
Wileen kembali pulang ke rumahnya, karena Albern melarangnya menginap di apartemennya. Sebagai lelaki normal dia tidak sanggup satu atap dengan lawan jenis yang belum sah menjadi istrinya. Bagaimana kalau terjadi kekhilafan atau ada setan yang lewat. Tidak ingin terjadi kesalahan, meskipun dia sangat lelah, Albern tetap mengantar Wileen sampai di rumahnya.
Awalnya Wileen ngotot tidak mau pulang dan tetap ingin tidur di apartemen Albern. Karena ancaman Albern yang akan menerkamnya hidup hidup sehingga membuat Wileen ketakutan.
Terlihat kekesalan Wileen ketika dia baru saja turun dari mobil. Bahkan ucapan good bye atau selamat malam pun tidak terucap dari bibirnya. Dia berlalu begitu saja masuk ke dalam rumahnya.
Albern menggaruk tengkuknya yang tidak gatal. Dia merasa apa yang dia lakukan adalah hal yang tepat. Dia juga bersyukur selamat dari pertanyaan Wileen yang membahas tentang buku diarynya. Bahkan statusnya sebagai tunangan Wileen pun belum terbongkar. Kali ini nasib baik menolongnya, tetapi entah esok dan seterusnya.
Albern menyalakan mobilnya dan kembali ke apartemenya. Sedangkan Wileen tengah malam mengetuk pintu kamar kedua orang tuanya hanya untuk mengatakan ingin mengakhiri kaitanya dengan tunanganya. Orang tua Wileen pun kaget dengan keputusan dadakan dari putri bungsunya.
"Tidak bisa Wileen, jangan mempermainkan orang, kalian tetap menikah. Mana bisa pernikahan yang tinggal dua minggu lagi ingin kamu batalkan."
"Tapi, pa!!"
"Gak ada tapi tapian, bukankah dulu kamu setuju? Kenapa sekarang berubah pikiran?"
"Karena Wileen cinta sama Albern, pa!!" jawab Wileen menangis namun tidak mampu membantah ucapan papanya.
Wileen pun memilih masuk ke dalam kamarnya. Mungkin memang salahnya, dulu dia terlalu gegabah menyetujui pertunangan dan pernikahan ini. Kini dia terjebak dengan pilihanya sendiri.
Sedangkan papa dan mamanya Wileen sedang membahas tentang Wileen di kamar mereka. Mamanya merasa tidak tega melihat wajah penuh kesedihan putrinya. Sedangkan Handoko meminta istrinya untuk membiarkan Wileen seperti itu. Toh di tunda ataupun tidak, pada akhirnya Wileen akan menikah dengan Albern. Anggap saja ini kejutan untuk Wileen.
Wileen menangis meratapi penyesalannya di dalam kamarnya. Andai saja tadi dia tidak menemukan buku diary Albern. Mungkin hatinya tidak akan goyah seperti saat ini. Cinta Albern kepadanya begitu tulus meskipun Albern sangat menyebalkan baginya.
Wileen menelpon Albern yang baru saja tiba di apartemennya. Tubuhnya sangat lelah, ingin sekali dia memejamkan matanya. Namun bunyi nada dering ponselnya sangat mengganggunya.
__ADS_1
Albern melihat nama Wileen di layar ponselnya. Antara ingin mengangkat dan tidak, karena dia sangat lelah. Namun jika tidak diangkat, Albern takut jika Wileen marah. Akhirnya pilihan jatuh untuk mengangkat telpon dari Wileen.
"Ada apa sayang?" tanyanya.
Terdengar isak tangis di seberang telpon membuat Albern bangkit dari berbaringnya. Dia langsung bertanya kenapa Wileen menangis.
"Al, papa gak setuju jika gue gagalin pernikahan gue dengan tunangan gue!!"
"Kenapa lo minta gagalin pernikahan lo? Gak usah, Wil."
"Kok lo gitu sih, Al? Gue sedang memperjuangin lo, tapi lo kok kayak gitu sih. Berarti lo rela gue jadi istri orang lain? Katanya lo cinta sama gue, tapi respon lo kok kayak gitu."
