Jodohku Teman Kecilku

Jodohku Teman Kecilku
Rumah Teman Papah


__ADS_3

Tak terasa besok Fauzan, Hanna, Nayla dan Angga akan pergi lomba cerdas cermat di luar kota. Yang mengharuskan mereka menginap semalam di sebuah hotel.


Kini bel pulang sudah berbunyi. Dan mereka kini berada di ruang kepala sekola bersama Pak Johan untuk diberikan pengarahan.


"Oke semua mohon kerja samanya. Lakukanlah yang terbaik, semoga hasilnya nanti memuaskan dan bisa membanggakan diri kalian sendiri, orang tua, dan sekolah. Jangan lupa untuk selalu berdoa dan jaga diri kalian sendiri. Nanti besok kalian berangkat pukul 7,  karena kita akan ke luar kota dan memerlukan waktu selama 3 jam perjalanan dan perlombaan diadakan 2 hari. Hari pertama lomba diadakan pada Jumat pukul 1 siang. Kalau babak final nanti akan diadakan pada hari Sabtu pada pukul 9. Jadi jika kalian masuk ke babak final. Pasti kalian akan menginap di hotel yang ada disana. Dan semoga kalian masuk ke babak final," jelas Pak Joko selaku Kepala Sekolah.


"Aamiin," ucap semuanya.


"Baik, kalau masalah biaya ongkos dan biaya hotel nanti di tanggung sekolah. Dan kalau pribadi itu urusan diri sendiri. Persiapkan perlengkapannya dari sekarang."


"Baik, Pak," ucap mereka berempat.


\*\*\*


Kini mereka berempat berada di parkiran untuk segera pulang.


"Wah! Gak nyangka kita besok bakal lomba. Cepat amat perasaan," ucap Angga.


"Iya nih, semoga kita bisa bekerja sama. Dan semoga tidak akan terjadi sesuatu sama kita semua, sehat-sehat selalu ya," ucap Nayla.


"Iya. Kita semua sudah belajar dan latihan sampai sekarang. Tunjukan hasil usaha kita nanti disana," ucap Fauzan.


"Semoga kita masuk tiga besar, aamiin," ucap Hanna dan diaminkan oleh semuanya.


"Yuk pulang," ajak Angga.


"Han, lo mau bareng gue," tawar Fauzan.


"Nggak. Aku mau dijemput sama Papa, karena harus ketemuan sama teman Papah dan anaknya," tolak Hanna halus.


"Anaknya cewek apa cowok?" tanya Fauzan dengan nada penasaran.


"Kalau gak salah kembar cewek cowok," jawab Hanna.


"Oh. Mereka sepantaran sama kita?" tanya Fauzan lagi.


"Lo napa sih jadi banyak tanya gini?" tanya balik Hanna meskipun ia pun menjawabnya, "Iya. Sepantaran sama kita. Lo cemburu ya?"


"Ng-gak kok, gak ada faedahnya gue cemburu. Ya udah gua duluan," pamit Fauzan sambil menaiki motornya.


Mendengar ucapan Fauzan, membuat mereka memicingkan matanya menatap Fauzan curiga.


"A-ada apa sih?" tanya Fauzan gugup.


"Lo lucu ya kalau gugup gitu," gurau Angga.


"Hih! Geli gue denger ucapan lo, Ga." Fauzan bergidik ngeri.


"Hahahaha." Nayla dan Hanna tertawa melihat percakapan mereka.


Lalu mereka pun pulang tersisa Hanna yang sedang menunggu di pos satpam.


Tin! Tin!


Suara klakson mobil milik Papah Hanna mengisyaratkannya untuk segera masuk.

__ADS_1


"Lama nunggunya, sayang?" tanya Papah Hanna, Haris.


"Gak kok, Pah," jawab Hanna.


Papah Hanna hanya menganggukan kepalanya. Lalu berlalu menuju rumah temannya.


"Han, katanya kamu udah punya teman banyak ya?" tanya Papah Hanna berbasa basi karena sebenarnya ia ingin tahu kebenarannya bahwa Hanna temenan sama Fauzan.


"Gak kok, Pah. Kalau teman yang bener-bener cuman empat orang," jawab Hanna.


"Siapa aja?"


"Fauzan, Nayla dan Angga."


"Oh."


