
Jam delapan malam, Wileen masih belum juga pulang dari kantornya. Saking asiknya menulis membuatnya lupa waktu.
Albern juga mendapatkan info dari seseorang bahwa Wileen belum juga keluar dari kantornya. Pria tampan yang baru saja selesai mandi itupun bergegas memakai kaos dan celananya. Albern sangat menghawatirkan Wileen, karena wanita itu adalah tunanganya yang berarti tanggung jawabnya.
Albern langsung menyambar kunci mobilnya yang tergeletak di atas meja ruang tamu. Dia tidak ingin membuang buang waktu, karena mendadak perasaanya tidak enak.
Sedangkan di sebuah ruangan perkantoran, Wileen masih serius dengan laptopnya. Wileen memang suka bekerja lembur. Karena jika dia sudah masuk ke dalam dunia imajinasi, maka akan terciptalah cerita fiksi yang sangat di tunggu tunggu penggemarnya.
"Drrrrrrrt," ponsel Wileen bergetar karena sengaja dia mensilent ponselnya agar konsentrasinya tidak terganggu.
Wileen melirik, ternyata ada pesan masuk dari Sain. Wileen membukanya dan ternyata Sain sedang bertanya posisinya saat ini.
"Hufff, sampai kapan dia terus kepo dengan segala yang aku lakukan?"
Wileen hanya membaca tanpa ingin membalas pesan dari Sain. Dia meraih tas dan juga jaketnya, lalu hendak keluar dari ruanganya. Ketika handle pintu akan ia pegang, seseorang tiba tiba masuk ke dalam ruanganya yang membuat Wileen kaget. Orang itu adalah Sain, pria yang menatapnya dengan beribu emosi di wajahnya.
Wileen kaget, reflek dia memundurkan tubuhnya ketika Sain semakin mendekatinya. Wileen benar benar ketakutan, ingin berteriak namun semua orang di kantornya sudah pulang sejak jam lima tadi sore.
"Mmmau apa elo, Sain?" tanyanya gugup.
Sain menyeringai melihat Wileen nampak ketakutan melihatnya. Baginya Wanita di depanya ini memang harus di beri pelajaran karena berani menolaknya.
"Rileks baby! Jangan takut, elo tahu apa yang gua mau? Yang gua mau adalah memilikimu."
"Jangan gila, Sain! Kita sudah putus dan gua sudah memiliki tunangan."
"Brakkkkk!!" sain menggebrak meja kerja Wileen karena mendengar Wileen telah tunangan dengan pria lain.
"Drrrrrrrt," ponsel Wileen lagi lagi bergetar, kali ini getaranya cukup lama yang artinya sedang ada panggilan masuk.
Wileen segera merogoh ponselnya yang dia taruh di dalam tas. Ketika ponselnya sudah berada di tanganya, tiba tiba Sain mengambil ponsel Wileen dan melihat si penelpon. Emosi Sain semakin memuncak setelah melihat si penelpon adalah Alex.
__ADS_1
"Kembalikan ponsel gua, Sain!!"
"Tidak semudah itu, sayang," ucap Sain masih dengan seringai liciknya.
"Gua mau pulang! Jangan menghalangi langkah gua," ucap Wileen tegas.
"Sabar! Kenapa harus buru-buru? Mari kita bersenang senang sebentar, sayang."
Ucapan dan sikap Sain semakin membuat Wileen ketakutan. Sain terus memajukan langkahnya, sedangkan Wileen memundurkan tubuhnya. Hingga kaki Wileen tersandung kaki sofa dan menyebabkan Wileen terjatuh di atas sofa dalam posisi terlentang.
Sain tersenyum, seolah kesempatan baik sedang berada di pihaknya. Ketika Wileen akan bangkit dari sofa, Sain segera mengunci kedua tangan Wileen dengan tanganya. Posisi Sain saat ini adalah menindih tubuh Wileen. Wileen semakin ketakutan ketika Sain mulai mendekatkan Wajahnya.
"Lepaskan gua, sialan!!"Wileen memaki Sain.
"Gua akan melepaskanmu setelah kita bersenang senang, sayang," ucap Sain menatap wajah cantik Wileen yang memucat karena ketakutan.
"Arkk, lepaskan gua, brengsek!!" Wileen terus berteriak dan memberontak.
"Tidak!!" jangan pernah lakukan itu pada gua, lepaskan gua," teriak Wileen lalu mendorong Sain. Namun kekuatan Sain jauh lebih kuat di banding kekuatanya.