Sisa kesabaran Albern yang setipis kapas pun diuji. Dalam keadaan yang sangat lelah harus mendengar omelan Wileen. Albern menarik nafas dalam dalam sebelum memikirkan jawabanya.
"Sayang! Bukan begitu maksud gue, gue akan terus memperjuangkan lo. Tapi lo tenang saja ya? Biar gue yang memperjuangin lo."
"Lo tunggu saja ya? Besok gue pikirkan caranya. Gue lelah banget Wil, gue tidur dulu ya? Good night sayang, mimpi yang indah dan jangan nangis lagi," ucapnya menutup telepon.
"Caranya ya tetep gue yang bakal nikahin lo, Wil," gumamnya sebelum memejamkan matanya.
Keesokan harinya Wileen mogok makan dan tidak mau keluar dari kamarnya. Terpaksa papanya menelpon Albern agar datang membujuk Wileen. Wileen juga tidak mau berangkat ke kantornya karena aksi mogoknya ini.
Albern langsung one call away setelah mendapat kabar dari calon papa mertuanya. Untung saja Albern berada tidak jauh dari rumah Wileen. Cukup waktu lima menit kini Albern sudah tiba di rumah Wileen. Handoko langsung meminta Albern membujuk Wileen di kamarnya.
Albern mengetuk pintu kamar Wileen, dia meminta Wileen membuka pintunya. Wileen pun membuka pintu kamarnya dan langsung menarik Albern masuk.
__ADS_1
"Lho, kok matanya sampai sembab begini? ada apa sayang?" tanya Albern. Wileen langsung berhambur ke dalam pelukan Albern. Dia mencari kehangatan sekaligus ketenangan pada diri Albern.
"Gue cinta sama lo, gue ingin hidup sama lo, tapi kenapa sepertinya kita tidak berjodoh, Al."
Albern menghapus air mata Wileen, lalu dia menarik tubuh Wileen kembali kedalam pelukanya.
"Tenang ya sayang! Semua akan baik baik saja!!"
"Apanya yang baik baik saya, Al? Pernikahan gue tinggal dua minggu lagi. Gue gak ingin menjadi istri orang lain. Yang gue inginkan adalah ello Al, bukan orang lain."
Albern mati kutu jika Wileen membahas hal yang sama seperti kemarin. Dia juga bingung apa pertunanganya disudahi dan bertunangan kembali dengan Wileen sebagai dirinya sendiri.
Albern seperti terjebak dalam permainannya sendiri. Tetapi dia kan mau memberi kejutan pada Wileen. Dia ingin melihat reaksi Wileen setelah mengetahui dialah yang akan menjadi suaminya nanti.
Albern berpikir keras demi mendapatkan alasan yang tepat. Kalau tahu bakalan ini terus yang di bahas Wileen, pasti Albern tidak akan datang kesitu. Tetapi mengingat Wileen yang mogok makan, hatinya pun tergerak membuatnya bergegas datang.
Albern memegang tangan Wileen, matanya menatap mata Wileen. Netra mereka saling bertemu dan menyalami setiap cinta yang terpancar pada keduanya. Hingga Wileen memberanikan diri mencium Albern duluan. Entah mendapat keberanian dari mana sehingga membuat Wileen seberani itu.
"Sayang, sepertinya suasananya tidak baik untuk kita berdua di dalam kamar ini. Bagaimana kalau kita keluar jalan jalan sambil mencari makan. Kamu belum sarapan pagi ini, tolong jangan membuatku khawatir."
"Kenapa? Apa yang salah?" tanya Wileen masih mempertanyakan ucapan awal Albern.
"Dua orang berbeda jenis berada di kamar dalam keadaan dikunci. Apa yang akan terjadi seterusnya? Setan setan akan mendukung kita untuk berbuat yang tidak"
Wileen mendadak bungkam, suasana menjadi canggung. Benar kata Albern bahwa antara dirinya dan Albern sangat membahayakan. Bisa jadi ketiganya adalah setan.
__ADS_1
Wileen langsung salah tingkah, pipinya pun berona merah. Dia sangat malu, kemudian meminta Albern menunggunya di luar. Albernpun menuruti permintaan Wileen. Setidaknya dia bisa sedikit membujuk Wileen