Jodohku Selamanya

Jodohku Selamanya
Akio dan Albern


__ADS_3

Akio masih bertanya tanya kenapa mendadak Wileen mengajaknya pulang. Padahal dia masih menikmati permainanya di pantai. Dia melirik Wileen yang sedang memandang di luar jendela mobil. Sepertinya sepupunya ini sedang melamun atau memikirkan seseorang.


"Pria yang mencekal pergelangan tangan lo tadi siapa, Wil?" tanya Akio penasaran.


"Wil!!" panggil Akio karena Wileen tidak merespon.


Wileen tersentak karena panggilan Akio terlalu keras. Dia menoleh dan bertanya ada apa Akio memanggilnya dengan suara sekeras itu.


"Gue tanya sama lo, eh lo malah asyik melamun, melamunkan apa sih. Gue tadi tanya, pria yang mencekal pergelangan tangan lo tadi siapa?"


"Albern!!" jawab singkat Wileen.


"Oh jadi dia yang bernama Albern! Pantesan lo suka sama dia, cakep orangnya hehehe."


"Sudah, jangan bahas Albern lagi, kepala gue pusing. Dan juga gue besok pagi ingin pulang, gue risih karena Albern sudah mengetahui keberadaan gue di sini."


"Kenapa mendadak? Tapi terserah lo deh, gue juga tidak memaksa yang penting lo baik baik saja," ucap Akio berfokus pada kemudinya.


Wileen merasa keberadaanya di Jepang sudah tidak senyaman sebelumnya. Jauh jauh dia berlibur ke Jepang supaya bisa perlahan melupakan Albern. Namun apa hasilnya? Hanya sia sia belaka karena Albern tiba tiba muncul di hadapannya.


Hati Wileen kembali terluka, dia teringat Albern kembali. Rasa yang beberapa hari telah ditahan agar tidak galau lagi karena Albern. Kini hatinya kembali gundah, jujur dia tidak bisa jauh dari Albern. Namun dia sadar dia sudah menjadi tunangan orang lain dan Albern sudah memiliki kekasih. Jalan apa lagi selain menjauhi Albern, tidak ada lagi karena bagi Wileen hanya menjauh adalah cara satu satunya.


Akio melihat Wileen menangis dari pantulan spion mobilnya. Sebenarnya dia merasa kasihan, tapi apa yang bisa diperbuat untuk membantu sepupunya ini.

__ADS_1


Setelah sampai di bawah rumah Akio, Wileen langsung berlari naik dan lebih dulu masuk ke dalam rumah. Sedangkan Akio masih di dalam mobil sambil melihat Wileen berlari. Akio menggeleng melihat sepupunya yang sedang patah hati.


Akio tidak langsung naik ke rumahnya, dia tetap duduk di dalam mobil menyalakan musik kesukaan sembari berpikir cara untuk menghibur Wileen.


Sedangkan Albern dan Dion yang hampir tiba di hotel yang mereka tempati mendadak Albern memintanya putar balik. Dia meminta Dion mengantarnya ke rumah Akio. Dengan terpaksa Dion yang sangat lelah pun menuruti permintaan sahabatnya.


Untung saja hanya butuh waktu beberapa menit mereka sampai di bawah rumah Akio. Albern segera membuka pintu mobil dan berdiri di depan mobil. Disusul Dion yang juga keluar dari dalam mobilnya menghampiri Albern.


"Lo yakin ini rumahnya?" tanya Albern.


"Menurut info sih iya, tapi gue tidak tahu dia tinggal di lantai berapa!!" jawab Dion.


Albern mengajak rambutnya karena bingung, dia mondar mandir berjalan bolak balik dan membuat Dion yang melihatnya ikutan pusing. Akio yang sedari tadi masih di dalam mobilnya pun melihat sosok pria yang sama persis seperti pria yang mencekal pergelangan tangan sepupunya tadi. Matanya mengamati dan dia pun yakin pria yang sedang berjalan mondar mandir di depan pintu gerbang rumahnya adalah Albern.


Akio segera mematikan musik yang dia dengar lalu keluar dari mobil. Dia berjalan menghampiri Albern yang masih belum beranjak dari tempatnya.


"Ya, gue Albern sekaligus pria yang berada di pantai tadi. Apa benar lo adalah sepupunya Wileen? Atau temanya?" tanya Albern.


"Perkenalkan nama gue Akio, dan gue adalah sepupu Wileen. Kalian kenapa di sini? Gue tadi lihat lo mondar mandir sepertinya lo ingin bertemu Wileen?" tanya Akio dan di angguki Albern.


