Jodohku Selamanya

Jodohku Selamanya
Menemui Wileen


__ADS_3

Pagi ini Wileen baru pulang dari joging, ketika dia memasuki gerbang rumahnya, dia berhenti sejenak. Di sangat kesal ketika melihat sebuah mobil terparkir di depan rumahnya. Dia sudah tahu dan sangat hafal pemilik mobil itu.


Sudah sebulan setelah kejadian tempo hari, Wileen tidak pernah lagi melihat wajah Albern. Ketika dia memasuki rumahnya, tubuh tegap tinggi seorang pria menatap datar kedatanganya.


Entah kenapa Albern mendadak berubah menjadi sosok yang dingin. Apa dia marah kepada Wileen yang selalu mengabaikanya.


Handoko menyuruh Albern dan Wileen duduk dan makan bersama mereka. Mamanya Wileen mengambilkan nasi beserta lauk pauknya di piring Albern. Hal itu membuat Wileen yang masih kesal terhadap Albern, semakin bertambah kesal.


"Hemm, kalau ini orang sudah datang pasti Mama melupakanku. Anak sendiri saja di lupakan malah mengutamakan orang asing," sindir Wileen yang duduk berhadapan dengan Albern.


Albern menatap Wileen, lalu pria itu tersenyum saja tanpa bersuara. Wileen menahan kekesalanya, ingin sekali Wileen mencakar habis wajah tampan Albern saat itu juga.


"Ma... Pa, usir dia! Wileen tidak akan makan jika masih ada dia di rumah ini," ucap Wileen kesal lalu menyudahi acara makanya. Wileen melirik Albern penuh kebencian, entah kenapa wanita itu begitu awet kemarahanya.


"Wileen, kembali duduk di tempatmu! Kamu tidak sopan bersikap seperti itu," tegur Handoko.


Wileen semakin kesal, lalu dia kembali duduk di tempatnya. Tanganya memegang sendok dan juga garbu, lalu menusuk nusuk ayam goreng di hadapanya sambil melirik kesal ke arah Albern.


Yang di lirik tetap santai sambil mengunyah makananya. Mungkin Albern sudah kebal menghadapi sikap Wileen yang sedang marah kepadanya.


Selesai acara makan, Wileen langsung naik ke lantai atas menuju ke kamarnya. Sementara Handoko mengajak calon menantunya berbincang bincang di teras depan. Sampai saat ini Wileen masih belum tahu bahwa Albern adalah tunanganya.


"Jadi kamu sekarang meneruskan bisnis keluargamu dan mengambil alih perusaha'an keluargamu, Al?" tanya Handoko.


Albern mengangguk. "Awalnya Al tidak tertarik dengan perusaha'an itu, Pa. Tetapi aku adalah anak laki laki satu satunya di keluarga dan menjadi penerus setelah Papa. Papa mempercayakan perusaha'an itu kepadaku. Alhamdulillah sedikit demi sedikit Al sudah mulai terbiasa mengelola perusaha'an itu, Pa," jelasnya.


"Papa sangat bangga sebentar lagi kamu akan menjadi menantu Papa, Al. Semoga saja kemarahan Wileen tidak terlalu lama. Kamu yang sabar menghadapinya, begitulah wanita suka marah dan ngambek, sama persis seperti Mamanya.

__ADS_1


"Ehmm!!" Bu Handoko tiba tiba berdehem sembari membawa nampan yang berisi dua cangkir kopi. Albern menahan senyumnya ketika melihat ekspresi Handoko terdiam setelah membicarakan istrinya.


"Dia marah, Al! Begitulah wanita, kita sebagai lelaki harus memiliki banyak setok kesabaran menghadapi wanita," bisik Handoko di angguki Albern.


"Mama masih mendengar kalian berdua ngomongin Mama loh, Pa!!" tegur istrinya, membuat Handoko lagi lagi terdiam.


"Al boleh menemui Wileen di kamarnya, Pa?" izin Albern.


"Temuilah dia dan selesaikan masalah kalian berdua, nak!!"


Albern mengangguk faham, entah bagaiamana tanggapan Wileen, yang terpenting Albern terus berusaha mendekatinya. Albern melangkah masuk, menaiki anak tangga menuju ke kamar Wileen.


Pintu kamar tidak di kunci, Albern yang mengetuk dulu pintu kamar Wileen sebelum masuk ke dalam. Wileen menatap Albern yang melangkah mendekatinya dengan ekspresi cuek.


