Jodohku Selamanya

Jodohku Selamanya
Lamaran Misterius


__ADS_3

Albern hanya menginap semalaman di rumah orang tuanya. Pagi pagi sekali dia sudah kembali ke apartemenya. Karena teman temanya memintanya untuk berkumpul di kafe tongkrongan mereka. Maklum saja mereka juga jarang nongkrong bareng karena kesibukan masing-masing.


Jofan, Bian, Dion sudah datang dari tadi, sedangkan Albern baru saja tiba. Maklum, dia sellu datang paling akhir di antara teman temanya.


Albern datang dengan raut muka datarnya, membuat teman temanya bertanya tanya. Jofan menggelengkan kepala melihat sikap Albern. Dia menyuruh Albern duduk di sebelahnya dan menatapnya penuh penasaran.


"Elo dateng dateng muke lo udah kayak lap piring, kucel dan kusut, Al. Ada apa lagi? Wileen ngecewain elo lagi?" tanya Jofan penasaran dan di susul ke dua temanya yang lain juga penasaran.


Dion yang juga penasaran menggeser duduknya di dekat Albern "elo kenapa, Al? Perusahaan bokap lo bangkrut? Atau elo lagi kelaparan?" ledek Dion.


Albern menatap Jofan dan dion bergantian, lalu dia berkata "Sain" ucap Albern sambil menghela nafasnya kasar.


"Maksud elo cowok yang selalu ngintilin Wileen kemanapun itu? mantanya Wileen kan dia?" tanya Bian di angguki Albern.


"Dia mau menyingkirkan gua untuk ke dua kalinya, namun kali ini sebagai Alex, karena baginya Albern sudah dia lenyapkan."


Kedua temanya Dion dan Bian kompak melototkan matanya sambil berucap " Sumpah lo?"


Albern mengangguk "tuh, tanya Jofan, dia yang bantu jadit luka sayatan dari orang orangnya Sain yang di tugaskan untuk ngebunuh gua."


"Beneran, Jof? Kok elo gak ngasih tau kita berdua?" tanya Dion meminta penjelasan.


"Kenapa dia bisa segila itu? Ini benar benar parah. Lalu maksud dan tujuan dia apa mau ngebunuh elo?" tanya Bian.


Albern menghela nafasnya lalu menjawab " karena obsesinya demi memiliki Wileen sepenuhnya, maka dia akan menyingkirkan setiap ada cowok yang mendekati Wileen," ucap Albern panjang lebar.


"Terus hubunganya ama Alex apa Al? Bukanya elo cuma patner kerja sebagai Alex?" tanya Dion lagi.


Jofan memukul kepala Dion "bego lo Ion", karena_

__ADS_1


"Karena akhir-akhir ini gua dan Wileen semakin dekat. Bahkan Wileen terang terangan menolak ajakan Sain hanya karena gua," ucap Albern melanjutkan penjelasan Jofan.


"Tapi Al, kalau elo enggak bergerak cepat, si Wileen bakalan di persunting Sain. Itu artinya elo gak akan pernah dapetin si Wileen," ucap Dion membuat Albern menatapnya.


"Tidak akan terjadi karena gua tidak akan membiarkan itu terjadi. Gua akan melawan Sain, Wileen hanya milik gua. Entah kalian berfikir gua gila atau apalah, yang jelas gua akan merebut kembali milik gua yang pernah di ambil Sain dari gua," ucap Albern, matanya fokus ke depan seolah membayangkan dirinya merebut Wileen kembali dari tangan Sain.


"Udah deh, lamar seklin itu Wileen! Ngapain elo pakai acara myamar jadi Alex segala. Elo gak takut jika suatu saat Wileen tahu dan kecewa sama Elo?" ucap Bian.


Setelah di fikir fikir benar juga ucapan Bian, lambat laun Wileen akan mengetahui penyamaranya. Entahlah, mungkin dia akan kecewa kapadanya atau malah sebaliknya.


"Gua akan diam diam mengikatnya," ucap Albern menerawang ke depan.


"Lo kira dia kucing, elo ikat segala? Lamar dong, anak orang tuh," Jofan menimpali.


"Gua mau pulang, gua sudah menemukan cara yang tepat."