Kedua tangan Albern memegang pundak Akio, kemudian dia bertanya. "Apa gue bisa menemuinya? Lantas apakah dia mau bertemu denganku? Sepertinya mustahil karena dia terlihat marah dengan gue dan gue juga tidak tahu penyebabnya apa." ucap Albern menjelaskan, Sedangkan Akio yang sudah tahu ceritanya pun tersenyum.


"Bagaimana kalau kita ngobrol sambil minum kopi di kedai itu?" ucap Akio menunjuk kedai kopi di seberang jalan. Albern dan Dion Pun setuju, mereka berjalan menuju kesana bersama.

__ADS_1


Setelah mereka tiba dan duduk di dalam kedai, lalu mereka memesan kopi dan beberapa camilan. Albern masih menunggu penjelasan dari Akio, Akio yang sadar Albern sedang menantikan jawaban pun tersenyum.


"Gue sebenarnya sudah mendengar sedikit cerita tentang lo dan Wileen. Kalian dari kecil adalah sahabat bukan? Dan sepertinya lo menyukai sepupu gue."


Albern tersenyum dan membenarkan, bahkan bukan sekedar suka terlebih dalam cinta dan tidak mau kehilangan sosok Wileen di dalam hidupnya. Akio mengangguk dan lagi lagi dia tersenyum mengingat sepupunya.


"Apakah Wileen tahu kalau lo mencintainya?" tanya Akio, Albern mengangguk dan itulah yang membuat Akio heran. Jika Wileen tahu Albern mencintainya lalu kenapa Wileen segalau itu.


"Mungkin Wileen menganggap ungkapan cinta gue kepadanya hanyalah gurauan. Karena selama ini kita bersahabat tidak jauh dari bercanda bergurau dan saling mengasihi satu sama lain. Mungkin dia bingung membedakan kapan saatnya gue bercanda dan kapan saatnya gue serius." 


"Bisa jadi begitu! Dan lo tahu, dia juga bilang kalau lo sudah memiliki kekasih, apa itu benar?" 


Albern tertawa singkat lalu menggeleng. "Dia salah paham, itu kejadian saat gue mengajaknya di suatu pesta kolega bisnis bokap gue. Gue juga tidak tahu kalau kolega bisnis bokap gue adalah bokap dari mantan gue. Beliau menginginkan gue balikan dengan putrinya dan gue menolak dengan alasan gue sudah punya kekasih," ucap Albern menjelaskan, Akio mengangguk paham.


"Oh, jadi Wileen salah paham! Berarti dia sengaja ingin menjauhi lo karena dia mengira lo beneran punya kekasih. Tapi ada lagi yang bikin dia menjauhi lo, dia bilang kalau dia sudah bertunangan dan anehnya lagi, dia tidak pernah tahu wajah tunanganya," jelas Akio membuat Albern lagi lagi ingin tertawa.


"Sebenarnya tunangan dia adalah gue!!" jelas Albern membuat Akio kaget. Dion yang hanya menjadi pendengar pun mulai bosan dan mengantuk. Karena dia sudah tahu semua cerita tentang Albern dan juga Wileen.


"Apa? Bagaimana bisa ini terjadi? Dan bagaimana bisa Wileen tidak tahu bahwa lo adalah tunanganya?" tanya Akio yang kaget sekaligus ingin tahu seluruh ceritanya.


"Dia sendiri yang tidak ingin mengetahui siapa tunangan nya. Entah apa alasanya, dan gue juga berfikir jika dia tahu kalau gue adalah tunangan nya, mungkin dia akan menolak gue. Jadi gue mohon jaga rahasia ini hingga tiba waktu pernikahan kami, ya!!" 


Akio mengangguk dan menepuk bahu Albern, dia bisa menyimpan rapat rapat rahasia Albern. Lagi pula walau baru pertama melihat Albern, Akio yakin Albern adalah sosok pria baik untuk Wileen.

__ADS_1


"Tenang! Gue akan menjaga rahasia ini. Lagipula sebentar lagi lo bakalan menjadi sepupu gue. Gue senang akhirnya Wileen akan jatuh di tangan orang yang tepat. Gue harap lo akan selalu mencintai dan menjaga sepupu gue. Karena dia sangat baik dan berharga di keluarga kami."


Albern mengangguk, dia bisa dipercaya dan tanpa diminta pun sudah pasti Albern akan mencintai dan menjaga Wileen sepenuh jiwa dan raganya.


__ADS_2