
Pagi ini Wileen sudah mendapati Sain berdiri di depan gerbang rumahnya. Entah apa maksud dan tujuanya, bahkan Sain tidak mengabarinya kalau dia ada di sana.
Pria berbody sixpack berkulit putih dan tinggi itu pun melangkah menghampiri Wileen. Dengan senyum yang tidak pernah berubah tetapi sudah tidak istimewa lagi bagi Wileen.
Yang namanya mantan hanyalah mantan, meskipun sempat merajut cinta di masalalu. Tetapi silaturahmi dan menganggapnya teman tetap tertanam di dalam prinsip Wileen. Mantan bukan berarti musuhan dan lain sebagainya. Karena Wileen telah dewasa dan cara berfikirnyapun lebih dewasa daripada Wileen yang sebelumnya.
Baginya semua teman lawan jenisnya dia anggap teman. Namun dasarnya dia keras kepala menjadikanya tidak peka terhadap cowok yang menyukainya. Baginya selagi dia tidak suka, maka dia tidak akan membalas perasaan cowok itu.
Namun berbeda jika cowoknya tersebut adalah Alex dan Albern. Entah kenapa Wileen merasa sangat nyaman pada dua cowok itu . Padahal tanpa Wileen ketahui, dua cowok yang dia sukai adalah satu orang yang sama.
Lewat jendela kamarnya, Wileen melihat Sain yang masih berdiri di depan gerbang rumahnya. Bahkan saat ini Sain telah melihatnya dan melambaikan tangan dan menyuruh Wileen agar turun.
Lagi pula waktu masih ada, sembari menunggu kedatangan Alex. Akhirnya Wileen turun dan menemui Sain walau sekedar menyapanya saja.
"Pagi, Wil! Mau gua anterin ke kantor lo?" tawarnya
"Sain! Kok elo datang enggak kasih kabar dulu ke gua.
"Kan surprise! Soalnya kalau gua ngomong sama elo, elo pasti kebanyakan alasan.
Wileen menghembuskan nafas kasar, pasalnya pagi ini Alex juga akan mengantarnya. Wileen sudah lebih dulu janji pada Alex. Jika di suruh memilih pasti Wileen lebih memilih Alex
"Sorry Sain, gua sudah ada yang jemput! Lain kali saja deh, lagian elo sih, gak kabar kabar dulu ke gua."
Sain menatap tidak suka ke arah Wileen, penolakanya membuatnya malu, apa lagi di tambah kesal karena Wileen berkata ada yang menjemputnya.
"Siapa yang mau jemput elo? Kok belum juga tiba."
"Alex! Temanku kemarin, kamu pernah bertemu denganya bukan?"
"Si brengsek itu lagi ternyata! Dia benar benar tidak takut dengan ancamanku," ucapnya membatin.
"Enggak Wil! Elo berangkat bareng gua, tidak baik elo terlalu dekat dengan orang yang baru elo kenal. Apa lagi dia pria, kalau di punya niat tidak baik ke elo gimana?"
"Aku benar benar akan gila karena hal itu, kenaa sih Sain sok sok'an ngatur ngatur gua?" Wileen membatin.
__ADS_1
Tidak lama kemudian Alexpun tiba, baru juga menghentikan mobilnya, dia sudah mendapat tatapan tidak enak dari Sain.
Alex keluar dari mobilnya untuk sekedar menyapa Sain. Meskipun dia masih ingat ucapan Sain tadi malam padanya. Namun Alex tetap bersikap biasa saja seolah tadi malam dia tidak bertemu Sain.
"Selamat pagi! Sapanya berharap Sain juga membalas sapa'anya. Nyatanya pria yang pernah mencelakainya dua kali itu hanya diam saja."
"Pagi, Lex! Yuk kita langsung berangkat," Wileen segera mengajak Alex karena Wileen muak melihat tatapan Sain yang tidak bersahabat.
"Tapi Wil! Bagaimana denga dia?" tanya Alex.
"Sain, kami berangkat dulu ya!!" ucap Wileen menarik tangan Alex sebelum memasuki mobil Alex.
Alex melirik wajah Sain yang sangat tidak bersahabat. Puas melirik, Alex pun segera berangkat mengantar Wileen ke kantornya.
