
Albern tidak langsung pulang, dia masih di sidang Handoko di sebuah kedai kopi tak jauh dari rumah. Tentu saja tidak mungkin kalau mereka ngobrol di rumah. Pasti penyamaran Albern akan terbongkar dan di ketahui Wileen.
Sambil mensesap sebatang rokok, dan segelas kopi panas menemani obrolan mereka. Mereka berdua Handoko dan Albern seperti layaknya teman. Padahal Handoko adalah papa dari wanita yang akan Albern nikahi.
"Ceritakan apa yang sebenarnya terjadi Al?" tanya Handoko.
Albern menghela nafas secukupnya sebelum menceritakan kejadian tadi kepada papanya Wileen.
"Wileen hampir saja di perkosa seseorang, om!!"
"Apa? Siapa orangnya?" tanya Handoko yang terpancing emosi.
"Sabar dulu om, tadi perasaan Al tidak enak dan terus saja kepikiran Wileen. Di tambah lagi Al mendapat info dari teman bahwa Wileen jam 7 malam masih berada di kantor. Hal itu semakin membuat Al khawatir, lalu Al memutuskan pergi ke kantor Wileen untuk memastikan Wileen baik baik saja. Setelah Al sampai di kantor, Al mendengar suara jeritan dari arah ruang kerja Wileen. Ternyata Sain mencoba memperkosa Wileen, om," Albern menjelakan.
Handoko semakin emosi, bahkan beliau hendak membunuh Sain jika sesuatu yang buruk terjadi pada putri bungsunya. Untung saja Albern berhasil menenangkanya.
"Om tenang, ya? Al akan selalu menjaga Wileen, percayakan semua kepada Al."
Handoko mengangguk, beliau mempercayakan putri bungsunya kepada Al. Tidak salah Handoko lebih memilih lamaran Albern daripada Sain. Albern jauh lebih baik di banding yang lain.
"Kenapa lalian tidak secepatnya menikah saja?" pinta Handoko menepuk bahu Albern.
"Ini soal keadaan, om! Jika waktunya tiba pernikahan itu akan ada. Sekarang fokus Al adalah melindungi Wileen."
Handoko menepuk bahu Albern dan menyemangati untuk perjuanganya. Handoko tidak pernah menyesal telah mempercayakan putrinya kepada Albern.
Bagi Handoko yang sudah mengenal cukup lama Albern, beliau tahu bahwa Albern adalah pria terbaik untuk putrinya. Apa lagi mereka tumbuh dewasa juga bersama. Tidak akan sulit bagi mereka jika menikah kelak dan membangun rumah tangga dengan baik.
"Terimakasih, nak! Jangan lagi memanggil Om, panggil saja Papa. Karena kamu calon menantu di keluarga ini. Bahkan Papa sudah mengenalmu cukup lama."
__ADS_1
Albern mengangguk terharu, begitu mudahnya Papa Wileen mempercayainya. Maka tugas Albern adalah menjaga kepercayaan serta amanah beliau.
Albern melirik jam tangan yang melingkar di pergelangan tanganya. Waktu telah menunjukan pukul sebelas malam. Tidak enak jika dia terus terusan mengajak ngobrol calon mertuanya. Lagi pula besok pagi dia juga harus bekerja.
"Kalau begitu Al pamit dulu, Om, maksud Al Papa. Jika ada sesuatu kabari saya, Pa," ucap Albern berpamitan. Namun sebelum dia pergi, Albern mengantar calon mertuanya hingga gerbang rumahnya , baru dia pergi.
Keadaan Wileen sudah tenang, karena dia tertidur hingga saat ini. Namun tidurnya terganggu ketika ponselnya berbunyi dan membuat Wileen terbangun.
Wileen mengangkat telpon tanpa melihat terlebih dulu siapa nama si penelpon. Ketika Wileen mengenali suara itu, Wileen langsung membungkam mulutnya dan dadanya terasa sesak. Lagi lagi bayangan kejadian tadi teringat kembali dan membuatnya ketakutan.
Sainlah si penelpon itu, dia tidak bisa tidur tanpa menelpon sang pujaan hatinya. Berbeda dengan Wileen, mendengar suara Sain membuat hatinya hancur.
"Mau apa lagi kau pria brengsek," ucap Wileen memaki Sain. Semakin di maki Sain semakin menyukai dan bernafsu kepada Wileen.
