluruhan. Hanya mata hazel tajam setajam mata elang dan alis lebat serta bulu mata lentik terbingkai indah di wajahnya.
Cara berbicaranya yang lembut dalam versi lelaki, mampu membuay siapapun luluh di buatnya. Bahkan aku tidak bosan mendengarkan suara yang mengalun tersebut.
Sebagai wanita normal, tidak mungkin aku tidak terpesona pada Alex. Semua wanita mungkin akan terpesona pada sosok Alex.
Astaga!! apa yang sedang aku fikirkan?? tidak-tidak, ini tidak benar. Fokus Wileen, please kamu harus fokus dan berfikir positive bahwa hanya ada Albern di hatimu.
Ingat Wileen, jangan membuat penantianmu bertahun-tahun menjadi sia-sia hanya karena seseorang yang hampir mirip Albern. Ingat, tiada cowok baik di dunia ini selain Albern yang telah kamu ketahui kelebihan dan kekurangan. Ingat pula, tiada kekasih terbaik melainkan sahabatmu sendiri.
Ku ucapkan berkali kali sebuah kata yang kujadikan pengingat Albern. Hatiku tidak boleh goyah, tidak dan tidak boleh. Hanya karena lelaki mempesona seperti Alex.
Bahkan aku sempat heran, Alex hampir saja menjungkir balikan pendirianku. Sehebat itukah pesona Alex untuku? ini memang tidak benar. Sepertinya otaku memang sedang bermasalah hari ini.
"Maaf, gua ada jadwal lain!!" jadi pemotretan hari ini cukup sampai di sini dulu. Hasil potretan akan gua kabari nanti," ucapnya pergi dengan langkah tergesa gesa.
Kenapa ada rasa tidak rela ketika melihatnya pergi jauh dari penglihatanku. Astaga, apakah ini gejala virus penghianatan? jika benar, maka aku tidak ingin.
Albern? kembalilah di saat hati dan fikiran ini hanya ada namamu serta bayang bayang kenangan kita berdua. Yakinkanlah hati ini, bahwa kamulah jawaban di setiap penantian panjang serta doa doaku selama ini.
Mungkin melihat Alex hanyalah seperti melihat bayanganmu di pantulan cermin. Namun sejujurnya tetaplah kamulah yang paling istimewa dari dulu hingga sekarang.
"San, ayo kita pergi! sepertinya gua kurang enak badan hari ini?" ucapku.
"Elo kenapa, Wil? elo sakit?" ucap Sania mencemaskanku, menempelkan punggung tanganya ke dahiku.
"Bukan!!" bukan di situ yang sakit, tetapi di sini," ucapku menunjuk dada dan kepalaku.
__ADS_1
"Idiih kirain apa!!" pasti teringar Albern, kan? gua sudah hafal dan cukup bosan," ucapnya menyindirku karena kebodohan penantian yang tak berujung.