
Pagi harinya mereka berdua masih tidur berpelukan. Keduanya merasa nyaman karena ada sesuatu yang bisa di peluknya saat tidur. Mereka belum menyadari, mata mereka enggan terbuka karena rasa nyaman saling berpelukan.
Waktu telah menunjukan pukul tujuh pagi. Sinar matahari yang menembus di sela sela gorden jendela kaca, membuat salah satu diantara mereka terbangun.
Wileen terbangun lebih dulu, sayup sayup dia membuka matanya. Tanganya meraba sesuatu yang terasa asing di pelukanya.
Satu dua kali kedipan mata, nampak jelas wajah lelaki tampan yang membuatnya menangis semalam. Jari telunjuknya mentoel toel hidung mancung Albern. Wileen masih menganggap dirinya sedang berhalusinasi.
"Dasar lelaki menyebalkan, kenapa pertama kali membuka mata yang gue lihat lo?" Gerutunya masih mentoel toel hidung mancung Albern.
Albern merasa geli ketika ada tangan seseorang mentoel toel hidungnya. Pergerakan Albern membuat Wileen tersadar dan langsung berteriak. Sontak Wileen melompat dari ranjang yang ditidurinya dari semalam.
Albernpun langsung terjingkat kaget, dia terduduk sambil menutupi kedua telinganya.
"Apaan sih pagi pagi teriak teriak! Pecah gendang telinga gue lama lama!!" Protesnya, sedangkan orang yang dia omelinomeli berkacak pinggang dan bibirnya menganga masih belum percaya.
"Lo ngapain bisa berada di sini, Al? Bagaimana bisa lo masuk ke sini?"
Albern menoleh memandang Wileen, dia mengingat ingat kejadian semalam. Setelah dia mengingat, dia malah tersenyum dan membuat Wileen bertambah kesal.
"Albern! Jawab pertanyaan gue."
Albern menyibak selimut yang menutupi tubuhnya. Dia merenggangkan otot ototnya sejenak sebelum berjalan menghampiri Wileen.
Wileen menatap Albern yang kini berada di depanya. Wanita itu waspada karena lelaki di depannya ini sulit di tebak.
Albern merapikan rambut Wileen yang nampak acak acakan. Wileen menyingkirkan tangan Albern dari kepalanya.
"Jawab pertanyaan gue, Al! Bagaimana bisa lo masuk ke sini?"
Albern semakin membuat Wileen emosi. Bukanya menjawab pertanyaan, dia malah senyam senyum tidak jelas.
Wileen memukul lengan Albern, membuat si empunya mengaduh padahal tidak sakit.
__ADS_1
"Aduh, sakit woy!!"
"Sakit, ya? Mau gue pukul lagi, lo? Cepat jawab, bagaimana lo bisa masuk ke sini?"
"Sabar, Wil! Baru juga melek, sudah di introgasi. Sabar ya, sayang banget kalau cantik cantik cepat tua karena marah marah terus."
Wileen menarik nafas perlahan, stok kesabaran nya semakin menipis. Lelaki di hadapan nya benar benar memancing emosinya. Belum kelar soal tadi malam, pagi harinya dia dibuatnyadi buatnya tambah kesal.
"Nih, gue minta kartu akses kamar ini. Gue bilang ke resepsionis kalau elo saudara gue. Gue telpon papa Handoko untuk meyakinkan mereka. Jadinya gue bisa masuk dan lihatin elo tidur sambil mendengkur."
"Albern, gue tidak mendengkur!!"
"Eh ada lagi, ello semalam peluk peluk gue. Elo juga ***** ***** gue, gue laporin elo ke Papa Handoko, mesum lo, Wil."
Wileen tidak terima dibilangdi bilang mesum, bukankah selama ini Albern yang mesum. Wileen semakin emosi, hal itu menyenangkan bagi Albern.
"Elo yang mesum, elo yang masuk ke kamar ini tanpa izin dari gue."
"Albern diam! Mending gue nikah sama lelaki yang tidak jelas daripada sama lelaki mesum plus playboy seperti lo."
Lagi lagi Albern tersenyum, dalam hatinya bergumam "lelaki yang lo bilang tidak jelas itu gue, Wil."
"Jadi lo nolak gue? Lo lebih memilih tunangan lo yang belum jelas wujudnya itu?"
"Hmmm!! jawab Wileen malas.
