
Hari ini Wileen tidak pergi ke kantor, melainkan dia ingin ke pantai bersama Sania. Ternyata terbiasa melihat wajah Albern, membuatnya merasa suntuk karena dua hari tidak melihat wajahnya. Entah berapa lama Albern di Singapura. Wileen juga tidak mau bertanya.
Wileen mengenakan kaos di atas pusar dan celana hot pan. Tiba tiba dia teringat ucapan Albern tempo hari yang membuatnya ingin mengganti pakaianya.
"Ini untuk terakhir kalinya gue tahu elo pakai pakaian kurang bahan, jika ello masih pakai pakaian kurang bahan lagi, gue bakalan kasih hukuman ke elo".
Wileen langsung berjalan ke walk in closet untuk mengambil pakaian yang lebih tertutup.Entah kenapa ancaman Albern tempo hari membuatnya takut.
Wileen keluar dengan penampilannya setelah berganti pakaian. Celana bahan panjang dan kaos lengan pendek. Sania yang melihatnya memandang aneh pada penampilan Wileen saat ini.
"Wil, lo gak salah costum? Kita mau ke pantai, lo gak punya celana yang lebih pendek dari ini?" ucap Sania memperhatikan penampilan wileen dari atas ke bawah.
"Gak ada yang salah, nanti tinggal lipat ke atas beres kan?" jawabnya, tanpa menjelaskan alasanya.
Sania hanya mengedikan bahu, lalu Wileen segera mengajaknya masuk ke dalam mobil. Sebelum masuk ke dalam mobil, Wileen berpamitan kepada kedua orang tuanya.
Wileen sengaja hanya pergi berdua dengan Sania, dia rasa berdua sudah cukup. Katakan saja ini adalah liburan dua wanita jomblo. Tapi apa Wileen bisa dikatakan jomblo? Dia sudah bertunangan walaupun belum pernah bertatap muka. Di lain sisi dia juga memiliki hubungan tanpa status atau yang biasa di sebut HTS dengan Albern.
Dengan riang gembira mereka berdua menikmati perjalanan menuju pantai. Beruntung cuacanya hari ini cukup bersahabat. Tidak panas dan tidak juga mendung.
Selama di perjalanan mereka menyetel musik yang lagi hit saat ini. Keduanya bersenandung menirukan setiap lirik lagu yang dinyanyikan si penyanyi. Hingga tanpa terasa kini mereka telah sampai di tempat tujuan.
Sania keluar lebih dulu, dia berlari menuju bibir pantai. Wileen mengunci mobilnya dan memastikan mobilnya berada di parkiran yang cukup aman. Dia mengenakan masker dan kaca mata hitam. Dia tidak ingin kehadiran nya membuat heboh pengunjung yang pasti di antara mereka adalah fans dia.
__ADS_1
Wileen berlari menghampiri sania dan menyusuri bibir pantai. Keduanya berlarian seperti anak anak kecil yang berlibur bersama orang tuanya. Mereka sangat menikmati liburan walaupun hanya berdua.
Keduanya masih saja saling kejar kejaran seperti anak kecil yang berumur lima tahun. Saking asiknya berkejar kejaran, ada seseorang yang menabraknya dan membuat Wileen mengaduh. Orang itu langsung menarik masker yang dipakai Wileen.
"Wah...wah, kita berjumpa lagi Wileen! Apa lo masih mengenali gue?" tanya orang itu.
"Lily!!" ucap Wileen. Orang yang menabraknya adalah Lily mantan pacar Albern.
"Ternyata lo masih mengingat gue, Wil!! Teman teman kemarilah kalian. Lihatlah sosok wanita yang merebut pacar gue berada di depan gue saat ini," teriak Lily memanggil kedua temanya.
Sania langsung bergeser ke depan Wileen untuk melindungi sahabatnya. Tanganya berkacak pinggang dan bibirnya berkata. "Maksud lo apa ngomong seperti itu?"
"Siapa lo? Gue gak ada urusan sama lo. Tapi gue ada urusan sama dia," ucap Lily menunjuk ke arah Wileen.
"Heh, bibir piranha jaga mulut lo!!" ucap Sania sinis.
"Sudah San, jangan di ladenin, malu dilihat pengunjung lain. Yuk kita pergi saja, kita nikmati liburan kita," ajak Wileen mulai melangkah namun perkataan Lily membuat Sania semakin tersulut emosi.
