Jodohku Selamanya

Jodohku Selamanya
Getaran Yang Sama


__ADS_3

Setelah menceritakan semua yang dia alami selama ini kepada Sania. Kini setidaknya beban yang dia simpan di dalam hatinya sedikit berkurang. Setidaknya Sania adalah temanya yang bisa di percaya untuk menjaga rahasia.


"Tolong jaga Wileen sampai gua benar-benar siap untuk menemuinya. Akan sangat berbahaya jika Sain mengetahui keberada'an gua saat ini. Karena baginya gua sudah mati dan dia bakalan terus mencoba meleyapkan gua jika gua mendekati Wileen," ujarnya sebelum beranjak pergi.


Albern terus melangkahkan kakinya, pandanganya bukan berfokus pada jalan melainkan pada ponselnya. Sedangkan di sebrang jalan di lain arah, nampak wanita cantik yang terlihat berjalan tergesa-gesa. Wanita itu tidak lain adalah Wileen yang berkali-kali melirik jam tangan mahal yang melingkar di pergelangan tanganya.


"Brugg." Keduanya terlalu fokus pada benda di tangan masing-masing sehingga merekapun saling bertabrakan dan membuat Wileen jatuh terduduk.


Wileen mengaduh dan saat itu pula Albern yang menyadari wanita yang dia tabrak adalah Wileen. Langsung memalingkan muka dan menutupi wajahnya segera dengan masker yang lupa ia pakai.


Untung saja Albern cepat menyadarinya, sedangkan Wileen tidak tahu sosok pria yang menabraknya adalah orang yang selama ini ia cari.


Wileen mengomel karena tubuhnya terasa sakit bagai terbentur dinding kokoh karena tubuh Albern sangat kuat di bandingkan dengan tubuhnya yang kecil. Bahkan semua umpatan dan sumpah serapah hampir saja terucap di bibir Wileen jika tidak melihat sosok pria yang mengulurkan tanganya untuk membantunya berdiri.


Sosok tinggi tegap dengan balutan jaket hitam, celana hitam, topi dan masker dengan warna serupa yang begitu familiar baginya. Meskipun wajahnya tertutup masker, namun bulu mata lebat serta lentik yang sangat indah di matanya. Serta terbingkai alis hitam tebal itu memperhatikan wajah Wileen dengan seksama. Pria itu terus mengamati Wileen dan memastikan tidak ada luka di tubuh Wileen.


Entah kenapa mendadak hati Wileen merasa nyaman di dekat pria asing yang masih saja mengulurkan tangan untuk membantungan berdiri. Rasa yang sama yang sempat hilang beberapa tahun silam.


Tanpa berfikir dua kali, Wileen langsung menyambut uluran tangan pria tersebut. Mata keduanya saling menatap dan masing-masing seperti terhanyut pada dua binar bola mata yang seperti menyatu.


Tanpa di cegah pula, rona kemerahan hadir di saat tidak tepat di wajah Wileen. Memang sangat aneh, kenapa Wileen bisa mendadak salah tingkah di depan pria asing yang tidak jelas wajahnya.


Bahkan mendadak jantungnya terasa berdetak dua kali lebih kencang di saat tangan pria itu masih melingkupi tanganya dan genggaman tangan pria itu begitu pas menggenggam tanganya.


"Apa kamu terluka? maafkan aku yang tidak sengaja menabrakmu!!" Ucap suara yang juga tidak asing seperti pernah ia dengar namun dalam versi dewasa.


Wileen hanya diam di tempat, masih mencerna suara pria yang ada di depanya. Bahkan dia masih terdiam di tempat di saat melihat punggung tegap itu menjauh pergi meninggalkanya.

__ADS_1


Ini bukan kali pertama Wileen menemui pria, bahkan pria yang tidak sengaja menabraknya. Namun anehnya pria itu membawa dampak begitu dahsyat di hatinya. Tiba-tiba rasa tidak rela hadir ketika melihat pria itu sudah melangkah jauh bahkan telah hilang dari penglihatanya.


Pria asing yang mengguncangkan hati Wileen dalam sekejap. Meninggalkan sisa rasa penyesalan karena belum sempat berkenalan bahkan melihat wajahnya secara jelas.


Sebuah panggilan suara yang tidak asing seketika menyadarkan Wileen. Suara Sania berlari menghmpirinya membuat Wileen langsung merespon.


"Wileen!!"


"Elo kok ada di sini? lo ngapain di sini, San?" tanyanya memastikan.


"Numpang mandi! ya kali, Wil di kafe elo tanya gua lagi ngapain. Pasti gua cari makan, minum, bersantai lah. Elo sendiri ngapain di sini? jangan bilang elo ada janjian lagi sama si sok perfect Sain."


