
Setelah mendapat kabar bahwa Wileen telah kembali ke rumahnya, itupun juga Albern yang mengantarnya. Sain langsung bergegas mematikan sambungan telponya dengan orang suruhanya kemudian beralih menelpon Wileen. Sain akan lebih merasa tenang setelah mendengar suara wanita yang ia cintai.
"Ada apa menelponku malam-malam begini, Sain?" yang di sebrang sana protes. Pasalnya Wileen baru saja masuk ke dalam kamarnya dan hendak mandi untuk menyegarkan tubuhnya yang lelah.
"Aku hanya merindukanmu! aku cemburu, Wil."
Secara terang terangan Sain mengakui bahwa dirinya sedang cemburu. Bahkan Sain juga bertanya tentang Alex pada Wileen.
"Wil, cowok yang nganterin elo pulang tadi siapa?"
"Oh, Alex teman gua!!"
"Sejak kapan? kenapa gua gak tahu?"
Di sebrang telpon Wileen menghela nafas, ini bukan kali pertama Sain kepo dengan semua cowok yang dekat denganya.
"Ngapain juga sih elo harus tahu!!" jawabnya
"Ya sekedar ingin tahu saja, karena gua enggak rela kalau elo kenal cowok yang salah."
"Alex orangnya baik dan tidak seperti yang elo bayangkan. Dia juga seorang photographer dan aku membutuhkan jasanya. Please, jangan kepoin aku ingin jalan sama siapapun bisa gak sih?"
"Wil, bagaimanapun kita pernah bersama, putus bukan berarti menghapus kepedulian gua kepada elo. Gua sayang sama elo Wil, kalaupun elo tidak bisa menemukan cowok yang lebih baik daripada gua, kenapa kita tidak balikan dan memulai kembali dari awal."
__ADS_1
Wileen mengatur nafasnya, ngobrol dengan Sain harus memiliki stok kesabaran. Putus sudah bertahun tahun yang lalu, tetapi Sain terus saja kepo dengan kehidupan Wileen.
"Sudah lah, gua mau mandi!!"
Wileen langsung menutup sambungan telponya, karena dia merasa kurang nyaman dengan ucapan Sain padanya. Wileen berjalan memasuki kamar mandi yang berada di dalam kamarnya juga, dengan mengomel.
"Untuk apa juga dia tahu gua jalan dengan siapa, gua punya hubungan dengan siapa. Sudah jelas gua bakalan cari yang lebih baik dari dia lah."
Sedangkan di dalam mobil, setelah mengantar Wileen pulang ke rumahnya, Alberen masih terbayang bayang wajah ayu Wileen. Bibirnya tersenyum senyum sendiri membayangkan momen singkat makan bareng bersama Wileen. Walaupun lebih tepatnya hanya Wileen yang makan sedangkan dia hanya menjadi penonton.
Ini salah dia sendiri, menyamar menjadi orang lain dan mempersulit dirinya sendiri. Albern hanya membuang-buang waktunya saja, untuk apa dia harus menyamar menjadi Alex, jika tujuanya ingin dekat dengan Wileen. Sebenarnya bisa di bilang bukan membuang-buang waktu, lebih pada waspada. Karena bagi Sain, Albern sudah mati di tanganya waktu beberapa tahun lalu.
Mungkin Albern akan menunjukan dirinya pada waktu yang tepat dan pastinya bukan saat ini. Bertemu kembali dengan Sain kemarin, membuat Albern lebih waspada. Karena dia tahu, Sain bukan tipikal orang yang akan membiarkan incaranya pergi. Diam diam selama ini dia juga tahu, bahwa setiap pria yang mendekati Wileen akan menjadi incaran Sain. Oleh karena itu dia lebih waspada, dia tahu dia sedang di incarnya sebagai Alex bukan Albern.
"Sorry, Wil! mungkin elo akan marah dan kecewa sama gua. Tetapi ini semua juga demi kebaikan kita. Gua bukan pengecut, gua hanya belajar menyelamatkan diri dari kematian untuk ke dua kalinya. Semua ini demi untuk tetap bisa melihatmu meski sebagai Alex."
