Jodohku Selamanya

Jodohku Selamanya
Berbunga Bunga


__ADS_3

Bukanya menjawab yang sebenarnya, Wileen malah menyangkalnya. Dia menggeleng dan berkata tidak peduli baik Albern memiliki kekasih ataupun tidak. Karena dia juga sudah memiliki  tunangan.


"Maafin gue Al, gue cinta banget sama lo, tapi gue tunangan orang. Entah jalan yang gue pilih ini benar atau salah, tetapi gue tidak bisa mempermainkan seseorang yang saat ini berstatus menjadi tunangan gue," batin Wileen berucap.


Albern menarik nafas pelan, apakah Wileen serius dengan ucapanya. Jika alasannya karena dia sudah memiliki tunangan. Jadi tidak perlu saling menghindar karena mereka berdua adalah sahabat. Pasti tunanganya akan mengerti bahwa mereka berdua adalah sahabat.


"Lo gak tahu Al, setiap kali gue berada di dekat lo, jantung ini selalu berdetak lebih kencang seperti genderang mau perang. Lo juga gak tau pikiran ini selalu muncul bayanganmu yang tidak pernah pudar. Gue menjauh hanya untuk mengontrol hati dan pikiran gue," batin Wileen lagi lagi dan tidak mampu mengucapkannya secara langsung.


Wileen tidak menjawab, bahkan dia berdiri dari duduknya dan ingin keluar kamar. Tangan Albern tiba tiba memeluk lehernya dari belakang. Sontak Wileen kaget dan menghentikan langkahnya.


"Apa apaan sih lo Al? Lepasin gak?"


"Sebentar saja Wil, biarkan tetap dalam posisi ini. Sebentar saja, karena gue benar benar merindukan lo!!"


Jantung Wileen semakin tidak terkontrol berdetak semakin kencang. Albern mampu merasakan dan mendengarnya. Diam diam dia tersenyum, dan batin nya berkata.


"Gue bahagia banget memilikimu Wil, elo benar benar menjaga dan menghargai arti sebuah ikatan. Maafin gue sampai detik ini belum bisa jujur kalau gue adalah tunangan lo," batin Albern.


Terdengar isak tangis ternyata Wileen menangis. Buru buru Wileen menyeka air matanya, Albern membalikan tubuh Wileen menghadapnya. Wileen menundukan kepalanya, namun Albern menahan dagu Wileen dan menatapnya.


"Hei, apa lo menangis? why?" tanyanya menatap mata indah Wileen yang berkaca kaca.


"Al, gue sayang sama lo dan lo adalah sahabat gue. Tetapi kita tidak bisa terus bersama sama, karena suatu saat kita memiliki hidup masing masing. Ello dengan pasangan lo dan gue dengan pasangan gue. Akan ada hati yang terluka jika kita tetap bersama seperti dulu maupun sekarang. Jadi maaf, kita harus menjaga jarak untuk saat ini dan kedepannya," ucap Wileen menjelaskan dan air matanya lagi lagi mengalir. Albern menghapus air mata yang mengalir di pipi Wileen.

__ADS_1


"Kenapa harus seperti ini Wil? Kenapa kita harus menjauh? Bisakah kita lupakan tunangan lo dan kita jalani gue dan lo. Gue cinta sama lo dan gue tahu lo pun juga cinta sama gue."


"Tapi Al_


Ucapan Wileen terpotong karena bibirnya bungkam dan jantungnya semakin berdetak tidak karuan. Albern tiba tiba membungkam bibir Wileen dengan bibirnya. Albern mencium Wileen secara mendadak sehingga Wileen tidak mampu menghindar.


Wileen tidak menolaknya, dalam hati Albern merasa bahagia. Ciuman yang sebelumnya hanya sekedar menempel kini semakin menuntut. Mereka semakin mendalami ciuman yang menyatukan hati keduanya.


Albern melepaskan ciumanya di saat merasakan Wileen kesusahan untuk bernafas. Ibu jarinya mengusap sisa saliva yang ada di sudut bibirnya. Mata keduanya saling menatap satu sama lain.


"Gue cinta dan sayang sama lo Wil, gak peduli status kita apa saat ini. Tetapi gue tidak mau jauh jauh dari lo. Cukup 1 kali gue merasakan rasanya jauh dari lo. Please jangan menjauh, kita jalani apa yang ada. Hingga waktu akan menjawab semua teka teki hubungan kita."


