Jodohku Selamanya

Jodohku Selamanya
Terjebak Di Kantor Wileen


__ADS_3

Mobil Albern berhenti di depan kantor Wileen. Mereka berdua tidak langsung turun, karena di luar banyak sekali krumunan wartawan yang menunggu kedatanganya. Ini pasti soal photo candid mereka berdua yang beredar kemarin.


Albern terdiam mencari jalan keluar, sedangkan Wileen sudah panik duluan. Ingin putar balik atau menerobos masuk ke dalam melewati krumunan para wartawan. Menghindar bukan jalan yang tepat, karena lolos hari ini belum tentu lolos di hari esok.


Akhirnya jalan satu satunya yang mereka pilih adalah keluar menghadapi mereka semua. Albern lebih dulu keluar dari mobil. Dia membukakan pintu untuk Wileen, lalu menggam tangan Wileen.


Wileen meminta Albern melepaskan tanganya, karena hal itu akan memperkuat duga'an public tentang hubungan mereka berdua. Albern menolak, dia semakin mempererat genggamanya sehingga membuat Wileen tidak mampu melepaskanya.


"Al, lepasih! Elo mau memperkeruh masalah?"


"Diamlah, kita hadapi bersama!!" ucap Albern menarik pelan tangan Wileen, mengajaknya menghadapi para wartawan.


Sinar lampu kamera membuat Albern dan Wileen merasa risih. Secepatnya mereka akan menjawab satu atau dua pertanya'an dari mereka sebelum keduanya masuk ke dalam kantor Wileen.


"Wileen, apakah benar pria si sampingmu ini adalah kekasihmu?" tanya salah satu wartawan.


Wileen mulai akan menjawab namun terpotong karena Albern yang mengambil alih. Wileen hanya pasrah apapun yang akan di katakan Albern. Fokus dia saat ini adalah segera masuk ke dalam kantornya dan menghindar dari krumunan para wartawan.


"Perkenalkan saya Albern, mungkin kalian sudah mengenal siapa saya. Untuk soal photo yang tersebar di berbagai media sosial kemarin memang benar itu adalah kami. Tidak banyak public tahu bahwa kami adalah sahabat sejak kecil Jadi wajar saja jika kami keluar bareng, jalan mareng dan melakukan apapun bareng bareng. Jadi saya mohon sudahi kabar kabar yang tidak benar itu, permisi," ucap Albern panjang lebar, lalu dia melindungi Wileen dari krumunan wartawan, melangkah masuk ke dalam lift.


Akhirnya mereka bisa bernafas lega, Albern melepaskan Wileen yang masih menempel padanya. Meskipun ada rasa tidak rela melepaskanya, tapi tetap harus di lepaskan. Lagi pula di dalam lift terpasang cctv yang akan menjadi masalah baru untuk mereka.


Begitupun Wileen, aroma maskulin Albern yang masuk di indra penciumanya, membuatnya enggan melepaskan diri dari tubuh Albern. Di tambah lagi, rasa nyaman yang dia rasakan, enggan untuk melepaskanya.


"Setelah ini elo harus tanggung jawab, Wil!!" ucap Albern, Wileen pun menaikan alis tanda tidak mengerti.


"Barusan gue sudah menyelesaikan masalah elo, sekarang gue terjebak di sini karena elo. Gue tidak bisa ke kantor karena elo," ucap Albern menjelaskan.


"Dih, kalau elo mau ke kantor, ya pergi saja, kenapa elo ngikutin gue!!" jawab Wileen.

__ADS_1


"Kalau gue gak ngikutin elo, sudah pasti elo pingsan di serang ribuan pertanya'an dari para wartawan tadi."


"Terus mau elo gue harus bagaimana?" tanya Wileen menatap kesal pada Albern. Albern tersenyum dengan ide ide barunya untuk membuat Wileen kesal. Melihat Wileen kesal merupakan kesenangan sendiri baginya.


Setelah mengucapkan keinginanya, Albern ikut masuk ke dalam ruang kerja Wileen. Banyak mata para karyawan memandang kagum pada sosok Albern serta menyimpan banyak pertanya'an pada keduanya.


Albern membalas senyuman setiap karyawan Wileen yang tersenyum kepadanya. Ada sebagian yang mengenalnya, ada pula yang baru melihatnya. Karena sebelumnya dia memang sudah sering keluar masuk kantor Wileen walaupun sebagai Alex.


"Duduk! Elo mau minum apa? Ambil sendiri di sana!!" ucap Wileen menunjuk lemari pendingin di pojok ruangan. Albern tersenyum dan mengangguk, lalu dia duduk di sofa menunggu Wileen menyelesaikan pekerja'anya.