"Woe, enak saja elo! Baru juga datang setelah mendapat pencerahan langsung main pulang aja lo," protes Dion.


"Tunggu saja! Kalian akan tahu apa yang akan gua lakukan?"


Albern pergi setelah menjelaskan kepada teman temanya yang super kepo.


Benar kata teman temanya, Albern harus ekstra cepat agar tidak ketinggalan. Tapi dia bingung hatus berbuat apa setelah ini.


"Dasar! Setelalah mendapat pencerahan langsung pergi begitu saja," ucap Dion.


Albern tidak mau menunggu lagi, dia akan meminta Wileen menjadi istrinya saat ini juga.


Diam diam saat Wileen tidak berada di rumah, Albern berkunjung ke rumah Wileen secara terang terangan. Bahkan kedatanganya membuat Mama dan Papanya Wilen terkejut.

__ADS_1


"Albern! Ini kamu nak?" tanya Mamaya Wileen menghampiri Albern. Berbeda dengan ekspresi Papanya Wileen yang datar.


"Ternyata kamu masih hidup!!" ucap Papa Wileen datar.


"Maafkan Al, Om! Al sempat menghilang beberapa tahun ini," ucapnya menatap Papanya Wileen.


"Kau kembali setelah membuat putriku seperti orang kehilangan arah dan tujuanya."


"Maafkan Al, Om! Al mempunyai alasan kenapa Al bisa pergi selama ini. Tetapi Al mohon jangan beritahu Wileen tentang keberada'an dan kedatangan Al saat ini."


Papa dan Mamanya Wileen menatap Albern dengan wajah keheranan. Albern benar benar gugup di tatap demikian. Namun dia tetap berusaha baik baik saja.


Albern juga menceritakan semua kejadian yang ia alami selama ini kepada orang tua Wileen, tanpa terkecuali. Orang tua Wileen sempat tidak percaya, namun setelah Albern menjelaskan dan memberi bukti bukti kecil, akhirnya merekapun percaya.


"Al bukan hanya ingin bercerita Om, Tante! Tetapi kedatangan Al kesini ingin meminta sesuatu kepada Om dan Tante," ucap Albern dengan wajah seriusnya.


Papanya Wileen menyunggingkan senyumanya "Apa yang kau minta dari kami, Al?"


Tiba tiba Albern merasa gugup dan takut jika orang tua Wileen menolaknya. Lelaki paruh baya di depanya ini bukanlah sembarangan orang. Oleh karena itu Albern merasa gugup jika berhadapan dengan beliau.


"Saya ingin menikahi Wileen, anak Om dan Tante," ucap Albern membuat kedua orang tua Wileen tersenyum.


Entah keberuntungan mungkin telah berpihak kepada Albern. Kedua orangtua Wileen langsung menyetujui lamaran Albern. Albern begitu berani datang sendiri untuk melamar putri mereka. Meskipun kedatanganya diam diam tidak ingin Wileen tahu.


Entah bagaimana kelanjutanya, melamar namun si perempuan tidak boleh tahu. Hidup Albern mungkin di penuhi dengan teka teki yang membuat orang orang penasaran kepadanya.


Lalu bagaimana dia bisa bertunangan bahkan menikahi Wileen, jika Wileen saja tidak tahu siapa orang yang telah melamarnya. Pasti Wileen butuh mengetahui dan mengenal lebih dulu, pria yang ingin mempersuntingnya.


Tidak mungkin Wileen mau begitu saja menerima orang asing yang sama sekali tidak dia kenal. Apa lagi langsung menerima lamaranya, iya kalau orang itu baik, kalau tidak? maka akan tidak baik untuk kedepanya.

__ADS_1


Itu hanya pandangan autor sih, entah bagaimana respon Wileen nanti. Kedua orang tuanya akan mencoba menanyakanya kepada Wileen setelah Wileen pulang kerja. Meskipun mereka pasti bingung ingin menjelaskan kepada Wileen.


Belum juga kalau Wileen menanyakan nama si pria yang melamarnya, provesi, bahkan photo. Pasti kedua orang tuanya akan kebingungan untuk menjawabnya. Namun apa salahnya di coba dulu, belum tentu Wileen bertanya tentang semua itu.


__ADS_2