Jodohku Selamanya

Jodohku Selamanya
Aku Milik Dia Tapi Nyaman Denganya


__ADS_3

Pagi harinya saatnya Albern beraksi, kini dia telah berada di dalam ruangan kerja Wileen. Albern sudah mendapat izin dari Wileen, karena tujuanya kesana untuk mencari camera tersembunyi yang di katakan Wileen kemarin padanya.


Albern meminta Sania datang untuk membantunya, karena camera itu sangatlah kecil dan sulit untuk di cari.


"Sania, keruangan Wileen sekarang!!" pinta Albern.


Beberapa saat kemudian Sania sampai di ruangan Wileen. Dia sempat heran kenapa ada Albern di dalam ruangan Wileen. Ingin bertanya namun Albern lebih dulu menyelanya.


"Bantu gue cari camera tersembunyi di ruangan ini, Ini permintaan dari Wileen untuk menangani kasus yang beredar di media tentangnya."


Bukan hanya Sania, Albern juga meminta bantukan kepada anggota keamanan di sana. Tidak lama kemudian salah satu anggota keamanan akhirnya menemukan camera yang di cari Albern.


"Good job, terimakasih atas bantuanya!!" ucap Albern tersenyum senang.


Kini camera yang dia inginkan telah berada di tanganya. Langkah kemudian adalah mengcopy isi data data yang terekam dan mencari rekaman kejadian tempo hari.


Untung saja Albern juga mempunyai pengalaman di bidang IT meskipun hanya sedikit. Setidaknya pengalamanya itu kini berguna untuk mengembalikan nama baik wanitanya.


Tentunya dia tidak akan mengerjakanya sendiri, dia akan mengerjakanya di rumah Wileen. Tidak hanya itu saja, Albern juga ingin melihat kondisi Wileen saat ini.


Beberapa menit kemudian Albern telah berada di rumah Wileen. Mereka berdua fokus mencari dta tempo hari. Dengan kesabaran mereka berdua, akhirnya data yang mereka mau pun telah di depan mata. Kini saatnya melawan Sain, pastinya Albern akan selalu memberi support pada Wileen.


Selesai mengedit, mereka menyimpan data itu sebelum mengadakan konferensi pers. Wileen merasa sangat beruntung karena ada Alex yang membantunya di saat dia terpuruk.


"Tuhan, pria seperti dia kenapa tidak bisa ku miliki. Apakah tunanganku lebih baik darinya atau malah sebaliknya?" batinya.


"Sekarang sudah merasa tenang kan? Jadi kapan elo bakalan mengadakan konferensi pers?" tanya Albern.


"Secepatnya, kalau bisa besok! Tetapi elo temanin gue, kan?" tanya Wileen berharap.


Albern mengelus rambut Wileen lalu mengangguk. Wileen terharu sekaligus merasa senang karena Alex bersedia menemaninya.


Mereka berpelukan, entah siapa yang memulai duluan. Keduanya merasa nyaman saling mendekap. Sesekali tangan Albern masih membelai rambut panjang Wileen.


Wileen melepaskan pelukanya setelah sadar ini salah. Dia harus menjaga perasaan tunanganya, meskipun Wileen tidak tahu siapakah tunanganya itu.


"Masih ada yang menjadi beban fikiran elo, Wil?" tanya Albern setelah melihat raut wajah Wileen yang masih memikirkan sesuatu.

__ADS_1


Secepatnya Wileen menggeleng, tidak mungkin Wileen jujur sedang memikirkanya.


"Enggak, kok! Gue hanya merasa lega atas masalah ini yang sebentar lagi akan berpihak baik kepadanya."


"Lex, gue boleh tanya sesuatu?"


"Silahkan, lo mau tanya apa?"


Wileen mengatur nafasnya sebelum bertanya kepada Albern. Karena pertanya'anya itu menyangkut hatinya.


"Elo sudah punya pacar?" tanya Wileen, Alex menggeleng.


"Hah? Elo mau cari cewek yang seperti apa?" tanya Wileen kepo.


"Gue suka "balance" jadi kita seimbang dan saling melengkapi," tuturnya.


"Serius?" tanya tipe cewek elu yang seperti apa?"


"Yang jelas dia cewek dan yang terpenting kayak elu," jawab Albern membuat pipi Wiloo muncul semburat merah.


Mereka saling memandang hingga netra mereka bertemu. Hampir saja kejadian tempo hari terulang kembali, untung saja Wileen lebih dulu sadar. Cincin yang melingkar di jari manisnya seolah menjadi pengingat bahwa dia adalah tunangan orang lain.


