Jodohku Selamanya

Jodohku Selamanya
Ingatan Albern Kembali


__ADS_3

Setelah mendapat kabar dari Sania. Dion, Jofan dan Bian sahabat sahabat Albern segera menuju ke lokasi yang telah Sania share melalui whatsappnya. Tentu saja sebagai sahabat mereka tidak ingin kecolongan lagi. Mereka tidak akan membiarkan Lily membawa pergi Albern lagi.


Sudah seperti bodyguard Albern, mereka bertiga menunggu di depan pintu ruang rawat Albern. Dion memilih menjaga Albern di dalam, sambil memperhatikan gerak gerik Lily. Sementara Jofan dan Bian lebih menunggu di luar.


Kehadiran Dion membuat Lily merasa kurang nyaman. Karena tatapan mata Dion tidak lepas memperhatikan.


"Lo ngapain masuk kemari?" tegur Lily merasa kurang nyaman.


"Apa salahnya? Lo yang seharusnya tidak berada disini. Sadar diri lo itu cuma pembuat masalah!!" timpal Dion.


Lily berdesis kesal, dia tetap menimpali ucapan Dion. Dia tidak mau kalah dan tidak terima dikatain pembuat masalah.


"Seharusnya lo tuh bersyukur. Gue lebih dulu menyelamatkan Albern dari kecelakaan pesawat itu. Coba kalau gue tidak bertindak cepat, apakah Albern masih hidup sampai detik ini?"


"Lo menolong dia karena ada maksud tertentu. Lo ingin memiliki dan memanfaatkan Albern ketika dia tidak mengingat apapun. Lo tidak memberi tahu keluarganya bagaimana kondisi Albern. Lo egois Li, lo hanya terobsesi memiliki Albern. Tanpa lo tau, banyak orang yang berduka karena kehilangan. Lo bisa tertawa tersenyum, apa lo gak punya hati, hah?"


Mendengar keributan di dalam, membuat Jofan masuk ke dalam ruang rawat Albern. Dia meminta Bian tetap berjaga di depan.


"Ada apa sih ribut ribut? Apa yang kalian berdua ributin? Mending kalian keluar, pindah ke lapangan sana," tegur Jofan. Lily dan Dion Pun terdiam namun lirikan mata mereka seolah masih menabuh genderang peperangan.


Terdengar suara rintihan dari arah samping mereka bertiga. Albern telah sadar, dia melihat Jofan dan Dion berada di depannya bersama Lily. Albern mengernyitkan dahi, kenapa ada Lily dan dia ada di mana.


"Al, lo sudah sadar?" tanya mereka bertiga serempak.

__ADS_1


"Sayang, kamu sudah sadar?" tanya Lily, membuat Albern ingin muntah. Ingatan Albern telah kembali, semua kaget saat Albern bisa mengenali mereka bertiga. Lily tak kalah kagetnya dibanding Jofan dan Dion.


"Apa yang terjadi sama gue? dan kenapa wanita ini ada di sini?" tanya Albern. Mendengar demikian membuat Dion dan Jofan saling pandang dan tersenyum mengejek Lily.


"Entahlah, dia sudah seperti lalat yang gak mau pisah sama lo, Al," ucap Dion membuat Lily kesal.


"Al, lo kok gitu sih? Gue yang nolongin lo setelah lo mengalami kecelakaan pesawat tempo hari," ucap Lily, berharap Albern bisa luluh karenanya. Tetapi Dion langsung memotong perkataan dan mengatakan semua hal yang terjadi karena ulah Lily.


"Lo tahu Al, gara gara nyai ronggeng ini, Wileen hampir stres karena tidak bisa menemukan lo. Dari banyaknya penumpang kecelakaan pesawat tempo hari 87% meninggal dan tiga orang tidak bisa di temukan dan lo di antaranya. Eh, nih nyai ronggeng dengan santainya malah menyembunyikan lo di villa asing milik keluarganya. Nyokap lo juga berduka karena tidak menemukan lo. Emang sinting nih cewek, terobsesi sama ello hingga membuatnya sinting," ucap Dion kesal. Lily menundukan kepalanya merasa takut.


