
Hari pernikahan pun telah tiba. Acara akad nikah akan di selenggarakan di rumah Wileen. Semua kerabat Wileen dari jauh berdatangan. Atas permintaan Wileen, acara pernikahan itu digelar sederhana. Wileen tidak ingin mengumumkan ke public tentang pernikahanya. Baginya, untuk apa diumumkan, bahkan dia sendiri belum tahu wajah calon suaminya.
Jika boleh jujur. Hati dan pikiran Wileen saat ini masih dipenuhi sosok Albern. Bahkan dia bertanya pada dirinya sendiri. Dosakah bila calon istri orang masih menaruh perasaan terhadap pria lain.
Wileen masih melamun. Sedangkan Mua di sibukan merias wajahnya sedari tadi. Lamunan Wileen buyar ketika Mua memujinya sangat cantik dan meminta Wileen memperhatikan pantulan dirinya di kaca. Wileen tersenyum meskipun hatinya berduka. Diliriknya inai yang terukir indah di jemari tanganya.
Kamar Wileen juga telah dihias begitu indah bak kamar pengantin seorang putri raja. Kebaya berwarna putih gading juga telah siap dan sebentar lagi akan ia kenakan.
Kakaknya datang untuk melihat hasil riasan adik kesayangan. Dia terharu sekaligus dibuat kagum akan perubahan adiknya. Dia tidak salah memilihkan Mua terbaik untuk merias adiknya.
"Kakak!! Sapa Wileen memeluk kakaknya. Ingin sekali Wileen menangis namu dengan cepat kakaknya melarangnya. Bagaimana mungkin calon pengantin secantik dia diizinkan menangis.
"Kamu sangat cantik, dek! Pasti calon suamimu akan terpesona melihat kecantikanmu. Tapi sayang satu, badanmu semakin kurus gara gara gak mau makan beberapa hari ini."
Wileen tersenyum kecut, jangankan makan, mengontrol hati dan pikirannya saja Wileen kesulitan. Beberapa hari ini memang Wileen pusing memikirkan pernikahan beserta mencoba membuang jauh jauh perasaan terhadap Albern. Hingga membuat nafsu makanya menurun drastis.
"Kak, jika aku sudah sah menjadi istri orang. Apakah kita akan berpisah? Maksudku apa aku harus pergi meninggalkan rumah ini dan tinggal bersama suamiku?"
Jitakan kecil mendarat di kening Wileen. Pertanyaan konyol macam apa yang Wileen tanyakan kepada kakaknya. Sudah tentu seorang istri akan mengikuti kemanapun suami pergi. Akan tinggal bersama suaminya untuk membangun rumah tangga berdua.
__ADS_1
"Kau bertanya kepadaku. Kau kira kakakmu ini pernah menikah? Tapi menurut cerita orang-orang, memang seharusnya seorang istri mengikuti suaminya. Atau kenapa kau tidak minta ke suamimu saja agar kalian tinggal di sini, mudah bukan?"
Ketukan seseorang di balik pintu kamar Wileen membuat perbincangan antara kakak beradik itu terhenti. Sania masuk membawa bungkusan yang diyakini Wileen adalah sebuah kado pernikahan. Sania memeluk Wileen dan memujinya pengantin wanita yang tercantik yang pernah dia lihat.
Ekor mata Wileen melirik bungkusan berwarna pink yang diletakkan Sania di meja rias. Wileen bertanya apa isinya. Sania berbisik di telinga Wileen, membuat bola mata Wileen melotot seketika. Wileen langsung memukul lengan kanan sahabatnya. Sania hanya tertawa terbahak bahak melihat respon sahabatnya.
"Jangan lupa gunakan nanti malam pas malam pertama, biar mudah buka segelnya!!" Bisik Sania, mendapat pelototan dari Wileen.
Dua puluh menit kemudian semua keluarga kedua belah pihak telah berkumpul. Penghulu pun telah siap dan calon pengantin pria pun juga telah siap.
Semua sepupu Wileen saling bisik membicarakan Albern. Hari ini lelaki yang akan menjadi suami Wileen sangat tampan. Pasti Wileen akan langsung pingsan jika melihat siapa suaminya nantinya.
Suara pak penghulu menginterupsi bahwa ijab qobul akan segera dilaksanakan. Sania dan kakaknya Wileen menemani Wileen di dalam kamarnya. Mereka akan menemani Wileen turun menemui suaminya ketika ijab qobul telah dibacakan.