"Ternyata benar dia temenan sana Fauzan. Berarti bener kata Mamah, Hanna sudah bertemu dengan teman kecilnya. Ya meskipun Hanna tidak tahu," batin Papah Hanna sambil tersenyum lebar.


"Kenapa Papah senyum gitu?" tanya Hanna.


"Seneng aja akhirnya kamu punya teman," jawab Papah Hanna.


"Oh."


\*\*\*


Sesampainya di rumah temannya Papah Hanna.


Hanna dan Papahnya masuk ke rumah setelah dipersilahkan masuk.


"Wah! Bagaimana kabarmu?" tanya teman Papah Hanna, Edwin.


"Alhamdulillah. Eh! Ini Hanna ya?" tanya Pak Edwin setelah melihat Hanna.


"Iya, Om. Saya Hanna," jawab Hanna.


"Gak usah formal gitulah," pinta Pak Edwin.


"Iya, Om."


"Oh. Dimana anakmu, Win?" tanya Papah Hanna.


"Oh, mereka belum pulang. Pasti sebentar lagi pulang. Ayo duduk dulu!" pinta Pak Edwin.


Tak lama kemudian terdengar suara motor dari arah luar menandakan ada seseorang yang datang.


"Itu pasti mereka," tebak Pak Edwin.


"PAPAH, I'M COMING!" teriak seorang perempuan yang datang dari arah pintu masuk.


"Lea, berisik!" tegur laki-laki yang ada dibelakangnya.


"Hehehe." Perempuan yang dipanggil Lea hanya cengengesan.


"Eh ... ada tamu. Maaf-maaf aku gak tahu," lanjut Lea setelah melihat ada tamu di rumahnya dengan nada tidak enak.

__ADS_1


"Eh! Lo gak liat tadi di luar ada mobil bukan punya kita?" tanya laki-laki itu.


"Hhee. Gak tuh, bang," ucap Lea.


"Nah! Ini dia mereka datang, ayo sapa dulu sama tamu kita!" perintah Pak Edwin ke anaknya.


"Hai, Om. Hai em ... kamu Hanna kan. Kita pernah bertemu sebelumnya di Jerman, tapi cuman sebentar," sapa Lea dengan senyum lebarnya.


"Iya. Hai juga Lea," sapa Hanna kembali.


"Hai Om, Hai Hanna," sapa laki-laki itu dengan tersenyum tipis.


"Hai Leo," sapa Hanna dan Papah Hanna.


"Nah, sebaiknya kalian ganti baju dulu!" perintah Pak Edwin ke dua anaknya.


"Siap, Pah."


"Iya."


Lea dan Leo pun pergi ke kamarnya masing-masing untuk berganti pakaian.


Beberapa menit kemudian.


Leo dan Lea pun telah selesai berganti baju, dan kini mereka sudah duduk berhadapan dengan Hanna.


"Ya udah. Kalian bertiga ngobrol-ngobrol aja. Papah sama Om Haris mau ke ruang kerja dulu, ada urusan sebentar," pamit Pak Edwin.


"Iya, Pah."


"Iya, Om."


Kini tinggal tersisa mereka bertiga.


Lea pun mendekat ke arah Hanna, lalu duduk disampingnya.


"Han, gimana kalau gue pindah ke sekolah lo. Biar kita bersama-sama terus," ucap Lea tiba-tiba.


"Hah! Jangan ngaco. Lo sepertinya bukan siswa bermasalah sampai harus pindah segala," ucap Hanna.


"Jangan salah. Gini-gini, gue sama Leo pernah buat masalah kok,  ya gak?" tanya Lea ke Leo.


Leo hanya menganggukkan kepalanya.


"Gak usahlah. Sebentar lagi kan kelas 12. Nanggung," saran Hanna.


"Ya ... ya ... liat aja nanti, deh," ucap Lea sambil tersenyum lebar.


Sedangkan Leo hanya tersenyum tipis tapi memiliki arti tersendiri di balik senyum itu.


"Gue minta nomor lo dong," pinta Lea.


"Oh, Nih." Hanna menyodorkan handpone nya.


"Oke. Makasih."

__ADS_1


Setelah beberapa jam. Akhirnya Hanna dan Papahnya pun pulang ke rumah mereka.


***


__ADS_2