"Gua merindukanmu, sayang!!" ucap Sain.
"Sakit jiwa, berhenti menggangguku sialan," ucap Wileen emosi.
"Ciiih! Elo hanya terobsesi denganku, bukan cinta yang elo punya Sain, tetapi nafsu," teriak Wileen lalu mematikan telponya sepihak.
Wileen lagi lagi menangis, hingga suaranya membuat Mama dan Papanya masuk ke dalam kamarnya. Orang tua Wileen sangat menghawatirkan putri bungsunya yang terlihat kacau.
"Kenapa, nak? Apa yang terjadi sayang? Katakanlah kepada kami?" ucap Handoko.
"Ma, Pa! Hik...Wileen takut, Ma, Pa!!"
"Ceritakan kepada kami, sayang," bujuk Mamanya Wileen.
Wileen masih sesegukan ketika menceritakan kejadian tadi kepada Mama Papanya. Mamanya terlihat syok dan tidak percaya dengan perbuatan Sain. Berbeda dengan Handoko yang sudah mengetahui lebih dulu dari Albern.
__ADS_1
"Ma, Pa! Wileen takut, Sain sangat menakutkan, dia bisa saja sewaktu waktu mendatangiku lagi."
"Tenang, sayang! Papa akan mengatur penjaga'an lebih ketat untukmu agar Sain tidak bisa lagi mengganggumu. Untung saja ada Alex yang datang tepat waktu, nak. Berterimakasihlah kepadanya, karenanya kamu selamat dari Sain."
Wileen mengangguk, besok dia akan menelpon Alex dan berterimakasih kepadanya. Benar kata orang tua Wileen, tanpa Alex maka mungkin Wileen telah hancur.
🦋🦋🦋🦋
Sedangkan di tempat lain, Sain menyeringai dan berbicara sendiri dengan ponselnya. Padahal sambungan telponya dengan Wileen telah berakhir.
Sain sudah persis seperti orang sinting saat ini. Mungkin karena pengaruh Alkohol atau memang dia benar benar sudah sinting.
"Selamat tidur sayang, mimpikan aku dalam tidurmu," ucap Sain meskipun sambungan telponya sudah berakhir.
Setelah ia sadar sambungan telpon telah berakhir, tiba tiba dia teringat kejadian di kantor Wileen tadi. Sain marah, mengumpat, karena Alex telah mencampuri urusanya.
Setelahnya Sain mengumpat dan membanting semua benda benda di kamarnya. Sain sedang emosi dan tidak bisa di kendalikan, jadi tidak ada satu orang pekerjanya yang berani mendekatinya. Daripada nasip mereka akan sial setelahnya, lebih baik mereka diam.
"Alex!! Elo akan membayar semua sikap kasar elo ke gua," ucapnya penuh emosi.
Di dalam fikiran Sain hanya kebencian pada Alex yang telah menggagalkan niatan bejatnya untuk memiliki Wileen.
Saat ini Sain benar benar marah hingga suara pecahan kaca terdengar jelas di lantai bawah. Asisten rumah tangganya telah terbiasa mendengar suara pecahan kaca dan benda-benda lainya yang berada di lantai atas. Jadi mereka sudah tidak heran lagi, tugas mereka hanya membereskanya saat bosnya memerintahkan pada mereka.
"Ambilkan beberapa botol minuman ke mari," teriaknya membuat para pelayan bergegas menjalankan perintah Sain.
Mabuk dan mabuk itulah jalan yang Sain selalu pilih ketika fikiranya kacau. Entah mungkin memang jalan terbaik atau petunjuk dari Tuhan, Wileen bisa putus dari Sain.
Pria itu hanya terlihat baik di depan layar media, namun di balik layar dia begitu buruk. Semua orang , semua netizen di dunia ini tertipu akan sikapnya yang manis dan ramah.
__ADS_1
Setelah memberi beberapa botol minuman untuk bosnya, para pekerja di rumah sain bisa bernafas lega. Mereka hanya menunggu bosnya mabuk parah lalu tidak sadarkan diri. Di situlah letak kenikmatan bagi para pekerja di rumah sain. Mereka bisa melakukan apapun yang mereka suka karena bosnya telah terkapar tidak sadarkan diri.