
Wileen menunggu Albern yang sedang mengambil mobilnya yang terparkir di samping gedung. Wileen menunggu di dekat gerbang sambil memainkan ponselnya. Dia mencari tips di internet untuk menetralkan hatinya yang sedang kacau karena kegugupanya.
Pandanganya mulai teralihkan ketika mobil Albern sudah terlihat mendekat di tempat ia berdiri. Namun sebelum Albern sampai, ada suara pria yang cukup ia kenali sedang memanggilnya.
"Wil!" sontak Wileen mengalihkan pandanganya melihat ke arah seseorang yang memanggil namanya.
"Sain! elo di sini juga?"
"He'em! dan elo ngapain berdiri di sini? cuaca panas begini. Nanti kulit elo belang terkena panas matahari."
Wileen mulai memutar bola matanya jengah, mantan pacarnya yang satu ini memanglah Mr. Perfeck, itulah salah satu hal yang membuat Wileen merasa tidak nyaman saat dulu menjadi kekasihnya.
"Tin tin," suara klakson mobil berbunyi dan bersamaan pandangan Wileen dan Sain berpindah kepada si pengemudi mobil tersebut.
"Gua pulang duluan, ya? tuh, si Alex sudah siap mau nganter gua," ucap Willen mulai membuka pintu mobil.
Sain menatap Albern penuh ketidak suka'an, untung saja Sain juga tidak mengenalinya. Albern membalas tatapan Sain padanya. Dia belum lupa dan masih mengingat dengan jelas kejadian beberapa tahun silam.
Di tangan Sainlah, nyawa Albern hampir saja melayang kalau tidak buru-buru di larikan ke rumah sakit pada waktu itu.
Dendam? mungkin lebih tepatnya itu bukanlah sifat seorang Albern. Rasa kesal dan marah pasti ada, namun Albern bukan seorang pendendam.
"Mungkin dulu gua kalah, Sain! tetapi kedepanya gua tidak akan membiarkan elo mengalahkan gua lagi. Gua sudah memberi banyak waktu untuk elo bersama Wileen. Tetapi kedepanya, gua tidak akan membiarkan Wileen menjadi milik elo. Wileen adalah milik gua, terimakasih sudah menjaganya untuk gua. Saat ini adalah waktunya bagi gua untuk mengambilnya kembali," gumam Albern di dalam hatinya sembari tanganya mulai melajukan mobilnya.
Albern tersenyum penuh kemenangan, ketika melihat ekspresi kemarahan Sain yang tertahan. Pria itu terlalu munafik, di depan Wileen dia sok baik. Namun di belakang Wileen, siapapun pria yang mendekati Wileen, akan dia singkirkan.
Albern sudah hafal betul, dia bahkan berjaga jaga ketika Sain melancarkan serangan kepadanya, setidaknya Albern sudah siap membalas.
Bukan hanya mencari obat di luar negeri, bahkan di ingris dia juga memperdalam ilmu beladiri. Sudah pasti Albern yang sekarang bukanlah Albern yang dulu.
"Ehmm! cowok barusan siapa, Wil?" tanya Albern pura-pura tidak mengenal Sain.
"Teman," jawabnya singkat.
"Gua kira pacar elo!!"
__ADS_1
"Lebih tepatnya mantan pacar, sih."
"Wah pantesan ekspresi dia terlihat menahan kekesalan saat melihat gua tadi. Mungkin dia cemburu kali, elo gua antar."
Wileen tersenyum, bukanya menjawab dia malah menggelangkan kepalanya tanda ucapan Albern salah.
"Kita sudah seperti sahabat, kita juga sudah lama putus. Jadi tidak ada hal yang lebih dari sahabat, karena kita sudah berjalan sendiri-sendiri. Bahkan kita saling support karir masing-masing. Meskipun di antara kami sudah menemukan pasangan baru, kita masih saling support doang dan tidak lebih."
Albern hanya mengangguk, pandangnya tetap fokus pada jalan di depanya. Tidak mungkin Albern menimpali ucapan Wileen. Karena Albern sadar, saat ini dia sedang berperan menjadi Alex. Karena Alex dan Wileen baru kenal beberapa hari. Maka tidaklah pantas jika seorang Alex bertanya tentang masalalu Wileen lebih dalam.
"By the way, elo pernah pacaran, Lex?" tanya Wileen penasaran.
Albern mengangguk mengiyakan. "pernah sekali doang, itupun tidak serius," jawabnya menoleh sejenak melihat ekspresi Wileen.
"Maksud lo cuma mainin cewek?" tanyanya dengan ekspresi tidak suka.
"Enggak mainin, lagian kita pacaran gak pakai hati, bahkan dia tidak mengakui pernah pacaran sama gua. Jadi bisa di bilang gua tidak pernah pacaran, tetapi . . . , ah enggak jadi dan lupakan saja pembahasan tidak penting ini. By the way rumah elo mana? ini kita jalan terus tanpa elo kasih tahu alamat elo pada gua. Apa jangan jangan elo sengaja biar bisa berlama lama jalan sama gua?"
