Jodohku Selamanya

Jodohku Selamanya
Di Luar Ekspektasi


__ADS_3

Benar saja, Albern benar-benar kembali ke rumah Wileen. Mana mungkin dia tega meninggalkan istrinya yang masih dalam masa pemulihan. Hanya karena kehadirannya tidak diinginkan.


Mereka baru beberapa hari ini berganti status menjadi suami istri. Jika mereka saling jauh, bagaimana nasib pernikahan mereka kedepan. Ini hanya masalah waktu, dia akan bersabar hingga Wileen memaafkan.


Wileen melihat kepulangan sahabatnya yang saat ini telah menjadi suaminya. Albern terlihat tidak semangat ketika dia keluar dari mobilnya. Wileen bisa melihat jelas melalui jendela di kamarnya.


Dia segera beranjak menuju ranjangnya dan pura-pura tidur. Wileen tidak ingin terlihat masih terjaga apalagi suaminya pasti mendatanginya di kamarnya nanti. Dan benar saja, suara pintu penghubung kamar sebelah terbuka. Suara sepatu yang terdengar pelan masih bisa Wileen dengar.


Suara itu semakin mendekat, bahkan Wileen mampu merasakan aroma maskulin suaminya yang menembus indra penciuman nya. Wileen sangat merindukannya, tapi egonya masih marah pada suaminya.


"Cup!!" ciuman lembut mendarat di kening Wileen. Nafas Albern pun menerpa kulitnya dan membuatnya sedikit meremang.


"Selamat malam istriku, selamat istirahat!!" ucapnya beranjak dari sana menuju kamar mandi.


Setelah memastikan suaminya telah masuk kedalam kamar mandi. Matanya terbuka lebar, tangannya meraba keningnya yang baru saja mendapat kecupan lembut dari suaminya.


Wileen langsung memejamkan matanya kembali ketika mendengar suara pintu kamar mandi terbuka. Albern telah mengganti pakaian nya menggunakan pakaian rumahan. tubuhnya juga nmpak segar setelahnya.


Wileen masih memperhatikan lewat lirikan kecil matanya. Dia melihat suaminya membaringkan tubuhnya di sofa yang terletak di samping jendela kamarnya. Dia heran, kenapa Albern harus tidur di sana. Bukankah tubuhnya akan semakin sakit jika dia tidur di sana. Kenapa dia tidak tidur di kamar sebelah saja.


Tanpa Wileen tahu, Albern hanya ingin berada disisinya dan menjaga istrinya. Bahkan matanya sudah terpejam dalam posisi tubuh meringkuk seperti bayi. Panjang tubuhnya lebih panjang daripada sofa yang digunakan untuk tidur.


"Bodoh, kau menyakiti dirimu sendiri," gumam Wileen dalam hatinya.


Terlihat Albern kurang nyaman dalam tidurnya. Dia membolak balikan tubuhnya mencari kenyamanan posisinya saat tidur. Tetap saja tidak akan nyaman karena sofa itu lebih kecil daripada tubuhnya. Wileen merasa tidak tega melihatnya seperti itu.


Albern bangkit dan memilih tidur di lantai. Setidaknya ruang geraknya lebih bebas di lantai daripada di sofa. Wileen membelalakan matanya melihat kebodohan suaminya.

__ADS_1


"Kenapa kamu bodoh sekali, Al. Kamu bisa masuk angin kalau seperti itu," gumamnya lagi-lagi dalam hati.


Wileen jadi tidak bisa tidur karena memandangi punggung suaminya yang membelakanginya. Hingga pagi tiba, Wileen tetap terjaga karena mengamati pergerakan suaminya.


Tubuh Albern menggigil, benar saja dugaanya semalam. Suaminya pasti masuk angin karena tidur di lantai. Wileen segera menyuruh Albern beranjak dari tidurnya untuk pindah ke ranjang. Albern menuruti permintaan istrinya dalam kondisi mata masih terpejam.


Tak lama Wileen datang membawa minyak angin yang diambilnya dari kotak p3k di lantai bawah. Wileen meminta Albern membuka bajunya dan Albern langsung membuka matanya karena kaget.


"Yang, jangan sekarang ya. Aku lagi gak enak badan, takutnya tidak maksimal nantinya dan mengecewakanmu," ucapnya.


"Pikiran jangan mesum! Aku hanya ingin mau bantu kamu ngolesin ini," ucapnya menunjukan minyak angin di tangannya.


Seketika Albern malu, dia kira istrinya minta jatah. Ternyata istrinya hanya ingin mengolesi minyak angin di tubuhnya. Wileen yang melihat wajah suaminya memerah karena malu pun mengulum senyumnya. Bisa bisanya Albern berfikir mesum di saat kondisinya yg kurang enak badan seperti ini.


