
Orang suruhan Handoko berhasil mendapatkan lokasi Villa tempat Albern berada. Mereka ditugaskan mengikuti kemanapun seluruh keluarga Lily pergi. Hingga salah satu di antara mereka melihat Papanya Lily pergi ke sebuah villa untuk menemui anaknya.
Bukti bukti berupa foto dan vidio telah mereka kirimkan ke Handoko. Handoko juga tidak menyangka ternyata Papanya Lily juga terlibat dalam ulah gila anaknya.
Handoko tidak langsung memberi tahu Wileen. Dia hanya memberitahu istrinya dan meminta istrinya menjaga Wileen. Sementara Handoko dan orang orangnya akan menuju Villa besok pagi untuk membawa Albern pergi dari villa itu.
Tanpa mereka sadari, Wileen menguping pembicaraan kedua orang tuanya di balik pintu.Dia tidak bisa berdiam diri di rumah. Dia akan memikirkan cara agar bisa pergi ke villa itu juga.
Dia akan menjemput Albern, Albernya harus kembali ke sisinya lagi. Mamanya yang diberi wewenang untuk menjaga Wileen pun kecolongan. Wileen pergi tengah malam di saat semua orang di rumahnya telah tidur semua. Dia melompat lewat jendela kamarnya, berjalan pelan melewati atap rumah dan melewati pagar pembatas rumah.
Sebelumnya dia telah menelpon Sania, dia meminta Sania mengantarnya sampai ke Villa. Awalnya Sania menolak karena bisa saja cara Wileen bisa membahayakan dirinya dan juga Wileen. Karena Wileen terus memaksa dan mengancam Sania. Terpaksa Sania menuruti kemauan sahabatnya itu. Disisi lain Sania sangat mengkhawatirkan kondisi Wileen yang tidak baik baik saja. Mana mungkin Sania membiarkan sahabatnya pergi sendiri.
Kini tepatnya jam 3 dini hari mobil Sania terparkir tak jauh dari vila yang menurut info adalah vila milik keluarga Lily. Wileen tidak sabar untuk segera masuk ke dalam Vila itu. Sania menahan Wileen agar tidak gegabah. Suatu tindakan harus dipikirkan dulu matang matang. Gegabah tanpa kesabaran hanya akan mengacaukan rencana.
Akhirnya mereka menunggu hingga matahari terbit. Sania melihat lebih dulu, Lily dan Albern berada di halaman villa. Sania melirik Wileen yang tertidur di sebelahnya. Sania tidak ingin membangunkan Wileen. Wileen pasti akan langsung menghampiri mereka jika dia melihat mereka.
Mata Sania melihat sebuah mobil berwarna hitam masuk ke halaman villa. Terlihat kepanikan di wajah Lily karena mobil itu bukanlah mobil di keluarganya. Sania melihat tiga orang bertubuh besar turun dari mobil dan langsung merebut Albern dari tangan Lily. Mata Sania juga melihat Handoko papanya Wileen berada di dalam mobil itu.
__ADS_1
Lily berteriak memanggil para penjaga vila, mendengar keributan di luar membuat Wileen terbangun. Wileen melihat Albern di tarik tarik oleh Lily dan seorang lelaki bertubuh besar. Sedangkan dua di antara mereka mencoba melepaskan tangan Lily yang memegang pergelangan tangan Albern.
Wileen ingin keluar, namun lagi lagi Sania melarang. Terlalu bahaya jika Wileen menghampiri mereka. Sania meminta Wileen tenang, dan menyerahkan semua pada papanya.
Mendengar Sania menyebut nama papanya membuat Wileen bertanya tanya. Sania menyuruh Wileen melihat seseorang yang berada di dalam mobil hitam itu. Wileen terkejut karena melihat papanya ada di dalam.
Wileen tetap nekat ingin menghampiri mereka. Sania lagi lagi menahan tangan Wileen, Wileen melepaskan cekalan tangan Sania. Sania lagi lagi melihat seseorang dan langsung menyuruh Wileen melihatnya juga.
