
Trauma pasti ada, wanita mana yang tidak akan trauma saat seseorang ingin merusak kehormatanya. Wileen masih ketakutan, pagi inipun dia tidak ingin pergi ke kantornya.
Pergi ke kantor sama saja mengingatkanya pada kejadian mengerikan itu. Karena lokasi kejadian itu berada di kantornya.
Wileen mengurung diri di kamar, dia juga belum beranjak ke kamar mandi untuk sekedar mencuci muka. Kondisinya saat ini sangatlah kacau, mata sembab, rambut acak acakan membuatnya nampak terlihat kacau.
Albern pagi pagi sekali datang ke rumah Wileen sebelum berangkat kerja. Dia ingin memastikan keadaan Wileen baik baik saja. Karena konsentrasinya akan terganggu jika Wileen tidak baik baik saja.
Bel pintu rumah Wileen telah dia pencet, beberapa detik kemudia asisten Wileen membukakan pintu untuknya. Kebetulan Handoko beserta istrinya sedang sarapan pagi.
Mereka menawari Albern untuk sarapan bersama, namun ketika mendengar Wileen belum sarapan membuat Albern mengurungkan niatnya untuk sarapan bareng dengan mereka.
Albern juga meminta izin masuk ke dalam kamar Wileen. Dia akan mencoba membujuk Wileen agar mau sarapan.
Orang tua Wileen pun mengizinkan, toh Albern adalah tunangan Wileen. Albern melangkah sambil membawa makanan yang telah di siapkan asisten rumah tangga Wileen.
Setelah tiba di depan kamar Wileen, Albern mengetuk. Satu kali ketukan tiada sahutan dari dalam. Dua kali ketukan Wileen mengusir untuk pergi. Hingga beberapa kali ketukan tidak kunjung di respon akhirnya Albern mbuka saja pintu kamar Wileen.
Saat pintu terbuka, Albern melihat Wileen bersandar di ranjang dan melamun. Wileen juga tidak sadar Albern sedang mendekat ke arahnya. Ketika dia sadar, Wileen langsung menutupi wajahnya dengan selimut karena malu.
"Selamat pagi! Kenapa di tutup?"
"Lex, bagaimana elo bisa masuk ke kamarku? Keluarlah penampilanku sedang kacao," pinta Wileen, Albern menggeleng menolak.
"Elo tetap cantik dalam kondisi bagaimanapun, sarapan ya,Wil?"
Albern pantang menyerah demi Wileen, dia tidak suka melihat Wileen terpuruk memikirkan kejadian kemarin. Apa lagi sampai dia tidak mau memakan makananya sedikitpun.
Albern menarik selimut yang di gunakan Wileen untuk menutupi dirinya. Lalu dengan sekali lempar, selimut itu kini berada di atas sofa. Wileen sangat malu dengan penampilanya yang kacao saat ini.
Albern menggeleng, seolah mengisyaratakan Wileen tetap cantik di matanya. Wileen pun akhirnya sedikit peecaya diri karna ucapan Albern.
"Makan, ya? Gua bisa kesiangan kerja kalau nungguin elo gak makan makan!!"
__ADS_1
"Dih, siapa yang nyuruh elo nungguin gua? Elo pergi kerja gih."
Albern menggeleng, lalu menyuapkan nasi untuk Wileen makan. Karena tidak ingin Albern terlambat kerja, Wileen pun memakan makananya dengan lahap.
"Lex! Thanks ya soal kemarin, kalau elo enggak datang, entah apa yang terjadi pada diri gua. Thanks juga sudah menjadi teman yang baik untuk gua."
Sama-sama! Tetapi lebih dari itu boleh, gak?" tanya Albern.
Wileen terdiam, andai saja Alex mengatakanya sebelum di menyetujui pertunanganya dengan pria lain, pasti dengan senang Hati Wileen akN menerimanya. Namun apalah daya, nasi telah menjadi bubur.
"Udah, Lex! Elo nanti telat, loh!!" ucap Wileen mengalihkan pembicaraan. Albern tersenyum di balik masker yang masih setia menutupi wajahnya.
Tanpa Wileen menjelaskan, Alben sudah bisa menebak. Itu karena cicin yang melingkar di jari mnisnya.
"Sudah, enggak papa!! Gua nyuapin elo sampai habis."
"Tapi gua kenyang!!"
