Jodohku Teman Kecilku

Jodohku Teman Kecilku
Kehilangan


__ADS_3

"Anna ... hiks hiks bangun Anna ...," ucap seorang bocah sambil menangis sesenggukan karena melihat gadisnya pingsan sambil mengeluarkan darah dari hidungnya.


"Anna ... hiks!"


Dari kejauhan tampak dua pasang kekasih sedang berlari menuju ke arah mereka.


"Ozan, Anna kenapa?" tanya pria berumur 30 tahunan itu.


“Tidak tahu, Om. Hiks ... hiks ... tiba-tiba saja Anna pingsan,” ucap bocah itu dengan nama panggilan Ozan.


“Pah, sepertinya kita harus cepat-cepat bawa Anna ke luar negeri deh,” ucap seorang wanita berumur 28 tahunan.


“Iya, Mah. Sekarang juga kita berangkat,” ucap pria yang dipanggil papah oleh wanita itu sambil menggendong Anna yang wajahnya sudah pucat.


“Om, mau bawa Anna kemana?” tanya Ozan.


“Kita harus bawa Anna ke luar negeri, Ozan. Gak lama kok,” jawab papah Anna.


“Om sama tante janji ya bakal pulang cepat sama Anna. Soalnya Ozan bakal kesepian.”


“Iya, Ozan. Lex, Tia, kita pamit dulu, doain semoga Anna cepat sembuh,” ucap Papah Anna.


“Iya. Cepat kembali yah,” ucap Alex, Papah Ozan.


Mereka pun segera pergi menuju mobil untuk segera menuju ke Bandara.


“Pah, Anna kenapa sih?” tanya Ozan.


“Anna cuma butuh pengobatan dan istirahat sebentar,” jawab Papah Ozan.


“Gitu yah, semoga Anna cepat sembuh deh.”


Kedua orang tua Ozan hanya menatap sendu keara anak semata wayangnya, karena tidak bisa menjelaskan secara detail tentang penyakit Anna. Karena mengingat umur Ozan masih berusah 5 tahun, akan susah untuk memahami itu semua.


***


12 Tahun Kemudian ...


Terlihat seorang laki-laki sedang melamun di balkon kamarnya sambil memegang sebuah foto yang memperlihatkan seorang gadis kecil sedang tersenyum sambil memegang sebuah boneka teddy bear.


“Kenapa kamu belum juga kembali, Na,” batin laki-laki itu sambil terus memandangi foto itu.


“Padahal aku selalu menunggu kamu di Taman. Dan kenapa selama 12 tahun ini kamu tidak ada kabar sama sekali?"


“Apa kamu baik baik saja disana? Semoga iya.”


***


Kring ...


Suara alarm berbunyi di sebuah kamar laki-laki yang kini mulai membuka matanya karena berisik mendengar suara alarm itu.


“Eungh ....”


Tok! Tok! Tok!


“Fauzan, kamu sudah bangun?” tanya seorang wanita paruh baya sambil memgetuk pintu.

__ADS_1


“Iya, Ma. Ini baru bangun,” jawab laki-laki yang di panggil Fauzan.


“Cepat mandi lalu turun untuk sarapan.”


“Iya, Ma.”


Wanita paruh baya yang merupakan Mama Fauzan itu berlalu dari pintu kamar sang anak.


Kemudian Fauzan bangkit, lalu pergi ke kamar mandi.


Tiga puluh menit kemudian, Fauzan telah selesai mandi dan sudah memakai seragam lengkap, lalu dia pergi ke bawah untuk sarapan.


“Pagi Ma, Pah,” sapa Fauzan, lalu duduk di depan Papahnya.


“Pagi, sayang,” sapa Mama dan Papah Fauzan.


“Ma, Pah. Mungkin hari ini aku bakal pulang telat, karena harus mengontrol cafe dulu,” ucap Fauzan.


Ya, karena Fauzan selalu di landa rindu kepada sahabat kecilnya, ia jadi mencari kesibukan untuk mengurangi rasa rindu ke gadisnya, yakni dengan membangun cafe sendiri sejak kelas satu SMA. Setelah 3 tahun mempelajari bisnis selama SMP bersama Papahnya. Dan selama tiga tahun itu juga ia menabung untuk membangun cafe, meskipun masih dibantu sama Papahnya sedikit.


