Jodohku Selamanya

Jodohku Selamanya
Meninggalkan Pesta


__ADS_3

Setelah Albern dan Wileen menoleh dan mengetahui suara wanita yang memanggil Albern barusan. Wileen langsung di buatnya kesal setelah melihat siapa sosok wanita itu.


"Akhirnya kita bertemu lagi, Al! Mungkin karena kita berjodoh," ucap wanita itu manja, dan wanita itu adalah Lily.


"Oh, jadi ini Albern putra pak Baskara?" sapa pria tua seumuran papanya Albern.


Albern tersenyum menjabat tangan si tuan pemilik pesta tersebut. Dia di buat terkejut ternyata kolega bisnis papanya adalah papanya Lily. Hal itu baru dia ketahui, karena dulu sewaktu Albern berpacaran denganya, dia belum sempat mengetahui siapa papanya Lily.


"Pa, jadi papa kenal papanya Albern?" tanya Lily sumringah.


"Ya, tentu saja kami saling mengenal, papanya Albern kan kolega bisnis Papa."


"Pa, dia yang dulu perah Lily ceritakan ke papa, dia dulu kekasih Lily, pa. Pasti Albern masih mencintaiku, iya kan, Al?" tanya Lily penuh percaya diri.


Sedangkan Wileen yang sedari tadi hanya menjadi penonton pun ikut geram dengan tingkah Lily yang sangat centil. Apa lagi ketika matanya melihat Lily bergelayut manja di lengan Albern. Membuat Wileen memendam emosi karena cemburu.


Albern melirik Wileen yang menahan kekesalan, dia langsung menjauhkan tubuh Lily darinya. Sontak perlakuan Albern membuat Lily merasa kesal.


"Jadi kamu orangnya, jadi kamu kekasih putri saya?" tanya Antonio papanya Lily terlihat menyukai Albern.


"Maaf pak Anton, memang dulu kami sempat pacaran sebentar dan itu sudah sangat lama sewaktu kami SMA."


"Itu tidak masalah, kalian kan bisa balikan lagi, bukankah kalian masih saling mencintai?" tanya Antonio berharap Albern akan kembali berpacaran dengan Lily putrinya.


"Mohon maaf, tetapi saya sudah mempunyai kekasih!!" jawab Albern sopan, namun terlihat jelas Antonio dan Lily tersinggung.


"Siapa kekasihmu itu? Apakah wanita ini?" tanya Lily menatap tajam Wileen. Albern diam tidak menanggapi, lalu Antonio kembali menimpali.

__ADS_1


"Kembalilah kepada putri saya, maka saya akan memberikan separuh dari saham saya untukmu!!" tawarnya.


Albern tersenyum, bagaimana bisa orang terhormat seperti Antonio menggadaikan putrinya dengan sebuah saham. Namun Albern tetap menolak dengan cara sopan. Cinta tidak bisa di paksakan atau di tukar dengan apapun.


"Sekali lagi saya mohon maaf, saya sangat mencintai kekasih saya lebih dari apapun. Tidak mungkin saya menyakiti hatinya hanya demi sebuah saham."


"Sombong sekali kamu anak muda, kamu tahu saya akan melaporkan ini semua kepada pak Baskara!!" ancam Antonio.


Susasana semakin memanas, bahkan para tamu undangan berkumpul untuk menyaksikan perdebatan mereka. Wileen pergi menjauh, hatinya terluka mendengar ucapan Albern barusan.


Albern hendak mengejar Wileen, namun tanganya di tahan oleh Lily. Mata Albern menatap tajam Lily, lalu di hempaskanya tangan Lily begitu saja.


"Silahkan anda mau melaporkan ini semua kepada papa saya tuan Antonio. Bahkan bila perlu anda gadaikan seluruh harta kekaya'an anda demi mendapatkan hati saya. Saya tidak akan begitu mudahnya memberikan hati saya kepada putri anda. Tolong hargai keputusan saya, saya punya pilihan saya sendiri, permisi."


Albern pergi berlari keluar mengejar Wileen, namun entah kemana Wileen saat ini berada. Dia terus berlali kemanapun kakinya membawanya. Namun nihil, dia tidak menemukan Wileen.


"Kemana dia? Kenapa pergi begitu saja tanpa pamit."


