
Wileen tidak jadi membatalkan pernikahanya dengan tunangan misteriusnya. Dia percaya dengan perkataan Albern yang akan memperjuangkanya. Dia juga tidak tahu hal apa yang akan diperbuat Albern nantinya. Entahlah, seharusnya dengan cara membatalkan pernikahanya dengan tunanganya secara baik baikĀ adalah hal yang tepat. Tetapi karena Wileen begitu mempercayai Albern, dia pun hanya pasrah begitu saja.
Semenjak mengetahui dalamnya perasaan Albern padanya, Wileen semakin mencintai Albern. Begitulah rasanya jika persahabat antara dua sahabat menjadi cinta.
Keduanya telah mengetahui kekurangan dan kelebihan masing masing. Rasa nyaman menjadi diri sendiri tanpa merubah diri mereka seperti kemauan pasangan merupakan hal terindah dari setiap hubungan. Memang benar kata kebanyakan orang, cinta yang sempurna adalah cinta dari sahabat sendiri.
Kemarin, setelah berhasil membujuk Wileen, Albern berpamitan untuk perjalanan bisnis di los angeles. Mungkin butuh waktu agak lama kurang lebih satu bulan an. Berat bagi keduanya untuk berpisah, tapi Wileen mencoba memahami. Ini adalah perjalanan bisnis, Wileen akan selalu mendukung pekerjaan Albern. Begitupun Albern akan tetap mendukung Wileen menjadi penulis sekaligus model. Mungkin setelah Wileen menikah nanti, dia akan meninggalkan dunia model. Tetapi dia akan tetap menjadi penulis novel yang karyanya di cintai banyak orang.
Sebelum berangkat ke airport, Albern menyempatkan diri menghampiri Wileen di kantornya. Awalnya Wileen ingin mengantar Albern sampai airport, namun Albern melarangnya. Albern mencemaskan kepulangan Wileen setelah mengantarnya. Albern tidak ingin terjadi sesuatu yang buruk pada wanitanya. Jadi, Albern memilih menemui Wileen sebelum berangkat ke airport.
Sekarang waktu menunjukan jam sebelas siang, masih ada waktu satu jam sebelum keberangkatan ke los angeles.
Suara langkah sepatu terdengar di penjuru ruangan kantor Wileen. Albern sangat tampan dengan balutan kemeja putih dan jas hitamnya. Dia terlihat sangat gagah sehingga para karyawan Wileen yang melihatnya pun terpesona.
Albern sangat banyak perubahan, semenjak dia mengambil alih perusahaan keluarganya, penampilan Albern telah berubah selayaknya penampilan Ceo pada umumnya.
Sadar dirinya menjadi pusat pandangan para karyawan. Albern Pun tersenyum dan menyapa mereka semua. Sania yang melihat Albern pun menghampirinya dan dia sudah bisa menebak maksud dan tujuan Albern datang ke kantor Wileen.
"Cieh yang mau ngapelin seseorang! Rabi panget bos, mau perjalanan bisnis nih!!" ucap Sania, Albern hanya tersenyum dan melanjutkan langkahnya masuk ke dalam ruang kerja Wileen.
Wileen tidak tahu bahwa ada seseorang yang memasuki ruangan nya. Dia disibukkan dengan mencari cari tumpukan berkas di lemari yang terletak di belakang meja kerjanya.
__ADS_1
Tiba tiba ada tangan kekar memeluknya dari belakang dan membuatnya tersenyum. Wileen sudah hafal aroma perfume yang melekat di tubuh Albern.
Albern masih memeluk Wileen dari belakang, bahkan di kecupnya pipi kanan Wileen yang membuat si empunya tersenyum malu malu. Wileen membalik tubuhnya sehingga keduanya saling berhadapan.
"Jaga diri kamu baik baik ya, Al! Jangan nakal dan jangan melirik wanita lain disana. Ingat, walaupun disana banyak cewek yang cantik cantik dan lebih sexy dariku!!"
Albern menaikan sebelah alisnya setelah mendengar Wileen merubah sebutan mereka dengan aku dan kamu. Biasanya bahasa mereka adalah gue dan lo. Kini Wileen baru saja mengubah sebutan lo menjadi kamu.