“Ya udah, tapi jangan terlalu malam, dan jangan terlalu capek, ya,” ucap Papah Fauzan.


“Iya, Pah.”


Setelah 10 menit sarapan, kini Fauzan bangkit untuk berpamitan sama orang tuanya untuk pergi ke sekolah.


“Aku berangkat, assalamu’alaikum,” pamit Fauzan.


“Waalaikumsalam,” jawab kedua orang tua Fauzan.


***


Fauzan bukan ketua osis, tapi dia anggota OSIS yang termasuk koordinator kedisiplinan. Dan hari ini dia bertugas berjaga di depan gerbang untuk memantau siswa siswi yang melanggar peraturan.


Selama 10 menit dia berjaga belum ada siswa siswi yang melanggar. Hingga kemudian ada seorang siswi yang memakai sepatu berwarna biru berjalan santai melewati gerbang.


“Hey lo yang memakai sepatu biru,” panggil Fauzan kepada siswi itu.


Siswi yang merasa memakai sepatu biru itupun berhenti lalu menengok ke arah Fauzan.


“Ada apa ya?” tanya siswi itu santai.


Deg!


“Kenapa dia mirip dengan Anna ketika kecil, nggak ... nggak ..., mungkin cuma mirip,” batin Fauzan karena melihat wajah siswi itu.


“Kenapa lo malah ngelamun?” tanya siswi itu.


Fauzan hanya menggelengkan kepalanya.


“Lo gak ngerasa ada yang aneh gitu sama penampilan lo?” tanya Fauzan.


Mendengar pertanyaan dari Fauzan, siswi itu pun menilai dirinya sendiri dari atas sampai bawah.


“Gak ada yang aneh, gue tetep cantik kok,” jawab siswi itu dengan percaya dirinya.


“Pede sekali anda,” batin Fauzan sambil memutarkan matanya.

__ADS_1


“Lo gak liat sepatu lo warna biru, itu melanggar peraturan di sekolah ini tau gak.”


“Ya mana gue tau. Gue kan murid baru disini.”


“Seharusnya lo pikir terlebih dahulu, mana ada sekolah ngebolehin pakai sepatu berwarna,”


“Tapi di sekolah gue di luar negeri boleh aja tuh.”


“Ya bedalah, itukan di luar negeri bukan disini. Kalau lo mau pakai sepatu berwarna mending pindah lagi aja ke luar negeri sana,” titah Fauzan.


“Enak aja nyuruh orang, gue baru aja pulang kemarin lusa.”


“Ya makanya. Sekarang lo lepas sepatu itu!”


“Gak mau. Udah gue bilang gue murid baru. Dan gue belum sempat beli sepatu warna hitam, jadi pakai sepatu apa aja seadanya. Dari pada gak pergi ke sekolah.”


“Siapa nama lo?” tanya Fauzan.


“Kenapa mau kenalan?”


“Siapa juga yang mau kenalan, gue mau nyatat nama lo di buku peringatan. Cepat siapa nama lo?”


“Hanna Putri Aurora,” jawab siswi itu.


Deg!


“Gak mungkin. Pasti ini cuma kebetulan,” batin Fauzan sambil menyatat nama yang tidak asing itu.


“Udah kan?” tanya Hanna.


“Hmm.” Fauzan hanya menjawab dengan deheman karena masih syok.


“Ya udah gue pergi dulu,” pamit Hanna.


Setelah kepergian Hanna. Fauzan hanya menghela nafas panjang.


“Kenapa lo?” tanya Angga sang ketua OSIS yang baru saja datang, dia termasuk sahabat satu-satunya Fauzan.


“Gak papa,” jawab Fauzan.


Bel masuk pun berbunyi.


Semua siswa dan siswi bergegas menuju ke kelas masing-masing.


Begitupun dengan Fauzan, dia masuk ke kelas 11 IPA 1. Yang tampak tenang seperti biasa.


Tak lama kemudian Bu Indah masuk ke kelas sambil membawa bukunya.


“Selamat pagi anak-anak,” sapa Bu Indah.


“Pagi, Bu,” sapa kembali siswa dan siswi 11 IPA 1.


“Hari ini kita kedatangan murid baru pindahan dari luar negeri. Silahkan masuk, Nak!” Bu Indah memerintahkan murid itu masuk.


Tak! Tak! Tak!


🌈🌈🌈

__ADS_1


__ADS_2