"Jadi lo mau kan? Kita tetap menjalani ini semua dan tidak peduli hubungan kita saat ini apa?" tanya Albern sekali lagi. Wileen akhirnya mengangguk, Albern lagi lagi membawanya ke dalam pelukannya. Diciuminya kening Wileen penuh sayang.


"Akhirnya gue merasa lega, ya sudah jaga diri lo baik baik. Gue mau pulang beristirahat sebelum kembali beraktivitas di kantor. Banyak banget pekerjaan menumpuk yang menanti gue."


Mereka berpapasan dengan kedua orang tua Wileen yang masih berada di teras depan.Papanya masih main catur dengan temanya. Sedangkan Mamanya hanya menemani papanya.


"Pa...Ma, Al pamit!!" ucap Albern sopan.


"Kok buru buru, Nak?" tanya Mamanya Wileen.


"Tunggu! Sejak kapan lo manggil Mama dan Papa gue dengan panggilan Mama dan Papa, Al?" introgasi Wileen.

__ADS_1


Albern mengedikan bahu, lalu Handoko yang menjawab pertanyaan putrinya. "Papa yang meminta Al memanggil kami dengan sebutan Papa dan Mama, Wil," sahut Papanya.


Wileen pun ber-oh aja, Albern menyalami tangan kedua calon mertuanya sebelum pergi. Lalu dia memberi sedikit nasehat kepada Wileen.


"Gue pulang dulu ya, jaga diri lo baik baik dan jangan lagi bepergian jauh jauh sendirian. Jangan membuat Papa dan Mama mengkhawatirkan lo. Jika lo ingin berlibur dan bepergian jauh, gue siap nemenin lo. Mungkin kemarin aman aman saja, tapi nanti ataupun besok siapa yang tahu. Jadi ingat terus kata kata gue ini, Wil."


Wileen mengangguk seperti anak kecil yang baru di nasehati papanya. Albern mengulum senyum melihat ekspresi Wileen yang lucu. Dia mengacak rambut Wileen sangking gemasnya.


"Mobil lo mana, Al?" tanya Wileen karena tidak melihat mobil Albern.


"Gue gak bawa mobil, gampang gue bisa naik taxi," jawabnya.


Albern Pun lalu melangkah keluar dari gerbang rumah Wileen. Wileen mengantar Albern sampai depan gerbang rumah. Apa ada yang tahu perasaan Wileen saat ini? Dia sebenarnya tidak rela jika Albern pulang ke rumahnya. Hatinya sedang berbunga bunga. Apa lagi ciuman mereka tadi di dalam kamar. Rasanya bekasnya masih tertinggal dan Wileen tersenyum meraba bibirnya sendiri.


Orang tuanya yang melihat pun menggelengkan kepala dan memaklumi anak muda. Karena mereka juga pernah menjadi muda.


"Ehmmmm!" papanya berdehem ketika Wileen melewati mereka. Buru buru Wileen langsung masuk ke dalam kamarnya sebelum di introgasi.


Lagi lagi dia tersenyum meraba bibirnya ketika kakinya terus melangkah menuju kamar. Wileen langsung menutup pintu kamarnya ketika dia telah sampai ke dalam kamarnya. Wileen langsung melompat ke atas ranjang saking senangnya.


Pikirannya masih terbayang bayang ciuman Albern yang begitu lembut menyapu bibirnya. Rasanya Wileen seperti melayang layang di atas awan hingga tiada satupun yang mampu menggapainya.


Kakinya melompat lompat di atas ranjang dan tangannya memeluk boneka beruang besar yang selalu menemani tidurnya.

__ADS_1


Dia berkata kepada boneka beruangnya. "Kenapa jatuh cinta rasanya seperti ini banget ya? Kamu sih gak pernah merasakannya. Kamu tahu, rasanya sangat tidak bisa dijelaskan dengan kata kata. Aku bahagia banget Baby (nama boneka beruang).


Wileen terus berlompatan di atas ranjang, lalu dia terduduk dan membayangkan wajah tampan Albern di saat menatapnya. Satu kata yang mampu diucapkan Wileen untuk Albern adalah sempurna.


__ADS_2