"Dasar munafik, kalau gue menghilang elo cari cari, lo tangisin. Giliran orangnya ada di depan, eh sok jual mahal, dasar wanita," gerutunya lirik dan hanya didengar oleh Albern sendiri.
"Lagian lo juga sudah punya kekasih, sana urusin kekasih lo. Pergi sana, gue malas lihat muka lo tiap hari," usir Wileen.
"Yakin ngusir gue? Jangan nangis kalau gue hilang dari pandangan lo lagi, ya?"
Albern memasuki kamar mandi, dia ingin menyegarkan tubuhnya sebelum dia pergi meninggalkan Wileen. Sepuluh menit waktu yang lumayan cukup, lalu dia keluar dalam keadaan segar.
__ADS_1
"Masih marah? Masih ngusir gue?" Tanya Albern melirik Wileen.
Wileen tidak menanggapi,sebenarnya Wileen masih marah pada Albern soal tadi malam. Tidak mungkin Wileen mengaku bahwa dirinya sedang cemburu.Wileen terlalu gengsi untuk mengakuinya.
Albern telah rapi, dia beranjak menuju pintu. Samar samar telinganya mendengar suara yang sangat lirih berkata "jangan pergi ninggalin gue, Al."
Albern menarik sudut bibirnya, namun dia tetap acuh dan berpura pura tidak mendengar ucapan Wileen. Albern keluar meninggalkan kamar hotel yang ditempatinyadi tempatinya semalam dengan Wileen. Dia keluar namun tidak benar benar pergi meninggalkan Wileen.
"Dasar wanita, lain di mulut lain di hati!!" Gerutunya ketika Albern sudah berada di luar.
Albern melangkahkan kakinya menuju lobby hotel. Dia memasuki cafe yang tersedia di dalam hotel itu. Dia akan mengawasi Wileen sambil bersantai meminum secangkir kopi.
Dia tidak benar benar meninggalkan Wileen sendiri. Mana mungkin Albern setega itu membiarkan Wileen sendiri. Dia hanya iseng mengerjai Wileen yang masih berbura pura acuh kepadanya.
Sebelumnya Albern juga telah membayar biaya sewa kamar hotel semalam. Dia juga berpesan kepada resepsionis untuk menyuruh wanita yang menempati kamar hotel yang sama dengan nya agar menemuinya di cafe.
Tidak lama kemudian Wileen keluar dalam keadaan segar. Dia berjalan menuju resepsionis untuk membayar biaya sewa hotel semalam. Petugas resepsionis berkata bahwa sudah ada orang yang membayarnya dan Wileen diminta untuk menemui orang tersebut.
Dari jarak jauh Albern memperhatikan percakapan Wileen dengan petugas resepsionis hotel. Apakah Wileen setelah itu akan benar benar menemuinya? Jawabanya tidak. Wileen malah melangkah keluar dan membuat Albern beranjak dari duduknya. Dia meninggalkan selembar uang ratusan ribu di bawah cangkir kopinya. Albern lalu berlari mengejar Wileen.
Albern berlari dan berhasil mencegah Wileen yang hendak masuk ke dalam taxi. Albern mencekal pergelangan tangan Wileen dan membuat Wileen menoleh.
"Apa lagi sih, Al? Lepasin gue, gue mau pulang. Gue masih kesal sama elo, untuk beberapa hari kedepan gue tidak mau bertemu dengan lo."
"Hah? Tapi kenapa, apa salah gue sehingga elo tidak mau bertemu gue, Wil?" Tanya Albern merasa bingung.
Sampai saat ini Albern belum peka, Wileen masih kesal karena ucapanya di pesta semalam. Wileen akan mencoba menjauhi Albern demi mengontrol hatinya. Wileen masih berfikir bahwa Albern sudah memiliki wanita idaman nya. Begitupun dia sudah memiliki tunangan.
Albern akhirnya melepas cekalan tanganya dan membiarkan Wileen pergi. Mungkin dia akan memberi waktu untuk Wileen meredakan emosinya yang entah karena apa.
"Tidak mungkin dia tersinggung karena candaan gue tadi, kan? Wileen tidak mungkin tersinggung, gue kenal dia lama dan kebal banget dia, tapi kenapa dia terlihat sangat marah padakupada gue?"
Albern memandang taxi yang membawa Wileen pergi. Sampai saat ini dia masih bertanya tanya penyebab kemarahan Wileen. Dasar lelaki tidak peka, dia melupakan ucapan nya semalam sewaktu di pesta yang membuat Wileen sedih hingga menangis.
__ADS_1