Jodohku Selamanya

Jodohku Selamanya
Ikatan Batin


__ADS_3

Albern baru sadar perutnya mengeluarkan darah segar yang kemungkinan terkena sayatan senjata tajam dari preman preman tadi. Dasah keluar cukup banyak yang membuat Albern mau tidak mau harus melepas kemeja yang ia pakai untuk mengikat perutnya agar darahnya berhenti keluar.


Di ambilnya ponselnya yang berada di kursi kemudi, dia langsung menelpon Jofan sahabatnya untuk datang ke alpartemenya.


Albern masih kuat mengemudi mobilnya hingga ke apartemenya. Tak perlu waktu lama, dua puluh menitan dia pun telah sampai di apartemenya.


Bertepatan dengan Jofan yang baru saja tiba di lokasi. Sahabat dari Albern itu langsung melebarkan matanya setelah melihat Albern bertelanjang dada dan melihat kemejanya di penuhi banyak darah.


"Al, lo kenapa? kenapa perut elo?" tanyanya menghawatirkan Albern


"Entar gua ceritain! Sekarang elo tolong gua masuk ke dalam apartemen gua dulu."


Jofan langsung memapah Albern yang terlihat mulai lemah. Hingga merekapun kini telah sampai di dalam apartemen Albern.


"Ambil alat medis di laci samping ranjang gua," pinta Albern membuat Jofan bergegas mengambilnya


"Lalu apa lagi yang bisa gua bantu, Al?" tanyanya setelah mengambilkan alat medis yang di minta Albern.


"Tolong bersihkan luka gua dengan alcohol, kemudian jahit lukanya."


"What? Jahit? Lo kira gua tenaga medis? Gua journalist, Al," protesnya.


"Gua gak peduli profesi elo apa, cepat lakukan sebelum elo lihat gua mati."


Meski ketakutan akhirnya Jofan melakukan juga perintah Albern. Dia benar benar tidak berpengalaman dalam hal menjahit, apa lagi menjahit daging hidup hidup. Jofan tetap berusaha melawan rasa takutnya. Lebih takut melihat sahabatnya mati karena tidak tertolong dari pada rasa takutnya melakukan perintah Albern.


Dengan ilmu minim yang dia lihat dari youtube, akhirnya luka Albernpun telah tertutup. Albern juga meminta Jofan pergi setelah dirinya meminum obat yang membuatnya tertidur dan melupakan rasa sakitnya.


Tetapi bukan Jofan jika tega meninggalkan sahabatnya sendirian tanpa seseorang yang bisa membantunya. Jofan akhirnya tetap tinggal di apartemen Albern hingga dia sadar.


Di liriknya ponsel Albern yang berbunyi dan terpampang jelas nama Wileen di layar ponsel milik sahabatnya. Antara ragu untuk mengangkatnya atau membiarkanya saja. Namun Jofan takut ada hal yang penting dan akhirnya dia pun mengangkatnya.


Terdengar suara panik bercampur khawatir di sebrang sana. Apa mungkin Wileen mengetahui apa yang terjadi pada Albern? atau karena ikatan batin antara sahabatnya dan Wileen cukup kuat.

__ADS_1


"Siapa kamu? Alex di mana?" tanya Wileen di sebrang sana


"Gua temanya Alex, dia sudah tidur di kamarnya," jawabnya dan Jofan mendengar suara hembusan nafas penuh kelegaan di sebrang sana


"Syukurlah kalau Alex sudah tidur, mungkin perasa'anku saja yang terlalu menghawatirkanya," ucap Wileen dengan nada lirih namun masih cukup jelas terdengar di telinga Jofan


Ternyataikatan batin antara Wileen dan sahabatnya memang benar ada. Setelah menutup telpon dari Wileen, Jofanpun merebahkan tubuhnya di atas sofa ruang tamu. Tidak mungkin dia tidur seranjang bersama Albern yang sedang terluka.


Pagi harinya Albern keluar kamar dalam kondisi cukup segar. Seolah dirinya baik baik saja padahal perutnya terluka.