"Ach, sakit sayang!!" teriak Albern saat Wileen mulai memijat tubuhnya yang urat uratnya terasa sakit semua.


Teriakan Albern terdengar sampai ke luar ruangan. Kakaknya Wileen yang baru melintasi kamar pasutri itu langsung menempelkan telinganya di balik pintu. Handoko dan istrinya yang melihat putri sulungnya menguping pun menegurnya.


"Papa!!" ucapnya terkejut, tak lama kemudian teriakan Albern terdengar lagi.


"Auh, sakit sayang! Pelan-plan," teriak Albern yang membuat ketiga manusia di balik pintu saling pandang. Mereka bertiga sudah menduga yang tidak-tidak.


"Ma, ternyata putri kita lebih ganas daripada suaminya," bisik Handoko.


"Bagus dong, sebentar lagi kita akan segera punya cucu," istrinya menimpali.


"Diamlah. Jangan teriak-teriak, kecilkan suaramu!!" ucap Willen.

__ADS_1


Albern terus mengaduh kesakitan, tulangnya seakan patah semua. Baru semalam tidur di lantai membuat badannya sakit-sakit semua. Tapi disisi lain ada hikmahnya. Melihat Wileen kembali perhatian lagi padanya, membuatnya senang. Jadi tidak sia-sia badannya sakit semuanya.


"Dasar bodoh! Kenapa kamu tidak tidur di ranjang. Lihat jadinya kamu kan masuk angin dan merepotkanku saja," omel Wileen.


"Jadi aku diperbolehkan tidur satu ranjang denganmu?" tanya Albern. Dia sudah merasa mendapat lampu hijau dari istrinya. Tetapi tipa-tipa harapannya sirna karena jawaban Wileen.


"Tidur di ranjang kamar sebelah maksudku. Itu hukuman buat orang yang suka bohong. Terus saja kamu bohongin aku, biar gak ketemu aku sekalian."


"Yang, gak boleh seperti itu sama suami sendiri. Kamu lupa kita sudah sah menjadi suami istri? Ayolah maafkan suamimu ini. Janji, gak bakalan bohongin kamu lagi. Apapun kedepannya kita saling jujur dan berbagi," mohon Albern supaya istrinya memaafkannya.


Sebenarnya Wileen kasihan melihat suaminya memohon seperti itu. Tapi dirinya masih kesal dan ingin memberi sedikit pelajaran untuk suaminya. Mendengar kata suami, membuat Wileen masih tidak menyangka bisa menikah dengan sahabatnya.


Andai Albern tidak membohonginya dari awal. Mungkin Wileen akan menjadi pengantin wanita yang paling bahagia. Karena impian menikah dengan satu pria yang sangat dicintainya telah menjadi nyata.


Wileen bangkit dari ranjang, dia ingin mandi lalu turun ke bawah. Sedangkan Albern masih memejamkan mata dan menikmati ranjang empuk milik istrinya.


Wileen keluar dengan keadaan yang segar. Rambut basahnya tergerai panjang. Semua keluarganya mengulum senyum melihat Wileen menuruni anak tangga. Rambut pasahnya sebagai bukti bahwa anak dan menantunya baru selesai bercocok tanam. Padahal realitanya tidak sama seperti yang dipikirkan mereka.


Wileen melihat gelagat aneh pada papanya, mamanya dan juga kakaknya. Bahkan kakaknya berdehem seolah meledek si pengantin baru. Wileen yang gak paham pun menatap aneh pada mereka semua.


"Berapa ronde nih? Bentar lagi dapat keponakan, nih!!" sindir kakaknya.


"Ngomong apa sih, kak? gak jelas banget!!" ucap Wileen, berjalan ke dapur mencari jahe.


Secuek-cuek Wileen pada suaminya, masih ada sisi perhatianya. Dia membuatkan wedang jahe untuk suaminya. Karena wedang jahe diyakini sebagai minuman paling cocok untuk orang masuk angin.


Setelah selesai membuat wedang jahe, Wileen berlalu begitu saja. Dia naik ke lantai atas sambil membawa nampan yang berisi wedang jahe dan sarapan untuk suaminya.

__ADS_1


Bahkan kakaknya merasa heran. Dia menemukan keanehan pada adiknya. Bukankah malam pertama  seperti di novel-novel yang dia baca, wanitanya akan kesulitan berjalan. Tetapi melihat adiknya berjalan secepat itu membuatnya berfikir. 


"Kok kebalik, ya!! Seharusnya Albern yang turun untuk mengambilkan sarapan untuk Wileen," gumamnya lirih.


__ADS_2