
Tidak tahu bagaimana awal mulanya, dari hari ke hari Wileen dan Alex semakin dekat. Wileen sendiri juga tidak sadar akan kedekatanya denga Alex yang terbilang baru saja dia kenal.
Berbeda dengan Alex yang sejatinya adalah Albern, dia tetap tenang karena dia tahu bahwa mereka bisa dekat karena memang mereka teman lama.
Wileenpun sampai saat ini belum menyadari bahwa Alex adalah Albern. Sejauh ini pula Albern masih setia menutupi wajahnya dengan masker hitam kesukaanya.
Masih di lokasi yang sama yaitu ruangan kerja Wileen. Albern memutari deretan novel karya Wileen yang berjejer rapi di rak dinding ruangan kerjanya. Satu novel yang membuat Albern penasaran dan ingin membacanya adalah novel yang berjudul "Friendzone".
Albern berdiri tepat di depan novel yang ingin dia baca, tanganya ingin mengambil namun ia ragu. Dia yakin, di dalam novel itu pasti menceritakan tentangnya. Hal itu dia ketahui setelah mendengar isi cerita singkat dari Jofan sahabatnya.
"Elo boleh membacanya, Lex! Ambil saja," ucap Wileen berdiri mendekati Alex dan mengambilkan novel itu dan di berikan pada Alex.
"Jadi novel sebanyak ini adalah karya elo semua, Wil?"
"Ya, setelah lulur SMA gua memilih jalan menjadi penulis untuk mengurangi rasa sepi di hidup gua dan tidak tahunya akan sebesar ini dan banyak orang orang di luar sana mengenal gua lewat karya karya gua ini."
"Sepi? Hidup elo yang punya banyak teman ternyata masih merasakan kesepian juga?" tanyanya memancing sesuatu agar Wileen mau berbagi cerita hidupnya setelah dia tinggal pergi.
Albern ingin mengetahui banyak fakta yang terjadi pada Wileen setelah kepergianya. Mungkin mendengarkan cerita dari orang yang bersangkutan akan lebih menyakinkanya daripada mendengarkan lewat orang lain.
Wileen tersenyum setelah itu wajahnya berubah menjadi mendung. Begitu sensitivenya dia jika menyangkut sahabatnya Albern. Namun karena rasa nyaman yang di berikan Alex kepadanya, Wileenpun mengajak Alex duduk di sofa dan menceritakan sedikit jalan hidupnya selama ini.
"Beneran elo mau dengar cerita gua? Gua hanya takut elo merasa kurang nyaman mendengarkan cerita gua, Lex."
Alex menggeleng, tanganya memegang tanga Wileen, seolah dia menyalurkan semangat untuk Wileen. Wileen menarik nafas sebelum menceritakan semuanya kepada Alex.
__ADS_1
"Gua dulu punya sahabat namanya Albern, dia adalah sahabat terbaik yang pernah gua miliki. Entah kenapa dia tiba tiba menghilang tanpa sepatah kata untuk gua. Sampai saat ini dan hampir enam tahun dia belum juga kembali. Banyak orang berkata kepada gua bahwa Albern sudah meninggal. Bahkan elo ingat cowok kemarin yang menemui gua sebelum elo datang?"
"Sain?"
"Ya! dia sering berkata kepada gua kalau Albern sudah meninggal. Namun hati kecil ini tetap saja menolak berita itu dan tetap yakin bahwa sahabatku masih hidup."
Wileen terdiam, dia menghapus butiran bening yang mengalir di sudut matanya. Albernpun sebenarnya tidak sanggup dan ingin rasanya ia berkata "gua ada di depan elo, Wil".
"Hidup gua sepi semenjak kepergianya, meskipun dulu gua masih bersetatus menjadi pacar Sain."
Albern mengangguk, bersikap seolah olah dia baru mendengar kabar bahwa Wileen dan Sain pernah menjalin hubungan.
"Lanjutkan," pinta Albern.
"Karena gua kehilangan Albern dan dunia gua terasa kosong tanpa dia, akhirnya gua menyibukan diri gua agar gua tidak terus terusan mengingatnya. Gua tersiksa banget, gua selalu di hantui pertanya'an yang sampai saat ini tidak ada jawabanya. Gua juga di hantui rasa bersalah, apakah gua menyakiti Albern karena gua melupakanya di saat gua menjadi kekasih Sain."
"Lalu, elo putus dengan Sain penyebabnya apa?" tanya Albern lagi lagi memancing Wileen untuk melanjutkan ceritanya.