"Woy bangun! sudah siang elo gak ada jadwal hari ini?" ucapnya membangunkan Jofan yang masih saja tidur padahal jam sudah menunjukan pukul delapan pagi


"Jam berapa, Al?" tanyanya masih setia memejamkan matanya


"Jam sepuluh!!" jawab Albern bohong


"What?" Jofan terlonjak kaget dari tidurnya karena ucapan Albern. Dia langsung melihat jam dinding untuk memastikanya. Albern tertawa sedangkan Jofan sudah ingin menerkam sahabatnya jika Albern tidak sedang terluka.


"Kurang aja elo, Al! gua numpang mandi sebelum gua pergi. Elo hari ini di apartemen saja, kan? gak mungkin elo nekat kerja sedangkan kondisi elo sedang terluka."


Jofan berkacak pinggang, sudah persis seperti seorang ibu yang siap siap mengomelin anaknya.


"Tetapi elo belum cukup kuat beraktivitas hari ini, Al. Elo istirahat saja pokoknya, masalah teman bisa di bicarakan nanti."


"Udahlah gua gak papa! Lagian gua enggak cuman kerja tetapi mengambil obat gua."


Jofan berfikir lumayan keras oleh ucapan Albern "obat". Obat apa yang elo maksud dan apa hubunganya di tempat kerja elo?"


"Wileen! obat gua cuma Wileen," ucapnya melewati Jofan dan langsung masuk ke dalam kamarnya


"Nih anak, dasar!! Untung teman gua elo, kalau bukan sudah pasti gua sambel muka elo."


Dan benar saja, Albern hari itu pula nekat pergi ke ke kantor Wileen. Tidak ada jadwal pemotretan namun hanya sekedar ingin menemui Wileen saja.

__ADS_1


Setidaknya dia masih bisa dekat dengan Wileen walaupun sebagai Alex bukanlah Albern. Setidaknya dia bisa mengawasi Wileen dari kelicikan Sain.


Apalagi kejadian kemarin membuat Albern lebih waspada kedepanya. Sain satu satunya orang yang sangat berbahaya untuknya.


Pagi itu Albern melihat Wileen begitu cantik, dengan balutan dress selutut berwarna pink blue yang sangat pas di kulit putihnya.


"Wil!!" panggilnya dan Wileenpun menoleh ke arah suara yang memanggilnya.


"Alex!!" dia tersenyum sangat manis menyambut kedatangan Alex.


"Apa gua gangguin elo? Apa hari ini elo sibuk?" tanya Alex memperhatikan wajah cantik Wileen yang juga menatapnya.


"Enggak! Aku enggak sibuk, kok. Ayuk masuk ke ruanganku, lex."


Dengan senang hati Alex mengikuti Wileen menuju ruanganya. Banyak tatapan mata melihat ke arah mereka berdua. Ini kali pertama Albern memasuki kantor Wileen.


"Duduklah, elo mau minum apa, lex?"


"Enggak usah! gua hanya ingin menemuimu saja," ucapnya memperlihatkan eyesmilenya yang mampu memikat lawan jenis.


Wileen tersipu malu, dia sangat gemar memperhatikan mata indah Alex. Mata yang selalu mengingatkanya kepada sahabatnya, Albern.


"Lex, perasa'an gua kemarin enggak enak, tiba tiba saja gua gelisah karena mikirin elo."


"What?" Albern tertarik untuk meminta alasan dari ucapan Wileen padanya barusan.


"Entah kenapa gua gelisah tadi malam, gua takut terjadi hal buruk pada elo sepulang elo nganterin gua. Sampai sampai gua nelpon di nomer ponsel elo. Ada suara cowok yang mengangkat telpon gua , apakah dia teman elo?"


"Dia bilang apa sama elo, Wil?" Albern menunggu jawaban dari Wileen


"Dia hanya bilang elo sudah tidur, sehabis itu ya gua mati'in sambungan telponya."


Albern menghembuskan nafas kelega'an, untung saja Jofan tidak menceritakan kejadian yang sebenarnya pada Wileen. Albern sempat di landa kecemasan jika sahabatnya itu berkata yang sebenarnya pada Wileen.

__ADS_1


Dalam hati Albern sangat bahagia, Wileen


mengatakan secara langsung bahwa dia mencemaskanya. Albern juga senang, ternyata ikatan batin antara dirinya dan Wileen masih kuat. Dalam fikiranya dia bersorak sorak penuh rasa senang. Seolah dia lupa akan luka di perutnya yang masih basah. Luka itu seakan menghilang karena rasa senangnya yang bagaikan obat untuknya.


__ADS_2