Mobil Albern terus melintas melewati kawasan jalan yang cukup sepi. Niatnya malam ini dia akan bermalam ke rumah orang tuanya. Tempo hari dia sudah berjanji kepada mamanya, bahwa seminggu sekali dia akan berkunjung ke rumah orang tuanya.
Mobil terus berjalan lurus menembus jalan, di iringi irama music kesuka'anya. Albern meresapi setiap liryk lagu yang dia dengar. Dia mulai terhanyut dalam suasana, sesuai arti lagu yang dia dengarkan saat ini.
"Cciiiiiiiiiiitttt!!" Albern mengerem mendadak mobilnya di saat mobil lain sepertinya hendak mencelakainya. Mobil itu berwarna hitam, melaju sangat cepat dan membuat mobil Albern sedikit tergeser. Untung saja keseimbangan Albern saat mengemudikan mobilnya masih cukup baik. Jika tidak, sudah pasti mobilnya akan tergeser barah dan membentur pohon besar di depanya.
"Sialan!! siapa pengemudi mobil itu?" umpatnya merasa kesal. Hampir saja nyawanya melayang karena ulah ugal-ugalan mobil yang telah mendahului mobilnya tanpa aba aba.
__ADS_1
Albern keluar dari mobilnya, sekedar melihat plat mobil si pengendara. Namun sia-sia karena mobil itu terlalu cepat dan hilang dari pandanganya. Saking kesalnya, Albern menendang ban mobilnya sendiri.
Dia mulai masuk kembali ke dalam mobilnya, namun tiba-tiba grombolan orang bersepeda motor yang jumlahnya kurang lebih delapan orang mendadak berhenti dan memutari Albern.
Albern mengurungkan niatnya masuk ke dalam mobilnya. Dia menutup kembali pintu mobilnya dan mencoba bertanya apa maksud orang orang ini memutarinya.
"Mau apa kalian?" tanyanya.
Bukanya menjawab, delapan pria yang dandananya seperti preman itu malah tertawa. Daripada membuat mutnya menjadi buruk, Albern mencoba tidak menghiraukan keberada'an mereka dan membuka pintu mobilnya kembali.
Baru saja Albern duduk dan hendak menjalankan mobilnya. Tiba tiba kaca belakang mobil Albern ada yang memukul dan mengakibatkan kacanya hancur pecah. Albern menggeram kesal, itu semua ulah salah satu orang itu.
Albern keluar lagi dari mobilnya, saat dia keluar, Albern melihat kedelapan preman itu memegangi balok kayu yang lumayan besar. Albern sama sekali tidak takut, bahkan dia malah menyeringai melihat satu persatu orang itu.
Diam diam Albern meraih double stick yang dia tauh di sebelah kemudi. Untung saja Albern selalu membawanya kemana-mana. Ternyata alat itu akhirnya bisa berguna juga untuk dirinya.
"Elo jauhi Wileen, atau elo pilih mati di tangan kami?" ancam salah satu preman itu yang sebenarnya adalah suruhan Sain
"Cih!! Kalian pikir gua takut? sini satu lawan satu kalau berani dan jangan kroyokan."
Merasa tertantang akhirnya salah satu di antara mereka melawan Albern. Tubuhnya terlihat sangat besar dan berbanding terbalik dengan tubuh Albern. Tetapi itu bukanlah masalah, Albern akan tetap menghadapi mereka semua.
Mereka berdua adu pukul dan di saksikan ke tujuh preman lainya. Hingga Albern berhasil membuat orang itu tumbang. Kini maju lagi satu orang yang tubuhnya hampir sama dengan orang sebelumnya. Lagi lagi orang itu tumbang, semua bergilir satu persatu dan tidak ada yang bisa melumpuhkan Albern.
__ADS_1
Merasa kalah dan tenaganya yang terkuras habis, mereka semua pergi kabur membawa kembali motor motor mereka. Bahkan Albern belum sempat bertanya maksud dan tujuan orang orang itu menyerangnya. Namun dalam feelingnya, Albern tahu orang yang hendak mencelakainya tadi. Cukup waspada, itulah hal terpenting untuk menjaga diri.