
Albern sore ini menemui Papanya yang katanya berada tak jauh dari lokasi tempat dia bekerja. Tumben tumbenan Papanya itu ingin bertemu denganya. Penasaran apa yang ingin Papanya bicarakan kepadanya, Albernpun langsung mendatangi cafe tak jauh dari lokasinya.
Terlihat pria paruh baya berpakaian formal duduk di kursi paling ujung sembari meminum secangkir kopi. Albern melangkah, tidak lupa sebagai anak dia mengucapkan salam serta mencium tangan beliau.
"Maaf menunggu lama, Pa!!"
"Duduklah, nak! Kau ingin pesan apa?"
Albern menyamakan pesananya dengan Papanya yaitu secangkir kopi. Dia menatap Papanya sebelum dia bertanya maksud tan tujuan Papanya mencarinya.
"Sebenarnya ada apa Papa mencariku?" tanyanya dan Papanyapun tersenyum.
"Ehmmm, Papa hanya ingin bertanya kapan kau akan mengambil alih perusaha'an, nak? Kau lihat Papamu ini sudah waktunya pensiun!!"
Albern menaikan alisnya, dia tidak langsung menjawab pertanyaan Papanya. Dia berfikir sejenak sebelum menjawabnya. Karena ini bukan pertanyaan pertama maupun ke dua, tetapi memang Papa dan Mamanya sering menanyakanya kepada Albern.
"Seperti jawaban jawabanku sebelumnya, Pa. Aku masih menyukai pekerjaanku, ini juga hobbyku. Aku belum ingin di buat pusing karena perusahaan keluarga kita."
"Sampai kapan, nak? Lihatlah Papamu ini sudah menua. Kau bahkan belum ingin menikah dan memberi Papamu ini cucu. Bagaimana jika sewaktu waktu ajal menjemput Papamu ini, nak?"
Albern menghela nafas, wajar jika Papanya bicara seperti itu kepadanya. Di usianya sekarang minimal dia sudah memiliki anak. Tetapi dia belum juga menikah, itu juga menjadi salah satu fikiran kedua orang tuanya.
"Papa tenang saja, karena Papa akan hidup ratusan tahun lagi untuk bisa melihatku menikah dan memiliki anak, hehehe," ucap Albern bergurau.
"Kau fikir Papamu ini vampir yang bisa hidup ratusan tahun?"
__ADS_1
Albern tertawa, dia memang pandai merubah suasana yang seharusnya menyedihkan ketika Papanya bicara kematian menjadi gurauan.
Bukanya Albern tidak ingin menikah, bahkan dia sudah bertunangan dengan Wileen. Ini hanya soal waktu, ketika waktu itu tiba, dia pasti mengabulkan semua keinginan dan harapan kedua orang tuanya.
"Kenapa kau malah tersenyum? Apakah ada sesuatu yang kau tutupi dari Papamu ini, nak? Jangan bilang bahwa kau tidak normal," tuduh Papanya.
"Apa aku terlihat tidak normal, Papa? Bahkan jika aku mau, aku bisa memberikan Papa cucu secepatnya. Namun putramu ini masih waras dan suanya sudah aku rencanakan, Pa. Ini hanya menunggu waktu, izinkan Al mengatur segalanya sampai tiba waktunya. Di saat semua sudah berada di genggamanku, maka Al berjanji akan mengambil alih perusaha'an."
"Buktikanlah, jangan memberi Papamu ini harapan palsu dan jangan sampai kau mengecewakan kami," pesan Papanya di angguki Albern.
"Jadi kau sudah memiliki calon? Apakah Papa mengenalnya?"
Albern mengangguk, bahkan dia menyebutkan nama calonya itu. Hingga Papanya hanya bisa tersenyum dan gelang geleng kepala. Putranya itu termasuk golongan pria jenis apa. Dia hanya berfokus pada satu wanita yang sama. Bisa di katakan pria setia atau pria budak cinta.
Albern juga memberi tahu cara apa yang dia lakukan untuk mengikat Wileen. Ingin heran tetapi putranya ini memang istimewa. Sebenarnya ada sedikit rasa kecewa karena putranya tidak melibatkanya saat melamar Willen. Tapi kekecewaanya tidaklah penting, yang penting putranya menemukan kebahagianya.