"Aduh! gua kok mendadak lupa mau ngapain tadi, ya? duh, pasti gua pasti amnesia dadakan setelah terbentur dada cowok barusan, deh," ucap Wileen menimbulkan rasa heran campur tanda tanya besar pada Sania.


"Terbentur dada cowok? siapa?" tanya Sania yang mendadak kepo.


"Enggak tahu! sepertinya dia juga baru keluar dari kafe yang sama kayak elo. Dia berpakaian serba hitam ala ala cowok korea gitu. Keren banget tuh cowok sumpah, sayang mukanya tidak terlihat jelas karena tertutup masker."


"San! elo tahu, gak? kenapa mendadak jantung gua berdetak dua kali lebih cepat ketika di dekat cowok asing barusan?"


"Mana gua tahu, Wil! mungkin elo lapar kali, elo belum sarapan, kan?" respon Sania mencoba mengalihkan topik.


"Eh bener juga! gua belum sempat sarapan dan elo wajib menemani gua sarapan." Wileen langsung menarik tangan Sania, memasuki kafe yang baru saja Sania datangi tadi.


"Mbaknya yang tadi duduk di pojok sana bersama cowok cakep tadi, kan? kok balik lagi, mbak?"


Suara dari penjaga kafe tersebut membuat Wileen dan Sania menoleh. Setelah itu Wileen langsung menatap penuh tanda tanya kepada Sania. Pasalnya sejak kapan sahabatnya ini bertemu dengan cowok diam-diam tanpa memberitahunya. Karena yang Wileen ketahui, sahabatnya ini sangat anti berdekatan dengan seorang pria.

__ADS_1


"Elo habis ketemu siapa, San?" Wileen mulai mengintrogasi Sania. Bahkan tatapan penuh tanya tercetak jelas di wajah Wileen.


"Oh, itu! eh anu, Wil." Jawabnya tergagap karena di fikiranya belum muncul alasan yang tepat. Apa lagi melihat tatapan penuh tanya dan kecurigaan di wajah Wileen padanya.


"Anu anu siapa, sih?" tanya Wileen masih saja meminta penjelasan dari sahabatnya. Bahkan saat ini keduanya sudah duduk di dalam kafe. Wileen bertopang dagu, menatap Sania dan menunggu penjelasan dari sahabatnya.


"Halah, salah satu penggemar elo yang minta tolong gua agar bisa ketemu sama elo, Wil," bohongnya meskipun tidak semuanya bohong.


Wileen percaya begitu saja dengan ucapan Sania yang menurutnya masuk akal. Karena selama ini Sania adalah sahabat perempuan terbaik yang tidak pernah menghianatinya.


Entah apa respon Wileen jika di kemudian hari mengetahui Sania telah menyembunyikan rahasia tentang Albern darinya. Apakah Wileen kecewa kepadanya atau Wileen bersikap biasa saja kepadanya.


Sebenarnya Sania mencemaskan hal itu jika sampai terjadi. Namun bagaimana lagi jika saat ini Albern belum siap bertemu dengan Wileen. Mau tidak mau Sania tetap saja harus merahasiakan keberada'an Albern di antara mereka.


"Wil! seandainya Albern muncul tiba-tiba dan menemui elo, apa respon elo? apa lagi sekarang lagi gempar-gemparnya rumor hubungan elo dengan Sain."


Wileen langsung menutup buku menu, ketika tiba-tiba Sania membahas soal Albern. Nama Albern begitu sensitive di telinga Wileen dari dulu hingga saat ini.


"Kenapa elo tiba-tiba membahas dia? benar kata Sain, mungkin Albern sudah meninggal," ucap Wileen tiba-tiba meneteskan air matanya.


Sania langsung gugup sekaligus merasa kesal dengan Sain. Apa yang pria itu katakan kepada Wileen, sehingga Wileen berkata bahwa Albern sudah meninggal.


"Wil, apa yang dia katakan kepada elo, hah? jangan percaya pada mulut lemas si Sain. Gua yakin Albern masih hidup dan dia pasti kembali kepada Elo. Elo jangan sedih, gua jadi ikutan sedih kalau elo sedih."


Sania memeluk Wileen dan menghapus air matanya. Kepalanya mendadak pusing karena terjebak pada masalalu sahabatnya yang masih saja belum kelar.


"Kok elo yakin dia bakalan kembali, San?" Wileen mendongakan wajahnya menatap Sania penuh tanya.

__ADS_1


"Karena ucapan adalah do'a dan siapa tahu kali ini do'a gua akan di kabulkan oleh Tuhan. Gua ingin melihat elo menemukan sumber kebahagiaan elo, Wil. Elo harus bersabar, semua akan tetap indah pada waktunya."


Dalam hati Sania berkata " Sebenarnya dia ada di dekatmu dan tidak akan pergi jauh lagi meninggalkanmu, semoga saja waktu akan berputar lebih cepat dan mempersatukan kalian berdua."


__ADS_2