Wileen memejamkan matanya. Dia menahan agar air matanya tidak menetes. Dia berdoa, mencoba mengikhlaskan Albern. Mungkin Albern bukanlah jodoh yang disiapkan Tuhan untuknya.
Mulai saat ini dia akan mencoba menghapus nama Albern di hatinya. Albern akan tetap menjadi sahabatnya, meskipun kedekatan mereka tidak bisa sedekat sebelumnya. Karena beberapa detik lagi, Wileen akan menjadi hak imamnya.
Beberapa detik kemudian, suara tegas seorang lelaki dengan lantangnya mengucap janji suci di depan penghulu, papanya Wileen serta para saksi saksi yang hadir. Hati Wileen bergetar, sehingga air matanya pun lolos begitu saja mengalir di pipinya yang telah di rias. Buru buru dua wanita yang masih single di sampingnya mengambil tisu dan menghapus air mata Wileen dengan usapan pelan. Takut takut make up yang merias wajah Wileen yang sangat sempurna itu luntur.
__ADS_1
Suara seseorang yang mengucap ijab qobul barusan, mengingatkanya pada suara seseorang. Namun Wileen mencoba menepisnya dan berpikir mungkin kebetulan saja suaranya mirip suara Albern.
"Dek, ayo turun ke bawah dan temui suamimu!! ajak kakaknya yang telah memegang tangan kanan Wileen. Sedangkan tangan kirinya sudah di pegang Sania.
Dengan langkah pelan mereka bertiga menuruni anak tangga. Wileen menundukan kepalanya, dia belum berani melihat wajah lelaki yang telah sah menjadi suaminya. Dia tidak berani melihat kenyataan baru dalam hidupnya.
Meskipun menundukan kepalanya, semua orang yang hadir di acara itu menatap kagum pada Wileen. Kebaya putih gading yg melekat di kulit putihnya sangat indah. Ditambah lagi riasan yang begitu cantik menambah keindahan pada sosok Wileen.
Selama ini Wileen selalu tampil cantik di mana saja. Tetapi aura pengantin memang berbeda, auranya lebih membuat Wileen bertambah cantik serta menghipnotis semua orang. Bahkan Albern tidak bisa berkedip memandang sosok wanita yang kini telah sah menjadi istrinya. Suara pembawa acara yang tidak lain adalah suara Dion membuat Wileen mengangkat wajahnya.
"Hehehe, harap di maklumi bapak ibu dan para hadirin semuanya. Sepertinya mempelai wanitanya secang malu, padahal mempelai laki-lakinya sudah mau menetes air liurnya. Mohon dimaklumi, namanya juga pengantin baru."
Wileen langsung mengangkat kepalanya melihat ke arah si pembawa acara. Kemudian matanya melihat para sepupunya dan kerabat lainnya. Tapi seolah mereka semua memberi kode kepada Wileen agar melihat sosok suaminya.
Wileen bingung sekaligus terkejut melihat kehadiran sepupu Albern yang bernama puri di antara para sepupunya. Lalu ekor matanya melirik seseorang yang yang berdiri tidak jauh darinya.
Seketika jantung Wileen terasa ingin lepas dari tubuhnya, setelah melihat sosok lelaki yang berdiri tidak jauh dari tempatnya berdiri. Lelaki itu tersenyum sangat manis dan tiada duanya sedang menatapnya juga.
"Hai, istrinya Albern!!" ucap Albern menyapa wanita yang kini telah sah menjadi istrinya. Bukanya menjawab, Wileen malah meneteskan air matanya dan sedetik kemudian Wileen pingsan. Albern langsung panik, tetapi Dion sebagai pembawa acara malah ngelawak.
__ADS_1
"Astaga! Mohon di maklumi para hadirin semuanya. Mungkin pesona mempelai prianya terlalu ganteng sehingga mampu membuat mempelai wanitanya pingsan."
Jofan memberi kode pada Dion agar diam. Orang orang sedang sibuk melihat kondisi Wileen, Dion malah ngoceh sendiri. Albern dan keluarga Wileen sangat cemas. Terutama Albern yang paling cemas melihat istrinya pingsan. Dia langsung menggendong Wileen ala bridal style menuju kamar Wileen yang terletak di lantai atas. Sedangkan yang lainya menunggu di bawah, membiarkan Albern mengurus istrinya sendiri.