Belum lagi jika sampai orang tua Wileen tahu, putri mereka tidak bersamanya, pasti mereka akan kecewa pada Albern. Karena Albernlah yang bertanggung jawab atas Wileen saat ini.


Di rogohnya ponsel di saku celananya, satu panggilan tidak terjawab, hingga panggilan ke dua pun juga tidak di jawab. Albern semakin bingung, namun dia tetap menelpon Wileen. Hingga panggilan ke tiga baru terjawab oleh Wileen.


Di sebrang telpon, terdengar suara Wileen begitu serak. Albern khawatir, apa Wileen sakit? kenapa suaranya terdengar serak. Albern langsung bertanya di mana saat ini Wileen berada. Wileen menjawab, dia menginap di hotel di seberang hotel tempat di adakanya pesta tadi. Kebetulan ada dua hotel yang berbeda yang saling berhadapan.


"Gue akan kesana, katakan berapa nomer kamar lo?" tanya Albern.


"Enggak perlu! mending elo pulang, gue capek, gue lelah ingin tidur," ucap Wileen mematikan sambungan telponya.

__ADS_1


"Ssssit!!" Albern mengumpat, lalu dia segera mendatangi lokasi hotel itu. Kali ini dia akan mengabdalkan kekuasaanya untuk meminta kartu akses kamar Wileen. Apapun caranya pasti akan dia lalukan demi menemukan Wileen.


Di dalam kamar hotel, Wileen menangis dan terngiang ngiang ucapan Albern tadi. "Sekali lagi saya mohon maaf, saya sangat mencintai kekasih saya lebih dari apapun. Tidak mungkin saya menyakiti hatinya hanya demi sebuah saham."


Wileen menggelengkan kepalanya serta menutup kedua telinganya. Seolah ucapan Albern masih begitu jelas dia dengar.


"Hik...hik, siapa wanita beruntung itu, Al? Gue kira wanita itu adalah Lily, ternyata gue salah. Kenapa sesakit ini, Al? Rasanya hati ini tidak rela menerima kenyata'an elo mencintai wanita lain. Gue juga gila, gue punya tunangan tetapi hati gue mencintai lo, Al."


Wileen terus menangis hingga dia tertidur karena kelelahan. Albern berhasil mendapatkan kartu akses kamar Wileen. Ketika dia masuk, Albern mendapati Wileen telah tidur.


Albern tidak tahu bahwa kata katanya tadi melukai Wileen. Yang dia tahu, Wileen kelelahan dan ingin segera tidur.


Albern membaringkan tubuhnya di samping Wileen. Albern membalik tubuh Wileen agar menghadapnya. Dia menemukan jejak air mata yang belum mengering di sudut mata Wileen. Albern menghapus air mata Wileen, lalu menarik tubuh Wileen dan memeluknya.


"Kenapa dia menangis?" gumam Albern penuh tanya.


Jika pertanyaan itu langsung di tanyakan kepada Wileen, sudah pasti Wileen akan menjawab "dasar lelaki tidak peka".


Albern terus memikirkan penyebab Wileen menangis. Bahkan matanya tetap fokus memandangi wajah Wileen yang terlelap.


Dari raut wajahnya saja Albern sudah bisa mengetahui bahwa Wileen baru saja menangis. Hidungnya yang memerah dan juga sisa air mata yang belum mengering. Sudah jelas Wileen baru saja menangis. Namun Albern masih belum tahu penyebab Wileen menangis


Dasam lelapnya Wileen mengeratkan pelukanya di tubuh Albern. Mungkin Wileen mengira tubuh Albern adalah bobeka panda yang biasa dia peluk. Albern mencoba menggeser tubuhnya, namun Wileen semakin mengeratkan pelukanya.


"Gue pastikan elo bakalan teriak teriak besok pagi, Wil!!" Gumam Albern, lalu dia memilih memejamkan matanya dalam posisi tubuh di dalam pelukan erat Wileen. Mereka tidur dalam satu ranjang berdua.


Ketika mereka sudah sama sama terlelap, tanpa mereka sadari malam ini mereka tidur damai saling berpelukan. Untuk soal besok pagi, sudah pasti akan ada drama di antara mereka berdua yang tidak kalah heboh.

__ADS_1


Hihihi, bagaimana kelanjutanya besok pagi harinya setelah mereka bangun dari tidur, ya?


Teman teman dukung saya dengan like, koment, subsribe dan rating terbaik, ya😘


__ADS_2