Penasaran apa sih kemauan Albern tadi? Pria itu memang mempunyai seribu ide demi selalu dekat dengan Wileen. Wileen pun sebenarnya betah selalu berada di dekat Albern. Hanya dia sok jual mahal yang membuat Albern semakin gencar menjahilinya.


"Gue ngantuk, semalam gue gak bisa tidur karena memikirkan seseorang. Gue tidur sebentar, bangunin gue kalau pekerja'an lo kelar," ucap Albern membaringkan tubuhnya di sofa.


Mendengar Albern menyebut dirinya semalam sedang memikirkan seseorang, membuat konsentrasi Wileen buyar. Wileen merasa kesal dan menduga duga. Apakah seseorang yang di maksud Albern adalah Lily. Tetapi jika benar Lily, kenapa tadi pagi Albern lebih memilih mengantarnya ke kantor daripada menemani Lily belanja.


"Dasar lelaki menyebalkan!!" ucap Wileen sedikit keras, sehingga mengganggu tidur Albern.


"Oop's, apa dia mendengarku!!" gumam Wileen sambil membungkam mulutnya sendiri.


Wileen melangkah pelan, dia mendekati Albern yang sedang tidur. Saat sedang tidur begini, Albern terlihat sangat tampan dengan bulu mata lentiknya.


Wileen melihat ponsel Albern tergeletak di atas meja. Karena penasaran isi di dalamnya, Wileen mengambil ponsel Albern. Setelah ponsel itu berada di tanganya, ternyata dia tidak bisa membukanya. Ponsel Albern terkunci layarnya dan Wileen tidak tahu passwordnya.


"Ach, sial! Di kunci!!" desisnya pelan.


Wileen tetap mencoba membukanya menggunakan kode kode acak. Mulain dari tanggal bulan tahun kelahiran Albern, namun gagal. Lalu dia mencoba menggunakan angka angka lainya, tetap saja gagal.


"Apa dia menggunakan tanggal bulan tahun kelahiran Lily, atau mungkin tanggal mereka jadian, ya?" gumam Wileen, hingga dia mencari tahu tanggal bulan tahun kelahiran Lily, namun tetap saja dia gagal.

__ADS_1


Kesal karena terus menerus gagal, akhirnya Wileen meletakan kembali ponsel Albern ke atas meja. Dia melangkah kembali ke meja kerjanya dan berusaha berkonsentrasi namun tidak bisa.


Wileen tetap saja merasa penasaran dengan isi di dalam ponsel Albern. Hingga waktu berlalu dan hampir tiga jam Albern tidur dan belum juga bangun.


Wileen mendekati Albern, dia berencana membangunkan Albern. Bahkan Wileen sudah meminta tolong karyawanya untuk membelikanya makan siang.


"Al, bangun! Makan siang dulu!!"


"Emm, jam berapa sekarang?" ucap Albern dengan suara seraknya khas bangun tidur. Albern duduk namun matanya masih terpejam.


"Makanya buka matamu, ini sudah jam satu siang. Gue laper, gue nungguin elo bangun, ini juga makanan sudah siap, buruan di makan nanti dingin."


Albern membuka matanya perlahan, bahkan dia mengucek ucek matanya menggunakan kedua tanganya. Hal itu nampak lucu bagi Wileen, Wileen sangat merindukan mendapati Albern dengan muka bantalnya. Sudah lama dia tidak melihat wajah sahabatnya dalam mode bangun tidur.


Dulu sewaktu masih sekolah, Wileen sering membangunkan Albern. Ada kesenangan tersendiri melihat wajah bantal Albern yang saat ini di depanya.


"Cuci muka dulu, gih! Gue akan menyiapkan makanan buat elo," perintah Wileen, menarik tangan Albern, lalu mengantarnya ke kamar mandi.


Wileen kembali duduk di sofa, tak lama kemudian Albern muncul dengan wajah segarnya. Dia menyugar rambut semi basahnya ke atas. Membuat dirinya terlihat lebih tampan dan membuat Wileen semakin terpana.


"Astaga, kenapa ini anak hobby banget bikin gue jantungan," gumam Wileen.


Albern melangkah mendekati Wileen dan duduk tepat di sebelahnya. Jantung Wileen semakin berdetak tidak karuan ketika kulit tanganya bersentuhan dengan tangan Albern.


"Kenapa elo?" tanya Albern membuat Wileen kaget.


"Aa_apa?" tanyanya gugup.


"Elo barusan melamunin apa?"

__ADS_1


"Enggak! Gue enggak melamun!!" jawab Wileen.


Albern mendekat ke arah wajah Wileen, membuat Wileen semakin gugup. Albern tersenyum, melihat tingkal Wileen, membuatnya besar kepala. Sudah pasti duga'anya benar, Wileen sedang gugup di dekatnya.


__ADS_2