Jodohku Selamanya

Jodohku Selamanya
Sesuatu Yang Tidak Terduga


__ADS_3

Dengan penerangan yang minim namun setidaknya tidak segelap tadi. Saat Wileen masih menempel di tubuh Albern, tanpa sengaja siku Wileen menyenggol luka jahitan Albern yang belum mengering.


"Aaaaauh!!" Albern mengaduh karena perutnya benar benar terasa sakit. Dia mengaduh secara sepontan dan membuat Wileen mencari cari sumber kesakitan yang di rasakan Albern.


"Elo kenapa, Lex?"


"Enggak! Gua enggak kenapa kenapa," ucapnya namun Wileen tidak puas dengan jawaban Albern. Tanpa permisi Wileen membuka kemeja Albern yang terlihat bercak darah yang tembus dari perutnya. Ternyata bekas jahitanya mengeluarkan darah dan di situlah Wileen mengetahui perut Albern terluka.


"Alex, sebenarnya apa yang terjadi sama elo? Kenapa perut elo ada bekas jahitan?"


Albern hanya diam sembari menahan rasa perih di bagian lukanya. Wileen segera melangkah menuju ke kotak obat obatan yang berada di dalam lemari sudut ruangan tersebut.


"Pegangi kemejamu, gua akan mengobati luka lo."


"Biar gua saja," ucap Albern yang tidak di hiraukan oleh Wileen.


Wileen mendekat mengamati luka di perut Albern, memang sedikit intim tetapi di dalam fikiranya saat ini hanyalah mengobati luka Alex.


Di saat Wileen fokus mengobati luka Albern, di situ pula tiada lagi pembicara'an di antara mereka berdua. Wileen yang fokus mengobati dan Albern yang menahan untuk tidak mengaduh karena rasa nyeri di area lukanya.


Selesai mengobati, Wileen meletakan kotak obat obatanya di atas meja. Kemudia dia menatap mata Albern yang juga menatapnya. Mereka terhanyut akan suasana yang sangat sepi. Mungkin juga karena mata indah Albern yang mampu menghipnotisnya.


Tangan Albern memegang tangan Wileen, sedangkan mata mereka masih saling menatap. Hingga entah siapa yang memulai duluan, mungkin Albernlah yang memulai duluan. Ketika Wileen memejamkan matanya, di situ pula Albern menutupi mata Wileen menggunakan tanga kirinya. Sedangkan tangan kananya mulai membuka masker penutup wajahnya. Di cahaya yang remang remang itu terjadilah ciuman bibir di antara keduanya.


Ini bukan kali pertama mereka berciuman, dulu sewaktu SMA mereka pernah tidak sengaja berciuman saat bertabrakan. Mungkin bisa di bilang first kiss di antara mereka berdua tanpa sengaja. Namun berbeda di saat ini, mereka berciuman mungkin karena terbawa suasana.


Awalnya bibir itu hanya menempel saja, sebelum Albern memulai menggerakanya. Awalnya Wileen hanya diam saja, namun setelahnya dia mengimbangi Albern.


Tahukah perasa'an Albern saat ini? dia sangat senang karena Wileen membalas ciumanya. Namun beberapa detik kemudian Wileen tersadar dan melepaskan ciumanya. Di saat itu pula Albern bergegas memakai kembali masker penutup wajahnya.


"Ma_ maafin gua, Wil," ucap Albern terbata.

__ADS_1


Suasana semakin terasa hening karena keduanya sama sama merasa canggung. Akhirnya Albern yang membuka pembicara'an agar suasana tidak lagi canggung.


"Sudah malam! Mari kita pulang, gua akan anterin elo pulang, Wil," tawarnya. Wileen mengangguk menyetujui tawaran Albern.


Mereka berjalan beriringan keluar dari ruang kerja Wileen. Sampai di lobby gedung pun mereka masih berjalan beriringan.


"Elo lapar, gak? Kalau elo lapar kita bisa mampir cari makan sebentar."


"Enggak, deh! Gua makan di rumah saja," jawab Wileen, karena dia tahu bakalan makan sendiri lagi seperti kemarin. Albern tidak akan mau membuka maskernya dan makan bareng di tempat umum denganya.


Albern yang sadar dan juga teringat kejadian kemarinpun mengerti penolakan Wileen. Sesekali sudut bibirnya tersenyum membayangkan wajah kesal Wileen kemarin.


"Oke! Kita langsung menuju ke rumah elo."


Albern membukakan pintu mobilnya untuk Wileen dan setelahnya dia juga masuk juga lewat pintu sebelahnya.


"Berhenti meliriku, Lex! Perhatikan jalan di depan," Wileen menegur Albern yang terus terusan melirik ke arahnya.