Dalam hati Alex tertawa, akhirnya dia masih berkesempatan melihat wajah masam Sain. Puas? tentu saja Alex belum puas. Karena dia masih ingin melihat Sain emosi. Suatu hobby baru bisa melihat Sain emosi.
"Dia tadi kenapa,Wil? Mau jemput elo juga?"
"Gua juga enggak tahu, tiba tiba dia sudah berada di depan gerbang dan nawarin mau nganterin gua."
"Ya iyalah, gua kan sudah lebih dulu janji sama elo. Lagian salah dia sendiri tidak ngabarin gua kalau mau nganter."
Albern tertawa dalam hati, merasa telah menang dari Sain. Dia siap menunggu kejutan lagi dari Sain, entah apa yang akan Sain perbuat kepadanya. Tapi setidaknya Albern tetap waspada.
"Em, setelah nganterin elo, kayaknya gua langsung cabut deh, Wil. Soalnya gua ada acara keluarga, tapi pulangnya gua bisa jemput elo kok."
"Eh, enggak usal Lex! Kesanya gua jadi ngerepotin elo. Udah gua enggak papa kok, entar gua bisa nebeng sama Sania."
"Beneran nih? Tapi kabarin gua, ya," ucap Alex membuat Wileen merasa di possesivin pacarnya.
Albern pun tidak sadar bahwa dia terlihat terlalu p ossesive untuk ukuran seseorang yang baru di kenal Wileen. Mungkin karena dulu dia juga melakukan hal yang sama saat menjadi sahabat Wileen.
Begitupun Wileen, meski dia sempat bertanya tanya tentang sikap Alex. Bahkan apapun yang di lakukan Alex selalu mengingatkanya pada Albern. Wileen mau heran tetapi cowok di dampingnya ini adalah Alex bukan Albern.
Entah apa yang Wileen rasakan saat ini, sedih karena selalu teringat Albern ketika bersama Alex. Atau malah bahagia karena setidaknya Alex mampu sedikit mengobati kerinduanya kepada Albern.
__ADS_1
"Eh Lex, mampir ke toko kue sebentar ya! Gua mau beli kue, elo mau ikut atau nungguin di mobil?"
"Gua temani elo saja deh, Wil! Takut elo di culik karena sangking cantiknya."
"Mulai deh ngegombalnya!!"
Merekapun tertawa bersama ketika membuka pintu mobil. Bahkan mereka masih saja bercanda gurau sambil berjalan menuju toko kue.
Ketika mereka telah berada di toko kue, tiba tiba ada yang memanggil Albern. Untung saja Wileen sedang fokus memilih kue.
"Kak Al!!" panggilan seorang perempuan yang langsung membuat Albern menoleh.
"Puri!!"
"Kak Alb_
Albern langsung membungkam mulut Puri adik sepupunya, karena hampir saja memanggil namanya. Bisa bisa penyamaran Albern terbongkar saat itu juga jika dia tidak secepatnya membungkam mulut adik sepupunya.
Albern menarik adik sepupunya menjauh dari toko kue, karena mulut cempreng adik sepupunya sangat membahayakanya.
"Iiiiiiiih! Apa'an sih, kak?"
"Pur! Mulutmu lama gak kamu service?" tanyanya pada adik sepupunya, sedangkan Puri malah membeo melihat kakaknya.
"Kak! balik ke Indonesia tidak ngasih kabar, tidak pulang ke rumah, sekalinya ketemu malah aneh sih, kakak enggak amnesia, kan?"
l"Hussst! Sekarang kamu pulang dan tungguin kakak di rumah. Sebentar lagi kakak akan pulang ke rumah."
"Kalau begitu kenapa kita tidak pulang bersama saja?"
"Enggak bisa! Kakak sedang bersama Wileen."
"What? Kak Wileen? Di mana dia kak, aku mau minta tanda tanganya," ucap Puri mencoba mencari Wileen namun di tahan oleh Albern.
"Lain kali saja! Bisa kiamat dengan cepat dunia gua, Pur."
__ADS_1
"Apa'an sih, kak? Aneh banget deh," protesnya.