"Idih, elo ternyata pinter ngelawak, ya? gua kira elo orangnya pendiam."
"Ya, pendiam kalau sedang tidur! gua aslinya memang_
"Eh, enggak! eh, lagu favorit elo apa, Wil? bagaimana jika kita putar musik saja? elo suka musik, kan?" ucap Albern mengalihkan topik, karena hampir saja dia keceplosan sifat-sifat dirinya yang di miliki Albern dan bukan Alex. Pasti Wileen akan semakin mencurigainya, namun untung Albern segera sadar.
Mati matian Alben membuat dirinya dengan Alex berbeda. Tidak mungkin Albern melakukan kebiasaan yang sama dengan Alex. Yang ada lambat laun Wileen pasti mencurigainya.
"Gua suka semua lagu, tapi yang paling gua suka_
Wileen terdiam, tidak bisa melanjutkan ucapanya, pandanganya menerawang ke masalalu. Dia teringat saat saat bersama Albern, di mana Albern selalu menyayikan lagu-lagu yang terdengar merdu di telinganya.
Jika ada yang bertanya lagu apa yang paling Wileen sukai? jawabanya adalah semua lagu asalkan Albernlah yang menyayikan untuknya.
"Wil, kok malah ngelamun?" tegur Albern.
"Eh, maaf Lex!!" mungkin karena gua lapar kali, ya?" ucapnya alibi.
__ADS_1
"Oh, elo lapar? ya sudah kita mampir cari makan dulu," tawar Albern.
Wilen langsung tersenyum, di dalam isi fikiranya saat ini adalah, dia akan melihat wajah Alex saat makan. Otomatis saat makan denganya, Alex akan membuka masker yang selama ini menutupi wajahnya. Wileen bersorak sorak dalam hatinya penuh kemenangan.
Ketika mereka tiba di sebuah kedai makan makanan tradisional. Albern meminta Wileen turun dan memesan makanan terlebih dahulu ke dalam. Selebihnya dia ingin memarkirkan mobilnya di tempat parkir khusus mobil.
Bukanya menuruti perkata'an Albern, Wileen malah berdiri di depan kedai sambil menunggu Albern. Alasanya cukup mudah, Wileen tidak tahu harus memesankan makanan apa untuk Albern, karena ia tidak tahu selera Albern atau lebih tepatnya Alex. Kalau selera Albern yang asli sudah pasti Wileen sangat hafal.
"Lhoh, kok elo berdiri di sini, Wil? kenapa enggak masuk dan menungguku di dalam? kita masuk dulu, ya? maaf membuat elo menunggu lama. Tadi tempat parkir sangat padat, jadinya harus menunggu antrian dan itulah yang membuat lama," ucapnya menjelaskan.
Wileen menggeleng yang tandanya tidak masalah kemudian dia membuntuti Albern mencari meja kursi yang nyaman untuknya duduk. Setelah mendapatkan tempat yang menurutnya nyaman, Albern langsung menarik satu kursi untuk Wileen. Perlakuan manis Albern itu membuat Wileen merasa senang.
"Elo mau pesan apa, Wil?" tanya Albern sembari pandanganya berfokus pada buku menu di epanya.
"Apa aja deh!!" jawabnya.
"Soto, mau?" elo suka soto, kan?"
"Kok kamu tahu gua suka soto, Lex?" tanya Wileen heran. Sedangkan Albern menggaruk kepalanya karena lagi-lagi keceplosan.Untung saja mendadak dia punya ide untuk menjawap pertanya'an Willen padanya.
"Cuma menebak! emang makanan favorite elo beneran soto?" tanyanya pura-pura.
"Iya, gua suka soto! kalau elo?" tanya Wileen balik.
Tidak mungkin Albern menjawab makanan kesukaanya yang Wileenpun pasti tahu. Akhirnya Albern menjawab dengan jawaban yang paling aman.
"Gua apa saja suka, asalkan enak dan bikin kenyang," ucapnya.
"Mbak!!" suara Albern memanggil pelayan untuk memesankan makanan untuk Wileen. Wileen pun hanya duduk manis menyerahkan semuanya kepada Albern.
Mereka berdua duduk manis seperti calon pengantin yang akan di nikahkan. Menahan senyum malu-malu serta memikirkan bahan untuk di obrolkan. Hingga tanpa sadar pesanan sudah terhidang di depan mereka.
"Lhoh, Lex! kok cuma seporsi? elo enggak pesan?"
Albern menggeleng, dia cukup pintar untuk tidak memesan makanan. Bisa-bisa penyamaranya akan terbongkar ketika dia membuka maskernya. Sebenarnya dia juga merasa lapar, demi penyamaran Albernpun menahan rasa laparnya.
__ADS_1
"Maaf, hari ini gua sedang menjalankan puasa sunah!!" alibinya.
Meskipun Wileen kecewa, akhirnya mau tidak mau dia pun mencoba mengerti. Akan terlihat gila jika Wileen memaksa orang yang sedang berpuasa untuk makan denganya. Albernpun melihat kekecewaan pada sorot mata Wileen. Namun apa boleh buat, jika ini menyangkut keamananya.