"Heh wanita murahan! Lo apakah Albern sehingga dia bisa sebucin itu sama lo? apa kalian sudah tidur berdua dan lo menyerahkan kehormatan lo untuknya? Dasar wanita murahan," ucap Lily.
"Heh, tutup mulutmu! Albern meninggalkan lo karena lo sendiri. Gue kalau jadi Albern, gue gak akan sudi punya kekasih semacam lo. Cantik juga gak cantik cantik banget, masih cantikan gue kemana mana. Mulut juga terlalu tajam seperti pisau yang setiap detik diasah. Lelaki mana yang betah sama wanita macam lo? Ngaca woy, apa lo gak punya cermin buat ngata? Apa perlu gue belikan cermin buat lo? Kalau perlu yang besar sekalian biar lo bisa ngaca," Omel Sania panjang lebar karena emosi sahabatnya di kata katain.
"Diam lo!!" teriak Lily.
__ADS_1
Wileen menarik tangan Sania. "Sudahlah, ayo kita pergi, San," ajaknya mulai melangkah. Lily meneriakinya lagi, namun Wileen tetap menarik tangan Sania dan mengajaknya pergi.
"Mau kemana lo, gue belum selesai!!" Lily menghadang jalan Wileen dan Sania. Sania mendorong tubuh Lily, sehingga dia limbung namun ditahan Siska temanya.
"Brengsek!! Teriak Lily bangkit dan menarik tangan Sania. Wileen menarik tangan kanan Sania yang tangan kirinya di tarik Lily. Sehingga mereka berdua saling tarik menarik tangan Sania.
Semua pengunjung berkumpul melihat mereka bertiga seperti sebuah tontonan. Wileen sadar dirinya menjadi tontonan banyak orang. Bahkan tidak banyak di antara mereka yang merekam dan mengabadikan perkelahian tiga wanita itu di dalam ponsel masing masing.
"Gue akan merobek mulut lo! Dasar kalian berdua sama sama wanita murahan!!" teriak Lily. Wileen berteriak membuat Lily langsung bungkam.
"Cukup Lily! Sudah cukup lo berbicara dari tadi, sekarang giliran gue yang akan berbicara. Lo ngatain gue merebut Albern dari lo? Lo sama gue duluan mana kenal dengan Albern? Lagian suka suka dan hak Albern untuk menentukan pilihan nya. Kalau dia suka dan memilih gue, lo bisa apa? Kalian hanya mantan, hubungan dan cerita kalian hanya masa lalu yang telah dikubur oleh waktu."
Wileen mendekat dan tersenyum mengejek ke arah Lily. Dia berkata, perkataan yang membuat Lily malu, karena banyak orang yang menyaksikan mereka.
"Bukankah lo yang menjual diri? Jangan kira gue tidak tahu alasan Albern memutuskan lo dulu. Berapa banyak pria yang telah menikmati tubuhmu, Lily?" ucap Wileen lalu menarik Sania pergi meninggalkan pantai.
Liburan mereka menjadi kacau gara gara kehadiran Lily. Mereka berdua memutuskan untuk pulang, suasana hati keduanya tidak baik baik saja. Terutama Wileen yang dituduh merebut Albern dari Lily.
Sania melirik Wileen yang meneteskan air matanya. Dia tahu hati sahabatnya ini terluka gara gara ucapan Lily padanya.
"Jangan nangis dong, Wil! Gak usah lo masukan ke hati omongan wanita gila tadi," bujuk Sania. Wileen langsung menghapus air mata di sudut matanya.
"Enggak! Gue hanya kepikiran, apa gue salah? Apa gue dan Albern salah jika kami benar benar saling mencintai, San? Seolah dunia tidak merestui kami. Apa ini sebuah dosa karena gue yang telah memiliki tunangan namun mencintai pria lain? Gue benar benar pusing dengan teka teki kehidupan gue, San," ucap Wileen menumpahkan semua beban dan unek unek di dalam hati dan pikiran.
__ADS_1
Sania menggeleng, dia menjawab Wileen tidak salah. Ini merupakan salah satu skenario dari Tuhan. Kuta tidak bisa menentukan karena Tuhanlah yang mengatur dan menentukan.