Jodohku Selamanya

Jodohku Selamanya
Kemarahan Sain


__ADS_3

Albern tidak berkedip memandangi Wileen saat menyantap makananya. Sesekali dia mengulum senyum mendapati ekspresi kesal bercampur malu pada diri Wileen. Makan sendiri di tambah di tatap terus oleh pria di hadapanya, membuat Wileen mati"an menelan makananya karena salah tingkah.


"Uhuuk!!" dan alhasil Wileen tersedak dan Albern dengan cekatan memberikan gelas berisi orange juice kepada Wileen.


"Thanks!!" ucap Wileen sembari memberikan kembali gelas yang isinya telah tandas ia minum.


Albern mengambil tisu di pojok meja, lalu dengan sangat telaten dia mengelap bibir Wileen yang belepotan. Sontak aksi dadakan Albern membuat Wileen mendadak tegang.


"Eh, thanks! gua bisa sendiri, kok," ucapnya mengambil alih tisu di tangan Albern. Albernpun hanya mengedikan bahunya sembari tersenyum tipis.


"Pelan-pelan saja makanya, enggak usah terburu-buru, gua pasti nungguin elo."


Wileen meletakan sendoknya, tiba-tiba nafsu makanya hilang. Dia melirik tatapan pengunjung lain ke arahnya. Memang sedikit aneh, dia makan sendirian dan Albern hanya memandanginya. Persis seperti anak Raja beserta bodyguardnya yang mengawalnya kemanapun.


"Kok berhenti?" tanya Albern melihat Wileen tidak lagi menyantap makananya.


"Gua pingin pulang, gua malu makan sendirian dan di lihatin pengunjung lain," ucapnya berdiri hendak menuju kasir.


"Eh, mau kema,Will?"


"Mau bayar, lah," ucapnya kesal dan ingin segera pergi meninggalkan lokasi tempatnya berada saat ini. Albern menahan tangan Wileen, dia menyuruh Wileen menunggunya. Sedangkan Albern melangkah menuju kasir.


Selesai membayar, Albern langsung melangkah menghampiri tempat di mana Willen menunggunya.


"Lex! kan gua yang makan, kenapa elo yang bayarin makanan gua?"

__ADS_1


Albern hanya tersenyum tipis, dia tidak menjawab pertanyaan dari Wileen. Bahkan dia mengajak Wileen ke lokasi tempat mobilnya terparkir.


Mereka tidak sadar, sedari tadi orang suruhan Sain telah mengikuti mereka berdua. Dan benar saja, setelah Sain melihat Albern atau lebih tepatnya Alex, dia langsung menyuruh anak buahnya mengikuti mereka berdua.


Orang suruhan Sain selalu mengirim photo kepadanya. Dari mulai Albern dan Wileen pergi meninggalkanya hingga photo-photo terbaru yang orang itu ambil secara diam-diam.


Sedangkan di lokasi yang berbeda, Sain ingin sekali rasanya membanting handphone di genggamanya setelah melihat photo photo yang di send orang suruhanya padanya.


"Brengsek!!" siapa lagi cowok ini? yang satu mati, datang satu lagi. Cari tahu tentang cowok yang bersama Wileen segera," perintah Sain kepada orang suruhnya.


Selama ini, setelah menghilangnya Albern dari kehidupan Wileen. Sain selalu menduduki posisi utama di samping Wileen. Meskipun hubunganya dengan Wileen telah berakhir. Namun Sain bukanlah orang bodoh, dia selalu pandai memanfaatkan situasi.Oleh karena itu banyak media yang memberitakan mereka balikan kembali menjadi sepasang kekasih.


Ya, semenjak setelah putus dari Sain, setiap kali ada cowok yang mencoba mendekati Wileen, mereka selalu menyerah. Hal itu di karenakan adanya Sain yang selalu berada di sekitar Wileen.


Sain tidak akan membiarkan cowok lain mendekati Wileen, siapapun itu.Baginya Wileen hanyalah miliknya, persetan dengan setatus mereka yang sudah putus.


"Brengsek! akan gua habisi cowok itu jika terus mendekati Wileenku."


Semua barang di atas meja kerjanya di buanginya semua ke lantai. Semua hancur berkeping-keping, Sain mendadak kesetanan. Atau mungkin memang Sain terganggu kejiwa'anya selama ini.