"Karena gua merasa kurang nyaman menjadi kekasihnya. Dia terlalu sempurna untuk gua, gua di tuntut untuk menjadi apa yang dia mau. Gua kehilangan jati diri gua sekaligus kehilangan sahabat gua. Satu cowok yang membuat gua merasa nyaman dan menjadi diri gua sendiri adalah dia "Albern".
Alex memeluk tubuh Wileen, ungkapan Wileen barusan menyejukan hatinya yang lama kosong. Tanganya mengusap sayang rambut Wileen dan dia berkata "Elo boleh menganggap gua sebagai pengganti Albern".
Wileen langsung melepaskan pelukan Albern, dia menatap Albern lekat. Memang Alex dan Albern mempunyai banyak kesama'an bagi Wileen. Tapi mampukah Wileen menggantikan Albern dengan orang lain yang memiliki banyak kesama'an denganya.
"Enggak, Lex! Elo adalah elo dan Albern dalah Albern. Meskipun kalian memiliki banyak kesama'an, tetapi kalian tetaplah orang yang berbeda."
__ADS_1
"Apa elo kurang nyaman di dekat gua, Wil? Setidaknya untuk sementara waktu sebelum Albern kembali, elo bisa menganggap gua adalah dia. Gua dengan senang hati akan menjadi seperti Albern, asalkan dunia elo bisa kembali seceria dulu."
Wileen menangis mendengar ucapan Alex, lelaki yang baru hitungan hari ia kenal begitu baik dan rela menggantikan sahabatnya demi melihat dia bahagia.
"Jangan menangis! Sudah cukup ceritanya, gua enggak ingin elo meneruskan cerita elo jika hanya membuat elo bersedih. Lanjutkan pekerja'anmu, gua akan menemani elo sambil membaca habis seisi novel ini. Apa novel ini bercerita tentang Albern?" tanyanya menunjuk novel yeng berada di tanganya. Wileenpun mengangguk, dia tersenyum dan beranjak melanjutkan pekerja'anya. Sedangkan Albern duduk di sofa, membaca setiap lembar perlembar isi novel "Friendzone" di tanganya.
Tanpa terasa hari mulai petang, dan tepat Wileen menyelesaikan pekerja'anya, di situ pula Albern juga selesai membaca seluruh isi novel di tanganya. Mungkin di luar sana orang orang sudah pulang dan menyisakan Wileen dengan Albern di ruang kerja Wileen. Mereka saling melirik lalu tersenyum bebarengan, sebelum lampu tiba-tiba padam dan membuat Wileen berteriak.
Sontak Albern yang mengetahui Wileen pobia kegelapan pun langsung berlari memeluk Wileen. Bahkan kakinya sempat membentur meja karena saking gelapnya.
"Jangan takut ada gua di sini," ucap Albern menenangkan Wileen. Wileen memeluk erat tubuh Albern, pelukan yang sama dia rasakan seperti memeluk sahabatnya.
"Kita duduk di sofa, pegangan tanganku," pinta Albern meraba raba sesuatu karena ruangan begitu gelap sampai mereka menemukan sofa. Setelah mereka duduk di sofa, tepatnya posisi Wileen masih memeluk tubuh Albern, membuat Albern tersenyum tipis.
Tanganya meraba letak dia menaruh ponselnya, mungkin dengan menyalakan cahaya dari ponselnya, maka ruangan itu tidak akan terlalu gelap. Ponselnyapun telah ia temukan, Albern menyalakan ponselnya dan ruangan itu sedikit tersoroti cahaya dan tidak segelap sebelumnya.
"Di luar hujan dan ada sedikit petir, mungkin itu yang menyebabkan lampu padam," ucap Albern di angguki oleh Wileen.
"Apa ada lilin atau sesuatu yang bisa membuat ruangan ini tidak terlalu gelap?" tanyanya.
"Di dalam lemari situ ada lampu emergency, sepertinya ada satu seingatku," jawab Wileen, Albern beranjak untuk mengambilnya namun tangan Wileen menahanya.
"Elo mau kemana? Jangan tinggalin gua, Lex."
Albern mengacak rambut Wileen gemas, dia hanya ingin mengambil lampu emergency namun Wileen setakut itu dia tinggalkan.
__ADS_1
"Sebentar saja, gua hanya ingin mengambil lampu emergency di dalam lemari yang elo tunjuk barusan."
Wileen menggeleng, akhirnya Albern mengajak Wileen mengambil lampu itu bersama. Tingkah Wileen sangat lucu, bagi Albern_ Wileen tetaplah Wileen yanh sama seperti dulu.