
Albern semakin mencemaskan keadaan Wileen saat ini, setelah mendapat info sumber masalah dari Jofan. Bahkan Albern nekat ingin menerjang pagar agar dia bisa masuk dan menemui Wileen. Jofan menahanya, tidakan gegabah Albern memang di luar nalar sangking paniknya. Sama saja dia akan membuaka peluang para wartawan lain untuk masuk.
Albern tidak henti hentinya mengomel di dalam mobil, hingga kondisinya mulai tenang dan bisa berfikir jernih. Albern memutuskan akan menunggu hingga para wartawan itu bubar.
Di sisi lain Jofan juga menunjukan vidio Sain yang beredar di media. Pria itu dengan bangganya menjawab pertanyaan wartawan dengan santai.
"Kami melakukanya karena suka sama suka, jadi apa yang salah," tuturnya yang membuat Albern yang ikut melihatnyapun semakin emosi.
"Awalnya gua gak percaya, tapi vidio yang beredar membuat gua bertanya-tanya. Selain itu warganet menganggap Sain dan Wileen masih memiliki hubungan rahasia. Gua juga membaca komentar netizen yang mendukung hubungan mereka, gila semuanya. Bagaimana tindakan yang tidak patut di contoh seperti itu malah di puji," komentar Jofan yang tidak habis fikir dengan komentar netizen.
Albern juga ikut membaca, yang menghujat dengan yang memuji lebih banyak yang memuji. Entah dunia ini mungkin hampir kiamat, setelah melihat reaksi orang-orang di jejaringan sosial.
Albern menggepalkan tanganya, dia memikirkan bagaimana caranya menyelamatkan Wileen dari isu itu. Di sini Wileenlah yang di rugikan sebagai wanita. Seluruh dunia mengecap dia tidak virgin lagi karena vidio mesum yang beredar itu.
"Vidio yang beredar itu tidak benar, karena saat itu gua datang menyelamatkan Wileen ketika Sain hendak memperkosanya," tutur Albern.
"Lo serius, Al! benar benar parah si Sain, entah otaknya masih di gunakan atau di gadaikan karena gila opsesi!!" timpal Jofan.
"Gua ingin tanya pada Wileen, apakah masih ada cctv yang lain selain cctv yang di curi datanya oleh Sain."
Sedangkan di dalam kamar Wileen mengintip puluhan wartawan di balik jendela kamarnya. Dia juga melihat mobil Alex tak jauh dari krumunan wartawan itu. Wileen menangis, dia sungguh merasa di permalukan. Kesal, malu, marah menjadi satu dan mengacaukan hati dan fikiranya. Dia ingin berteriak agar seluruh dunia tahu, vidio yang tersebar tidaklah benar.
Ponselnya berdering, Wileen melihat panggilan masuk dari Sain. Reflek dia membanting ponselnya karena kekesalanya pada si penelpon. Dia sangat membenci Sain, dia menyesal dulu pernah menjadi kekasih Sain. Pria itu sangat buruk, dia mampu menghalalkan segala cara demi kemauanya terkabulkan.
"Brengseng elo, Sain! Sumpah gua benci banget sama elo. Gua menyesal pernah menjalin hubungan denga pria iblis seperti elo, ahhhhh," teriak Wileen melempar semua benda benda yang ada di dalam kamarnya.
"Ahhh," suara seseorang mengaduh membuat Wileen kaget. Reflek dia menoleh dan mendapati Albern baru saja masuk ke kamarnya.
__ADS_1
Wileen langsung menghampiri Albern dan diapun membungkam bibirnya dengan tangan kananya. Gara gara amukanya, Albern menjadi korban karena dahinya berdarah.
"Lex, maafkan gue, ya! Gue beneran tidak sengaja, Sini gue obatin," ucap Wileen merasa bersalah.
"Gue enggak papa, Wil! Justru gue yang kawatir dengan keada'an elo. Elo baik baik saja kan? Lihat mata elo sampai sembab begini."
Wileen diem, namun tanganya tetap mengobati luka di dahi Albern. Namun seberapa tegar dia, dia tidak mampu membendung air matanya. Lagi lagi dia meneteskan air matanya. Albern reflek memeluknya, memberi kenyamanan dan ketenangan.
