Jodohku Selamanya

Jodohku Selamanya
Bicara Empat Mata


__ADS_3

Pagi ini Wileen akan kembali pulang ke Jakarta yaitu ke rumahnya. Kemarin bukan hanya Sania yang memintanya kembali ke Jakarta. Kedua orang tuanya juga meminta Wileen kembali ke Jakarta. Karena kedua orang tuanya mencemaskan putri bungsunya dan Wileen Pun juga tidak ingin membuat kedua orang tuanya mencemaskannya. Oleh karena itu pagi ini Wileen kembali ke Jakarta.


Albern sudah sampai di bandara sejak pukul sembilan pagi. Dia sengaja berangkat pagi hanya untuk mengawasi Wileen. Niat hati berharap mendapatkan tiket satu jam setelah pesawat Wileen terbang. Albern malah mendapatkan pesawat serta tiket dengan jam yang sama dengan  Wileen.


Jadi Albern bisa kembali ke Jakarta bersamaan dengan Wileen tetapi seat yang berbeda. Albern mendapatkan tempat tepat di belakang Wileen. Mereka sama sama mendapatkan tempat window seat. Wileen yang saat ini duduk sambil memperhatikan pemandangan di luar jendela pesawat. Sedangkan Albern hanya bisa melihat rambut coklat Wileen yang sedikit nampak di depanya.


Andai saja Wileen tidak menjauhinya saat ini, sudah pasti Albern akan meminta bertukar tempat duduk dengan orang di sebelah Wileen.


"Sabar, Al!" hanya itu yang bisa Albern ucapkan untuk dirinya sendiri. Meskipun rasa kantuk melanda, Albern berusaha untuk tidak memejamkan matanya. Dia tidak ingin kehilangan jejak Wileen dari pengawasannya. Lagi pula satu jam lima puluh satu menit bukanlah waktu yang lama.


Beberapa waktu kemudian hingga pesawat yang mereka tumpangi telah tiba di bandara soekarno hatta. Wileen berjalan ke luar lebih dulu dan diikuti Albern di belakangnya. Wileen berhenti masuk ke dalam toilet. Sedangkan Albern melangkah keluar mencarikan taxi untuk Wileen. Tak lama Albern Pun mendapatkan driver taxi yang dia cari. Dia menyuruh driver taxi untuk mengantarkan Wileen ke alamat yang dia beri dengan bayaran dua kali lipat. Tentu saja driver taxi itu merasa senang dan menyanggupinya.


Albern bersembunyi di balik dinding ketika Wileen terlihat akan berjalan keluar. Terlihat dia sedang menunggu taxi yang berhenti di depanya. Tanpa aba aba driver taxi yang Albern suruh pun berhenti di depan Wileen.


"Taxi, neng?" tanya si driver taxi.


"Kebetulan sekali, pak! Tolong antar saya ke alamat ini," ucap Wileen menunjukan alamat yang sama seperti yang Albern kasih pada si driver taxi tadi. Driver taxi pun mengangguk dan Wileen pun masuk dan duduk di seat belakang. Taxi Pun melaju menuju alamat tujuan. Albern mengikutinya dari belakang menaiki taxi lain yang dia tumpangi.


Taxi yang ditumpangi Wileen berhenti tepat di depan gerbang rumah Wileen. Wileen bersiap siap mengeluarkan dompetnya untuk membayar ongkos taxi.


"Berapa total semuanya, pak?" tanya Wileen.


"Sudah di bayar oleh seseorang, neng!!" jawabnya membuat Wileen bertanya tanya.


"Siapa, pak?" tanya Wileen lagi, namun si driver tidak mau memberi tahu. Meskipun dia penasaran, Wileen pun tetap turun keluar.

__ADS_1


Wileen menurunkan koper mininya dan menyeretnya masuk ke dalam halaman rumahnya. Dia melihat Handoko papanya sedang bermain catur dengan temanya. Sedangkan mamanya sedang menyirami tanaman bunga di pekarangan rumahnya.


"Assalamualaikum semuanya, aku pulang Ma...Pa!!" sapa Wileen. Mamanya langsung menghentikan acara menyiram bunga bunganya. Papanya Wileen juga menghentikan permainan caturnya.


"Kamu kemana saja, nak? Kamu bikin kami khawatir," ucap Mamanya memeluk Wileen. Wileen melepaskan pelukan mamanya dan tersenyum. Seolah beban di hatinya telah berkurang.


