Jodohku Selamanya

Jodohku Selamanya
Balas budi


__ADS_3

Wileen tidak menyangka, Albern akan setega ini padanya. Balas budi yang dia katakan kemarin adalah, setiap pagi dia harus datang ke apartemen Albern untuk bersih bersih. Tidak hanya itu saja, ternyata Albern juga menyuruhnya memasak.


Hal hal yang telah lama Wileen tinggalkan, karena kesibukanya selama ini. Wileen yang biasanya bangun kesiangan, kali ini harus membiasakan bangun pagi.


Wileen menghentak hentakan kakinya ketika berada di depan pintu apartement Albern. Matanya yang sayum sayup, bibir yang menguap karena masih ngantuk.


Wileen masuk ke dalam apartement albern, setelah kemarin Albern memberinya kartu akses apartemenya. Wileen menaruh sepatunya berjejer rapi dengan deretan sepatu Albern.


Matanya melihat sekeliling ruangan yang sangat rapi. Alpartement Albern di desain menggunakan warna-warna maskulin dengan nuansa yang nampak hangat.


Di dalam apartement itu terdapat dua kamar, ruang tamu yang lumayan luas. Wileen melangkah tepat di salah satu kamar yang dia yakini adalah kamar Albern. Dia ingin masuk, namun ia urungkan karena takut ada hal privasi di dalam.


"Apartement sebersih dan serapi ini, apa yang harus di bersihkan? Dasar Albern, memang terniat elo pingin ngerjain gue!!"


Wileen tidak mau membersihkan apapun, karena Apartent Alnern tidak kotor sama sekali. Akhirnya dia memilih berjalan menuju dapur. Pertama kali melihat desain dapur, Wileen langsung jatuh cinta.


Dapur di Apartement Albern terbilang sedang, tidak besar dan tidak pula kecil. Yang membuat Wileen kagum adalah isi dan desainya.


Wileen tidak menyangka, Albern yang seorang lelaki ternyata memiliki prabotan yang lengkap. Apa lagi teflon mini yang berbentuk hati, seketika memberikanya ide untuk menyiapkan sarapan apa.


Belum selesai di buat kagum dengan prabotan dapur yang lengkap. Kini lagi lagi Wileen di buatnya terkejut setelah melihat isi kulkas Albern sudah seperti supermarket. Apapun di dalam kulkas ini tersedia lengkap.


"Gila ini cowok! Dia mau dagang rempah rempah, apa?"


Wileen memgambil bahan bahan yang dia perlukan untuk membuat sarapan. Akhirnya Wileen memutuskan membuat pancake, sandwich, dan beberapa potongan buah. Untuk minumanya Wileen membuatkan Albern kopi susu hangat. Dia rasa itu semua lebih dari cukup untuk tugas pertamanya.


Selesai menghidangkan di meja makan, Wileen hendak mengetuk pintu kamar Albern. Namun suara pintu depan di buka seseorang, membuat fokusnya teralihkan.


Ternyata orang itu adalah Albern yang barusaja pulang joging pagi. Mata Wileen membola ketika melihat otot otot tangan Albern. Albern di depanya sangat jauh berbeda dengan Albern yang sekarang berada di hadapanya.


"Hapus air liurmu dan biasa saja menatap gue!!" bisik Albern membuat fokus Wileen kembali.

__ADS_1


Albern melangkah masuk ke dalam kamarnya dengan senyuman tipis. Dia sangat senang, pagiharinya di hiasi dengan wajah cantik Wileen.


Albern segera masuk ke dalam kamar mandi untuk membersihkan tubuhnya. Selesai itu, dia keluar dengan tampilan rumahan. Kaos tanpa lengan dan celana training pendek.


Lagi lagi Albern memperlihatkan otot ototnya yang membuat Wileen tergliur. Lelaki itu memang sangat hobby membuat jantung Wileen serasa tidak aman.


"Wah, elo bikin sarapan apa, Wil?" tanyanya duduk sambil melihat semua sarapan buatan Wileen.


"Ini kopi susu untuk elo, di minum selagi masih hangat. Ini ada sandwich, ada pancake, dan beberapa potong buah," jawab Wileen juga ikut duduk di samping Albern.


"Good job! Ini baru perempuan yang pintar dan juga rajin. Enggak seperti kemarin yang sukanya bangun kesiangan!!" ucap Albern memuji sekaligus menyindir.


