
Albern kembali ke toko kue setelah membereskan adik sepupunya yang terus terusan mengintrogasinya. Apa lagi yang paling mempan untuk membujuk bocah abg berusia 17 tahun itu kalau bukan uang. Memang uang bisa menuntaskan segala macam persoalan termasuk menyingkirkan si bocah cerewet itu.
Bahkan sangking lamanya, Wileen sampai menelponya berkali-kali. Tapi untung saja Wileen mau menunggunya dan tidak meninggalkanya.
"Maaf! gua tadi baru cari toilet!!" alibinya.
"Elo gak papa kan, Lex?" tanyanya menghawatirkan.
"Gua enggak papa! Cuma buang air kecil biasa. Sudah beli kue? Yuk masuk mobil."
Albern secepatnya mengantarkan Wileen pulang, karena setelah ini dia akan pulang kerumah orang tuanya. Daripada terus terusan mendengar mamanya mengintrogasinya terus menerus.
Untung saja jarak toko kue ke rumah Wileen hanya satu kilo. Dengan jarak tempuh beberapa menit, kini mobil Albern tepat berada di depan pintu gerbang rumah Wileen.
"Elo langsung masuk, ya! Gua langsung cabut ke rumah orang tua gua," udapnya mengusap rambut Wileen.
Wileen mengangguk setelah mendengar Alex berpamitan kepadanya. Perlakuan Alex yang terbilang sweet mampu menggoyahkan hati Wileen.
Alex dapat melihat senyuman Wileen dari pantulan kaca spionya. Melihat senyum dari orang yang di cintai memang mampu menggantikan energy tersendiri.
Alex terus melajukan mobilnya menuju rumah orang tuanya. Dalam jangka waktu satu jam, kini mobil Alex berada di pekarangan rumah orang tuanya.
Baru juga turun dari mobil, suara cempreng adik sepupunya sudah membuat genjdang telinga Albern ingin pecah.
"Tante! anak tante yang paling ganteng datang, nih."
Albern mencubit pipi adik sepupunya karena sangking gemasnya. Nachi mamanya Albern keluar dengan senyuman yang tertuju kepada putranya.
Albern langsung memberikan ciuman tipis di pipi kanan dan pipi kiri mamanya. Begitupun dengan mamanya melakukan hal yang sama.
"Ingat jalan rumah elo, Al!!" terdengar suara dari lantai atas yang ternyata kakanya Albern.
Perempuan itu menuruni anak tangga menyambut adik tertampanya pulang. Sudah lima tahun Keysha tidak pernah bertemu dengan Albern.
__ADS_1
"Gimana kabar adiku yang paling ganteng? Kakak kira elo tidak ingat jalan rumah, Al."
"Kak Al mana ingat jalan rumah Kak Key, dia yang di ingat cuma Kak Wileen," ucap Puri.
"Pur, diem! Kakak minta lagi uang yang kakak kasih ke kamu tadi kalau kamu tidak diam."
"Uang apa? Uang tadi sudah habis, buerarti masa berlakunya juga sudah habis. Kasih lagi dong, untuk tutup mulut, hehehe."
"Kamu buat apa uang itu? Belum ada beberapa jam sudah habis."
"Shopping lah!!" ucapnya enteng.
Albern memijit keplanya menghadapi adik sepupunya ini. Nachi dan Keysha tersenyum melihat keributan antara Puri dan Albern. Moment yang sangat lama tidak mereka dapati semenjak kepergian Albern.
"Mama masak apa hari ini? Al lapar nih, Ma!!"
"Tuh kan tante, Kak Al datang datang yang di cari makanan," ucap Puri meledek.
Albern hanya menjulurkan lidahnya meledek Puri balik. Albern melangkah meninggalkan ketiwa wanita berbeda usia itu dan berjalan melihat lihat di setiap sudut rumah orang tuanya.
Albern memasuki kamar lamanya yang tertata sangat rapi. Mungkin mamanyalah yang selalu merawat kamarnya. Kamar yang seluas 100x80 itu berisikan potret potretnya bersama Wileen sewaktu SMA.
