
Karena belum juga sadar dari pingsan nya, Albern dan kedua keluarga itu membawa Wileen ke rumah sakit. Wileen sudah melewati batas waktu orang pingsan pada umumnya. Ditambah lagi tubuhnya yang semakin kurus dan kata kakaknya, Wileen beberapa hari ini susah makan, membuat Albern semakin khawatir.
Dengan mengendarai mobilnya dengan kecepatan maximal, kini mereka telah sampai di rumah sakit. Tanpa menunggu petugas, Albern langsung menggendong istrinya sambil berlari. Dia berteriak kepada para perawat dan dokter agar segera menangani istrinya.
Disusul di belakangnya keluarga Albern dan keluarga Wileen. Sahabat Albern dan sahabat Wileen juga mengikuti Albern. Namun mereka semua harus menunggu di luar saat Wileen di tangani dokter.
Semua terlihat mengkhawatirkan keadaan Wileen. Terutama Albern, sekalinya menikah harus mendapati istrinya pingsan. Dion dan Jofan menepuk pundak Albern.
"Sabar brow! anggap saja ini ujian pernikahan lo. Lo masih kuat, kan? Kasian banget gagal belah duren malam ini," ucap Dion. Mendapat pukulan di kepalanya.
Tak lama dokterpun keluar setelah memeriksa Wileen. Dokter mengatakan bahwa Wileen terserang penyakit maag. Semua telah menduga, karena beberapa hari ini dia malas makan akibat stres memikirkan pernikahnya.
Semua menyesali supreize yang mereka berikan kepada Wileen. Bukanya Wileen terkejut, malah mereka semua yang dibuat terkejut dengan kondisi Wileen saat ini. Ditambah lagi Wileen yang baru menjalani operasi, memperparah kondisinya saat ini.
"Ini gara-gara ngikutin kemauanmu, ma!!" Handoko menyalahkan istrinya. Padahal ide itu muncul dari mereka berdua.
"Kok jadi mama yang disalahin, sih!!"
Kedua pasutri yang tak lagi muda itu saling menyalahkan. Albern menengahi, dan berkata bahwa mereka semua salah termasuk dirinya juga.
Untuk saat ini tidak penting saling menyalahkan. Yang terpenting Wileen segera sembuh dan sadar. Saling menyalahkan hanya akan memperkeruh keadaan.
Albern masuk ke dalam kamar rawat istrinya. Disisi lain dia senang karena sahabat yang dicintainya telah menjadi istri sahnya. Disisi lain dia sangat sedih melihat kondisi istrinya.
Dikecupnya kening Wileen cukup lama. Bibirnya membisikan sesuatu, meminta istrinya agar segera sadar. Albern duduk di kursi samping ranjang istrinya. Menggenggam tangan lemah istrinya dan sesekali menciumnya.
"Sayang, maafin aku, ya!! Kalau tahu kamu bakalan sakit gini. Mending aku gak menyetujui surprize itu. Surprise yang benar-benar membuatmu terkejut hingga berbaring di tempat ini."
__ADS_1
Pintu dibuka dari luar. Puri datang bersama kedua orang tua Albern. Puri langsung memeluk Albern dari belakang. Pelukan yang dikiranya untuk menguatkan Albern. Ternyata pelukannya itu hanya untuk meledek sepupunya yang sedang galau.
"Cieh cieh, pengantin baru di rumah sakit, cieh!!" ledek Puri, mendapat plototan dari Nachi.
"Jangan mengolok kakakmu, Pur!!" tegur Nancy.
"Puri gak ngolok, tan! Memang faktanya pengantin baru ini malam pertamanya di rumah sakit. Lagian kasihan kak Wileen, lihat suaminya langsung pingsan, hahahah," Tawa Puri membuat Albern membungkam mulutnya dengan tisu.
"Ini rumah sakit, Puri! Kecilkan suaramu," tegur Albern.
Puri tetap saja tertawa, namun dalam volume lebih di kecilkan. Dia masih tidak habis pikir, mengingat sewaktu Wileen pingsan setelah melihat sepupunya.
"Diam, Pur. Istri kakak lagi sakit, mending kamu pulang atau ke pasar sana. Kamu bebas tertawa di pasar, paling dikira orang gak waras," tegur Albern lagi.
Nancy menjewer telinga Puri. Keponakanya yang satu ini memang bandel. Nancy menyerahkan rantang yang berisi makanan buatanya. Dia tahu, putranya belum makan karena mengkhawatirkan kondisi Wileen.