"Menangislah sepuas puasnya, tetapi elo harus janji setelah ini jangan lagi menangis!!" pinta Albern, Wileen pun mengangguk.
Aroma perfume maskulin dari tubuh Albern membuat Wileen merasa lebih tenang dan nyaman. Pantas saja Wileen betah di dalam dekapan Albern.
Wileen mendongak ke atas, memandang wajah Albern. Tanganya ingin menarik masker yang menutupi wajah Albern, namun langsung di halangi oleh Albern.
Memang situasi seperti itu sangatlah romantis untuk sepasang kekasih untuk berciuman.Tetapi Alex dan Wileen? Mereka tidak memiliki setatus apapun lebih dari teman.
Wileen melepaskan pelukanya, Albern mengira Wileen marah. Ternyata tidak, Wileen malah merasa malu karena tindakanya barusan. Dia takut Alex akan merasa risih denganya setelahnya.
"Ehhhm, bagaimana elo bisa masuk ke sini, Lex? Bukankah di luar masih banyak wartawan."
"Gue lewat pintu rahasia, kebetulan Om Handoko yang memberitahuku," jelasnya, ternyata Papanya Wileen yang memberitahu pintu rahasia kepada Albern.
Wileen bernafas lega, dalam arti untuk Alex saja, bukan untuk masalahnya yang rumit. Wileen menunjuk vidio Sain yang beredar. Saat ini Sainlah yg di kerumuni banyak wartawan.Sialnya lagi Sain berkata akan mempertanggung jawabkan perbuatanya dengan menikahi Wileen.
"Untuk Wileen sayang, kamu tidak perlu kawatir dan takut. Bukankah kita sudah bertunangan dan sebentar lagi kita menikah. Aku si sini mewakili menjawab semua pertanya'an wartawan, kamu tenang saja di rumah, ya," ucap Sain di depan media.
Wileen menjerit, menjambak rambutnya sendiri seperti orang kesurupan. Dia begitu terluka dengan ucapan Sain. Harga dirinya di injak injak begitu saja sebagai seorang wanita.
__ADS_1
Albern langsung menarik tubuh Wileen dan lagi lagi memeluknya. Dia tidak henti hentinya memberi semangat kepada Wileen.
"Cup cup! Elo tenang ya, Wil. Kita masih bisa berfikir jalan keluar baik baik," ucap Albern.
"Gua malu Lex, kenapa dia tega sama gua, lalu salah gue apa ke dia?"
Albern mengelus punggung Wileen supaya Wileen lebih tenang. Lalu tiba tiba pertanyaan seputar tentang cctv yang di bahasnya dengan Jofan tadi terlintas di fikiranya.
"Katakan pada gue! Apa ada cctv lain yg letaknya tersembunyi di ruangan kerja lo?"
Wileen mengingat ingat apakah ada cctv tersembunyi di dalam ruang kerjanya di kantor. Setelah ia mengingatnya, Wileen langsung memberitahu kepada Alex tentang vidio itu."
"Ada, gue menaruhnya di lampu hias!!" ucap Wileen.
"Bagus Wileen, smoga cctv itu bosa membongkar kecurangan Sain. Oh ya, elo sudah makan? Pasti belum karena seharian menangis, bukan?" Wileen mengangguk tandanya dugaan Albern benar.
Makan, ya? Mau gue suapin lagi seperti tadi pagi? Wileen menggelang, dia malu jika di suapi Albern lagi.
'Gue turun ambilin elo makan, ya?"
"Enggak usah, Lex! Biar di antar bibik."
Albern mrnuruti kemauan Wileen, baginya apapun itu yang penting bisa mengembalikan senyum wanitanya.
Tak lama asisten Wileen datang membawa nampan berisi berbagai makanan. Albern menemani Wileen hingga makananya habis. Setelah itu dia pulang dan ternyata para wartawan sudah pergi.
Albern bisa leluasa pergi melalui gerbang utama. Mobilnya tadi dia parkirlan tak jauh dri rumah Wileen. Untuk menuju ke sana, Albern terpaksa berjalan kaki.
__ADS_1