"Mau apa lagi? Siapa yang mengizinkan elo masuk ke kamar gua?" tanyanya dengan ekspresi kesal.


Wileen membiarkan saja Albern mengambil salah satu novelnya. Setelahnya tidak ada suara baik Wileen maupun Albern. Yang satu fokus mengetik naskah, yang satu fokus membaca novel.


Jika beberapa tahun lalu mereka melakukan hal yang sama dengan canda tawa. Kali ini sangat berbeda, bahkan nuansa kamar terasa sangat sepi tanpa suara.


Albern membaca novel karya Wileen hingga tanpa sadar ketiduran. Wileen menoleh setelah merasa tidak ada pergerakan dari Albern. Wileen melihat Albern memejamkan matanya sambil memeluk novel di dada bidangnya.


Tidak bisa di pungkiri, Wileen terpesona dengan wajah Albern versi dewasa. Dia terlihat semakin tampan, apa lagi bulu mata lentik yang menjadi favorit Wileen.


Wileen mendekat, wajahnya semakin mendekat dan melihat bulu mata Albern secara dekat. Wileen memainkan bulu mata Albern, membuat si pemilik mengucek mata karena kegelian.


Wileen terkikik geli, hal itu sangat menyenangkan bagi Wileen. Albern bergerak dan tanpa sadar tubuhnya memeluk Wileen. Albern tidak sadar bahwa yang di peluknya adalah Wileen. Dia merasa sedang memeluk guling yang biasanya dia peluk saat tidur.

__ADS_1


Wileen yang tidak siap pun merasa kaget, seolah jantungnya berdetak lebih kencang dari biasanya. Nafasnya seolah berhenti, karena pelukan Albern begitu kuat sehingga membuatnya tidak bisa bergerak.


Bibir tipisnya itu, hidung mancungnya itu, bulu mata lentiknya itu, alinya yang lebar itupun tepat di depan mata Wileen. Dalam hatinya memuji. "Sungguh sempurnanya cipta'an Tuhan di depanya ini," ucap Wileen memuji.


Albern terbangun namun tidak langsung membuka matanya. Dia merasakan nafas hangat menerpa wajahnya. Suara Wileen terdengar sedang memuji ketampananya. Sekuat hati Albern menahan agar tidak tersenyum. Dia berpura pura tidur, dia ingi tahu lebih banyak, apa yang di lakukan Wileen ketika dia tidur.


"Elo benar benar jahat, Al! Elo meninggalkan gue tanpa berpamitan, tanpa kabar. Sekarang elo datang tiba tiba dengan menyamar menjadi orang lain. Gue kecewa sama elo, ingin rasanya mencakar cakar wajah tampan elo biar tahu rasanya sakit hati gue ini."


Wileen terus saja mengomel, tanpa dia sadari Albern mendengar jelas ucapanya. Albern tetap berpura pura tidur, sembari menunggu apa yang akan di katakan Wileen selanjutnya.


"Gue kangen sama elo, Al. Tetapi gue sudah punya tunangan yang akan menjadi suami gue. Gue harus menjaga jarak dari elo, meskipun gue sangat ingin memeluk elo. Gue rindu sama elo, tapi gue sadar gue sudah ada yang punya, Al."


"Dan pria beruntung yang memiliki elo adalah gue, Wileen," ucap Albern dalam hatinya, merasa bangga dengan ucapan Wileen barusan.


Pintu di buka dari luar, Mamanya Wileen langsung berteriak. "Astaga apa yang sedang kalian berdua lakukan?"


Albern langsung bangkit, begitupun Wileen. Mereka saling tatap dan selanjutnya Wileen mengomeli Albern.


"Elo ngapain peluk peluk gue, Al? Dasar lelaki mesum."


"Siapa? Gue tidak merasa memeluk elo. Gue sedang tidur dan gue tidak sadar," ucap Albern membela diri.


"Sudah sudah, kalian berdua malah bertengkar. Ayo semua keluar, bahaya kalau kalian berduaan di dalam kamar. Bisa bisa yang ke tiga adalah setan, ayo keluar semua," perintah Mamanya Wileen.


Sebelum mereka keluar, Albern menahan tangan Wileen dan berbisik di telinga Wileen. "Terimakasih telah memujiku tampan," ucapnya setelahnya Albern berlalu mendahului Wileen yang berdiri dengan bibir membeo.


"Jadi dia tadi sadar? Dasar Albern, tungguin gue, awas lo," teriaknya mengejar Albern.

__ADS_1


__ADS_2