Albern pun tertawa, menertawai ucapan Papanya yang memang benar, Cara Albern memang mempersulit hidupnya, tetapi dia sangat menyukai hal mudah yang di buat sulit. Baginya semua itu akan ternilai karena perjuanganya yang sulit demi mendapatkan sesuatu yang sangat berharga.
"Kau membuang buang waktumu dengan caramu ini, nak!!"
Lagi lagi Albern tertawa, memang caranya membuang buang waktu. Tapi yang dia perjuangkan adalah waktu yang akan terkenang sangat berharga suatu saat nanti. Dia sedang memperjuangkan serta melindungi Wileen yang baginya sebuah bunga di dalam kaca. Siapapun boleh melihatnya, tapi Albern tidak akan membiarkan orang lain menyentuh atau memilikinya.
"Terserah apapun jalan yang kau pilih, yang terpenting Papa ingin kau cepat menikahinya, memberikan Papamu ini cucu dan ambil alih perusaha'an. Papamu ini sudah waktunya pensiun, nak," ucap Papanya sembari menepuk bahu Albern, kemudian pergi meninggalkan Albern.
Albern tidak sadar, dia sudah terlalu lama membuka masker yang biasanya menutupi wajahnya. Sedari tadi ada seseorang duduk tak jauh dari tempatnya duduk, memperhatikanya. Bahkan seseorang itu melihat Albern dari mulai datang hingga sekarang.
__ADS_1
Orang itu merekam dari mulai Albern datang hingga Papanya pergi. Orang itu menyeringai, seolah dia baru saja menemukan berlian di dalam lumpur.
Albern menghabiskan kopinya lalu pergi juga dari cafe itu. Dia akan kembali ke tempat kerjanya hanya sekedar mengambil barang barang yang tertinggal lalu dia akan menengok kondisi Wileen di rumahnya.
Sesekali dia tertawa membayangkan ucapan Papanya tadi yang meminta cucu darinya. Hingga Albern membayangkan hal konyol ketika dirinya dan Wileen memiliki anak.
Albern mengajak acak rambutnya setelah sadar dari bayangan konyolnya. "pemikiran gila, menikahinya saja sulit apa lagi memikirkan anak, ckkk,,,konyol sekali," ucapnya sembari mengemudi mobilnya.
Albern menuju ke rumah Wileen, dia sangat merindukan wanitanya. Sepanjang perjalanan menuju ke sana, dia tak henti hentinya bersiul siul. Mungkin begitulah jiwa jiwa si pecinta setia Wileen.
Albern berharap keadaan Wileen membaik dan tidak seperti tadi pagi. Tadi pagi dia melihat Wileen begitu sangat kacau dan itu menyakiti hatinya juga.
Albern sampai tidak jauh dari rumah Wileen, tiba tiba dia menghentikan mobilnya ketika melihat krumunan para wartawan berada di depan pintu gerbang rumah Wileen.
Albern penasaran apa yang terjadi, dia mencoba menghubungi Wileen namun tidak di angkat. Dia juga menghubungi orang tua Wileen, juga tidak di angkat. Albern semakin kawatir, lalu dia teringat Jofan, sahabatnya itu adalah seorang wartawan juga. Akhirnya Albern menghubungi Jofan, panggilan ke tiga Jofan baru mengangkatnya.
Terdengan suara keramaian yang sangat bising, membuat Albern menjauhkan ponselnya dari telinganya. Matanya menangkap sahabatnya Jofan ternyata berada di antara wartawan itu. Albern meminta Jofan segera masuk ke dalam mobilnya. Mungkin bisara face to face lebih baik daripada lewat telpon.
Tak lama Jofanpun masuk ke dalam mobil Albern dengan membawa seluruh perlengkapanya. Albern langsung melontarkan banyak pertanyaan kepada Jofa.
"Sebenarnya ada apa ini, Fan?" tanya Albern dengan wajah kawatir.
"Elo gak tahu, Al?" ucap Jofan, Albernpun menggeleng karena dia benar benar tidak tahu maksud Jofan.
"Elo buka sosial media sekarang juga, seluruh Indonesia heboh meributkan vidio Wileen dengan Sain," jelasnya.
__ADS_1
Albern langsung membuka sosial medianya, tanganya langsung menggepal dengan wajah merah padam.