Sedangkan tatapan mata Albern penuh kemarahan terpancar ketika menatap Lily. Lily semakin takut melihat tatapan Albern kepadanya.


"Ada lagi Al, tadi pagi papanya Wileen beserta ketiga orang suruhannya sengaja mendatangi villa milik nih cewek. Mereka ingin menjemput lo, dan menurut cerita dari Sania, si Sain ada di sana dan dia mau nembak lo. Tapi sayangnya


"Sayangnya apa? Lanjutkan!!" pinta Albern.


Tiba tiba Lily meminta maaf sambil menangis di hadapan Albern. Dia menyesal dan meminta Albern memaafkan. Gara gara dia Wileen tertembak dan saat ini kondisinya kritis. Mendengar ucapan Lily, mata Albern membelalak terkejut.


"Apa? Di mana Wileen sekarang? Bagaimana kondisi dia sekarang?" teriak Albern panik. Melukai Wileen walau hanya secuil saja dia tidak berani. Ini malah Wileen tertembak karenanya, membuat hati Albern terluka.


Albern ingin melepas jarum infus di tangannya. Buru buru Jofan melarangnya karena dia belum pulih total.


"Tenang Al, lo belum pulih total. Lagian Wileen masih ditangani dokter. Kita semua juga sedang menunggu  dan berdoa untuk keselamatan nya. Jadi lo harus tenang dan pulihkan kondisi lo. Jadi setelah lo pulih, lo boleh melihat kondisi Wileen," saran Jofan.

__ADS_1


"Lo gila? Bagaimana gue bisa tenang? Wileen sedang kritis dan gue ingin ada disisinya," teriak Albern.


"Wileen masih di ruang operasi, Al! Tunggu operasinya selesai dan lo bisa menemui dia," sahut Dion.


Tetap saja Albern tidak bisa diam. Akhirnya Jofan meminta kursi roda pada salah satu perawat sekaligus meminta izin pada dokter untuk membawa Albern ke depan ruang operasi tempat Wileen dioperasi.


Setelah mendapat izin dari dokter, Jofan dan Dion membantu Albern duduk di kursi roda. Mereka membawa Albern menuju ke depan ruang operasi. Diikuti Bian dan Lily yang berjalan di belakangnya.


Dari kejauhan Albern bisa melihat wajah sedih Handoko beserta istrinya. Sania dan juga kakaknya Wileen. Mereka semua duduk di kursi depan ruang operasi menunggu dokter keluar membawa berita baik untuk mereka.


Mamanya Wileen tak berhenti menangis dan ketakutan. Takut hal buruk terjadi pada putri bungsunya. Jofan mendorong kursi roda Albern lebih dekat. Kedua orang tua Wileen, Sania dan kakaknya Wileen pun terkejut.


Handoko bangkit dari duduknya lalu menghampiri Albern. Mereka semua belum tahu bahwa ingatan Albern telah kembali.


"Nak, bagaimana kondisimu? Apa kepalamu masih terasa sakit?" terlihat raut kecemasan di wajah Handoko.


"Pa, maafkan Al! Gara gara Al, Wileen jadi terluka. Seharusnya Al yang ditembak, bukanya Wileen, pa." Albern merasa bersalah dan menganggap semua ini terjadi karenanya.


Handoko terkejut. "Ingatanmu telah kembali, nak?" Albern mengangguk. Setelah rasa pusing di kepalanya yang terasa ingin pecah tadi, ingatan Albern kembali. Semua mengucapkan syukur dengan kembalinya ingatan Albern.


Melihat wajah yang dipenuhi rasa bersalah Albern. Handoko pun mengerti, lalu menepuk bahu Albern dan berkata. "Tidak ada yang salah, ini semua skenario dari Tuhan. Papa dan semua berharap operasi Wileen bisa berjalan lancar. Lebih baik kita berdoa sambil menunggu operasinya selesai."


Albern mengangguk, pria paruh baya seperti Handoko saja bisa setegar itu, Albern juga pasti bisa. Dia tidak bisa membayangkan jika dia kehilangan Wileen. Hanya harapan dan doa semoga Wileen bisa terselamatkan dan operasinya bisa berjalan dengan lancar.

__ADS_1


__ADS_2