Albern melangkah di sebuah almari pakaian, yang di dalamnya masih tertata rapi pakaian pakaianya dulu. Mungkin sebelum kembali ke apartement, Albern akan membawa sebagian barang-barangnya ke apartementnya.
Tak terkecuali barang barang pemberian Wileen akan dia pindahkan ke apartementnya. Albern membuka album kenanganya sewaktu SMA bersama Wileen. Dulu, mereka membeli album yang berisikan photo photo yang sama. Setiap photo, mereka akan mencetak 2 lembar untuk masing-masing memiliki satu lembar.
Ada satu photo yang tidak di miliki oleh Wileen, yakni photo saat Albern menciumnya ketika tidur. Waktu itu Wileen yang tertidur di dalam kamar Albern setelah belajar bersama. Di saat itulah Albern mencium bibir Wileen untuk pertama kalinya. Dalam arti, dialah sang pemilik firsh kiss Wileen secara diam-diam.
Melihat photo itu tiba tiba Albern tersenyum, sungguh manis ketika saat itu. Terlalu terhanyut dalam lamunan, tiba-tiba mamanya memanggilnya untuk ke ruang makan.
Albern menutup album photonya dan menaruhnya di tumpukan barang-barang yang akan dia bawa pulang ke apartemenya.
"Wah, rendang sapi! Mama paling tahu kesuka'anku."
__ADS_1
Nachi tersenyum melihat wajah senang putranya, bagaikan mendapat kado yang sangat berharga. Tanpa berbasa basi dan tanpa sungkan, Albern langsung mengambil nasi beserta rendang kesuka'anya.
Rasanya tetap sama seperti dulu, dan Albern sangat merindukan masakan mamanya. Apa lagi sudah lima tahun lebih, Albern tidak pernah merasakan lagi masakan mamanya. Kali ini sangat terasa spesial, mungkin karena sangking rindunya.
"Bagaimana kabar Wileen, Al?"
"Uhuk-uhuk!!" Albern langsung tersedak ketika kakaknya tiba tiba menanyakan tentang Wileen kepadanya."
"Baik mungkin!" jawabnya asal setelah meneguk minumanya.
"Asal setiap saat bisa bertemu denganya maksutnya kak Albern, cieh," goda Puri membuat Albern langsung menyentil telinga sepupunya.
"Apa'an sih, kak? Sakit tahu!!"
"Rasa'in! Siapa suruh cerewet,"
"Puri padahal ngomong fakta eh, kan setiap saat kak Albern bertemu kak Wileen seperti tadi yang Puri lihat di toko kue."
"Enggak papa lah, Al! untuk apa lagi di tutup tutupin? Asalkan bisa bikin elo bahagia, kejar terus Wileen sampai ke KUA," ledek Keysha kakaknya.
Sedangkan Nachi hanya geleng geleng kepal melihat obrolan para anak muda di depanya. Kebetulan suaminya juga belum pulang, tadi Nachi sudah mengabarinya.
"Pepet terus kak Al! Jangan kasih kendor, nanti di tikung lagi deh, hehehe," ucap Puri masih terdengar jelas meskipun mulutnya penuh dengan makanan.
"Telan dulu itu makanan, Pur! Tersedak baru tahu rasa, lo."
"Assalamu'alaikum!!" suara salam terdengar yang ternyata adalah Baskara papanya Albern.
"Pa! Baru pulang?" sapa Albern membuat Baskara kaget. Pasalnya tiba tiba putra kebanggaanya berada lagi di rumahnya. Albern berdiri memeluk papanya dan di balas pelukan tak kalah erat dari Baskara.
"Jagoan papa akhirnya kamu pulang, Nak? Papa sangat merindukanmu."
"Maafkan Al baru bisa berkunjung ke rumah hari ini, pa. Al juga sangat merindukan papa dan semua keluarga Al."
__ADS_1
"Duduklah, pa! Kita makan dulu, nanti setelah makan kalian bisa melanjutkan obrolan kalian," ucap Nachi.
Merekapun duduk danikmati makan bersama seperti lima tahun yang lalu. Kursi kosong milik Albern kini terisi lagi setelah sekian lama kosong. Semua makan dengan penuh kebahagiaan karena keluarganya terkumpul kembali seperti dulu.