Albern menerima rantang berisi makanan dari mamanya. Meskipun dia tidak nafsu, dia tetap makanya demi menghargai mamanya.
Albern juga meminta mamanya dan mertuanya pulang. Sementara dia akan menjaga istrinya di sini sendiri. Sedetikpun Albern tidak akan meninggalkan Wileen. Dia akan menunggu sampai istrinya sadar.
"Besok pagi kami akan kesini, jika ada apa-apa jangan lupa kabari kami!!" ucap Nachi.
"Iya, Ma!! Ucap Albern kemudian.
Semua keluarganya pulang, meninggalkan Albern dan Wileen di kamar rawat berdua. Sedangkan Dion, Jofan dan Sania, entahlah kemana mereka saat ini.
Albern terus menggenggam tangan Wileen. Matanya terus memperhatikan wajah damai istrinya saat terlelap. Lama memperhatikan istrinya , membuat Albern ikut terlelap di samping Wileen. Saking pulasnya, bisa jadi karena lelah, Albern Pun tidak tahu ketika dua sahabatnya masuk ke ruang rawat istrinya.
__ADS_1
Suara tawa Dion mengusik tidur Albern. Membuatnya terbangun dan mencari sumber suara yang mengganggunya. Ternyata Dion dan Jofan duduk di sofa tak jauh darinya.
"Ngenes banget pengantin baru!!" olok Dion. Albern langsung memberinya plototan tajam. Kemudian menyuruh mereka berdua pulang. Karena kehadiran mereka seperti obat nyamuk di antara dirinya dan Wileen.
Dion dan Jofan beranjak dari duduknya. Sebelum mereka keluar, tepatnya di ambang pintu. Dion masih sempat mengolok Albern.
"Selamat menjalankan malam pengantin di rumah sakit, Al!!" ucap Dion tertawa puas. Teman Albern yang satu itu memang sangat menyebalkan.
Albern beranjak dari duduknya untuk memastikan sahabatnya sudah pulang atau masih berada di depan ruang rawat istrinya. Ketika dia baru menutup pintu masuk. Tiba-tiba telinganya mendengar suara seorang wanita memanggil manggil nama mama mertuanya.
Istrinya telah sadar. Dengan langkah cepat, Albern segera menghampiri Wileen. Albern menatap Wileen dengan tatapan khawatirnya.
"Sayang, kamu sudah sadar?" tanya Albern, memegang tangan istrinya.
Wileen terkejut dan langsung melepaskan tangannya dari genggaman Albern. Albern melihat istrinya memalingkan muka, enggan menatapnya. Wajar saja, mungkin Wileen masih kecewa padanya.
Bingung apa yang harus dia lakukan, Albern langsung memeluk Wileen. Yang dipeluk meronta ronta minta dilepaskan. Dengan sangat terpaksa Albern melepaskan tubuh istrinya.
"Sayang! Kamu masih marah sama aku? Maafin aku, ya,'' mohon Albern.
"Berapa kali aku harus memaafkan pembohong sepertimu. Pergi dari sini, aku tidak ingin melihatmu," ucapnya mengusir Albern.
Albern menggeleng, mana mungkin dia tega meninggalkan istrinya yang sedang sakit sendirian. Sedetikpun dia tidak ingin jauh jauh dari Wileen. Albern memilih duduk menjauh di sofa yang terletak di pojok ruangan.
Wileen berbaring membelakangi Albern. Wanita itu masih kecewa dan tidak mau melihat wajah pria yang telah sah menjadi suaminya. Dalam diamnya Wileen terisak, lelucon dari Albern dan keluarganya sangatlah tidak lucu. Sama saja mereka mempermainkan perasaan Wileen.
Mengingat betapa hancurnya Wileen saat itu, memikirkan harus menikah dengan pria yang tidak dia kenal. Mencoba menepis cintanya pada Albern demi menjaga perasaan tunanganya. Nyatanya orang yang dia jaga perasaanya mempermainkan perasaan sendiri. Pria yang telah menikahinya ternyata adalah pria yang beberapa hari ini membuatnya menangis.
__ADS_1
Entah sampai kapan kekecewaan ini. Albern mendengar suara isak tangis dari arah ranjang istrinya. Dia bisa menebak Wileen saat ini sedang menangis. Albern semakin merasa bersalah dan menyesali perbuatanya.