Albern mengelap sudut bibir Wileen yang berantakan menggunakan tangannya. Perhatian kecil namun sangat sweet itu yang biasanya membuat wanita baper.
Wileen tersenyum mengangguk, berkat kedatangan Alex mampu membuat Wileen tersenyum kembali.
"Hati-hati, lex! Gua takut Sain bakalan mengincar elo," ucap Wileen khawir.
"Siap! Elo tenang saja, gua punya setok nyawa lebih untuk menjaga diri darinya.
Tak lama setelah kepergian Albern, Hana Mamanya Wileen masuk ke kamar Wileen untuk memastikan keadaanya.
Pintu kamar Wileen di buka dan menampilkan senyum mamanya yang begitu manis baginya. Hana mendekat, wanita paruh baya itu selain mengecek kondisi putrinya, beliau juga kepo akan putrinya dan Albern.
"Bagaimana keada'anmu, sayang? Tadi barusan yang datang siapa?" tanya Mamanya pura pura tidak kenal.
"Baik, Ma! Barusan yang datang si Alex teman Wileen."
__ADS_1
"Kelihatanya dia baik, nak! Bukankah dia yang mengantarmu pulang tadi malam?"
Wileen mengangguk, setelah itu dia terdiam memikirkan Alex. Dia merasakan getaran di dadanya ketika berdekatan dengan Alex. Rasa nyaman dan merasa mendapat perlindungan di sisinya.
Di lain sisi Wileen dilema, dia memikirkan cincin yang melingkar di jari manisnya. Apakah dia menyesali gegabah menerima pertunangan dengan pria asing itu.
Mendadak dia menimbang nimbang antara pria asing itu dengan Alex. Andai waktu bisa di putar, dia memilih tidak menerima pertunangan itu. Karena dia baru sadar, letak kenyamananya berada pada Alex setelah Albern.
"Kenapa sayang? Apa yang sedang kamu fikirkan, nak?" tanya Mamanya.
"Wileen bingung, Ma! Bisakah pertunangan ini di batalkan?"
Mamanya menatap kaget pada Wileen, setelah mendengar ucapan putri bungsunya. Hana juga tidak habis fikir, kenapa putrinya mendadak bertanya seperti itu.
"Kenapa kamu tiba tiba berkata seperti itu, sayang?"
Sejenak Wileen diam, sembari mengatur dirinya. "Entah kenapa, Wileen merasakan kenyamanan serta perlindungan pada diri Alex, Wileen bingung, Wileen dilema apa yang haruz Wileen lakukan, Ma".
Hana mengelus ramput panjang putrinya,kemudian beliau bertanya.
"Apakah kamu tahu kalau Alex mencintaimu?" tanya Hana, Wileen menggeleng.
"Lalu apa yang kamu harapkan padanya, Wileen? Bahkan dia tidak menyatakan cinta padamu, jangan sampai cintamu bertepuk sebelah tangan. Di sisi lain ada pria baik yang benar benar tulus mencintai dan menyayangimu."
"Tapi Wileen belum tahu wajahnya, Ma!!"
"Bukankah itu kemauanmu sendiri? Kamu sendiri yang menolak melihat wajahnya. Lagian wajah bukan tolak ukur, yang terpenting dia baik dan sayang sama kamu. Soal fisik Mama yakin dia tidak kalah tampan. Dia juga pekerja keras dan pastinya bisa mencukupi kebutuhanmu. Dia sosok penyayang, dan pastinya kamu akan bahagia denganya."
Mamanya begitu semangat menceritakan tentang tunangan Wileen. Wileen yang sedari dulu adalah anak yang berbaktipun mengangguk. Karena dia tahu, pilihan orang tuanya selalu terbaik untuknya.
Namun bagaimana tentang hati? Sepertinya di sudut hati Wileen ada Alex yang mengisinya. Apa Wileen harus menjauhi Alex demi tunanganya? Tidak mungkin, karena Alex terlalu baik untuk di hindari. Bahkan dia adalah dewa penyelamat Wileen yang selalu ada.
Ternyata nasehat dari Mamanya tidak mampu membuat Wileen berhenti memikirkan Alex. Alex terlalu sempurna untuk tidak di ingat.
__ADS_1
Wileen tidak tahu, keluaganya dan Albern telah bersekongkol. Tanpa sadar orang tuanya ikut serta mempermainkan Wileen.