Wileen menangis karena tidak bisa lepas dari kungkungan tangan Sain. "sraaaakkkk," Sain merobek paksa kemeja yang di kenakan Wileen, sehingga terlihat sedikit kulit tubuhnya yang begitu mulus di depan mata Sain.
"Tidak!!" lepaskan gua brengsek, bajingan elo Sain," teriak Wileen bertepatan pintu ruanganya di dobrak paksa seseorang dari luar. Orang itu adalah Alex dengan tatapan murkanya melihat Sain berada di atas tubuh Wileen.
"Bruuuk!!" Albern menarik tubuh Sain lalu memukulnya hingga terpental di lantai. Sain menyeka darah segar yang mengalir dari hidungnya.
"Berdiri sialan! Apa yang elo berbuat pada Wileen, hah? Lo ingin gua kirim ke neraka?" teriak Albern meluapkan emosinya.
Albern memukuli Sain hingga babak belur, Wileen berteriak dan menghentikan aksi Albern. Albern berlari menghampiri Wileen, lalu dia langsung memeluk tubuh Wileen erat.
Sain berdiri, matanya semakin sakit melihat tontonan di depan matanya. Dia melangkah pergi meninggalkan ruangan Wileen dengan sisa tenaganya.
__ADS_1
Wileen menangis sesenggukan di dalam pelukan Albern. Albern menyambar jaket Wileen, lalu memakaikanya di tubuh Wileen, untuk menutupi bagian tubuhnya yang terlihat karena kemejanya robek.
"Sudah jangan menangis, Wileen! si brengsek itu sudah pergi. Kamu tidak kenapa- kenapa, kan? Mana bagian yang sakit?" tanya Albern cemas.
Wileen masih menangis sesenggukan, hatinya begitu terluka. Hampir saja kehormatanya di renggut Sain jikalau Albern tidak datang.
"Hik hik! terimakasih telah menolong gua, Lex. Gua gak tahu jika elo tidak datang. Mungkin gua kehilangan kehormatan gua, Lex."
"Gua takut, Lex!!" isak tangis Wileen masih terdengar jelas dan ketakutanya.
Albern mencoba menenangkan Wileen, dia mengelus punggung Wileen penuh sayang. Wileen juga merasakan sedikit kenyamanan di dalam pelukan Albern.
Sudah! Semua sudah aman, jangan menangis," ucap Alex melepaskan tubuh Wileen dari pelukanya. Alex menatap wajah Wileen yang sembab karena menangis. Perlahan dia hapus air mata Wileen yang masih menetes di pipinya.
"Elo baik baik saja! Gua antar elo pulang, ya?" Wileen mengangguk, namun dia tidak mau jauh dari Alex. Wileen masih sangat ketakutan dan syok atas perbuatan Sain tadi.
"Sambil berjalan pelan, Albern menuntun Wileen pelan-pelan. Karena tubuh Wileen sangat lemah, akhirnya Albern menggendong Wileen dari belakang.
"Brengsek elo, Sain! Gua hampir saja kecolongan, elo akan menerima akibatnya karena perbuatan elo tadi," gumam Albern membatin.
Wileen mencari kenyamanan di pundak Albern, hingga mereka tiba di basement kantor. Albern memanggil Wileen, ternyata Wileen telah tertidur di
pundaknya. Albern tersenyum, dengan pelan dia membuka pintu mobilnya lalu meletakan Wileen secara pelan.
Setelah semuanya sudah masuk ke dalam mobil. Albern menyibak anak rambut yang menutupi wajah sembab Wileen.
Di dalam hati Albern mengatakan "Maafkan aku sayang, karena lalai menjagamu," setelahnya Albern mulai menyalakan mobilnya dan mengantarkan Wileen ke rumahnya.
Setelah tiba di rumah Wileen, Wileen masih dalam keadaan tidur. Sekali lagi Albern membuka pintu mobilnya pelan, lalu menggendong Wileen alabridal style.
Di depan pintu sudah ada Handoko beserta istrinya. Albern memberi isyarat di mana kamar Wileen. Kedua orang tua Wileen mengarahkan letak kamar Wileen kepada Albern.
__ADS_1
Setelah Albern meletakan Wileen di atas ranjang princessnya dan menyelimutinya. Albern keluar dari kamar Wileen, karena kedua orang tua Wileen pasti sedang menunggu untuk mengintrogasinya.