"Toni, dimana Sain?" pria berusia sekitar 50 an bertanya kepada asisten Sain.


"Tuan muda Sain sedang berada di ruangan kerjanya, Tuan. Sepertinya keadaanya sedang tidak baik-baik saja," pria itu menjawab pertanyaan dari papa bosnya.


"Ach, anak itu kenapa lagi? pasti gara-gara wanita itu lagi," ucapnya langsung tertuju kepada Wileen.

__ADS_1


Pria berusia 50 tahun itu tidak lain adalah papanya Sain. Pria itu melangkah menuju kamar putra sulungnya. Dia membuka pintu ruang kerja Sain yang sudah tidak berbentuk. Di tambah lagi dia melihat putranya setengah sadar karena pengaruh alcohol.


"Hai papa! nikahkan aku segera dengan Wileen, pa," pinta Sain di tengah kesadaranya.


"Sain, apa yang kamu lakukan? Apa kamu ingin mati muda?"


"Aku tidak akan mati papa, aku tidak akan membiarkan Wileen di miliki pria lain. Aku akan membunuh siapapun pria yang berani merebut Wileen dariku. Aku akan membunuh pria itu seperti caraku membunuh Albern."


"Apa? kau membunuh Albern? Kenapa kau membunuhnya? Kau membahayakan dirimu sendiri, son.''


Sain tertawa lebar, tawanya menyerupai devil yang berhasil membinasahkan musuhnya. Dia menganggap perkataan papanya hanyalah lelucon. "Ya, akulah yang membunuh Albern", karena dia berani mengalihkan perhatian Wileen dariku. Maka sepantasnya rumput liar itu segera ku singkirkan. Termasuk pria yang saat ini sedang jalan bareng dengan Wileen.


Papanya Sain menghela nafasnya sambil mengelus dada setelah mendengar kebenaran tentang anaknya. Mungkin karena beliau selama ini salah mendidik putranya. Mungkin benar, karena sedari kecil Sain selalu hidup serba di turuti. Apapun kemauanya harus terpenuhi, oleh karena itu dia menjadi seperti ini sekarang.


"Hentikan cara burukmu itu, Sain. Jika kau berakhir di penjara, maka Papa dengan siapa? kamu satu-satunya keluarga, anak yang papa miliki."


"Haiiiiiz, Papa ngomong apa sih? siapa yang akan di penjara? Itu tidak akan terjadi, tenang saja."


"Ini demi kebaikanmu, Sain! maka papa mohon berhentilah membunuh orang-orang yang mendekati Wileen. Mereka juga punya hak, bukan hanya dirimu saja yang boleh mendekatinya. Lagi pula bukankah kalian sudah putus, maka cobalah untuk move on dan melihat wanita lain di luaran sana masih banyak."


"Cih, sebenarnya kau ini papaku atau bukan? Kenapa kau menentang keinginanku. Tidak ada yang bisa menghentikanku mendapatkan Wileenku kembali, pa," teriak Sain.


"Dasar anak tidak berguna," desis papa Sain beranjak pergi meninggalkan anaknya yang kurang ajar itu.


Toni yang sedari tadi melihat perdebatan papa dan anak itupun hanya mampu bungkam. Meski di dalam fikiranya menyalahkan tindakan bosnya. Namun apa boleh buat, dia hanya bawahan yang masih bergantung hidup pada Sain.

__ADS_1


"Jaga anak itu, Toni! entah dia mati atau hidup saya tidak peduli. Awasi saja dia dan beri tahu saya jika dia bertindak di luar batas," pesanya sebelum pergi meninggalkan kediaman putranya. Toni hanya mengangguk, meskipun dia juga dalam posisi bingung.


"Pyaaaaar!!" suara botol terdengar dari arah ruang kerja Sain. Toni sudah hafal, pasti bosnya sedang mengamuk saat ini. Apa yang bisa dia perbuat selain diam menunggu panggilan dari bosnya. Itu adalah cara paling aman daripada dia masuk ke ruang kerja Sain dan menjadi sasaran amukanya. Benar kata papanya Sain, lebih baik tidak peduli baik Sain mati ataupun hidup.


__ADS_2