"Maafkan Wileen telah membuat papa dan mama cemas. Wileen hanya berlibur ke Jepang lalu mampir ke pulau dewata kok. Itupun hanya sehari karena kalian memintaku pulang."


"Sudahlah yang penting kamu baik baik saja, mama dan papa mengkhawatirkanmu karena kamu ini anak gadis. Kamu berlibur sendiri tanpa seseorang yang menemanimu. Bagaimana kami sebagai orang tua tidak khawatir, nak?" ucap Handoko kemudian.


"Pa...Ma, Wileen sayang kalian berdua!!" ucap Wileen memeluk papa dan mamanya erat.


"Seharian Mama pusing, nak! Mama tidak bisa tidur karena mikirin kamu. Lihatlah kantung mata mama sampai menghitam karena tidak bisa tidur mikirin anak gadis mama ini."


"Maafkan sikap Wileen ke kamu ya, nak!!" ucap Handoko. Albern mengangguk, dia memaklumi sikap Wileen kepadanya. Ini memang salahnya yang telah menimbulkan kesalahpahaman.


"Ma...Pa, bolehkah saya menemui Wileen ke kamarnya?" izin Albern dan kedua orang tua Wileen mengangguk tanda mengizinkan.


Albern masuk dan langsung menuju depan kamar Wileen. Ketukan pintu kamarnya segera dibuka Wileen. Kini dia melihat Albern berdiri tepat di hadapannya dan menatapnya.


"Mau apa lo?" tanya Wileen mencoba bersikap normal padahal dia sedang gugup.


"Bisakah kita bicara sebentar? Ada yang ingin gue bicarakan sama lo!!" ucap Albern memperhatikan lekat wajah cantik Wileen.


"Bisa, tapi lo bisa bersikap biasa saja gak? Gak usah natap gue kayak gitu," ucap Wileen kesal karena susah payah dia mengontrol debaran di dadanya.

__ADS_1


Albern menganggukan kepalanya sedangkan tangannya menggaruk tengkuknya yang tidak gatal. Sebenarnya dia sama gugupnya dengan Wileen. Namun Albern lebih pandai menutupinya.


Wileen duduk di atas ranjang princessnya, lalu dia juga menyuruh Albern duduk. Albern Pun kini duduk  juga di atas ranjang princessnya Wileen.


"Lo kenapa gak ngabarin gue kalau lo udah balik ke Indonesia, Wil? Terus lo kemarin kemana? Kenapa orang tua lo terlihat mencemaskan lo?" tanya Albern berpura pura tidak tahu.


Wileen memandang Albern, lalu dia berkata. "Apa urusan lo, Al? Terserah gue mau kemanapun itu urusan gue, bukan urusan lo," jawabnya sinis.


Albern memegang kedua bahu Wileen dan meminta Wileen menatapnya. Albern menatap lekat wajah Wileen, membuat Wileen salah tingkah.


"Kenapa sih lo natap gue kayak gitu? Sana, hadap ke sana," pinta Wileen menunjuk tembok.


"Apa salahnya gue natap lo, Wil? Protes Albern.


"Ya salah aja, ngomong ya ngomong aja, gak usah natapnya kayak gitu," protes Wileen lagi.


Albern tetap menatap lekat wajah Wileen, dia tidak menuruti perintah Wileen. Ada sesuatu yang harus dibicarakan kepada Wileen secara serius. Wileen semakin gugup karena wajah Albern sangat dekat dengan Wajahnya. Jantung, bagaimana kondisi jantung Wileen saat ini? Rasanya seperti ingin terlepas dari tubuhnya.


"Kenapa lo berubah, Wil? Kenapa lo menjauhi gue? Apa yang sedang lo sembunyikan dari gue?" tanya Albern, tatapan lurus memandang mata Wileen.


Wileen beberapa kali mengedipkan mata guna mengalihkan pandanganya. Dia mati matian menahan debaran dan rasa gugup yang tak tertahankan.


"Apa lo mencintai gue? Dan lo cemburu jika gue memiliki kekasih?"


Mata Wileen langsung membola setelah mendengar pertanyaan Albern yang sulit dia jawab. Apa yang harus Wileen katakan di situasi seperti saat ini?

__ADS_1


__ADS_2