"Sain!!" ucapnya setelah melihat orang itu. Sain menembakan pistolnya ke udara. Membuat Lily, Albern dan ketiga orang suruhan Handoko terdiam.
"Untuk apa kalian memperebutkan pria sialan itu? Biar ku lenyapkan saja dia, adil bukan?" ucap Sain membuat Lily terkejut dan melarang Sain melakukanya.
Sain mengatai Lily wanita bodoh. Jika ingin memiliki Albern, kenapa Lily tidak membawa Albern jauh dari negara ini. Sain berucap bahwa semua ini bukan urusan Sain. Namun Sain menjawab, apapun yang melibatkan Albern adalah urusan nya juga.
Menghadapi pria gila seperti Sain tidak cukup dengan bersilat lidah. Pria itu sulit di tebak sekaligus sangat berbahaya. Berapa kali dia ingin melenyapkan Albern. Bisa saja dia melenyapkan Albern saat ini juga.
Sain dan orang orangnya melangkah sambil menodongkan pistol. Semua orang di sana mengangkat tangan dan tidak mampu bergerak. Handoko masih berada di tempat aman yaitu di dalam mobil. Sain belum melihat keberadaan handoko di sana. Dia akan tetap bersembunyi di dalam mobil sampai rombongan polisi datang untuk menangkap Sain.
__ADS_1
"Kau, pria sialan! apa istimewamu sehingga wanita bodoh sepertinya tergila gila padamu?" tanya Sain menatap Albern yang hanya diam saja dari tadi. Dia tidak tahu apa apa dan tidak mengingat siapapun. Dia hanya bingung dengan semua yang terjadi padanya. Orang orang yang memperebutkannya karena apa, Albern Pun tidak tahu.
Sain tersenyum mengejek, dia teringat bahwa pria di depannya sendang amnesia. Lalu Sain berkata "Pria sepertimu sudah sepantasnya lenyap dari muka bumi ini, tidak berguna."
Sain akan menembak mati Albern, Lily berteriak memukul tangan Sain hingga tembakannya meleset mengenai seseorang. Sain terkejut, semua di sana terkejut. Handoko keluar dari mobilnya dan Sania menegang di tempatnya. Tembakan itu mengenai perut Wileen. Namun Wileen masih bisa tersenyum memandang ke arah Albern. Setelahnya Wileen pingsan karena banyaknya darah yang mengalir dari perutnya.
Sania dan Handoko berteriak dan berlari menghampiri Wileen. Bertepatan dengan datangnya petugas kepolisian. Sain yang hendak kabur pun dihadang oleh orang suruhan Handoko. Sedangkan Albern merasakan kepalanya ingin pecah mengingat sesuatu yang hanya sekilas terlintas di kepalanya.
Albern menggeram merasakan rasa sakit teramat luar biasa pada kepalanya. Lily ketakutan, apa yang terjadi pada Albern.
Sania dan Handoko membawa Wileen pergi dari sana menuju ke rumah sakit. Sain sudah di tangkap petugas kepolisian. Kini keselamatan Wileen Lah yang utama. Sedangkan Lily juga menyuruh sopirnya mengantarnya ke rumah sakit secepatnya. Karena Albern harus diperiksa, melihat Albern yang mengeram kesakitan membuat dia tidak tega.
Wileen dan Albern di bawa ke rumah sakit yang sama. Wileen di larikan ke ruang UGD, sedangkan Albern dilarikan ke ruang dokter syaraf. Wajah tegang bisa di lihat dari ekspresi Handoko, Sania dan juga Lily.
Handoko mengabari putri sulungnya, memberi tahu Wileen sedang di rawat di rumah sakit. Handoko mengirimkan lokasi rumah sakit tempat Wileen ditangani. Mamanya Wileen yang mendengar putrinya di rawat pun syok. Mamanya langsung meminta kepada putri sulungnya untuk membawanya ke lokasi.
Tidak hanya itu, Sania juga menghubungi sahabat sahabat Albern agar datang ke lokasi. Dia tidak ingin kecolongan dan membiarkan Lily membawa Albern lagi. Dia meminta sahabat sahabat Albern untuk menangani Lily sedangkan dia fokus pada Wileen.
__ADS_1