"Cieh, ada yang merubah sebutan lo jadi kamu, nih!!" goda Albern.
"Karena aku dan kamu adalah kita, jadi mari kita ganti lo dan gue menjadi aku dan kamu," pinta Wileen dan disetujui Albern.
Wileen melepaskan pelukan Albern, lalu dia mendongak menatap wajah Alben. Dia juga meminta Albern selalu berjanji tidak akan tergoda dengan wanita lain.
"Kamu tenang saja, sayang! Jika mau, aku pasti sudah memiliki pasangan lain selain kamu dari dulu. Nyatanya selama ini setiaku hanya milikmu dan kamu tahu itu."
Wileen tersenyum, mereka saling menatap hingga tatapan mereka berubah menjadi sebuah ciuman. Ciuman panjang yang akan sangat mereka rindukan untuk sebulan kedepan. Keduanya tidak rela menyudahi ciuman mereka. Hingga Wileen mengingatkan waktu Albern tidak lama lagi.
Dengan berat hati Wileen merelakan Albern pergi. Karena dia yakin kali ini Albern pergi untuk kembali. Wileen mengantar Albern hingga ke lobby kantornya. Dia ingin sekali mengantar Albern hingga ke airport. Namun Albern melarangnya karena tidak ingin hal yang buruk terjadi padanya.
"Hati hati di perjalanan. Cepat kembali untuk ku," ucap Wileen.
__ADS_1
"Ya, sayang. Aku pasti segera kembali dan menemuimu setelah urusanku selesai."
Albern memasuki mobilnya, Wileen melambaikan tanganya akan kepergian Albern. Sania menghampiri Wileen dan meminta Wileen jangan menangis. Sania sudah bosan melihat sahabatnya itu terus terusan menangis.
"Sudah jangan menangis! Kok lo jadi cengeng gini sih, Wil?"
Wileen segera menghapus air matanya, dia juga sadar posisinya berada di lobby kantor. Dia malu jika sampai karyawan melihatnya menangis. Sania mengajak Wileen kembali ke ruangan nya. Entah Wileen ingin melanjutkan mengisnya ataupun tidak. Yang terpenting dia telah berada di ruangan pribadinya. Jadi tidak akan ada orang yang melihatnya dalam keadaan menangis.
"Tuhan, lindungi dia. Entah kenapa perasaan ini tiba tiba merasa resah. Lindungilah dia di perjalanan sampai dia kembali ke Indonesia."
Wileen sebenarnya masih takut ditinggal Albern pergi jauh darinya. Menghilangnya dia selama beberapa tahun lalu, membuat Wileen takut. Dia terlalu takut jika Albern tidak kembali lagi di sisinya. Entah kenapa mendadak pikiran pikiran seperti itu terlintas di pikirannya.
Albern menelpon Wileen bahwa dia baru saja tiba di airport. Sekali lagi Albern berpamitan sebelum pesawat yang dia tumpangi take off.
Pemberitahuan keberangkatan pesawat pun telah terdengar. Wileen pun juga mendengarnya di balik teleponnya. Albern mematikan teleponnya, Wileen Pun membiarkan Albern fokus pada perjalananya.
Meski hatinya terus terusan gusar, Wileen mencoba tetap positive thinking. Albern pasti baik baik saja dan kembali menemuinya ketika pulang nanti.
Entah kenapa perasaan Wileen ditinggal Albern kali ini begitu berat. Padahal sebelumnya dia pernah di tinggal ke singapura dan dia biasa biasa saja. Apa mungkin semenjak membaca buku diary milik Albern sehingga dia menjadi possessive pada Albern.
Wileen sangat mencemaskan Albern, dia berjalan mondar mandir sambil menggigit kuku jari telunjuk tangan nya. Entahlah, mungkin Wileen akan merasa tenang setelah mendapat kabar dari Albern bahwa dia telah sampai los angeles dengan selamat. Itupun masih lama, butuh waktu berjam jam untuk tiba di sana. Karena jarak waktu Jakarta ke Los angeles cukup memakan waktu lama.
__ADS_1