"Pipi Wileen merona, wanita mana yang tidak akan tersanjung saat seorang pria memujinya cantik. Wileen pun sempat berfikir, kenapa makin ke sini kenapa Alex pandai menggombalinya seperti Albern. Wileen mengatur dirinya agar tidak terlalu kentara bahwa dia sedang tersipu dengan pujian Albern.


"Perhatikan jalan dan jangan menggombaliku! Ternyata elo pandai juga menggombal, ya."


"Tenanglah, gua masih bisa fokus mengemudi sekalipun hanya melirikmu. Lagia lampu sedang merah, apa elo tidak memperhatikan bahwa kita sedang berhenti?"


Ucapan Albern membuat Wileen tersadar, betapa malunya dia ketahuan bahwa dirinya sendiri yang tidak fokus.


Albern tertawa dan di detik berikutnya Wileenpun menertawai kebodohanya sendiri. Albern memperhatikan tawa lepas Wileen yang selama ini sempat hilang dari pandanganya. Tawa itu masih sama, masih terlihat cantik dan manis seperti dulu.


Tawa itulah yang membuat Albern terpana hingga telinganya mendadak tuli ketika bunyi kelakson mobil ti belakangnya berbunyi memberi aba-aba bahwa lampu telah berubah warna hijau. Albern langsung tersadar ketika Wileen menepuk bahunya dan setelah itu giliran Wileen yang menertawainya.


"Kita 1 banding 1, karena elo juga gagal fokus barusan," ucap Wileen lalu melanjutkan tawanya.

__ADS_1


"Please, Wil! Berhentilah tertawa karena ketika elo tertawa, kadar kecantikan elo semakin bertambah dang menghilangkan fokus gua. Apa kita berhenti sejenak agar elo bisa puas puasin menertawakan gua?"


Albern menepikan mobilnya kemudian menyuruh Wileen melanjutkan tawanya. Albern ingin memperhatikan Wileen tertawa sepuas puasnya.


"Sumpah, Wil! Gua rela jadi bodoh asal gua bisa melihat senyum dan tawa elo," ucapan Albern bukanya membuat Wileen tertawa, tetapi malah membuat suasana berubah jadi canggung.


Albern tersenyum tipis, di merasa lucu melihat Wileen salah tingkah karena terus terusan ia perhatikan.


"Jalankan lagi mobilnya, Lex! Apa kita akan bermalam di pinggil jalan sampai pagi?"


"Elo mau?" ucap Albern balik tanya.


"Ya, enggak lah! Ayo cepetan nyalakan mobilnya, gua lapar pengen makan. Elo mungkin kenyang hanya memperhatikan wajah gua. Tetapi perut gua tidak akan kenyang tanpa di isi makanan."


Albern semakin tertawa terpingkal pingkal dengan ucapan Wileen. Namun dia mencoba menetralkan dirinya lalu menyalakan mobilnya. Dia tidak ingin melihat Wileen kelaparan karenanya.


"Siap tuan putri, laksanakan!!" ucapnya menyalakan mobilnya menuju ke rumah Wileen.


Mobilpun melaju lumayan cepat namun bukan berarti ngebut. Untuk menghilangkan kecanggungan, Albernpun menyalakan music yang membuat mereka berdua sama-sama ikut bersenandung berdua di dalam mobil. Hingga tanpa terasa mobilpun berhenti di depan rumah Wileen.


Rasanya ada sesuatu yang membuat Wileen tidak rela masuk ke dalam rumahnya. Sesuatu itu adalah Alex, entah kenapa pria itu seperti mahnet baginya. Ingin rasanya bersama sama terus dan tidak ingin berjauhan. Apa lagi mereka sempat berciuman tadi, mengingat hal itu Wileenpun langsung menggelengkan kepalanya demi menghapus isi fikiranya.


"Masuklah, Wil! langsung makan lalu beristirahatlah. Jangan begadang hanya untuk memikirkan orang yang tidak penting seperti gua."


Wileen terkikik geli mendengar ucapan Albern yang terlampau percaya diri. Albernpun tersenyum meskipun terhalangi masker. Namun Wileen bisa tahu bahwa saat ini Albern sedang tersenyum ke arahnya.


Albern turun untuk membukakan pintu mobilnya untuk Wileen. Perlakuan sederhana namun terasa manis itu sangat Wileen sukai.


"See you tomorrow, Wileen," ucap Albern melambaikan tanganya dan di balas pula oleh Wileen.


Dunia terasa manis dan kadar kemanisanya sudah di habiskan oleh dua orang tersebut. Maka tidak akan tersisakan bagi orang lain.

__ADS_1


__ADS_2