Wileen memutar bola matanya jengah, karena dia melakukan semua ini juga karena terpaksa. Albern mulai meminum kopi susunya. Wileen memperhatikan Albern meminum kopi susunya. Setelah itu Wileen meminta nilai atas kerja kerasnya itu.


"Jadi berapa nilai untuk hasil masakan gue, Al?"


"Lumayan, gue kasih nilai 8!!" ucap Albern membuat Wileen protes. Dari satu sampai sepuluh, Albern memberinya nilai delapan.


"Tingkatkan lagi dan tetap semangat bangun pagi, dan menyiapkan sarapan untuku," ucap Albern.


"Dih, lama lama gue berasa jadi babu, deh," protes Wileen.


Albern menanggapi Wileen dengan senyuman, kemudian meminta Wileen ikut memakan sarapanya bersama.


"Katanya mau jadi istri orang, kok makan aja masih belepotan, sini gue bantu bersihin," ucap Albern semakin mendekatkan wajahnya.


"Eh, elu mau ngapain, Al?" tanya Wileen gugup.


Albern tanpa meminta persetujuan dari Wileen, dia langsung mencium sudut bibir Wileen yang belepotan. Sontak aksi dadakan Albern membuatnya terkejut bukan main.


Jantungnya seakan berhenti berdetak, ketika bibir Albern semakin menyapu sudut bibirnya. Wileen hanya diam mematung di tempat. Seakan anggota tubuhnya sulit untuk di gerakan.

__ADS_1


Wileen memejamkan matanya, ketika dia merasakan sesuatu yang kenyal dan juga basah, menempel di bibirnya.


"Sssssst," suara Wileen ketika Albern menggigit bibirnya. Wileen langsung membuka bibirnya dan di situlah kesempatan bagi Albern memainkan peranya.


Wileen hanya pasrah saja ketika ciuman itu berubah semakin menuntut lebih. Namun Albern menyudahinya dan menghapus sisa saliva di bibir Wileen.


Mata Wileen yang tertutup, pelan pelan mulai terbuka. Pada saat matanya terbuka, Wajah tampan Albern yang tersenyum tepat di depan wajahnya.


Semburat merah tiba tiba menghiasi kedua pipi Wileen. Dia sangat malu, dia sadar apa yang telah dia lakukan barusan adalah sesuatu yang salah.


"Anggap saja yang barusan terjadi adalah kiss education!!" ucap Albern lalu meminum kopi susunya.


"Dasar mesum, dasar pria mesum! Elo memanfaatkan kesempatan dalam kesempitan," omel Wileen menatap kesal pada Albern.


Berbeda dengan Albern, dia sangat menikmati suara Wileen saat mengomel.


"Bukanya elo sendiri yang bilang akan menikah? Jadi anggap saja gue tadi sedang ngajarin elo, tata cara ciuman yang benar. Kasihan kalau suami elo tahu, elo belum jago soal ciuman," ucap Albern, membuat Wileen melayangkan protes.


"Itu wajar, Albern! Setiap pengantin yang belum berpengalaman pasti tidak akan bisa melakukanya.


Setelah berkata sedemikian, Wileen bertambah malu. Bisa bisanya dia malah membahasnya lagi di depan Albern


Lagi lagi Albern hanya kembali fokus pada bibir Wileen. Entah kenapa, satu dua kali mereka pernah berciuman, membuatnya candu. Apa lagi melihat pipi Wileen yang berubah semerah tomat, membuat Albern merasa gemas.


Lagian Wileen adalah calon istrinya, walau saat ini atau nanti, Albern tetaplah pemiliknya. Meskipun sampai saat ini Wileen belum tahu bahwa orang yang berada di hadapanya adalah calon suaminya.


"Al, ini tidak benar, ini salah, elo jangan se enaknya cium gue. Gue merasa seperti penghianat yang menghianati tunangan gue."


"Apa yang salah? Gue cinta sama elo Wileen, apakah elo juga cinta sama gue? dan perasaan kita ternyata sama, jadi tidak ada yang salah, bukan?" tanya Albern menguji Wileen.


Wileen menggeleng, dia merasa berdosa karena berhianat pada cincin yang melingkari jari manisnya. Sedangkan Albern merasa bangga, sebegitunya Wileen menjaga komitmenya dengan tunangan yang belum pernah dia lihat wujutnya.

__ADS_1


__ADS_2