Mereka berdua saling canggung setelahnya, namun Albern paling jago merubah suasana. Dia mengalihkan kecanggungan mereka dengan membahas rencana jumpa pers besok.


"Ehm, soal jumpa pers besok biar gue yang mempersiapkan. Elo cukup persiapkan diri elo saja, tentunya dengan jaga kesehatan, makan teratur, berfikir positive saat menghadapi masalah."


"Tentu saja, gue selama ini selalu berfikir positive," ucapnya dan Albern pun menimpalinya dengan tawanya.


"Hahaha, iya berfikir positive tetapi jangan cengeng dan sampai enggak mau makan. Atau emang elo sengaja biar gue nyuapin elo makan, ya?"


"Cih," Wileen berdecik pura pura tidak membenarkan ucapan Albern. Padahal di dalam hatinya berkata iya.


"Sudah enggak perlu gengsi atau jaga image, akui saja jika memang iya. Buktinya elo makan nungguin gue datang doang."


Wileen semakin tersudut dengan ucapan Albern, karena yang dia katakan memang benar.


Wileen beranjak menuju dapur, dia akan membuktikan bahwa dia akan makan tanpa menunggu perintah Albern.

__ADS_1


"Ehemm, memangnya elo bisa masak, Wil? Perlu bantuan atau tidak nih?"


Wileen menggeleng, kemudian menyuruh Albern duduk. Dia akan semakin malu jika ketahuan tidak bisa masak. Yang dia bisa hanya membuat telur orak arik. Setidaknya tidak buruk buruk bnget, masih bisa di makan kok.


"Awww," Wileen menjerit saat tanganya terkena minyak panas. Albern langsung berdiri dan mengecek tangan Wileen.


"Sudah sini biar gue saja yang masak! Elo duduk dan tunggu masakanya selesai," pinta Albern.


Wileen masih ngotot bisa masak, karena kekeraskepala'anyalah akhirnya Albern mengalah dan kembali duduk.


Dari cipratan minyang panas saja di jagain, apa lagi dari mantanya, pasti di jagain.


Tak lama Wileen muncul membawa dua piring nasi berlauk orak arik telur buatanya. Albern memandang ke arah sepiring nasi di depanya kemudian memandang Wileen.


Karena tidak ingin Wileen mengetahui penyamaranya dan tak ingin membuatnya kecewa. Albern kini memakan masakan Wileen sambil menutupi wajahnya. Wileen sampai di buatnya tertawa. Untung saja Wileen bisa menghargai Albern, dia masih berfikir mungkin Albern tidak percaya diri dengan wajahnya.


"Gimana? Enaka, gak?" tanyanya.


"Emmm, lumayan sih! Coba elu cicipin," jawabnya.


Wileen langsung memakan sesendok telur orak arik buatanya. Seketika dia berlari memuntahkanya di wastafel. Albern menahan tawanya, dia tetap memakan telur orak arik buatan Wileen walau rasanya keasinan. Dia sangat merindukan masakan Wileen, dulu tidak sekacau ini, mungkin karena jadwalnya yang padat membuat dia lama tidak terjun ke dalam dapur.


Wileen kembali dan langsung menegur Albern yang masih saja melanjutkan makanya. " stop Lex, elo bisa darah tinggi makan telur itu", namun percuma saja Wileen menegur. Setela Wileen melihat piring Albern sudah kosong.


"Jarang jarang bisa makan masakan elo, gue juga lapar,'' ucapnya santai.


"Tapi rasanya kan kacau, gue bisa bikinin yang baru seharusnya," ucap Wileen merasa tak enak hati sekaligus malu.


"Gue sudah makan masakan elo, sekarang giliran gue masakin buat elo bagaimana?" tawarnya, Wileen hanya mengangguk.


Albern melangkah ke dalam dapur, tanganya menyambar apron yang tergantung dan langsung memakainya. Dia sudah mirip chef chef jepang bermasker hitam, rambut kecoklatan, berkemeja hitam, celana hitam, apronya pun juga hitam.


Dengan cekatan Albern membuat telur orak arik yang sama, tentunya dengan rasa yang berbeda. Wileen sudah tergeliur ingin segera mencicipinya, Albernpun segera menghidangkanya di meja makan.


"Selamat makan princess!!" bisiknya di telinga Wileen dan membuat Wileen tersenyum.


Interaksi mereka sedari tadi di saksikan orang tua Wileen. Namun mereka tidak menyadari itu, saking asiknya dengan dunia mereka sendiri.

__ADS_1


__ADS_2